
...(Ho Hien dan Niu Mayleen)...
Xiao Nuan menutupi punggungnya yang terbuka. "Singkirkan tanganmu!" ketus Xiao Nuan saat merasakan jemari Liu Xingsheng menyentuh punggungnya.
Liu Xingsheng terkekeh pelan.
"Tadi kamu begitu menikmati, kenapa menjadi kesal?" tanya Liu Xingsheng.
Xiao Nuan menutup telinganya. Tidak menyangka pengalaman pertamanya terjadi secepat ini pikir Xiao Nuan, ada rasa aneh dan malu yang ia rasakan saat ini.
Liu Xingsheng menutupi punggung Xiao Nuan dengan selimut, saat ini posisi Xiao membelakangi Liu Xingsheng. Setelah selesai beberapa menit lalu Xiao Nuan langsung kesal.
"Istriku, apa kamu kesal karena terlalu cepat?"
Xiao Nuan membalikkan tubuhnya lalu memaki Liu Xingsheng. "Tadi aku hanya bercanda kenapa kamu melakukannya bahkan tidak izin padaku!" ketus Xiao Nuan.
"Izin? Kamu tadi memintaku untuk cepat!", Xiao Nuan memejamkan matanya ia salah bicara tadi. Jika melakukan pembelaan sekarang hanya membuatnya semakin malu.
Cup,
Kening Xiao Nuan di cium lembut oleh Liu Xingsheng. "Baiklah, istriku maafkan aku karena membuatmu kesal." Xiao Nuan menatap Liu Xingsheng terkejut.
Sekarang tampilan Liu Xingsheng terlihat sangat menggoda lebih dari sebelumnya. Apalagi dengan baju yang terbuka lebah memperlihatkan tubuhnya yang bagus walaupun ada banyak bekas luka.
"Apa istriku sudah memaafkanku?" Xiao Nuan menyipitkan matanya lalu ingin berbalik tapi Liu Xingsheng menahannya. Ia memeluk Xiao Nuan.
"Kalau kamu kesal karena itu, aku bisa melakukannya dari awal lagi." Xiao Nuan sontak memukul dada Liu Xingsheng.
"Apa yang kamu bicarakan!" bentak Xiao Nuan.
Liu Xingsheng memeluk Xiao Nuan dengan erat, "An'Er jangan membuatku khawatir sampai setengah mati lagi." gumam Liu Xingsheng lemah.
"Aku bisa melihat banjir darah di Medan perang, tapi aku gak bisa lihat kamu pergi menghilang." lanjutnya.
Xiao Nuan terdiam, ucapan Liu Xingsheng sangat lemah tapi membuat hatinya bergetar hebat. Apa yang terjadi pada mereka saat ini? Sulit untuk di jelaskan.
****
Liu Xingsheng menunggu Xiao Nuan untuk makan bersama. Pengawal Xiao Nuan barusan beristirahat jadi mereka tidak memberitahunya.
Xiao Nuan datang dan langsung duduk tanpa mengatakan apapun. Para pelayan menyajikan hidangan yang di minta oleh Liu Xingsheng.
"Pelan-pelan." ujar Liu Xingsheng saat melihat Xiao Nuan makan dengan lahap hingga menyisakan makanan di sudut bibirnya. Xiao Nuan menatap sinis lalu melanjutkan makannya.
Liu Xingsheng tersenyum saat mengingat ekspresi Xiao Nuan ketika di atas ranjang. Wajah jutek dan galaknya hilang hanya ada deru nafas dan wajah yang sensual.
"Mengajakku makan bersama, tapi hanya aku yang makan sendirian!" Sindir Xiao Nuan.
Liu Xingsheng mengambil sumpit ia menaruh daging di piring Xiao Nuan. "Melihatmu makan lahap, sepertinya akan melanjutkan yang tadi."
Xiao Nuan menghentikan kegiatan mengunyahnya. "Ini meja makan, jangan berbicara omong kosong." bantah Xiao Nuan. Dalam hati ia sangat tengsin sampai susah menelan.
Liu Xingsheng mengangguk pelan lalu mengambil makanan, ia hanya melirik Xiao Nuan yang seperti memikirkan sesuatu. Sedangkan Xiao Nuan sendiri hanya menggerutu dalam hati.
Mereka berdua makan tanpa bicara apapun lagi. Niu Mayleen datang bersama Ho Hien. "Kalian ingin bergabung?" tanya Liu Xingsheng pada mereka berdua.
"Tidak terima kasih."
Niu Mayleen terkesima melihat Xiao Nuan tanpa cadar, ia sangat cantik sekali dan berbeda dengan penampilan biasanya. "Ini kali pertama kamu menemukan istriku tanpa cadar?"
Tidak sadar Niu Mayleen mengangguk. "Benar, selama ini nona selalu memakai cadar tanpa melepaskan." Liu Xingsheng takjub karena Xiao Nuan pandai menyembunyikan jati diri.
Mata Niu Mayleen memerhatikan sesuatu.
"Nona, di lehermu ada luka." celetuk Niu Mayleen sampai membuat Xiao Nuan tersedak.
Liu Xingsheng memberikan air minum karena Xiao Nuan batuk sampai memukul dadanya sendiri. "Makannya pelan-pelan, tidak ada yang ingin mengambil makananmu!'
Xiao Nuan melirik Niu Mayleen yang terlihat bingung.
"Nona, apa anda di serang ular?" tanya Niu Mayleen polos. Xiao Nuan menutupi lehernya diam-diam.
Sedangkan Ho Hien menatap Xiao Nuan dengan penuh selidik. "Nona bukan di gigit ular, tapi terkena sengatan serangga." kata Ho Hien tanpa beban.
Niu Mayleen menatap sinis rubah betina tersebut. "Dimana ada gigitan serangga sampai membiru seperti di patuk ular." jawab Niu Mayleen tajam.
Mereka berdua berdebat tapi Xiao Nuan yang merona merah karena hal tersebut. "Sudah hentikan, Xiao Nuan hanya di gigit Serangga kecil." kata Liu Xingsheng melerai.
"Nona, apa itu benar?" Xiao Nuan diam tidak menjawab matanya menatap tajam ke arah Liu Xingsheng. Seolah ingin menerkam hidup-hidup.
"Iya, serangganya cukup besar dan sangat membuatku kesal." sinis Xiao Nuan melirik tajam suaminya yang sedang makan dengan santai.
Niu Mayleen melihat perubahan Xiao Nuan ia langsung terpikir sesuatu. Serangga besar dan membuat kesal sambil menatap Liu Xingsheng.
"Nona, apa itu serangga apa manusia yang anda sebut serangga?" tanya Niu Mayleen heran.
"Kenapa kau bertanya terus?!" bentak Xiao Nuan kesal.
Niu Mayleen menggaruk kepalanya sambil cengengesan. "Sepertinya kita salah paham. Maaf tuan sudah menyebutmu serangga." kyat Niu Mayleen.
Xiao Nuan melotot ternyata Niu Mayleen bisa mengerti keadaan, ia semakin malu di buatnya. "Ho Hien ayo pergi, biarkan mereka." Niu Mayleen menyeret Ho Hien dari sana.
Ketika sudah di rasa jauh Niu Mayleen melepaskan tangan Ho Hien. "Kenapa kamu gak bicara sih?" tanya Niu Mayleen menatap wanita rubah di hadapannya.
"Aku memilih diam daripada membuatmu marah!"
Niu Mayleen mengangguk benar juga yang di katakan olehnya. Tapi sebagai pria dia tidak bisa selalu marah pada wanita apalagi wanita di hadapannya mirip adiknya sekaligus siluman rubah.
"Apa kamu sudah memaafkanku?" tanya Ho Hien.
Niu Mayleen menggeleng kepala tegas. "Belum!" ketusnya lalu meninggalkan Ho Hien di sana. Ho Hien heran kenapa hati manusia bisa berubah dalam hitungan detik.
"Manusia jauh lebih rumit di bandingkan siluman." gumam Ho Hien pelan lalu mengikuti Niu Mayleen dari belakang.
Di depan paviliun Xiao Nuan menatap kesal ke arah Liu Xingsheng. "Jangan menatapku, mereka yang bertanya." ujar Liu Xingsheng menaruh cangkir teh.
Kesal dengan Liu Xingsheng, Xiao Nuan meninggalkan tempat itu. Ia Kembali ke paviliun miliknya. "Menyebalkan sekali, tapi kalo di pikirkan tadi aku sangat menikmati."
Xiao Nuan memukul kepalanya, "Ya ampun apa yang kamu pikirkan. Mesum!" Tiba-tiba ia terpikir sesuatu. Sejak berada di sini ia tidak lagi memikirkan jalan pulang.
"Apa aku sudah menerima keadaan?"
"Tapi kakek di sana pasti ... " Xiao Nuan bingung satu sisi ia ingin kembali tapi berada di sini ia merasa cukup nyaman apalagi Liu Xingsheng termasuk memanja dirinya.
__ADS_1
Xiao Nuan membenturkan kepalanya ke meja. Rasanya ia sangat di lema, bahkan rencana untuk Lien Hua juga belum menemukannya.
"Ya Tuhan, kenapa kamu tidak adil padaku?!" Perlahan Xiao Nuan membenturkan kepalanya. Ia menginginkan ide agar bisa mencari jalan keluar sekarang.
"Ini gak cukup di jalani!" lirih Xiao Nuan.
Ketika ingin membenturkan kepala lagi, kepala Xiao Nuan di tahan oleh sebuah tangan. "Kelihatannya kamu frustasi? Ada apa?"
Suara Liu Xingsheng, terdengar langsung merasa kesal sekali. "Sheng'Er?" gumam Xiao Nuan mendongakkan kepalanya dengan lemas.
"Ada apa? Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?"
Xiao Nuan menompang dagu dengan tangannya.
"Kalau kamu di beri dua pilihan yang keduanya sangat di butuhkan mana yang kamu pilih?" tanya Xiao Nuan.
Liu Xingsheng mengerutkan dahi, tadi Xiao Nuan terlihat baik-baik saja tapi dalam beberapa menit sudah memikirkan sesuatu.
"Apa dulu pilihannya!" Liu Xingsheng duduk di samping Xiao Nuan. Tangannya membawa kepala Xiao Nuan untuk bersandar ke bahunya.
"Tinggal bersama pasanganmu atau tinggal bersama orang yang selalu ada bersamamu selama puluhan tahun?" Liu Xingsheng terdiam.
Ia tahu Xiao Nuan akan meninggalkan dirinya suatu saat nanti. "pilihannya ada pada hatimu, coba kamu pikir mana yang kamu butuhkan."
Xiao Nuan menggeleng kepala, "Aku baru terpikir barusan." Liu Xingsheng mengambil tangan Xiao Nuan. Ia mengatakan apapun keputusan ia akan mendukungnya.
"Being next to you I'm grateful that's why I hate choices." kata Xiao Nuan membuat Liu Xingsheng terbengong karena bahasa yang tidak di mengerti.
"Kamu merapalkan mantra apa?", Xiao Nuan terkekeh geli karena Liu Xingsheng berpikir kalau ia sedang mencoba suatu jurus. "Itu bukan mantra."
"Lalu?"
"Bahasa Inggris."
"Apa? Bahasa mana? Kenapa aku baru tahu?", Xiao Nuan duduk tegak ia mengatakan Liu Xingsheng tidak akan pernah tahu walaupun mencari sampai di ujung dunia.
”Dunia kita berbeda tentu saja kamu tidak akan pernah mengetahui itu.”
...****...
Xiao Nuan pamit untuk berjalan-jalan di sekitar kediaman pangeran kaisar. Ia memilih pergi ke tempat sejuk, Niu Mayleen dan Ho Hien berada di belakang Xiao Nuan.
Mereka kagum melihat Xiao Nuan yang berjalan-jalan seperti wanita biasa. Tanpa ada kain yang menutupi wajahnya, "Bunga ini sangat cantik."
Memetik bunga dan berjalan menyusuri beberapa pohon besar, Xiao Nuan sedikit menenangkan pikirannya karena masalah tadi. "Liu Xingsheng dia sangat menghormatiku, jangan sampai aku menaruh hati."
Xiao Nuan menaruh bunga yang ia petik. "Rambut berantakan kalau pada dasarnya cantik tetaplah cantik." kata seseorang membuat Xiao Nuan menoleh.
Ternyata putra mahkota berada di belakangnya. "Putra mahkota?" gumam Xiao Nuan. Putra mahkota menghampiri dirinya yang berdiri tidak jauh.
"Kita memiliki janji untuk jalan-jalan bersama, kenapa seminggu terakhir bibi tidak bisa di hubungi?" tanya putra mahkota.
"Maaf putra mahkota, aku ada urusan mendadak beberapa hari ini." Xiao Nuan memasang wajah tidak enak lagipula untuk apa mereka bertemu terus-menerus.
"Bibi Wang, aku baru tahu kamu sibuk bukannya pergi ke luar kerajaan?" tanya pangeran Yun Taen.
Xiao Nuan menoleh menatap pangeran Yun Taen yang berjalan angkuh ke depannya. "Pangeran Yun Taen, kamu sangat tahu sekali aku."
"Begitu ya, anehnya pangeran Yun Taen lebih tahu apapun di bandingkan putra mahkota calon penerus kaisar." Xiao Nuan mencoba pertikaian di antara adik-kakak tersebut.
"Bibi jangan salah paham, aku masih seorang pangeran tidak mungkin sepintar kakak putra mahkota." kata pangeran Yun Taen.
"Hahahah, baiklah kau memang adik yang berbakti." puji Xiao Nuan.
Putra mahkota mengambil bunga yang di petik oleh Xiao Nuan. "Bunga sangat cantik, tapi bibi kamu pasti tahu bunga yang jauh dari akarnya akan segera layu."
Mendapat ancaman dari putra mahkota, Xiao Nuan menanggapi dengan tenang. "Putra mahkota memang benar, dan harus tahu ini termasuk bunga yang tanpa akar pun bisa bertahan tetap segar dan wangi."
"Begitu?"
Xiao Nuan mengangguk ia mengambil air di atas daun, lalu menyiramkan ke salah satu bunga tersebut. "Dengan air tersebut bunga ini akan bertahan lebih dari 5 jam."
Niu Mayleen dan Ho Hien datang karena mereka terpisah jauh barusan. "Nona, maaf tidak segera mengejarmu." kata Niu Mayleen.
Xiao Nuan menatap Niu Mayleen dan Ho Hien.
"Tidak apa, lagian aku hanya berada di sekitar sini."
"Mereka adalah pengawalku. Maaf membuat putra mahkota terganggu." lanjut Xiao Nuan.
Pangeran Yun Taen terkejut karena pengawal Xiao Nuan membawa sebuah pedang hitam. "Bibi pengawalmu pasti kuat, dia membawa pedang hitam."
Xiao Nuan melirik benda yang selalu di bawa oleh Niu Mayleen. "Tentu, aku takut terjadi hal tidak di inginkan seperti satu pekan lalu."
Wajah pangeran Yun Taen memucat, Xiao Nuan tersenyum miring karena tidak sengaja mengetahui sesuatu. "Memang apa yang terjadi satu pekan lalu?" tanya putra mahkota.
"Tidak ada, hanya ada beberapa orang yang mencoba menculikku." ujar Xiao Nuan menatap pangeran Yun Taen.
"Tapi putra mahkota, kenapa pangeran Yun Taen bisa tahu aku pergi ke luar kerajaan tepat saat akan di culik."
"Bibi, kamu tidak bermaksud memfitnah adik Yun Taen bukan?" tanya putra mahkota.
"Tidak berani, bagaimana bisa aku seorang bibi memfitnah keponakanku sendiri? Ya kan pangeran Yun Taen?" Xiao Nuan tertawa dalam hati melihat pangeran Yun Taen yang gugup.
"Putra mahkota, pangeran Yun Taen seperti tidak sedang sehat." putra mahkota melihat ke arah adiknya. Memanh sedikit pucat dari sebelumnya
"Mungkin terkena angin, sebelum ke sini dia baik-baik saja." Xiao Nuan memasang wajah khawatir dan memberikan saran untuk datang ke kediaman pangeran kaisar.
Mereka terlihat berpikir sebelum akhirnya setuju. Xiao Nuan naik kuda yang di bawa Niu Mayleen, ia jalan-jalan lumayan menempuh banyak waktu.
"Kuda ini tidak secepat motor."
Setidaknya mereka sampai dengan keadaan tidak terlalu lelah. Xiao Nuan meminta pelayan untuk menyajikan jamuan untuk para keluarga penting tersebut.
Setelah itu ia pamit untuk mencari Liu Xingsheng. Dengan langsung tergesa-gesa Xiao Nuan masuk ke kamar Liu Xingsheng . Tidak ada siapapun lalu Xiao Nuan mencari ke kamar ganti.
"Huaaaaaa" teriak Xiao Nuan.
Liu Xingsheng langsung berlari dan menutup mulutnya Xiao Nuan dengan bajunya. "Kenapa kamu berteriak?" tanya Liu Xingsheng menatap kesal.
"Kamu yang kenapa gak pake baju lengkap depan mataku!" bentak Xiao Nuan seolah kesalahan ini berasal dari Liu Xingsheng.
Sangat ingin marah namun Liu Xingsheng menghela nafasnya perlahan. Karena tiba-tiba Xiao Nuan menutupi bagian bawahnya dengan baju yang berusan di pakai untuk menutup mulut.
__ADS_1
"Setidaknya tutupi ini dulu."
Rasa kesalnya naik hingga ke ubun-ubun. "Siapa yang menerobos masuk ke sini?" tanya Liu Xingsheng saat Xiao Nuan mengomel pelan.
"Aku ... Tapi kamu juga harusnya mengerti dan selalu berpakaian lengkap!" bela Xiao Nuan tidak mau di salahkan. Liu Xingsheng kesal lalu menahan Xiao Nuan di atas meja.
"Ini ruang ganti, untuk apa aku berpakaian lengkap? Kamu tahu untuk apa tempat ini bukan?" tanya Liu Xingsheng menyipitkan matanya.
Xiao Nuan tetap tidak mau kalah dan menyalakan Liu Xingsheng. Karena hal tersebut Liu Xingsheng mencium dengan paksa. Terkejut sesaat lalu mematung karena ulah Liu Xingsheng.
"Sangat mudah membuatmu diam." Liu Xingsheng berbicara tepat jarak 1 cm setelah mencium bibir Xiao Nuan.
Tangan Xiao Nuan mendorong tubuh Liu Xingsheng agar menjauh darinya. "Kenapa? Yang kamu takutkan telah aku lakukan!" kata Liu Xingsheng.
Xiao Nuan menyipitkan matanya lalu membuang muka. "Jangan seneng dulu, kamu udah gitu bukan berarti aku nurut ya!" bentak Xiao Nuan.
"Loh kenapa kamu marah?" tanya Liu Xingsheng.
"Aku gak marah."
Liu Xingsheng menarik alisnya sebelah, Xiao Nuan mengatakan tidak marah tapi wajahnya terlihat sangat kesal. "Kamu mau ngomong apa sama aku?"
Liu Xingsheng mengambil jubah dan menutupi seluruh tubuhnya. Xiao Nuan diam beberapa saat sebelum menjawab kalau ia tak ingin bicara hanya mengecek.
"Apa kamu tidak mempunyai pekerjaan?" tanya Liu Xingsheng setelah mendengar perkataan Xiao Nuan yang tidak masuk akal. Dia datang ke mari mengganggu cuman bilang mengecek.
"Ada sih, tugas aku ya jalan-jalan." jawab Xiao seadanya.
Liu Xingsheng menuangkan teh, "Pergi ke istana, ibu suri ingin bertemu!" ucap Liu Xingsheng.
Xiao Nuan menggeleng kepala ia tidak mau pergi ke istana sendirian. "Acara hari ini adalah perkumpulan nyonya bangsawan, tentu saja kamu harus hadir karena kamu nyonya di kediamanku!" kata Liu Xingsheng sarkas.
Xiao Nuan menggembungkan pipinya, kalau bertemu dengan keluarga kerajaan bawaannya sensi pikir Xiao Nuan. "Kalo ketemu terus yang ada emosi ku terpancing dan menggagalkan rencana."
"Gimana? Mau pergi gak?" tanya Liu Xingsheng melihat Xiao Nuan yang terus berpikir. istrinya mengangguk pelan lagipula hanya ke kediaman ibu suri.
"Yaudah, siapin kuda aku mau ke kamar dulu." kata Xiao Nuan memerintah Liu Xingsheng.
Pintu di tutup kesal. "Dasar wanita aneh, berani-beraninya memerintahku."
****
Xiao Nuan datang ke istana bersama Niu Mayleen dan Ho Hien. Sedangkan Feng shui menunggu kereta di gerbang. Xiao Nuan berjalan ke arah paviliun milik ibu suri.
"Sangat ramai!" ucap Xiao Nuan ketika melihat banya wanita bangsawan di depan paviliun.
"Alcie Wang memberi salam pada ibu suri." Xiao Nuan salam hormat walaupun jatuhnya ia adalah adik ipar ibu suri.
"Permaisuri Liu, bangunlah kau adikku jangan terlalu formal." ujar ibu suri.
Xiao Nuan berterima kasih lalu bangun, di sana ada calon istri putra mahkota. Acara sekarang di inginkan olehnya, karena dia bergelar putri mahkota jadi ibu suri tidak keberatan.
"Aku dengar kamu di culik seseorang." kata ibu suri.
Xiao Nuan membenarkan, dan bercerita kejadian sore itu. "Kamu hebat, bahkan di kerajaan ini tidak akan berani bertahan."
"Ibu suri bisa saja, ini berkat pangeran kaisar yang mencariku."
Mereka berbincang, terlihat jelas beberapa istri bangsawan yang tidak menyukai Xiao Nuan. Setelah beberapa saat Xiao Nuan pamit untuk pergi mencari udara.
"Udara di sana terlalu pekat." ujar Xiao Nuan berdiri di tengah pohon yang berbunga lebat.
"Apa di kediaman pangeran kaisar, kamu tidak mendapat kebutuhan yang cukup?"
Mendengar sindiran Xiao Nuan hanya melirik lalu fokus menatap bunga-bunga yang bermekaran. "Ingin mengesankan ibu suri? Dengan pakaian seperti itu yang ada kamu di cemooh."
"Putri Cia Yin, mulutmu tajam sekali. Apa di keluarga Yin kamu tidak bisa belajar tata Krama."
"Cih, aku besar di istana bersama paman kaisar." jawab Cia Yin.
Xiao Nuan memetik bunga yang berada di dahan tinggi. "Sebagus apapun jabatanmu di istana semuanya akan berubah sendiri. Seperti bunga ini akan layu dan jatuh."
"Maksudnya?"
putri Cia Yin ingin marah namun tidak mungkin karena ini di kediaman ibu suri, yang ada akan membuat namanya buruk. "Jangan terlalu senang, paman kaisar akan menceraikan dirimu nanti juga."
"Cerai? Perlu putri Cia Yin tahu, aku sudah membuat permintaan perceraian tapi apa jawaban paman kaisarmu?"
harusnya sampai sini ia mengerti karena Cia Yin termasuk wanita cerdas di umurnya sekarang. "Dia hanya kasihan karena kamu sudah di buang oleh keluargamu."
Xiao Nuan melempar bunga ke tanah lalu menginjakkan kaki sampai bunga itu hancur. "Aku adalah permaisuri Liu, Drajat dan posisi ku jauh tinggi darimu. Jangan sembarang bicara, kali ini aku maafkan."
Setelah mengatakan itu Xiao Nuan pergi. Maksudnya ingin mencari udara segar karena kehebohan di ruang tadi membuatnya pusing.
"Bibi kamu hadir?" tanya putra mahkota.
Xiao Nuan memberi salam lalu mengiyakan ucapan putra mahkota. "Aku mewakili kediaman pangeran kaisar." ujar Xiao Nuan.
"Oh seperti itu, oh ya bibi waktu pernikahan kalian aku tidak datang atau memberikan hadiah. Jadi sekarang aku membawamu untuk melihat hadiahku!"
Xiao Nuan mengangguk ia mengikuti putra mahkota dari belakang. "*Dia adalah pria angkuh bersikap seperti ini di sedang menginginkan sesuatu." pikir Xiao Nuan.
Beberapa saat*
Xiao Nuan masuk ke sebuah paviliun yang sangat cantik, ternyata ini adalah tempat penjahit. Di sini banyak penjahit profesional yang di khususkan untuk membuat pakaian keluarga kerajaan.
"Ini gaun yang akan aku berikan." Xiao Nuan menyentuhnya sangat murni sutra. Pasti pada awalnya bukan untuknua.
"Kenapa yang mulia putra mahkota ingin memberikan gaun mewah ini?" tanya Xiao Nuan.
"Awalnya aku ingin memberi kejutan untuk putri mahkota tapi, dia hanya menganggap kalau pernikahannya adalah sebuah jalan untuk politik. Dan menolaknya."
"Sungguh aneh, putri mahkota tidak mau menerima barang ini." ujar Xiao Nuan merasakan serat setiap pakaian. Ia juga merasakan ada yang aneh dengan bajunya.
"Jika bibi tidak suka, aku tidak memaksa."
Xiao Nuan tersenyum kecil. "Mana mungkin aku berani menolak hadiah putra mahkota." sahut Xiao Nuan.
Pelayan langsung merapihkan pakaian tersebut dan mengirimkan ke kediaman pangeran kaisar. "Bibi, anda memiliki janji denganku untuk jalan-jalan."
Xiao Nuan teringat memang beberapa hari lalu ia menyetujui untuk pergi bersama. "Maafkan saya, akhir-akhir ini sibuk."
"Ternyata begitu? Pantas saja."
__ADS_1
"Lain kali aku akan mengajakmu secara pribadi." kata Xiao Nuan ramah. Mencoba menjaga tata Krama walaupun setengah mati menahan kesal karena tahu tujuan putra mahkota memberikan gaun sutra.