
Siluman elang dan siluman penjaga terpental jauh oleh tebasan Xiao Nuan. Mereka memuntahkan darah dari mulutnya, "Maafkan kami!" ucap siluman penjaga.
Tekanan Xiao Nuan semakin besar bahkan aura tatapannya sangat berbeda membuat siluman elang langsung bersujud dan meminta maaf karena telah membuat Xiao Nuan marah.
"Aku tidak marah, hanya memberi kalian sebuah pembelajaran." ucap Xiao Nuan lalu menarik Ho Hien untuk meninggalkan mereka terkapar di sana.
Pertama memasuki pedesaan ini hanya ada satu kata. "Gelap." ucap Xiao Nuan dan Ho Hien bersamaan. Bukan suasana gelap tapi auranya sangat gelap karena setiap penduduk di sini bukan siluman biasa.
"Nona Xiao, apakah ini kampung siluman yang asli?" tanya Ho Hien gemetar.
"Kau juga siluman, kenapa seolah kau masuk ke sarang salah?!" tanya balik Xiao Nuan.
Ho Hien menjawab kalau siluman sepertinya selalu netral kampung siluman seperti ini sangat sulit beradaptasi. "Tenanglah, kita hanya melihat sekitar." sahut Xiao Nuan melanjutkan perjalanan.
"Kenapa di sini sangat dingin sekali? Desaku tidak ada tempat sedingin ini." gumam Ho Hien.
"Desa Èmó cūn, bukan hanya siluman tapi beberapa iblis menetap di sini. Siluman ras sepertimu tentu saja tidak akan cocok beradaptasi di tempat ini."
Ho Hien mengangguk pantas saja auranya berbeda ternyata ada iblis yang tinggal di desa ini. "Tunggu, nona Xiao Nuan kenapa tahu nama desa ini?"
"Tadi siluman elang tidak suka jika desa ini di panggil desa siluman."
"Tapi Èmó cūn, sama saja dengan kata siluman."
"Mungkin kata itu lebih cocok untuk tempat ini." balas Xiao Nuan. Memang arti dari Èmó cūn adalah perkampungan setan tidak ada jauhnya dengan desa siluman.
Mungkin karena kata Èmó cūn lebih membuat desa ini menyeramkan pikir Ho Hien. "Di depan adalah pisan dari desa Èmó cūn."
Terlihat biasa namun sangat mencekam, itulah yang di rasakan oleh Xiao Nuan. Orang-orang di desa ini terlihat sangat angkuh terlihat jelas ketika Xiao Nuan dan Ho Hien melewat mereka akan menatap tajam.
"Mentalmu masih aman?" tanya Xiao Nuan pada Ho Hien yang sejak tadi terus melihat ke sekitar.
"Tenang saja."
Ho Hien tidak mengeluarkan suara sedikitpun karena takut aura siluman rubah miliknya di kenali oleh penduduk desa ini. "Sangat tegang, tadi sudah ku atasi aura rasmu!"
Ho Hien menatap Xiao Nuan aneh. "Maksudmu, nona Xiao?"
"Ras rubah milikmu sangat kuat karena gen ayah, jadi sejak kita berada di depan tadi sudah ku atasi." jelas Xiao Nuan berhenti tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Ho Hien.
Xiao Nuan melirik ke samping tatapannya sangat tajam seperti melihat sesuatu. "Ada apa? Jangan membuatku takut!" ucap Ho Hien sedikit takut.
"Ada yang memerhatikan, kita cepat selesaikan semuanya." kata Xiao Nuan langsung menarik tangan Ho Hien menuju tempat ramai.
Berharap seseorang yang memerhatikan mereka akan terkecoh. Beberapa saat kemudian mereka berbaur di keramaian, "Nona Xiao, sepertinya ini sedang ada perayaan."
"Hah?"
Xiao Nuan melihat sekeliling dan melihat banyak penduduk menggunakan baju merah cerah, Xiao Nuan menarik tangan Ho Hien ke balik tembok di salah satu bangunan.
"Perayaan? Jangan bercanda, di kehidupan siluman hanya ada perayaan kemenangan dan persugihan." ketus Xiao Nuan menatap Ho Hien kesal.
"Tidak juga, ras rubah tidak sama. Lagipula di sini sering ada perayaan salah satunya pernikahan pejabat tinggi."
"Apa? Jadi tempat ini sama seperti ibu kota?" tanya Xiao Nuan yang baru mengerti sistem kehidupan para siluman. Ho Hien mengatakan kalau mereka juga mempunyai pemimpin daerah dan kerajaan wilayah.
"Beberapa siluman juga memilikinya ras terhormat seperti bangsawan manusia. Tapi bagi siluman bukan harta yang menilai."
"Pasti kekuatan?!" Ho Hien mengangguk. Dalam kehidupan siluman sama seperti sebelumnya hanya yang kuat yang dapat memimpin.
***
Xiao Nuan memasangkan cadar merah, Ho Hien terdiam ia menatap ke arah Xiao Nuan yang membenarkan pakaiannya. "Jangan aneh, aku selalu membawa pakaian ini."
Ho Hien bertanya. "Ajari aku ilmu agar menjadi perempuan hebat seperti dirimu." ucap Ho Hien tanpa sadar.
Xiao Nuan terkekeh lalu memegang tangan Ho Hien. "Aku tidak bisa mengajari, tapi menjadi wanita kuat berasal dari sini." Xiao Nuan membawa tangan Ho Hien ke dada kirinya.
Sekali lagi Ho Hien mendapat pelajaran hidup dari Xiao Nuan. Walaupun tatapan yang tegas, ucapan yang selalu seenaknya terkadang sangat membuat kesal tapi selalu ada alasan tertentu.
Rasa kagum terhadap sosok Xiao Nuan mulai tumbuh di hati Ho Hien. "Pakai ini, kita harus berbaur dengan siluman lain." Xiao Nuan menaruh sebuah cincin ruang di tangan Ho Hien.
Sekarang mereka sudah siap dengan pakaian yang sama dengan penduduk di desa ini. Mereka juga langsung bergabung di acara tersebut.
Ternyata penduduk desa ini tidak ada yang berbicara mereka sangat diam bahkan tidak bereaksi apapun. "Sangat menyeramkan." gumam Xiao Nuan saat melihat semuanya yang berjalan di keramaian tanpa ada suara.
"Mengeluarkan suara sedikit saja, maka keberadaan kita akan segera di ketahuinya." ujar Ho Hien memperingati.
Xiao Nuan mengangguk tanda tahu. Mereka mengikuti penduduk desa berjalan dan tidak tahu sampai mana. Setelah beberapa saat mereka berjalan, ada gerbang di depan.
Ho Hien langsung menari Xiao Nuan mundur. "Ada apa?" tanya Xiao Nuan. Ho Hien hanya menatap ketakutan ke arah gerbang.
"Ada apa? Itu hanya gerbang, mungkin dengan masuk ke sana maka kita akan tahu sesuatu."
Ho Hien mencekal tangan Xiao Nuan dengan erat, kepalanya menggeleng pelan. "Itu bukan gerbang biasa." Xiao Nuan mengerutkan dahinya heran.
" Maksudnya apa?"
"Gerbang pada setan, ini adalah tempat pensucian bagi siluman."
"Pensucian? Sejak kapan siluman punya sifat suci?"
Ho Hien menggeleng. "Bukan itu maksudku, ini adalah gerbang untuk menentukan siluman yang layak hidup sesuai dengan apa yang di tugaskan oleh yang mulia tuan besar."
Xiao Nuan malah semakin bingung dan kekeh ingin masuk ke sana. Ho Hien menarik dengan sekuat tenaga agar terhindar masuk ke dalam gerbang itu.
Ho Hien menerobos keluar dari kerumunan tersebut. Mungkin ia akan baik-baik saja ketika melewati gerbang itu tapi yang ada di pikiran Ho Hien adalah Xiao Nuan yang bukan siluman ataupun iblis.
"Kenapa menarikku?" tanya Xiao Nuan.
__ADS_1
"Aku mungkin akan baik-baik saja, tapi kau bukan bangsa seperti kami!" sentak Ho Hien.
Xiao Nuan tertawa lalu memegang bahu Ho Hien. "Kamu bahkan tahu betul aku bukan manusia." balas Xiao Nuan dengan nada suara yang begitu datar.
"Karena itu aku tidak bisa membawamu melewati gerbang itu." sabun Ho Hien kekeh takut Xiao Nuan kenapa-kenapa. Xiao Nuan menepuk pelan lalu melepaskan tangannya di bahu Ho Hien.
"Kita belum mencoba kenapa menyimpulkan?" tanya Xiao Nuan langsung menarik balik Ho Hien. Seketika Xiao Nuan dan Ho Hien berada tepat beberapa langkah dari gerbang.
"Jangan!" seru Ho Hien saat tangannya di bawa masuk ke dalam gerbang.
Liu Xingsheng mendapatkan kabar dari Niu Mayleen yang sedang mencari Xiao Nuan dan Ho Hien. "Mereka adalah temanmu, kenapa bisa tidak tahu keberadaannya?" tanya Liu Xingsheng.
"Kami hanya teman, mana bisa tahu selalu keberadaanya." jawab Niu Mayleen santai.
Liu Xingsheng memang menaruh cemburu pada Niu Mayleen apalagi selalu dekat dengan istrinya. "Tadi terakhir bertemu dimana? Kediamanku tidak ada mereka."
"Kami belum keluar kediaman, jadi mana tahu?!"
Liu Xingsheng menjadi kesal, ia meminta beberapa pengawal untuk mencari di sekitar kediaman. Mereka juga ikut mencari, "Aneh, kenapa istriku menemukan pria seperti dirimu!"
Niu Mayleen hanya mengangkat alis saat Liu Xingsheng mengatakan hal itu. Baginya ucapan Liu Xingsheng menunjukan kalau ada hal yang di irikan oleh Liu Xingsheng.
"Mana aku tahu, tanya aja istrimu kenapa ingin berteman denganku."
Emosi Liu Xingsheng semakin membara, ia berpikir kalau Xiao Nuan yang sengaja ingin berteman dengan Niu Mayleen. "Tunggu!" ujar Niu Mayleen saat Liu Xingsheng berjalan lebih dahulu.
Liu Xingsheng berpapasan dengan mengawal yang mencari keberadaan Xiao Nuan. Mereka memberi hormat dan mengatakan kalau di kediaman tidak ada Xiao Nuan.
"Kemana lagi wanita itu!" geram Liu karena belum setengah hari ia memperingatkan Xiao Nuan untuk tidak keluar kediaman dan membuat masalah.
Sekarang Xiao Nuan sudah pergi, kemana lagi ia harus mencari istri yang nakal itu. Liu Xingsheng berjalan keluar kediaman ia akan mencari keluar.
Niu Mayleen mengikuti di belakang, mereka berjalan beberapa meter namun harus berhenti karena Xiao Nuan dan Ho Hien sedang berjalan menuju mereka.
"Hampir saja aku membongkar ibukota untuk mencari wanita ini." gumam Liu Xingsheng.
"Jangankan membongkar ibukota, kau meruntuhkan istana pun tidak bisa menghentikan langkah Xiao Nuan." balas Niu Mayleen.
Liu Xingsheng hanya melirik kesal sebelum akhirnya menghampiri Xiao Nuan yang berjalan menggandeng Ho Hien. "Darimana saja kalian?" tanya Liu Xingsheng.
Xiao Nuan mendongakkan kepala menatap Liu Xingsheng yang berdiri di hadapannya. "Hanya jalan-jalan," jawab Xiao Nuan seadanya.
Niu Mayleen heran karena melihat Ho Hien yang pucat dan terlihat lemas. "Ada apa? Dia kenapa?" tanya Niu Mayleen menunjuk Ho Hien dengan dagunya.
Xiao Nuan langsung melepaskan Ho Hien dan mendorong pelan ke arah Niu Mayleen, mendapat hal tersebut Niu Mayleen hanya. memeluk Ho Hien yang tersungkur ke pelukannya.
"Kenapa dia?" tanya Niu Mayleen sekali lagi.
"Bawa dia istirahat, Ho Hien hanya kecapean." jawab Xiao Nuan lalu berjalan duluan. Liu Xingsheng menahan tangannya lalu menariknya ke arah lain meninggalkan Niu Mayleen.
...****...
Xiao Nuan di bawa ke samping kediaman, Liu Xingsheng menyudutkan di tembok lalu bertanya dengan serius. "Kenapa sangat sulit membuatmu patuh?"
Liu Xingsheng memegang tengkuk Xiao Nuan, ia mencium paksa Xiao Nuan mendapat perlakuan mendadak berusaha melepaskan namun sayangnya Liu Xingsheng tidak berniat melepaskan.
Perlahan Xiao Nuan tidak melawan dan tidak membalas, Liu Xingsheng melepaskan ciumannya lalu menatap Xiao Nuan dengan sayu.
"Jangan keluar tanpa izin dariku!"
Xiao Nuan mengerutkan dahi ia bingung kenapa suaminya bersikap demikian. "Apa otakmu baik-baik saja?" tanya Xiao Nuan terucap begitu saja.
Liu Xingsheng menaruh kepalanya di bahu Xiao Nuan, ia menarik nafas berat. "Jangan membuatku khawatir, aku tidak suka." kata Liu Xingsheng dengan nada lemah.
"Tapikan aku hanya keluar sebentar."
Liu Xingsheng tidak menjawab ia menenangkan pikirannya yang berkecamuk, dalam otaknya terlintas ucapan Niu Mayleen dan janji putra mahkota yang akan menemui Xiao Nuan.
Sampai saat ini Liu Xingsheng menunggu Xiao Nuan mengatakan semua itu, setidaknya dengan meminta izin ia akan mengetahui jika Xiao Nuan masih menghargai dirinya sebagai suami.
Tidak banyak namun menunggu hal itu sangatlah lama, apalagi dari tingkah kelakuan Xiao Nuan seperti tidak ada niatan untuk mengatakan kedua itu.
"Aku beberapa hari lagi pergi, apakah kamu bisa tanpaku?" tanya Liu Xingsheng pelan.
Xiao Nuan terkekeh geli lalu menjawab, "Aku selalu bisa tanpa tergantung pada orang lain tenang saja." jawab Xiao Nuan tanpa beban.
'Andai kau tahu, apakah kamu bisa tanpaku bukanlah pertanyaan untukmu tapi aku sedang bertanya pada diri sendiri. Aku terlanjur menyukaimu walaupun selalu membuatku kesal.' batin Liu Xingsheng.
Ia tidak tahu sejak kapan rasanya mulai mendominasi, Liu Xingsheng juga tidak tahu sejak kapan ia memiliki perasaan khusus untuk Xiao Nuan.
Dari hitungan, mereka jarang bertemu apalagi saat Xiao Nuan menghilang mungkin saja cara Xiao Nuan menghilang telah menarik hati Liu Xingsheng yang awalnya biasa saja.
"Biasanya kamu peduli dengan martabat tapi kenapa sekarang kamu sangat berperasaan?" tanya Xiao Nuan membuat Liu Xingsheng mendongakkan kepala menatap mata Xiao Nuan.
"Hanya lelah dengan kelakuan kamu." jawab Liu Xingsheng simpel lalu berdiri tegak dan berjalan kembali ke kediaman.
"Hah? Kau kira aku memintamu untuk peduli dengan kelakukanku?" tanya Xiao Nuan kesal. Ia segara menyusul Liu Xingsheng yang sudah duluan berjalan.
Xiao Nuan termagu di depan cermin, barusaja mendapat perintah dari istana untuk menghadiri salah satu upacara penting. "Dua hari ini aneh, kemarin wajib memakai baju merah di desa setan sekarang upacara ini sama harus memakai pakaian merah."
Liu Xingsheng datang menghampiri Xiao Nuan yang duduk di depan cermin. "Ayo, kereta sudah menunggu di luar." Liu Xingsheng menggandeng Xiao Nuan.
Pelayan menatap tidak percaya, semakin hari semakin romantis saja sangat berbeda dengan sifat Liu Xingsheng dulu. "Jangan bertingkah macam-macam nanti."
"Aku selalu diam." sahut Xiao Nuan memalingkan wajahnya.
Liu Xingsheng mengatakan kalau Xiao Nuan selalu bertindak tanpa di pikir terlebih dahulu. "Aku tau apa yang harus di lakukan di istana nanti."
Liu Xingsheng tidak menjawab, dan mereka terdiam sampai di istana. Liu Xingsheng membantu Xiao Nuan turun dari kereta. Banyak pejabat yang melihat karena mereka turun tepat di depan aula yang akan di pakai.
Acaranya sudah di mulai, banyak pejabat yang sudah sampai bahkan mereka sedang melihat pembukaan dari upacara itu. Para pelayan istana mengandeng Xiao Nuan menuju tempat yang sudah di khususkan.
Semua orang penting yang ada di upacara itu menatap ke arah Xiao Nuan dan Liu Xingsheng. Karena mereka sudah menyita perhatian putra mahkota dan adik-adiknya langsung melihat apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Paman kaisar, anda sudah datang? Lama tidak berjumpa." kata Putra mahkota melirik Xiao Nuan yang sedang pura-pura sibuk.
"Aku terlalu sibuk mengurusi istriku di rumah." jawab Liu Xingsheng saat tidak sengaja melihat tatapan putra mahkota pada Xiao Nuan.
"Pantas saja, sepertinya bibi sudah sangat bahagia ya?" tanya putra mahkota dengan seringai misterius.
"Putra mahkota, ucapanmu sungguh membuatku tersinggung." ujar Xiao Nuan menatap mata putra mahkota dengan tajam. Putra mahkota tersenyum lalu mengatakan dimana letak kesalahannya.
"Anda berbicara seperti itu, seolah dulu aku tidak bahagia memiliki suami seperti pangeran kaisar." kata Xiao Nuan menggandeng tangan Liu Xingsheng.
"Bukan seperti itu, maaf telah membuat bibi tersinggung tapi pada kenyataannya bukankah seperti itu?" Xiao Nuan menatap Liu Xingsheng lalu tersenyum ceria.
"Waktu itu aku terlalu kekanak-kanakan dan masih ingin menikmati dunia, Tapi setelah bersama pangeran kaisar beberapa waktu membuatku sadar kalau hidup bukan hanya di nikmati sendirian." tutur Xiao Nuan tersenyum tipis.
Putra mahkota terdiam, tadinya ia ingin membuat Xiao Nuan marah atau mengeluarkan emosinya di sini. Namun sayang Xiao Nuan bisa mengendalikan semuanya bahkan membuat beberapa orang yang menyimak mereka kagum.
Xiao Nuan tersenyum miring, ia melihat wajah tidak enak dari putra mahkota. Memang paling bagus mengatasi pertanyaan menjebak adalah otak dingin.
Sang suami juga tersenyum bangga karena mengatasi ucapan putra mahkota dengan tenang dan beberapa kali mengeluarkan kata yang seakan candaan.
"Bibi harap bisa segera mendapatkan kabat bagus." lanjut Xiao Nuan membuat semuanya terbengong karena kebingungan maksud dari ucapan Xiao Nuan.
"Apa yang dimaksud bibi?" tanya pangeran Yun Taen.
Xiao Nuan menunduk hormat saat pangeran Yun Taen datang bersama kaisar. "Kenapa masih berdiri? Ada apa?" tanya kaisar. Liu Xingsheng langsung menjawabnya.
"Keponakanku sangat merindukan bibinya." Kaisar menggeleng pelan lalu meminta pangeran-pangeran ke tempat yang sudah di siapkan daripada berdiri di sana menjadi tontonan pejabat-pejabat.
Mereka langsung kembali ke tempat seharusnya, Xiao Nuan di bantu Liu Xingsheng untuk duduk. "Suasana seperti ini lebih ke arah upacara pernikahan dari pada upacara tahunan."
"Warna merah lebih berani dan kuat, makanya secara turun-temurun istana menyelanggarkan acara seperti ini setiap tahun." jelas Liu Xingsheng.
"Iya, tapi liat dong pakaianku seperti pengantin."
"Bagus dong, kita bisa mengenang tahun itu."
Xiao Nuan menatap jijik ke arah Liu Xingsheng, bisa-bisanya dia membahas nostalgia pada saat itu Xiao Nuan sendiri juga tidak terima di nikahkan.
"Jangan mengenang, aku tahu waktu pernikahan itu kau sengaja menghilang."
"Aku gak menghilang." timpal Liu Xingsheng.
"Terserah," Xiao Nuan tahu betul Liu Xingsheng pergi dan membuat Feng shui menggantikan dirinya dengan sihir perubah. Namun Xiao Nuan memilih untuk pura-pura tidak tahu karena malas berurusan dengan Liu Xingsheng waktu itu.
"Jangan lupa, kau harus membayar Feng shui karena sudah menggantikanmu melakukan upacara sakral."
"Kau ... "
"Ck, seharusnya sekarang ini aku nyonya Shui bukan Xingsheng." sela Xiao Nuan membuat Liu Xingsheng langsung kesal dan menahan amarahnya.
"Kenapa? Kau menyesal?" tanya Liu Xingsheng.
"Sangat, namamu di takuti oleh Medan perang tapi kenapa tingkahmu berbeda jauh dari rumor." sergah Xiao Nuan melihat ke arah Liu Xingsheng dengan malas.
Liu Xingsheng membuang muka, tidak ada yang berani menatap langsung apalagi berani memaki dirinya di hadapan langsung. Xiao Nuan wanita aneh dan unik ini bisa membuat Liu Xingsheng marah, kesal, khawatir dan bahagia dalam waktu yang sama.
Xiao Nuan mengambil gelas arak dan meminumnya, selama upacara berlangsung Xiao Nuan tidak fokus karena ucapan Liu Xingsheng yang terus terngiang-ngiang.
"Ck, manusia ini memang membuatku gila." gumam Xiao Nuan pelan.
Liu Xingsheng juga melihat upacara namun pikirannya entah dimana, dalam hatinya merasa ragu akan rasa suka pada Xiao Nuan. Memang sangatlah mustahil bagi mereka untuk tetap bersama karena satu alasan.
"Dik, lihatlah paman kaisar dan bibi. Mereka sepertinya sedang bertengkar." kata putra mahkota menyenggol bahu pangeran Yun Taen.
"Baguslah, kita akan mudah membuat mereka berpisah."
"Memang, Alcie Wang adalah orang yang sulit jika dia di pihak kita maka akan sangat berguna." ujar putra mahkota.
Pangeran Yun Taen mengangguk memang benar, namun menurut dari orang yang mengintai Xiao Nuan selama ini. Mengabarkan kalau Xiao Nuan tidak memihak siapapun bahkan tidak peduli dengan urusan itu.
"Apa dia tahu tentang perselisihan kita?" tanya putra mahkota.
Pangeran Yun Taen menggeleng kepala. "Dia bukan tidak tahu, tapi memilih tidak peduli dan berpura-pura tidak tahu." balas Pangeran Yun Taen.
"Adik kedua, dia adalah satu-satunya orang istana yang tidak ingin terjun politik. Besar di camp militer adik kedua Yun Akash sangat di takutkan memihak paman kaisar."
"Tenang saja, dia tidak bisa memihak siapapun karena setiap pertempuran mau itu hanya masalah kecil atau pemberontak Wilayah adik kedua Yun Akash selalu di barisan pertama."
Putra mahkota mengangguk lalu melihat ke arah kaisar sebentar sebelum kembali menatap Liu Xingsheng dan Xiao Nuan yang sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing.
"Bunga cantik selalu mempunyai jebakan yang mematikan seperti mawar." kata putra mahkota menatap Xiao Nuan dengan penuh ambisi.
Semakin ke sini memang semakin tidak mengerti apa tujuan dari mereka berdua. Jika itu tentang kedudukan mereka paling utama yang mendapatkan semua itu.
Sedangkan militer lambat laun akan berpindah tangan, sudah cukup Liu Xingsheng memimpin militer terbesar di kerajaan Yuoyui selama 15 tahun.
Namun bukan karena harta, Liu Xingsheng tidak bisa berhenti karena banyak kesalahan yang bocor karena ia mencoba melepaskan dengan perlahan.
"Lihat saja,"
****
"Hachu ....
Xiao Nuan menoleh ke arah Liu Xingsheng dan mengatakan dengan ketus. "Kenapa masih mengikutiku?" tanya Xiao Nuan kesal.
"Kamu berkeliaran di istana, tentu saja hatiku tidak bisa mengijinkannya."
Xiao Nuan berhenti tiba-tiba membuat Liu Xingsheng yang berjalan di belakang langsung menabrak punggung Xiao Nuan. "Aku hanya di taman bukan membuka pintu sel!" bentak Xiao Nuan membalikan tubuhnya.
Liu Xingsheng memegang bahu Xiao Nuan dengan kedua tangannya. "Aku tahu kau sering bermain mata dengan putra mahkota. Sadarlah kamu sudah bersuami!"
Xiao Nuan yang mengerutkan dahi langsung marah dan menghempaskan tangan Liu Xingsheng di punggungnya. "Bodoh, kau pikir aku apaan? Kau kira seperti apa putra mahkota sampai aku bermain mata."
Xiao Nuan pergi beberapa langkah namun berhenti sejenak. "Dan harus kau tahu setelah tujuanku tercapai maka kita akan menjadi orang asing."
__ADS_1
Liu Xingsheng mengepalkan tangannya dan menatap punggung Xiao Nuan yang menjauh. "Apa kau pikir aku ingin memiliki rasa cemburu? Kalau bisa memilih aku ingin kita seperti awal lalu."