
Setelah menemui Raja Leon. Tiger bergegas menemui Panter dan yang lainnya.
Mereka semua kebetulan sedang berada di rumah makan tempat biasa para komandan berkumpul.
"Masih bisa juga kamu makan di luar, kalau aku sih lebih baik makan di rumah dengan pujaan hati," goda Panter setelah Tiger duduk.
"Kenapa memangnya? Aku juga ke sini tidak untuk makan, karena yang pasti masakan Triyas lebih enak," Tiger menanggapinya sambil menyeringai.
"Kalian ini, semenjak ada Triyas pasti kalau ketemu berantem terus, apa kamu menyukai Triyas Panter?" celetuk Wolfin.
Seketika Tiger langsung mengernyitkan dahinya, ia menatap tajam sahabatnya, jika sampai bilang menyukainya maka dia akan bertarung dengannya.
Panter menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Mana ada aku menyukainya, lihatlah kamu baru bilang seperti itu saja wajahnya seperti kehilangan barang paling berharganya," tunjuknya ke wajah Tiger.
"Hais, sangat menyeramkan sekali, aku jadi tak"ut...." goda Wolfin.
"Hahahaha... benarkan, dia itu seolah ingin membunuh kita," ujar Panter sambil tertawa.
"Sialan kalian ini!" gerutu Tiger kesal.
Tawa mereka semua kembali pecah, membuat para pelanggan lain yang melihat komandan pasukan kerajaan semuanya tertawa seperti tanpa beban, membuat mereka sangat kagum.
Bagaimana mereka tidak kagum, di saat sedang dalam krisis saja mereka masih bisa bercanda bersama tanpa terlihat tertekan sama sekali.
__ADS_1
"Katanya kamu ke sini tidak mau makan, jadi ke sini mau apa?" tanya Panter serius.
"Aku sampai lupa tujuan awalku gara-gara kalian terus menggodaku," keluh Tiger.
"Mendekat lah!" perintah Tiger lirih.
Panter, Wolfin dan Bird langsung mendekat, Tiger kemudian berbicara pelan, memberitahu mereka bertiga tentang adanya penyusup yang di kirim oleh pasukan Dubuk.
Jelas saja mereka bertiga tercengang, pasalnya mereka tidak pernah berpikir sampai ke sana.
"Kamu Serius?" tanya Panter memastikan.
Tiger menganggukkan kepalanya mantap. "Ya, nanti malam kita mulai beroperasi, ajak bawahan kalian, tapi jangan beritahu mereka apa tujuan kita, takutnya salah satu dari mereka ada yang menyamar."
Panter menghela napas sambil menyenderkan tubuhnya di kursi dengan tidak berdaya, membuat Tiger dan yang lainnya bingung.
"Kamu kenapa lagi, apa sudah bosan hidup?" goda Tiger.
"Sialan, mana ada aku bosan hidup, selama Kerajaan ini belum sepenuhnya damai aku tidak ingin mati terlebih dahulu!" ujarnya yakin.
"Heleh, biasanya juga mengeluh terus," celetuk Wolfin.
"Hahahaha... benar itu, Panter lebih baik kamu pergi ke rumah Bordil, aku yakin pikiran kosong mu akan menghilang di sana," goda Tiger sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Panter hanya bisa tersenyum getir, bukannya di hibur malah menjadi bahan tertawaan rekan-rekannya. Namun, ia tidak marah sama sekali, karena mereka sudah terbiasa bercanda seperti itu.
Mereka ngobrol-ngobrol sebentar, sebelum akhirnya membubarkan diri untuk menyiapkan rencana penyergapan nanti malam.
Mereka berempat tentu tidak mau kecolongan dan mereka sangat yakin incaran para penyusup tersebut pasti penghuni Istana, mereka semua pun bersiap di sekitar Istana.
...***...
Malam harinya....
Benar saja beberapa kelompok pasukan penyusup dengan wajah ditutupi kain hitam layaknya Ninja, mereka sedang diam-diam mengamati gerakan para penjaga Istana.
"Kita tunggu pergantian penjaga, di saat itu ada celah beberapa saat untuk kita masuk kedalam!" perintah pemimpin penyusup.
Semua bawahannya mengangguk, mereka masih fokus mengamati wilayah sekitar Istana yang malam itu tampak sepi.
"Tuan, aku merasakan ada yang janggal malam ini," ucap salah satu bawahan.
"Cih, kamu itu seperti biasanya pengecut!" seru bawahan lainnya.
"Sudah, sudah, kalian diam dan bersiaplah!" tegur pemimpin kelompok.
Mereka semua pun langsung diam dan kembali fokus, mengingat yang mengatakan ada keanehan merupakan pasukan paling penakut di kelompok tersebut.
__ADS_1
Si penakut sangat yakin kalau suasana malam itu seperti ada yang aneh, mengingat tidak mungkin penjagaan Istana begitu lengang, di lihat dari sudut pandang manapun sosok tersebut sangat tidak nyaman.