
Dubuk dan bawahannya sampai dibatas wilayahnya, mereka semua berkumpul di sana sengaja menunggu pasukan kerajaan Beast seolah menantangnya.
Tiger dan Wolfin yang menjadi berada di sana, mereka berdua berdiri di depan pasukan perbatasan yang jumlahnya hanya puluhan saja.
"Mana Rajamu Tiger! Apa dia sedang sembunyi ketakutan?!" seru Codile dengan sombongnya.
"Hahaha... mungkin dia sedang kebingungan karena pasukannya tidak ada yang mau berperang!" timpal Sank.
"Beruntung kita pergi dari kerajaan Beast dengan begitu kita bisa bebas dan akan membuat kerajaan yang tegas tidak lembek seperti peraturan Leon!" Vulture mengolok-olok Raja Leon.
Tiger marah, ia tidak terima Rajanya di olok-olok mereka. Namun, Wolfin menahannya agar rekannya itu tidak bertindak gegabah, mengingat jumlah lawan mereka yang sangat banyak.
"Bersabarlah Tiger, kita tunggu yang lainnya datang," ucap Wolfin sambil mencekal lengannya.
Tiger mengepalkan tangannya, ia berusaha sekuat mungkin untuk menahan amarahnya di depan para musuhnya.
Tidak berselang lama suara gemuruh dari baling gerbang perbatasan terdengar. Tiger dan Wolfin menyunggingkan senyum, karena mereka tahu kalau suara gemuruh tersebut pasti pasukan kerajaan.
Tiger menoleh ke gerbang, terlihat Raja Leon yang menunggangi kadal miliknya didepan dengan di ikuti tiga Komandan kerajaan dan pasukan yang berjalan dibelakangnya.
"Salam Baginda!" Tiger dan yang lainnya memberikan salam dengan sopan ketika sang Raja sampai didepan.
Raja Leon turun dari kendaraannya. "Mereka ternyata benar-benar berhianat rupanya." ucapnya santai sambil berjalan ke depan Tiger dan yang lainnya.
__ADS_1
Pemimpin Kerajaan Beast tersebut menatap tajam Codile dan mereka semua yang menjadi bagian dari musuhnya.
Semua pasukan Kerajaan Beast berdiri dibelakang Raja dan Komandan mereka, jelas ada sedikit kekhawatiran ketika melihat musuh yang begitu banyak.
"Kalian semua tidak perlu takut! Lawan kita hanyalah para sampah! Aku yakin mereka tidak sebanding dengan kita semua! Jumlah kita boleh kalah. Namun, tekad kita tidak boleh kalah!" seru Raja Leon kepada pasukannya.
Tiger menyeringai, ia menatap punggung Rajanya tersebut, hanya dialah sosok yang dapat menyatukan seluruh Ras Kerajaan Beast. Sosok yang paling berperan penting untuk kerajaan Beast.
Pasukan kerajaan Beast mendapatkan suntikan mental, mereka yang tadinya semat takut, kini mereka telah sadar, dimedan perang tidak ada kata takut, yang ada mereka harus tetap maju menghadapi kenyataan.
"Apa kalian mendengar suaraku, pejuang Kerajaan Beast!" seru Raja Leon lagi.
Ya!
Ya!
Codile dan yang lainnya geram melihat pasukan kerajaan Beast yang sangat bersemangat, padahal jumlah mereka kalah banyak.
"Persetan dengan mereka para mahluk bodoh, Serang!" seru Codile.
"Serang!" Sank dan Vulture menimpali.
Mereka semua langsung berlari ke arah pasukan Kerajaan Beast.
__ADS_1
Di sisi kerajaan Beast, Raja Leon menoleh ke para Komandannya, mereka semua mengangguk dengan mantap. Ia menatap kedepan menghirup napas dalam-dalam kemudian membuangnya.
"Serang!" Raja Leon mengangkat tangannya.
"Uraaa!" seru pasukan kerajaan Beast.
Mereka semua berlari menerjang pasukan kerajaan Hyena yang jumlahnya dua kali lipat dari mereka tanpa rasa takut sama sekali.
Tiger meluapkan auranya, ia berlari dengan sangat cepat di depan untuk membunuh setidaknya lebih banyak dari lainnya.
Komandan lainnya menyergap Codile dan Komandan pasukan lainnya, hanya Tiger yang membantu pasukan, tujuannya agar ia mengurangi jumlah pasukan musuh.
Groaar
Duarr
Tiger melompat dari atas menghantam pasukan Dubuk, puluhan pasukan Dubuk yang terkena serangan Tiger langsung tewas seketika.
Tiger benar-benar mengamuk di sana, ia tidak membiarkan siapapun menyentuhnya sama sekali, hanya dalam sekejap ia sudah membunuh ratusan pasukan Dubuk.
Sementara itu Panter berhadapan dengan Codile, mereka saling menyerang satu samal lain dengan kekuatan masing-masing.
Di lain Sisi, Wolfin berhadapan dengan Sank, Vultur dengan Bird, sementara Buls membukakan jalan untuk Raja Leon agar sampai ke tempat Dubuk.
__ADS_1
Mereka semua memiliki tugas masing-masing, Peperangan tersebut benar-benar yang terbesar setelah ratusan tahun.