King Of The Beast

King Of The Beast
Tanda Peperangan?


__ADS_3

Dugaan Tiger benar, baru saja ia turun dari Wivern Wolfin langsung saja menghampirinya.


Tiger pura-pura tidak melihatnya, ia berjalan ke arah tempat istirahat para prajurit yang berjaga diperbatasan lalu duduk dengan santai di sana.


"Mentang-mentang sudah resmi mengabaikan temanmu ini," ucap Wolfin sambil duduk di dekat Tiger.


"Apa maksudmu?" tanyanya pura-pura tidak tahu.


Wolfin menghela napas. "Ayolah Tiger, kita ini sudah sama-sama tahu satu sama lain."


"Kalau sudah tahu ngapain nanya?" jawabnya enteng.


Wolfin tersenyum getir, rekannya itu seolah tidak mau berceritakan tentang hubungannya dengan Triya, membuatnya semakin penasaran.


Wolfin mendekatkan wajahnya ke Tiger sambil menatapnya lekat-lekat, membuat komandan pertama tersebut marah.


Pletaak


"Aduh! sialan kau!" pekik Wolfin sambil memegangi kepalanya yang dijitak Tiger.


"Kenapa? Mau bertarung?" tantang Tiger.


"Hehehe... janganlah kejam-kejam denganku, lihat bawahanmu ketakutan semua," jawabnya sambil nyengir kuda.


Tiger menghela napas panjang. "Dia memang sudah resmi menjadi milikku, kalian tidak erlu menggodanya."

__ADS_1


Mata Wolfin langsung berbinar. "Benarkah? Bagaimana malam pertama kalian? Apa Triyas masih gadis?"


Tiger mengernyitkan dahi, ia menatap Wolfin dengan tajam. Seketika pemimpin Ras Serigala gunung tersebut langsung tersenyum getir dan tidak berani bertanya lagi.


Tiger beranjak dari duduknya, ia mengambil teropong untuk melihat gerbang perbatasan wilayah Dubuk.


Terlihat digerbang tersebut masih banyak penjaga, sosok tersebut mengernyitkan dahi ketika melihat begitu banyak pasukan yang berkumpul di sana.


"Sial! Wolfin cepat kirim pesan ke Istana, kemungkinan mereka akan menyerang!" serunya memberikan perintah.


"Apa! Bagaimana mungkin, bukankah mereka kemarin menarik mundur pasukannya?" tanya Wolfin sambil merebut teropong di tangan Tiger.


Wolfin membelalakkan mata lebar ketika melihat Ras Harimau belang ada di gerbang perbatasan wilayah Dubuk. Ia menggertakkan giginya marah, karena ternyata Marc menghianati kerajaan Beast.


"Aku sudah menduga ini, sekarang kita sudah melihat kalau Marc sudah berubah haluan, aku yakin sebentar lagi akan ada perang besar, lebih baik kita juga menyiapkan pasukan, kamu kirim bawahanmu untuk memberikan informasi ini!" perintah Tiger tegas.


"Baik!" jawabnya bergegas memberitahu bawahannya.


Sementara itu Tiger juga bergerak, ia memberitahu semua pasukan yang ada digerbang perbatasan untuk terus waspada.


Tiger menebak akan terjadi perang yang sangat besar di era ini, mengingat Ras Harimau belang yang notabenya memiliki petarung kuat berpihak pada Dubuk.


"Kalian, tetaplah waspada! Jangan sampai musuh membodohi kita!" perintah Tiger tegas ke semua pasukan yang ada digerbang Perbatasan.


"Dimengerti tuan!" jawab mereka serempak.

__ADS_1


...***...


Sementara itu di kerajaan Dubuk berada, benar saja Marc sudah bergabung dengan mereka membawa beberapa bawahan setianya.


"Akhirnya kamu keluar juga dari Kerajaan Beast Marc!" seru Codile.


"Cih, jika bukan karena kalian bertindak sembrono, aku tidak mungkin keluar dari sana, mereka sekarang mulai mengawasi Rasku, daripada aku harus tertangkap konyol di sana, lebih baik sekaligus terlihat sebagai pembelot!" ujarnya lantang.


"Hahahaha... bagus Marc, aku suka dengan keputusan berani mu!" Raja Dubuk tertawa senang.


Marc duduk di salah satu kursi petinggi kerajaan Dubuk. "Lebih baik kita cepat serang Kerajaan Beast, pasukan mereka sudah berkurang banyak!"


"Kami sedang menunggu keputusan Ras Serigala putih, apakah mereka akan menjadi bagian dari kita atau bertindak netral! Jika pun mereka tidak berpihak kepada kita, setidaknya mereka harus bertindak Netral agar tidak mengganggu rencana kita!" ungkap Raja Dubuk.


"Sudah jelas mereka tidak akan bertarung, kemarin Wolfi datang ke Istana, aku tidak mendengar kalau Ras Serigala putih akan bergabung dengan Kerajaan Beast!" jawabnya yakin.


"Marc, kau jangan bercanda!" tegur Sank.


"Buat apa aku bercanda? Kenyataannya dia memang kemarin datang ke kerajaan Beast, menceritakan kalau kalian akan merekrut mereka, tapi Wolfi jelas-jelas menolak kalian, dia pun tidak akan berpihak ke sisi manapun, jadi apa yang kalian tunggu?"


Semua petinggi kerajaan Dubuk saling menatap mendengar penjelasan Marc, menurut mereka informasi dari Marca sangat penting untuk mengambil keputusan.


Mereka pun mulai Saling berdebat satu sama lain, memperkirakan untung ruginya jika melakukan serangan sekarang.


Raja Dubuk juga mencoba mendengarkan usulan para petinggi dan sekutunya, ia tidak mau serangan kali ini akan gagal lagi, karena akan mengerahkan seluruh pasukannya.

__ADS_1


__ADS_2