
Tiger menemui Raja Leon yang sudah menunggunya di tempat pertemuan bersama dengan Permaisuri dan kedua selirnya.
Pangolin juga berada di sana, karena ia selalu secepat mungkin berusaha tetap bersama Raja Leon.
"Salam Baginda!" Tiger bertekuk lutut dihadapan Raja Leon.
"Bangunlah Tiger," ucap Raja Leon lembut.
Tiger menganggukkan kepalanya, ia beranjak dari bertekuk lututnya. Kemudian Raja Leon menunjuk kursi menyuruhnya duduk agar mereka bisa mengobrol dengan santai.
"Tiger, apa semuanya sudah kamu bereskan?" tanya Raja Leon memastikan.
"Untuk serangan malam ini sudah Baginda, tapi saya menyuruh Panter dan yang lainnya untuk tetap waspada, karena takutnya masih ada penyusup yang bersembunyi," jawabnya mantap.
Raja Leon mengangguk mengerti. "Kamu memang tidak pernah mengecewakan aku Tiger, terima kasih karena sudah memprediksi kejadian ini."
Permaisuri beranjak dari duduknya, ia menghampiri Tiger dengan membawa sebuah kotak hadiah dan memberikannya kepada Tiger.
Tentu saja Tiger ingin menolaknya, karena menjaga Raja merupakan bagian dari tugasnya.
"Baginda, anda tidak perlu memberikan hadiah kepada saya seperti ini," tolaknya halus.
Permaisuri tersenyum. "Itu bukan untukmu, melainkan buat Triyas, karena dia juga berjasa dalam hal ini," ucapnya lembut sambil kembali duduk di tempatnya.
__ADS_1
"Berikan itu kepada Triyas, bukankah kamu sendiri bilang kalau Triyas lah yang melihat penyusup pertama kali?" timpal Raja Leon.
"Benar Baginda dan terima kasih atas kemurahan hatinya," ucapnya sambil menundukkan kepala.
"Kapan-kapan ajak Triyas ke Istana, kami ingin mengobrol dengannya," timpal permaisuri.
"Baik permaisuri, kalau begitu saya pamit undur diri!" Tiger beranjak dari duduknya dan meninggalkan Raja Leon.
Raja Leon mengangguk, ia membiarkan Tiger untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut, karena laporannya juga sudah cukup.
Tiger berjalan sambil membawa kotak hadiah pemberian Permaisuri dengan penasaran, karena tidak biasanya Permaisuri memberikan hadiah secara langsung. Namun, ia tidak berani membukanya dan membawa kotak hadiah tersebut pulang.
...***...
Tiger menghela napas, ia tidak ingin membangunkan Triyas, tapi sudah terlanjur pulang ke rumah.
Tok... Tok....
"Triyas, apa kamu bisa membuka pintu sebentar!" seru Tiger dari luar.
Tidak terdengar suara sahutan sama sekali dari dalam, sehingga membuat Tiger merasa seperti orang bodoh, karena pulang larut malam seperti itu.
Akhirnya Tiger memutuskan untuk kembali ke Istana, tapi tiba-tiba pintu terbuka.
__ADS_1
"Maaf, tadi aku takut itu bukan kamu, jadi tidak menyahut dan mengintip dari jendela dulu," ucap Triyas langsung.
Tiger membalik badannya. "Aku yang seharusnya minta maaf karena membangunkan kamu malam-malam begini, ini ada hadiah dari permaisuri."
Tiger menyerahkan kotak hadiah tersebut, Triyas dengan senang hati menerimanya.
"Kalau begitu aku pergi dulu, lanjutkan tidurmu," ucap Tiger seraya akan pergi. Namun, Triyas mencekal lengannya.
"Temani aku malam ini, Tiger," ucapnya lirih.
Tiger menatap wanita yang tinggal di rumahnya itu, matanya terlihat berkaca-kaca memohon agar ia tidur di rumah menemaninya.
Pria itu menghela napas dan akhirnya mau masuk ke dalam rumah. Ketika masuk kedalam rumah, Tiger baru menyadari kalau kamar di rumahnya hanya ada satu saja. Ia pun langsung menuju kursi yang ada di ruang tamu.
Triyas mencekal lengannya kembali. "Apa kamu tidak tertarik sama sekali denganku?" ucapnya lembut.
Tiger terkesiap dengan perkataan Triyas, pasalnya ini pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan seorang wanita tanpa ada orang lain.
Jantung Tiger berdegup dengan kencang, ia menatap wajah wanita yang menurutnya sangat cantik itu dengan seksama.
Triyas juga merasakan hal yang sama dengan Tiger, walaupun ia yang lebih agresif dari pria didepannya tersebut.
Tiger mendekatkan wajahnya ke wajah Triyas, wanita itu tidak menolak sama sekali. Ia memejamkan matanya menerima apa pun yang akan dilakukan oleh Tiger, karena sedari tadi dirinya sudah membulatkan tekadnya.
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya bercumbu mesra malam itu. Walaupun gerakan Tiger masih kasar karena memang masih pemula. Namun, Triyas tidak mempermasalahkannya sama sekali, mengingat itu juga pertama kali untuknya.