
Semenjak kejadian itu mereka saling mengerti dan mulai bersahabat dekat seperti selayaknya pacaran. Namun di hati mereka tidak ada lagi perasaan ingin menjalin asmara.
Setiap hari bersama dan saling menguatkan satu sama lain dan menjadi sahabat sejati seperti saudara.
"Imam." Kata Bella malu-malu kucing.
"Ada apa kok malu-malu gitu kamu? " Kata ku sambil senyum.
"Aku lagi dekat sama cowok. Dia ganteng, tinggi, pendiam lagi. "
"Oya? Bagus dong kamu sudah dapat orang yang tepat. " Kata ku menunjukan wajah turut bahagia mendengar kabar itu.
"Iya sih. Tapi dia mau apa gak ya sama aku? " Kata dia yang hawatir akan di tolak juga.
"Coba lah kamu kasih perhatian sama dia! Mungkin aja dia juga berfikir sama kayak kamu. " Tutur ku seakan menyemangati dia agar tidak pesimin.
"Iya juga ya. "
Siang itu kami pulang kerja tampak dia di jemput cowok tinggi kekar menaiki motor sport. Seakan pantas untuk dia yang cantik dan kaya.
"Ayo sayang kita pulang! " Sapa lelaki itu dengan gagah.
"Iya sayang. Oh kenali ini sahabat aku Imam! " Bujuknya agar mereka kenalan.
"Imam." Sapa nya seraya senyum dan jabat tangan lelaki itu.
"Aku Andra. Salam kenal ya, bang. " Sahut lelaki itu ramah pada nya dengan balas senyum juga
"Ya udah kami duluan ya! " Sahut Bella.
"Iya hati-hati di jalan. " Kata ku dengan lembut.
"Iya bang. Duluanya bang! " Sahut lelaki itu.
Dengan suara motor menggelegar mereka beranjak dari tempat itu dan tak tahu kemana arah tuhuannya.
Aku pun pergi menujuh rumah ku untuk istirahat karena kala itu sore yang cerah dan hari yang sangat melelahkan.
Hampir setiap hari mereka berboncengan di jemput kekasih barunya Bella bagai pangeran menjemput Cinderella dengan kuda besinya.
"Boyy.Tengok itu di samber orang dia kan? Gak maen kau. Gadissecantik itu kau tolak gitu aja. " Kata temennya yaitu Jaka sambil mengejek dia karena tidak mau dengan Bella.
__ADS_1
"Berisik lu. Biar aja napa sih. Ngapai kau ngurusi hidup orang? " Sahut ku sedikit kesal dan males berdebat hingga aku berpaling pergi.
Semakin hari hubungan Bella semakin membaik dan dengar-dengar mau tunangan.
"Bell.Dengar kabar kalian mau tunangan ya? "
"Ihh apaan sih? " ujar Bella senyum manja.
"Kabar beritanya uda kesebar di seluruh pabrik loh. "
"Wihh cepat bener kabarnya ya? Padahal masik rencana nya belum pasti. "
"Ya semoga aja cepat kesampaian ya!"
"Amin."
Berselang beberapa bulan menjalin hubungan dengan Bella. Dia pergi jalan ke pasar karena membeli sedikit sayuran untuk di masak oleh Bella. Alangkah terkejutnya dia bagai kesambar petir di siang bolong saat melihat kekasihnya itu sedang mesraan dengan gadis lain di depan matanya sendiri.
"Ohhhh.Jadi ini kelakuan kamu? Kamu gak mau nemeni aku karena jalan sama cewek lain. " Ujar dia kecewa dan marah-marah banget saat itu.
"Sayang maafkan aku. Aku bisa jelasi. " Sahut lelaki itu dengan sangat panik.
"Aku kekasih dia. Dan ini cincin kami mau tunangan. Dasar cewek gatal. " Semprot Bella sambil nunjukan cincin di jarinya dan melemparkan tepat di wajah lelaki itu. Laludia beranjak pergi cepat-cepat dengan menangis.
"Bella tunggu! " Teriak lelaki itu panik dan mengejar Bella yang larinya seperti angin.
Sepulang dia kerumah mbawa kesedihan dan kecewa dia menelpon Imam.
"Kriiiing." Suara panggilan telepon Imam berdering.
"Iya Bella. Ada apa kok sepertinya kamu menangis? " Tanyaku dengan panik dan hawatir.
"Kamu dimana? Kamu bisa gak kerumah ku sekarang? "
"Kebetulan aku ada dekat rumah kamu. Yaudah aku kesana sekarang. "
"Ya udah ku tunggu. Nanti ku ceritakan semua. " Suara gadis itu dengan menangis seduh.
Tak berselang lama aku sampai dirumah Bella yang tampak besar dan indah. Nampak kalau dia orang yang cukup berada.
"Ting... Nung. " Suara bel berkali-kali dari depan rumah.
__ADS_1
"Ehh kamu sudah sampai. " Sapa gadis itu dengan muka sembab sehabis nangis dan tak tahu seberapa banyak air mata yang ia buang.
"Iya kamu kenapa? " Mmegang wajah cantik Bella yang sudah basah oleh air mata dan tanpa ragu Bella memeluk erat tubuh ku hingga pundak ku basah akan air mata itu.
"Huuuuuu.Imam.. Aku.. " Suara patah-patah ditemani tangisan buat Bella seakan tak sanggup berkata apa pun.
"Coba kamu tenang dulu! Ceritakan pelan-pelan ada apa sebenarnya? "
"Tadi aku pas ke pasar gak sengaja melihat pacarku sedang mesraan sama cewek lain. Terus aku hampiri mereka dan marahi mereka lalu ku lempar cincin kami. " Tersengar sangat lembut dan sedikit sendat karena di barengi tangisan.
"Kamu yang sabar ya. Mungkin ini ujian unruk mu. Tuhanmungkin sayang pada mu menjauhkan mu dari orang yang tidak baik. "
"Iya kamu benar. Tapi rasanya sakit banget aku gak nyangka dia sejahat itu. Padahal aku selama ini setia dan sangat menyayangi dia. " Suara celoteh gadis itu melampias kan semua kekesalan, sakit hati, kecewa, atau bahkan kesedihan yang mendalam.
"Kamu kehilangan dia kan masih ada aku sahabat kamu yang selalu ada untuk kamu. " Rayu ku coba menenangkan dia yang lagi sedih.
"Iya.Untung ada kamu. Karena satu-satunya orang yang aku percaya cuman kamu. " Suara manja gadis itu yang terus memejamkan wajahnya di pundak ku saat itu.
"Udah kamu jangan sedih lagi! Nanti aku ikut nangis terus rumah kamu banjir lagi. " Canda ku yang coba buat dia senyum.
"Ihhh.Kamu apaan sih? Bisa aja becanda nya. " Manja gadis itu yang senyum sekejab seakan melupakan luka yang dia hadapi.
"Hehehee.Tuh kan berhasil buat kamu senyum. "
"Iya kamu memang bisa aja. "
Sehabis kesedihan itu seakan terbenam oleh canda tawa mereka yang sama-sama perna merasakan hal yang serupa yaitu patah hati.
Ketika dua orang dalam satu prekuensi yang sama maka akan tercipta satu pemikiran yang sejalan karena sama-sama perna mengalaminya.
Disana mereka duduk berdua becanda tanpa sadari waktu beranjak sore hari.
"Wah gak terasa sudah sore. " Kata ku sembari melihat jam.
"Iya gak terasa ya? "
"Ya sudah aku pulang dulu ya! "
"Makasi ya tuk hari ini. " Ujar gadis itu dengan senyum.
Dan aku pun pulang kerumah karena melihat dia sudah mulai senyum. Sesampai dirumah pun kami chatingan sambil bercanda tawa lebar sampai gak kenal waktu. Seakan Bella melupakan sekejab kejadian yang menimpah dia saat itu juga. Semua lagi dan lagi karena persahabatan yang saling menguatkan.
__ADS_1