Kisah Cinta Penulis Kecil

Kisah Cinta Penulis Kecil
Ketika Imam Tanpa Kabar.


__ADS_3

Pagi itu sangat cerah. Seperti biasa semua masuk kerja dan semangat beraktifitas. Disudut pintu tampak gadis manis stelan celana jeans, rambutpanjang, baju merah seakan memancarkan cahaya di wajah putih nya yang cantik.


Seperti resah seakan bingung tak menentu dia lirik kiri dan kanan melihat seperti orang yang mau menyeberang jalan melihat ada kendaraan tidak. Sembari dia megang hp yang tampak menelpon seseorang sampai berjam-jam lamanya.


Ternyata Bella berusaha mencari dan menelpon Imam yang sejak pagi tidak nampak datang dikerjaan.


"Hayo...Panik amat neng? Lagi nyarik siapa sih? " Tegur Jaka mengejut kan gadis itu hingga kaget setengah mati.


"Ihhh.Kurang ajar banget sih kamu kejutkan aku. " Sahut gadis itu tampak kesal.


"Lagi nyari siapa sih? "


"Kamu lihat Imam? "


"Tidak.Biasa dia datang lebih awal. Mungkin dia sudah ada di dalam. Uda coba telepon ke nomornya? "


"Udah.Tapi gak di angkat juga. Dichat pun gak di balas. Kemana dia ya? Aku jadi hawatir dia kenapa-napa. "


"Coba cari ke dalam! Cari aja mana tau dia sudah ada di dalam. " Saran jaka dengan coba tenangkan gadis itu.


"Ya uda deh ku cari kedalam. "


Lalu dia masuk dan hampir semua tempat dan orang dia tanyak semua soal keberadaan Imam ada dimana? Kok gak ada kabar.


"Jala.Dia gak masuk hari ini ternyata. Tapi kok gak ada ngasi kabar ya? Terus napa nomornya gak bisa di hubungi? " Tanya gadia itu semakin panik gak menentu hingga tak enak makan. Dia takut hal buruk terjadi pada Imam.


"Coba bentar ku telepon. "


"" Tuuuuut. Tuuuut. " Suara telepon yang tidak ada jawaban sama sekali.


"Cieeee sang Juliet panik karena Romeo gak bisa di hubungi. "Sahut Indra seraya menggoda nya sambil senyu sendiri.


" Ihhh. Iniserius lo bukan saat nya becanda tau. Kalau dia ada apa-apa gimana? "Kata dia dengan penuh kecemasan seakan kehilangan setengah dari hidupnya.


" Gimana kalau pulang kerja kita datangi aja kerumahnya? "Sahut Jaka dengan sangat meyakinkan.


" Iya bener. Ide bagus itu. "Jawab Bella dengan semangat agar segera tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan Imam.


Sepanjang hari Bella cuman panik sambil memegang hp menelpon lelaki itu. Dia berharap kali aja segera di angkat. Namun tak kunjung ada jawaban juga sampai dia semakin panik hingga tidak konsen kerja dan makan pun seakan tidak tertelan.


" Sudah... Kita doakan saja dia tidak apa-apa. Nanti kami temeni kamu kerumah dia. "Kata temen nya sambil memegang pundak Bella yang saat itu panik agar segera tenang.


" Iya bener kan? Awas kalau kalian bohong. Soalnya aku gak tenang ini. "


"So swet nya yang pacaran ini. " Kata Jaka seakan iri pada nya.

__ADS_1


"Makanya cepat cari pacar kau jangan jomblo abadi. " Kata Bella meledek teman nya itu.


"Behhh kenak semprot aku lh. "


"Dulu kalian ngejek dia homo karena gak mau cari pacar dan menjauh dari wanita. Sekarang dia punya pacar kalian masik jomblo abadi. "


"Hadohhh.Iya ampun nyai kami salah. " Jawab mereka tersipu malu depan gadis cantik itu. Padahal mereka pun belum pacaran juga nya.


"Oya kalian ada yang tahu rumah Imam dimana? " Tanya Bella malu-malu takut ketawan kalau mereka pura-pura pacaran.


"Lah kamu kan pacarnya. Apa ku gak tau rumah dia dimana? " Kata mereka terheran-heran.


"Aku gak perna di ajak kerumahnya. Kalau jalan dia yang jemput aku. Jadi wajar gak tau rumah dia dimana. " Jawab gadis itu dengan lembut yang tersipu malu dan menunduk.


"ohhh.Ternyata begitu ceritanya. " Sahut mereka barengan.


"Sudah.Aku tahu kok dimana rumah nya. "Jawab sahabatnya.


" Bener kamu tahu? "


"Iya loh. "


"Ya sudah ayok! "


"Demu cinta ku padamu, gunung ku daki lautan ky seberangi. Jarak bukan halangan bagiku. "


Seperti itu lah perumpamaan nya.


Setelah perjalanan panjang, akhirnya mereka sampai lah di rumah Imam yang sederhana.


"Bella.Seperti nya gak ada orang dirumah? "


"Kamu yakin ini rumah dia? "


"Iya aku yakin. "


"Coba kamu tanyak ibu itu. Kali aja beliau tahu kemana dia pergi. " Saran temennya sambil menunjuk ibu yang sedang duduk termenung di teras yang rumahnya tidak pala jauh dari rumah Imam.


"Permisi, ibu. "


"Iya nak. Mau mencari siapa ya? " Jawab ibu itu lembut.


"Saya Bella. Saya mau tanyak sama ibu, Apakah benar ini rumahnya Imam? "


"Benar sekali. "

__ADS_1


"Imamnya kemana ya? "


"Katanya sih pulang kampung beberapa hari sama orang tuanya juga. "


"Mereka gak bilang ada perlu apa pulang ke kampung? "


"Katanya sih ziarah. Karenahari ini adalah hari dimana keluarga nya meninggal. "


"Ohh begitu. Baiklah kalau begitu terimah kasih ya, bu. "


"iya sama-sama. "


Setelah mendengar hal itu hatinya sedikit terobati dan sedikit tenang. Namun rindu yang tak terelakkan menguasai hati dan fikiran nya.


"Ternyata dia pulang kampung untuk ke makam keluarga nya. " Kata Bella lesuh dan sedikit murung.


"Ya sudah lah mungkin dia rindu. Sekarang kita pulang yok! " Sahut Jaka.


"Ya sudah. Ayoklah aku pun capek kerja. " Jawab Bella.


Akhirnya mereka pun pulang kerumah masing-masing dan istirahat seperti biasa nya hingga menjelang pagi.


"Ya tuhan ne orang masik aja melamun." Sapa Jaka saat hampiri gadis itu melamun di audut ruang.


"Iya gak apa-apa. "


"Tapi udah tau dia kemana? Apa lagi yang kamu fikirkan? "


"Aku gak habus fikir dia pergi mendadak tanpa kabar


Terus nomornya gak bisa di hubungi.


Ada masalah apa coba? "


"mungkin dia buru-buru. Soal hp dia di kampungnya susah banget jaringan. " Jelas nya mencoba yakin kan Bella agar tenang dan gak prasangka buruk.


"Apa pelosok banget kampung dia? "


"Pelosok banget pun sampai mobil pun jarang masuk kesana. "


"Pantas aja dia gak bisa di hubungi. " ujar Bella yang mulai tenang dari keresahan dan prasangka buruknya.


Akhirnya dia coba tenang dan menunggu kepulangan Imam sambil sesekali melamun dan salah panggil teman lain nya dengan sebutan Imam. Hingga sering di godai dan di ledek temen kerja nya kala itu.


Sedangkan Imam yang masih ada di kampung tanpa memikirkan keadaan di kota bagaimana. Sekejapan dia lupa sama Bella. Bukan melupakan sih. Hanya fikiran nya penuh kenangan manis dan pahit saat bersama keluarga nya terutama sang kakak dan ibunya kala itu. Sehingga dia tidak terfikirkan orang di sekitar dia di kota seperti biasanya.

__ADS_1


__ADS_2