
Begitu jauh nya mereka melangkah dan hubungan yang semakin dekat antara kedua keluarga yang seakan sudah tidak dapat terpisah oleh badai apa pun lagi, timbullah rencana bertunangan diantara kedua belah pihak.
"Sayang." Sapa Imam seraya memegang pundak gadis dengan stelah jaket jeans biru.
"Iya sayang. Ada apa? " Tanya lembut gadis itu bagai suara bidadari.
"Kitakan sudah lama menjalin hubungan. "
"Teruuuuuu? " Jawab gadis itu seraya berkedip mata menatap ketampanan sang lelaki itu.
"Kamu mau gak kita ke arah lebih serius? "
"Emang kamu sudah siap melamar aku? " Kata gadis itu pura-pura terkejut padahal itu yang dinanti dia.
"Aku sudah siap mempersunting kamu sayang. " Jawab lelaki itu agak gugup.
"Emang sudah tidak ada lagi yang kamu impikan seperti kemarin? "
"Alhamdulilah sudah tidak ada. Hanya saja tinggal menanti hidup bersama mu yang ku impikan. "
"Ohhh so swet... Kamu romantis banget. Buat aku terharu banget sama kamu. " Jawab gadis itu dengan raut berbinar wajah sambil memegang pipi lembutnya yang putih dan indah.
"Jadi mau kan? "
"Mau dong sayang ku. "
"Alhamdulilah."
Mereka tidak sadar semua teman mereka mengintip dan mendengar kata mereka mau tunangan. Tiba saja kayak hantu mengejut kan nongol diam-diam dari belakang.
"Alhamdulilah... Akhirnya kawan kami mau tunangan juga. " Sahut mereka tiba-tiba gembirah dan sekejab riuh pun menjadi kayak pasar ramainya. Sedangkan kami hanya diam nunduk malu-malu.
"Kapan? Kapan?" Tanya beberapa temen cewek mereka.
__ADS_1
"Iya ne biar kami bantui seperti kemarin. " Kata Reny kekasih baru Jaka.
"Cieee... Yang baru jadian semangat amat bantuin. Jangan-jangan mau cepat nyusul ne? " Sahut Bella yang gantian ngeledek mereka berdua.
"Apaan sih kalian? Kami baru aja jadian kok mau tunangan? Ya masik lama lagi atu. " Sahut Jaka cemberut seakan mau ngeles ucapan mereka.
"Hehehe bisa aja kamu ini. " Kata Reny malu-malu.
"Iya bener juga? Kapan ne rencana nya? " Kata temennya yang lain.
"Sabarlah.Baru rencana ne belum kompromi keluarga. " Tegas ku seraya memegang erat tangan kekasih ku.
"Cia.Cia yang takut kekasih nya diambil orang lagi kayak dulu. " Ejekan semua teman kayak dipasar betul ramainya.
"Wajarlah namanya pengalaman kelam. Yapasti gak mau terulang lagi. " Sahut kepela pabrik.
"Hehehehe.Bisa aja kalian ini. " Sahut kami serentak.
"Tapi cincin uda ada kan? "
"Pakaikan lah terus mumpung kami ada disini!"Sahut Jaka.
" Iya mumpung disini kami saksi dari semua hubungan kalian dari nol sampai akhir hubungan. "Kata mereka bersamaan dengan penuh semangat dan gembira.
" Ayo! Ayo! Jangan malu-malu. "
Karena keseruan dan sorakan serta kebahagiaan bersama, akhirnya aku keluarkan cincin dan bertekuk lutut di depan kekasihku dengan saksi semua orang.
"Will you marry me? " Kata ku sambil mengacungkan sepasang cincin pada gadis itu.
"Iya aku mau. " Jawab gadis itu sambil berlinang air mata bahagia yang tak ternilai harga nya.
"Ku pakai kan cincin ini depan kalian semua. " Lalu aku memakaikan cincin itu di jari tangan yang indah yang kelak akan menjaga dan merawat rumah tangga dan anak kami.
__ADS_1
"Aku juga memakai kan pada mu ya, sayang. " Jawab gadis itu sembari gantian makai kan cincin itu pada jariku juga.
Pada detik itu pula kami resmi tukaran cincin depan mereka semua dan sorak gembira tak terelakkan lagi hingga tawa pun pecah.
Ku peluk tubuh indah gadis itu tanpa ku sadari air mata kami berlinang dengan deras nya betapa bahagianya kami. Mengingat betapa beratnya perjuangan kami bersama serta masa lalu kami yang kelam yang sama-sama mengalami kegagalan serta trauma berat. Kini kami bisa wujud kan fakta bahwa dunia belum berakhir serta dibalik kepedihan ada bahagia yang sudah tercipta untuk kami.
Kami pun bersama-sama menujuh kerumah gadis itu dan bicarakan bersama orang tua kami saling bertemu dan membahas acara tunangan itu.
"Jadi kapan apakah kalian sudah siap melanjutkan hubungan lebih seriys? " Tanya papa nya gadis itu dengan lembut.
"Alhamdulilah sudah, pak. " Sahut ku dengan sangat tegas.
"Kapan rencana kalian melangsungkan tunangan itu? " Tanya ayah ku dengan tegas.
"Minggu depan saja. "
"Baiklah.Kami setujuh kita adakan acara sederhana saja untuk tunangan kalian minggu depan disini dengan seadanya saja. Kami tidak ingin meminta mewah dan terlalu banyak permintaan yang ujungnya bisa buat kalian gagal lagi. " Kata ayahnya dengan rendah hati.
"Terimah kasih, pak. Karena keluarga bapak mau menerimah kami seadanya saja tanpa mengharuskan kami memenuhi sesuatu permintaan yang diluar batas kemampuan kami seoerti yang telah berlalu. " Sahut ayah ku dengan penuh syukur dan gembira.
"Kami pun paham keadaan keluarga bapak. Kami hanya ingin anak kita menikah dengan mudah tanpa ada halangan seperti kemarin. Karena hubungan mereka dan kita juga sudah sangat akrab. "
"Terimah kasih sekali lagi. "
"Sama-sama bapak dan ibu. "
Dengan penuh stukur dan gembira kami penuh semangat bersiap merancang segalanya untuk hari bersejarah kami yang akan diawali pertunangan sederhana namun penuh berkesan. Dan kami pun pulang kerumah kami.
Sesampai dirumah aku sontak sujud syukur pada sang pencipta yang memberi ijin aku bernafas dengan umur panjang sejauh ini menemukan jodoh sejatiku yang selama ini ku impikan. Setelah kesedihan dan kegagalan yang datang bertubi-tubi, kinisemua lenyap hanya menyisahkan kebahagiaan kepada kami.
Selain itu juga aku berterimah kasih pada bang Raka mantan almarhuma kakak ku yang telah menyadar kan aku kala itu bahwa aku tidak boleh menyerah, aku harus semangat, berjuang, dan yakin suatu saat kebahagiaan akan datang pada ku.
Dia telah mengajarkan aku berfikir dewasa serta hapys semua trauma ku saat itu aku yang sudah seakan menyerah tidak mau mengenal lagi yang namanya cinta. Kini aku kembali diperkenalkan lagi dengan cinta itu dan menemukan orang yang tepat yang kelak akan menemani ku disisa hidup ku meniti kebahagiaan bersama anak istriku baik didunia mau pun akhirat kelak debgan iman dan takwa kepada sang Tuhan.
__ADS_1
Orang tua ku pun merasa sangat bangga dan bahagia. Meski mereka bukan lah orang tua kandungku, namun kebahagiaan mereka sudah bagai kebahagiaan orang tua kandung kepada anak nya yang bahagia. Begitu juga impian orang tua gadis itu. Sedangkan para sahabat ku saja dipabrik turut seperti itu bahagianya. Mereka sudah seperti selayaknya keluarga bagi kami berdua. Karena kesetiaan , kebersamaan, serta kekompaan kami seperti selayak keluarga kami sendiri yang begitu antusias berada samping kami mendampingi hubungan kami berdua.