Kisah Cinta Penulis Kecil

Kisah Cinta Penulis Kecil
Bertemu Raka Dimakam


__ADS_3

Sesampai Imam di kampung halaman. Dia berjalan dengan perlahan menujuh rumah lama nya yang bekas kepergian ibu dan kakak nya yang tragis. Pandangan dan bayangan mulai dari mereka kecil hingga akhir hidup seakan tergambar jelas di pandangan matanya.


Suara serta teriakan tangisan ibu dan kakak nya terdengar jelas seakan tak pudar. Disana pula dia masih menemukan surat kecil yang di tulis ibu dan kakak nya saat meninggal dahulu. Sekejab air mata nya membanjiri wajah tampan nya.


Semua tetangga dan teman masa kecil nya juga saling menyapa rindu kepada mereka. Hingga dia rebahkan tubuh nya sejenak pejamkan mata dalam keheningan di atas kasur lama mereka.


Keesokan hari dia pergi ke makam kakak nya dan melihat seorang lelaki menangis di samping nisan kakak nya dengan taburan bunga dari tangan nya. Disamping nya juga tampak anak laki-laki tampan menemaninya.


"Permisi.Maaf anda siapa ya? "Tanya dia dengan lembut pada lelaki itu dari belakang.


" Kamu Imam kan? "Tanya lelaki itu sembari berdiri dan mengusap air mata nya yang tak tau lagi seberapa banyak menetes di pipinya.


" Iya benar. Ohhh ternyata bang Raka. Apa kabar, bang? "Tanya dia takjub dan tidak menyangka bertemu mantan kekasih kakak nya yang dulu gagal menikah karena ulah ibunya.


" Alhamdullilah baik. Kamu bagaimana? "Tanya balik lelaki itu.


" Saya baik juga. Ini siapa? "Tanya dia seraya menunjuk ke arah anak kecil tampan yang berada di samping lelaki itu.


" Ini anak saya. Namanya Dandi. "


"Hayyy sayang. " Sapa dia manis sambil mnyentuh pipi anak itu.


"Iya om. " Jawab anak itu sembari salaman dan mencium tangan ku.


"Kamu sudah menikah, dek? "


"Belum kok bang. "


"Kenapa? "


"Mungkin ini karma kepada ku atas kelakuan ibu ku kepada abang yang gagal menikah dengan kak Dewi. Kini aku juga merasakan hal yang sama gagal menikah karena itu. "Jawab nya dengan lesu seakan pasrah terhadap keadaan yang menimpahnya.


" Kamu tidak boleh begitu. Mungkin aja belum dapat jodoh yang tepat. Insyah allah kelak akan dapat jodoh yang tepat kok. " Nasehat lelaki itu coba kuatkan dia agar tidak menyerah.


"Iya bang. Semoga aja benar. "


"Gitu dong semangat. Jangan nyerak pokoknya! Kamu pasti bisa kok. "


"Terimah kasih ya bang. "


"Iya sama-sama. Ya sudah. Kami mau pamitan pulang dulu ada sedikit urusan kerjaan ya. "

__ADS_1


"Iya bang. Terimah kasih sudah mampir dan saran nya agar aku semangat. Hati-hati di jalan. "


"Iya sama-sama. Assalamu'alaikum. "


"Walaikumsalam."


"Salam omnya nak! "


"Pamit ya om. Assalamu'allaikum. " Kata lembut dari anak itu seraya mencium tangan ku.


"Walaikumsalam , sayangku. "


Mereka pun beranjak pergi meninggal kan makan keluarga Imam.


"Ibu dan ayah aku datang. Kak aku di sini menemui kalian. Kalian baik-baik di sana ya. Semoga kalian tenang. Biarlah aku yang menanggung semua dosa dan perbuatan ibu agar aku selalu gagal dalam bercinta. Semoga itu dapat mengurangi dosa kalian disana. "


Sembari dia berdoa dan menaburkan makam keluarga nya dia tak sadar air mata juga berderai dengan deras nya bagai hujan yang tak mampu ditahan agar tidak jatuh dari langit.


Entah berapa lama dia ada di sana sampai lupa makan mungkin dari pagi hingga menjelang sore dia ada di makam itu.


Setelah puas hatinya mengunjungi makam itu, dia pergi meninggal kan tempat itu untuk pulang kerumah.


"Iya pak. Apa kabar pak? "


"Alhamdulilah baik, nak. Kamu bagaimana kabarnya? "


"Saya baik juga. "


"Kapan pulang kampung nya? "


"Kemarin siang karena rindu keluarga ku jadi pulang untuk ziarah. "


"Ohh begitu. Saya turut berduka ya atas kejadian yang menimpa keluarga nak Imam. " Kata lelaki itu lembut sambil menjaga perasaan ku saat itu.


"Iya pak. Terimah kasih banget ya. "


"Sama-sama.Jadi tinggal dimana malam ini? "


"Ya dirumah ayah dan ibu angkat saya. "


"Beliau ikut pulang juga? "

__ADS_1


"Iya pak. "


"Bagaimana kabar mereka? "


"Mereka baik juga kok. "


"Kalau sempat singgah nanti malam kerumah baoak! " Tawaran hangat dari sang penjaga makam yang sangat dia kenal dan pasti tahu semua kejadian yang menimpah keluarga ku.


"Insyah'Allah jika ada waktu pak. "


"Jadi sudah ke makam? "


"Sudah pak. Dan saya pamit pulang dulu ya, pak. Hari sudah sangat sore waktunya istirahat. " Ucap nya sembari menyalami tangan bapak penjaga makam dan menyapamkan sedikit uang padanya.


"Iya nak. Terimah kasih ya. "jawab bapak itu bahagia.


" Sama-sama pak. Titip makam keluarga saya ya. "


"Baik nak. "


Lalu aku pun pergi karena sudah sore membuat aku lelah dan lapar juga iya. Malam itu kami menginap dirumah orang tua angkat ku yang mengasuh aku sejak kehilangan kedua orang tua ku dan kakak ku.


Aku merasa mereka lah malaikat berwujut manusia. Karena mungkin jika aku tidak di selamatkan mereka kala itu, aku pun akan mengakhiri hidup ku juga sama seperti kakak dan ibu ku.


Bersyukur aku bertemu orang baik seperti mereka yang menyayangi aku lebih dari sekedar anak saja. Mereka menganggap aku separuh hidup mereka yang membuat mereka semangat lagi menjalani hidup setelah lama menikah tanpa di karuniai seorang anak. Meski pun kenyataan pahitnya aku juga merasakan kegagalan nikah seperti kakak ku , namun aku bersyukur ada mereka yang menguatkan aku.


Namun mereka juga sedih dan kasian melihat nasib ku kehilangan keluarga, ditambah lagi menelan pil pahit gagal menikah karena masalah yang sama. Mereka takut aku juga akan menyerah dan akhiri hidup seperti keluarga ku. Maka mereka terus mendampingi dan menguatkan aku.


Kini aku berada di tangan keluarga yang tepat.


Malam itu kami makan bersama bercerita sampai larut malam mengenang semua masa lalu dan mereka juga bercerita tentang asmara mereka mulai dari pacaran sampai menikah dan bertemu aku.


Sesekali kami becanda dan tertawa riang sampai larut malam dan kami terlelap hingga pagi.


Aku di sana selama beberapa hari dan setiap hari aku ke makam keluarga ku untuk menjenguk sekaligus mendoakan mumpung aku masih disini.


Semua kenangan seakan nyata di mata ku kala aku melihat photo keluarga ku tambah lagi aku selalu membaca surat yang di tinggal kan kakak dan ibuku.


Terasa sakit, sedih dan duka saat aku membacanya.


Namun aku juga mencoba kuat menerimah nya dan di dampingi kedua orang tua angkat ku yang sudah ku anggap orang tua ku sendiri yang hadir bagai malaikat dalam hidup ku. Aku sadar bahwa Allah mengambil keluarga ku, namun mengganti dengan keluarga lain yang sama baiknya.

__ADS_1


__ADS_2