Kisah Cinta Penulis Kecil

Kisah Cinta Penulis Kecil
Bertemu Intan


__ADS_3

Tept hari itu pas libur kerja. Kaudan Bella sedang jalan menikmati liburan ke sebuah taman yang indah. Tiba-tiba ada suara gadis yang memanggil ku dari belakang.


"Imam.Kamu ini kan? " Sapa gadis itu sambil swnyum seakan bahagia bertemu mantan kekasihnya.


"Intan.Kamu kok tumben di sini? "


"Iya aku lagi suntuk dirumah jadi jalan-jalan.Kamu sudah menikah? "


"Belum kok. Gimana rumah tangga kamu dengan bule itu? "


"Hubungan kami baik saja. Tetapi dia mengalami kecelakaan dan meninggal. "


"Aku turut berduka ya. "


"Iya terimah kasih. "


Rasa bahagia menghampiri gadis itu karena bertemu mantan kekasih nya dan kenyataan dia belumenikah. Seakan punya harapan kembali lagi.


"Aku masih menyayangi kamu. Apakah kamu mau kembali pada ku seperti saat dahulu? "


"Maaf aku gak bisa. Mungkin japan hidup kita berbeda. Aku hanya lelaki miskin yang tak punya apa-apa yang tidak bisa membahagiakan kamu. "


"Kamu kok gitu sih? "


"Cukup sekali aku alami kegagalan nikah dan mendapat hinaan dari keluarga kamu. "


"Kamu dendam? "


"Tidak.Aku sudah menemukan jalan hidup sendiri. Aku sudah memiliki kekasih yang akan menjadi pendamping hidup ku. Dia wanita baik dan sederhana yang menerimah aki apa adanya. "


"Kamu serius? Siapa sih wanita itu? " Tanya dia dengan hati yang campur aduk antara luka dan kecewa.


"Kenali ini dia! " Kata ku seraya menunjukan Bella yang cantik kepadanya.


"Hayyy.Aku calon istri nya. "


"Ohh kamu calon nya. " Jawab dia sewot tanpa pamit pergi meninggalkan mereka berdua sambil menangis dia menujuh rumah.


"Sayang.Itu lah yang nama nya Intan mantan kekasih ku dulu yang kami gagal nikah karena harta. "

__ADS_1


"Oya? Cantik juga dia ya? "


"Cantik an kamu. "


"Gak tau malu dia. Bisanya dia kembali ngajak kamu balikan. Setelah apa yang terjadi antara kalian. "


"Sudahlah buarkan saja. Aku pun terlalu dalam sakit hati ku gak mungkin bisa kembali pada dia lagi. "


"Syukurlah kalau kamu gak mau lagi sama dia. "


Karena kesal dan kecewa, Intanpulang dan nyeloning aja masuk tanpa menyapa orang tuanya yang sedang duduk diruangan tamu. Berderaiair mata sampai kosmetik yang dia pakai seakan Luntur.


"Imam.Maafkan aku soal kemarin. Aku tau kamu kecewa dan marah. Tapi apa gak ada lagi kesempatan untuk ku di hati kamu? mengapa secepat itu kamu berubah? " Tangisan lirih dari gadis yang sedang menangis seduh karena menerimah kenyataan sang kekasih sudah miliki pengganti dia.


"Intan.Kamu kenapa nak? " Sapa wanita paruh baya dengan lembut dari luar pintu kamar.


"Puas ibu sekarang kan? "


"Loh emang apa salah ibu, nak? "


"Ibu buat kami gagal nikah karena permintaan ibu. Lalu jodohkan aku dengan orang itu.Sekarang aku kembali menemui dia, tetapi dia sudah mau nikah. Puas ibu kan menghancurkan hidupku? " Suara pantang gadis itu sambil diiringi tangisan yang menjadi-jadi.


"Ibu lihat aku! Apa aku bahagia rupanya? Jawab bu!


Yang ada hidup ku makin hancur karena ulah ibu. "


"Tolong buka pintunya! "


"Untuk apa? Labih baik aku mati saja biar ibu puas. Gakada lagi gunanya aku hidup di dunia ini" Suara teriakan gadis itu sambil menghancurkan benda sekitaran kamarnya.


"Priaaaaaang." Suara kaca yang pecah karena di lempar kursi olehnya.


"Nak ibu mohon stop! Ibu gak mau kamu kenapa-napa. "


Tak lama kemudian gadis itu melompat dari lantai tiga lewat jendela dan jatuh tepat di teras rumah dengan keadaan tubuh sedikit patah dan kepala pecah. Seketika nyawa nya berakhir saat itu pula.


"Intan.Kenapa kamu pergi dari ibu, nak? Ibu sayang sama kamu. Ibu minta maaf. " Suara teriakan ibunya sambil menangis memeluk tubuh gadis yang pucat berlumur darah.


"Papa sayang pada mu, nak. Mengapa secepat ini kamu pergi dari kami? " Suara tangisan lelaki paruh baya yang turut berduka mendalam kehilangan sang putri semata wayang.

__ADS_1


Lalu sekejab ramai orang melihat dan polisi pun ikut serta menangani kejadian itu.


Hingga tak berselang waktu lama Intan dimakam kan di dekat rumahnya.


Setelah semua orang beranjak pergi pulang. Tampak sosok lelaki tampan yang masih mudah sedang duduk menangis disamping batu nisan sampai begitu lama.


"Intan.Maaf kan aku ya. Aku bukan tak cinta lagi dengan kamu. Aku sedang trauma berat setelah kita gagal nikah dan hinaan orang tua mu. Aku sadar bahwa aku orang miskin tak pantas mendampingi kamu. Semoga kamu tenang di alam sana ya. "ucap lelaki itu sambil meneteskan air mata seakan menyesal karena dia tolak Intan harus pergi selamanya dari dunia.


" Sudah sayang. "Sapa gadis dari belakang dan menyentuh pundak laki-laki itu yang ternyata itu Bela.


" Mengapa semua orang yang aku cinta dan ku sayang harus pergi dengan cara tragis? Apa aku gak pantasencintai dan menyayangi? " Guman ku seakan merasa terpuruk lemah tak berdaya.


"Ini bukan salah kamu. Ini semua sudah takdir Tuhan yang kita gak bisa melawannya. Kita harus kuat tabah menjalani semua ini. " Nasehat gadis yang coba nguatkan leaki itu agar tabah.


"Ya sudahlah. Mungkin kamu benar. Memang takdir tidak ada yang tahu, dan semua sudah di rencanakan sang Tuhan pada kita. "


"Kamu yang kuat ya. "


"Iya sayang. Terimah kasih ya kamu selalu ada untuk ku saat aku terpuruk begini. " Ujar lelaki itu dengan senyum sambil hapus air mata yang berderai.


"Iya sayang. Kita kan saling mencintai dan saling menguatkan. Aku beruntung bisa memiliki kamu. "


"Aku juga beruntung sayang. Kita sama-sama menjalani hidup dengan susah maupun senang ya. "


"Iya.Yok kita pulang sudah mulai panas cuacanya! " Ajak Bella pulang karena lapar dan lelah juga seharian menghadiri pemakaman gadis itu.


Kami pun pulang kerumah masing-masing. Sebelum pulang aku mengantar gadis cantik itu sampai kerumah nya baru aku pun pulang kerumah.


"Sungguh misteri sekali. Semua kejadian ini sepertinya ada kaitan nya. Apa mungkin ini cobaan atau karma dari Tuhan. " Kata ku dalam hati sambil rebahan di makar ku dan pejamkan mata yang tak ku sadari air mata ku berlinang entah sampai kapan.


Aku pun terlelap dalam keheningan hingga menjelang malam tanpa ku sadari sampai aku di panggil ibu.


"Imam.Kamu gak makan nak? " Suara lembut ibu angkat yang sudah ku anggap seperti ibu kandungku sendiri dari balik pintu kamar ku.


"Bentar lagi bu. Aku baru mau mandi sejenak. "


"Ya sudah, ibu tunggu ya. "


"baik bu. "

__ADS_1


Lalu aku pun bergegas mandi dan siap menujuh ruang makan.


__ADS_2