
Sungguh tidak mudah buat kita menerimah kenyataan gagal menikah, ditambah lagi di kucil kan dan jadi omongan orang di kampung, serta di jauhi teman satu kerjaan. Seakan dunia terasa hampa membuat Dewi depresi berat.
Tiga bulan lamanya dia terpuruk dan mengurung diri dalam kesedihan dan depresi berat. Saat hatinya berangsur membaik, dia beranikan diri bangkit dan keluar kamar.
Walau keadaan masih saja ia di kucilkan, dia tetap keluar di sebuah taman menghirup udarah segar. Di sanalah dia bertemu lagi dengan Raka yang duduk sendiri menunggu kekasihnya yang mencari pedagang minuman.
"Raka.Kamu kok sendirian saja? " Sapa Dewi sembari senyum.
"Ehhh.Iya ne lagi iseng aja. "
"Raka.Aku minta maaf soal kejadian waktu itu ya. Semua karena ulah ibu ku."
"Yang sudah berlalu biarkan lah berlalu. Tidak perlu kita mengungkit lagi. " Ujar ku lembut seakan tidak terjadi apa pun seakan mengikhlas kan diri nya tanpa dendam.
"Aku masih sangat sayang sama kamu. Apa kamu masih mau kembali bersama ku? "
"Maaf, Dewi. Mungkin jalan hidup kita berbeda, kita tidak akan bersatu lagi. "
"Kamu kok gitu? " Ujar Dewi mulai panik.
"Aku sudah mencintai wanita lain yang lebih baik dan sholeha dari kamu. "
"Apa? Siapa wanita itu? " Tanya dia sangat terkejut perlahan berderai air mata.
"Itu dia datang! "
"Hai sayang. Sudah lama menunggu, ya? " Suara lembut gadis cantik dari belakang Dewi.
"Ratih? Kamu yang pacaran sama Raka? " Tanya dia terheran bagai tersambar petir di siang bolong.
"Ehhhh.Ada dewi. Iya kami sudah tunangan dan menikah minggu depan. "
"Benar.Kami akan menikah minggu depan dirumah ku. Kamu datang ya! " ujar gadis cantik itu sembari senyum dan memberikan undangan pernilahan kepada Dewi yang berderai air mata.
Bagai hancur dan berkecai hatinya mendengar itu seperti lagu malaysia diam tanpa kata dengan iringan air mata yang semakin deras membasahi pipi indahnya. Dewi pergi tanpa kata sambil membanting undangan pernilahan yang di berikan padanya dan pulang kerumah.
"ahhhhhhhhhhh.Tidaaaaaaaak.
Rakaaaaaa. Kenapa kamu tega meninggal kan aku? " Suara jeritan Dewii yang tak ada hentinga sembari menangis dan membantingi apa pun yang ada di kamarnya. Namun kala itu rumah nya kosong, jadi tak ada yang mendengar.
__ADS_1
Karena hancur dan kecewa seakan sudah tidak memiliki harapan hidup lagi. Dewi memutus kan menulis secarik kertas pada sang ibu. Lalu dia mengambil seutas tali tambang dan diikat tepat di pintu kamar. Lalu dia gantung diri dan tewas.
Entah berapa lama dia tewas tergantung dan saat itu sang adik bernama Imam pulang.
"kakak... " Suara teriakan pecah seketika dalam kepedihan dan kesedihan mendalam.
"Tolonggg.Tolongg." Teriakan Imam berlari mencari tetangga sekitar dan mulai ramai.
"Ada apa Imam? Kamu kok teriak-teriak? " kata para tetangga.
"Kak Dewi gantung diri di kamar. " Suara Imam beriringan tangisan yang pecah.
"Apa? Ayok kita kesana! "
Semua warga berbondong-bondong kerumah nya dan memanggil polisi membuat seluruh kampung gempar dan ramai. Lalu pulang juga sang ibu dengan raut juga sedih kehilangan putri satu-satunya.
"Dewi... Kenapa kamu pergi nak? Maafkan ibu. "
Lalu mereka melihat secarik kertas yang di tulis Dewi dengan ada tanda darah abis goresan pisau di lengan Dewi.
Assalamu'allaikum
Ibu. maaf kan dewi harus pergi. maaf kan Dewi yang tak mampu membahagiakan ibu dan Imam.
Dewi harus pergi agar kalian tenang.
Dewi gak sanggup hidup seperti ini.
Kemari hidup Dewi penuh kesengsaraan dan kesedihan setelah gagal menikah, laludi kucil kan di kampung. Lalu semua teman kerja ku membenci aku. Sekarang aku harus menangis lagi melihat Raka orang yang ku cinta akan menikah dengan sahabat ku sendiri.
Aku gak sanggup, bu. Akugak sanggup.
Lebih baik aku pergi. Jaga diri kalian baik-baik.
Assalamu'allaikum
Salam hormat
Dewi.
__ADS_1
"Tidaaaaaaaaak.Ibu menyesal sayang. Maaf kan ibu. " Suara tangisan yang semakin menjadi-jadi dari sang ibu.
Kini sang ibu menyesal telah menghancurkan kebahagiaan anak nya bahkan hidup anak nya akibat permintaan nya yang tak masuk akal kala itu.
Nasi telah menjadi bubur.
Itu lah kata yang tepat untuk kejadian itu. Penyesalan sudah terlambat, tak ada artinya lagi. Menyesal dan maaf sudah tidak mampu mengembalikan nyawa sang anak.
Selepas Dewi dimakamkan. Lanjutlah Raka menikah dengan sahabat nya yang jelas lebih sholeha dan menerimah apa adanya tanpa memandang harta dan fisik.
Sesekali mereka mengunjungi makam Dewi untuk sekedar berkunjung danendoakan agar dia tenang di sana.
Jangan perna memanfaat kan keadaan saat kita punya kesempatan untuk meraup keuntungan dan keinginan kita agar kita hidup mewah.
Jangan perna memaksakan seseorang melakukan keinginan kita sedangkan kita tahu orang itu tidak mampu.
Biarkan lah mereka menemui kebahagiaan mereka sendiri tanpa ada campur tangan kita yang memaksa kehendak kita mereka ikuti. Karenaitu hanya akan menghancurkan hidup orang lain.
Mungkin kisah ini hanya fiksi hasil karya saya. Namun ini kisah kemungkinan benar terjadi dalam masyarakat. Bahkan kejadian nya juga lebih dari satu kali.
Cobalah untuk berlapang dada menerimah keadaan seseorang tanpa memandang harta. Karenamungkin dari hal sederhana itu justru akan tercipta bahagia sendiri mereka.
"Dewi.Semoga kamu tenang disana ya. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga dan menemani kamu. Perpisahan kita mengajarkan aku banyak hal. Hingga aku lebih memilih menikahi gadis biasa yang taat agama dan menerimah aku apa adanya. " Ujar lelaki itu saat mereka berkunjung ke makam Dewi sembari menaburkan bunga yang indah di atas makamnya.
Sedangkan sang ibu, kinimenjadi depresi penuh penyesalah dan kepedihan mendalam yang tak terbendung akibat ulahnya semua terjadi.
Sedangkan adik mulai tumbuh dewasa dan mulai bekerja.
Tak lama kemudian sang ibu pun tak kuasa menanggung sedih malu serta penderitaan yang ia perbuat sendiri. Seakan dia merasa hidup nya tidak berguna, bahkan hanya biang masalah.
Dengan berbekal sebotol racun , sang ibu menenggak nya dan meninggal seketika itu jua.
Tinggal lah hidup sang adik Dewi seorang diri harus hidup mandiri sebatang kara tanpa sanak saudara. Karena mereka di sana pendatang tak punya sanak saudara seseorang pun.
Ceritta sampai di sini.
Memang nampak seperti hal sepele kejadian itu. Namun akan berakibat fatal dan akan merebut jiwa mau pun nyawa.
Terimah kasih telah membaca karya ini. Semoga bermanfaat bagi siapa pun yang membaca. Dan menjadi pelajaran bagi kita semua agar tidak sampai terjadi pada kita mau pun anak cucu kita kelak saat mereka dewasa dan akan menempuh hidup baru.
__ADS_1