
Beberapa hari setelah kejadian itu, Arsen berusaha terlihat baik-baik saja meskipun sebenarnya ia tengah menahan rasa sakit. Setiap hari dia pergi kekantor seperti biasa, bersikap seperti biasanya, dengan penuh wibawa dan tak jarang menunjukkan sisi keras juga tegas jika ada karyawan yang melakukan kesalahan yang cukup fatal. Ataupun klien yang berusaha ingin memanfaatkan perusahaanya. Sebenarnya ia berniat untuk menemui Qanita dan menanyakan hal itu. Tapi siapa dia ? Kenapa begitu ikut campur urusan orang lain, meskipun ia sudah mengenal Qanita sejak kecil.
Begitu juga yang diperlihatkan oleh Qanita pada orang-orang sekitarnya. Semakin hari ia semakin bimbang dengan apa yang dirasakannya. Semakin ia meminta petunjuk, seolah semakin bimbang untuk menginginkan pemuda tersebut.
Hari ini adalah hari libur, Qanita berencana untuk jogging bersama Irtiza. Mereka sudah janjian tadi malam dan keduanya sepakat untuk bertemu jam 06:00 didepan rumah Qanita.
“Aniiiit, kamu sudah siap sayang, Irtiza lagi nungguin kamu di depan tuh.” Panggil Maya.
“Iya bu.” Jawab Qanita sambil menuruni tangga.
“Anit pamit dulu ya bu, Assalamualaikum.” Sambil mencium tangan Maya.
“Wa’alaikumussalam. Hati-hati. Jangan lama-lama ya sayang.”
‘Iya, Nyonya Abdillah.” Jawab Qanita menggoda ibunya sambil berlari menuju Irtiza yang sudah menunggunya.
***
Mengitari kompleks perumahan mereka yang tidak bisa dibilang kecil membuat dua gadis itu ngos-ngosan. Terutama Irtiza yang sudah mulai kelelahan dan berjalan dengan ogah-ogahan sedangkan Qanita masih bisa berlari-lari kecil.
“Ayo Ca, kan kamu yang punya ide semalam ngajak aku jogging.” Membalik badan sambil berjalan mundur dan melihat Irtiza.
“Iya, iya, es balok.” Jawab Irtiza ketus, dan menyusul Qanita yang tengah tersenyum kecil kearahnya.
“Gimana kuliahmu Ca, Faiza apa kabar dia ?” Tanya Qanita.
“Alhamdulillah lancar kok, doain biar cepat kelar ya Anit. Faiza juga baik-baik aja.” Jawab Irtiza sambil berlari-lari kecil.
“Aamiin, pasti Ca.” Jawab Qanita singkat.
Beberapa lama mereka berlari, sampai akhirnya Qanita berhenti mendadak, bingung dengan apa yang dilihatnya. Tak bisa ia bedakan degub jantung karena berlari atau karena melihat apa yang ada didepannya. Sementara Irtiza, masih berlari sambil menengok bagian kirinya tanpa mengetahui jika Qanita sudah cukup jauh ia tinggal.
“Eh, itu kakak Anit, tapi dia sama siapa yah ?” Ucap Irtiza, sambil melirik kesebelah kanannya melihat Qanita, tapi tak didapatnya.
“Eeeeh, dimana sih es balok itu ? Bertanya pada diri sendiri dan berbalik badan kemudian melihat Qanita yang diam mematung.
Irtiza menghampiri Qanita, sementara Arsen dan laki-laki yang bersamnya berjalan kearah kedua gadis tersebut sambil sesekali tertawa entah apa yang mereka bicarakan. Semakin lama mereka berjalan, semakin menyingkirkan jarak pada mereka.
“Anit, Aniiiiiiit.” Panggil Irtiza dengan suara khasnya.
“Ah, iya Ca, kenapa ?” Tanya Qanita
“Hah, kenapa ? kamu tuh yang kenapa, ngapain kamu kayak patung gitu ?”
“ngg-nggak kok gak apa-apa, cuma capek aja kayaknya.” Matanya tak lepas memandang dua laki-laki yang semakin dekat.
“Cowok itu siapa sih, yang sama kakak itu, kok aku baru liat yah ?” Tanya Irtiza.
“Oh, itu Rizky Ca, anaknya pak ustadz Faiz. Dulu dia mondok, trus kuliah diluar kota juga kayaknya. Belum ada setahun kok dia balik sini.” Jawab Qanita dengan jujurnya.
“Ih, ganteng yah. Eh kook kamu tahu dia sampai segitunya ?” Tanya Irtiza lagi dengan penasaran.
Qanita gelagapan mencari jawaban “Eh, eh, kan ayah sering ke masjid.”
“Terus ?”
“Sudahlah nyonya cempreng, ayo balik.” Membalikkan badannya dan Irtiza memunggungi kedua pemuda itu.
Sebelum mereka berjalan cukup jauh membelakangi kedua pemuda itu, Rizky sudah memanggilnya lebih dulu.
“Qanitaaa.” Panggil Rizky.
Mendengar namanya dipanggil, langsung membuat Qanita kaget kemudian menutup mata dan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian berbalik arah memandang kedua pria tersebut.
__ADS_1
“Anit, kok dia tahu namamu.” Tanya Irtiza yang semakin penasaran dibuatnya.
Sementara Qanita hanya tersenyum penuh arti sambil memandang wajah gadis disampingnya. Kemudian memejamkan mata sekali lagi sambil tersenyum paksa. Kini kedua pemuda itu hanya berjarak satu meter saja dengan Irtiza dan Qanita.
“Assalammualaikum.” Sapa Rizky. “Kamu udah mau pulang ? Tanyanya kembali, seolah mengabaikan dua bersaudara disampingnya dan disamping Qanita.
“Waalaikumussalam. Iya, ini kami sudah mau pulang.” Jawab Irtiza dan Qanita. Irtiza seperti dihipnotis oleh laki-laki yang kini dihadapannya. Sementara jantung Qanita berdegub kencang, entah bertemu karena aktivitas larinya, atau bertemu Rizky atau juga Arsen, pemuda yang dibencinya.
Tatapan yang diberikan oleh Rizky kepada Qanita seolah mengisyaratkan sesuatu, kemudian pikiran Arsen membawanya kembali mengingat kejadian malam itu.
“Mungkinkah Rizky yang bermaksud mengajak Qanita ta’aruf ? Kalau iya, sungguh aku bukan tandingannya untuk mendapatkan hati Qanita, aku jauh tertinggal dibelakangnya. Dia baik, pintar, berkecukupan, direspon baik oleh Qanita dan yang paling penting ilmu agamanya sungguh jauh di atasku. Bagaimana aku bisa bersaing dengannya ? Sedangkan aku, iya aku memang berkecukupan Alhamdulillah, baik, mungkin menurut yang lain tapi tidak dengan Qanita, direspon olehnya ? Dilirik saja belum tentu, dan ilmu agamaku masih jauh dari kata cukup. Ya Allah, bagaimana Engkau memberiku seorang saingan yang begitu berat seperti Rizky.” Batin Arsen.
Melihat kakaknya melamun Irtiza pun memanggilnya “Kak, kakak. Kak Arsen ?”
“Eh, iya dek. Ada apa ?” Tanya Arsen.
“Ngapain ngelamun pagi-pagi. Ayo pulang.” Menarik tangan kakaknya dan berjalan didepan Qanita dan Rizky.
“Kini aku tahhu kak, siapa pemuda yang bermaksud mengajak Anit ta’aruf.” Batin Irtiza, yang sesekali menoleh pada Qanita dan menatap kakaknya.
Arsen dan Rizky sekelas saat masih di Sekolah Dasar. Setelah lulus SD, Rizky kecil memilih mondok dipesantren milik keluarga ayahnya disalah satu kota, kemudian ia melanjutkan kuliahnya dikota yang sama. Setelah kuliah dia diminta untuk mengajar dipesantren, beberapa tahun kemudian dia kembali ke kota tempat ayah dan ibunya, karena ia ingin membantu kedua orang tuanya mengurus toko sembako yang tidak bisa dibilang kecil dan toko mebel.
Beberapa hari sekembalinya kerumah, ia melihat gadis yang menarik perhatiannya, tanpa di sadari ia jatuh hati pada gadis tersebut, hampir setiap hari ia mengamati Qanita dalam diam. Hingga malam itu dia memberanikan diri dan bermaksud untuk mengajaknya ta’aruf dengan menitipkan CVnya pada sang abi untuk diberikan pada Qanita.
Sepanjang perjalanan, Arsen semakin menajamkan pendengarannya pada dua orang yang sedang berbincang dan ternyata hanya berbasa-basi itu. Hati Arsen semakin sakit dibuatnya, ingin sekali rasanya ia mengelem mati mulut Rizky yang tak henti-hentinya bertanya. Tidak berapa lama sampai lah mereka didepan blok, dan ternyata itu blok perumahannya Rizky, dengan segera ia pamit pada mereka bertiga.
“Aku pulang dulu yah, Assalamualaikum.” Pamit Rizky, dan memberi senyum kecil pada Qanita. Arsen yang melihat kejadian itu ingin sekali menendang Rizky hingga depan rumahnya.
“Waalaikumussalam.” Jawab Qanita, Irtiza, dan Arsen (dengan nada ketusnya).
Mereka bertiga berjalan tanpa ada yang memulai pembicaraan. Hingga tak berapa lama sampailah didepan rumah Qanita. Ia pun pamit pada dua saudara tersebut.
“aku masuk dulu yah, Assalamualaikum Ca.” pamit Qanita menyebut nama Irtiza tapi tidak dengan Arsen, ia hanya melihat laki-laki tersebut dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Arsen.
Irtizapun kembali melanjutkan langkahnya kearah rumah, Qanita kini tengah membuka pintu pagar rumahnya. Hanya Arsen yang mamatung menatap punggung Qanita.
“Qa.” Panggil Arsen.
Hanya lirikan sekilas yang diberikan oleh Qanita tanpa membalik badannya.
“Ada yang ingin ku tanyakan padamu, tapi aku tidak berani menanyakan langsung, akan ku kirimkan pesan padamu nanti.” Ucap Arsen.
Rupanya kalimat Arsen mampu membuat Qanita berbalik badan, dan menghentikan aktivitasnya membuka pintu pagar.
“Apa ? Tanyakan saja ? Mengirim pesan belum tentu aku akan membalasnya.” Jawab Qanita ketus dengan tatapan dingin seperti biasa.
“Kau, harus mau.” Timpal Arsen dengan penuh penekanan, dan tatapan yang tak kalah dinginnya. Kemudian meninggalkan Qanita yang masih mematung didepan rumahnya.
Qanita yang menyadari perubahan sikap Arsen cukup dibuat takut. Ia pun memilih masuk kerumahnya, sambil manatap punggung laki-laki tersebut.
***
Sepanjang hari Arsen memikirkan apa yang menjadi dugaannya pagi tadi. Sesekali ia membuka HP sambil mengecek apakah ada email masuk atau hal penting lainnya. Pesan dari Andripun tidak ada, karena ini hari libur Andri memang tidak ingin diganggu dengan urusan kerjaan. Selain itu juga ia sedang mengumpulkan keberanian untuk mengirim pesan pertanyaan pada Qanita.
Sementara Qanita sedang berada dibalkon kamarnya sambil memandangi matahari yang akan segera kembali keperaduannya. Dicek HPnya untuk melihat apakah ada notif pesan masuk, namun ternyata nihil.
“Katanya mau menanyakan sesuatu ? Apakah yang ingin kau tanyakan itu sudah terjawab ?” gerutunya sambil menatap layar HP.
Ia mengangkat kedua bola matanya dan mengingat apa yang ia katakana tadi “Eh, ngomong aku barusan, ihhh ngapain aku nungguin pesan dari dia. Ihhhh.” Melempar HP dengan kasar dan untung terjatuh di atas kasurnya.
***
Arsen telah kembali dari masjid tempat ia biasanya berjamaah, dan tentunya bertemu dengan Rizky yang mambuatnya kesal. Sebenarnya setiap dia pergi berjamaah ke masjid ia pasti melihat Rizky dan mereka hanya berbasa–basi. Namun malam itu Rizky menjauh darinya seolah sedang dalam perasaan cemas.
__ADS_1
Saat ini keluarga Arsen tengah menikmati makan malam disertai dengan candaan-candaan kecil yang semakin menambah keakraban. Setelah makan, Arsen memilih untuk kembali ke kamar dikumpulkannya keberanian untuk mengirim pesan pada Qanita. Kali ini ia benar-benar sudah memantapkan niatnya.
“Assalamualaikum Qa, langsung saja aku bertanya. Apakah Rizkylah pemuda yang bermaksud mengajak mu ta’aruf. Maaf jika aku menanyakan ini. Tapi kali ini tolong jawab dengan jujur Qa.”
Cukup lama ia menunggu balasan dari Qanita. Itu semakin membuatnya kesal dan mulai emosi.
Waalaikummussalam, Kamu tau dari mana ? Lalu kenapa memangnya, apakah ada masalah denganmu ?
Arsen langsung mengambil HPnya dan melihat notif pesan masuk. Benar saja itu adalah balasan pesan dari Qanita.
“Kenapa kau lama sekali membalasnya ? Kamu tidak perlu tahu aku tahu dari mana. Cukup katakan benar dia apa bukan ?”
Suka-sukaku membalasnya kapan. Iya benar.
“Apakah dia satu-satunya orang yang ingin mengajakmu ta’aruf ? Tolong, aku tidak ingin berdebat denganmu Qa. Jadi jawab apa yang kutanyakan, jangan malah bertanya balik.”
Mendapat balasan pesan seperti itu dari Arsen membuat perasaan Qanita tak karuan. Dipandanginya lama room chatnya kemudian mulai mengetik.
Tidak, beberapa waktu yang lalu ada juga yang mengajakku.
“Sampai kapan ia menunggu jawaban dari mu Qa ?”
Malam ini terakhir, besok malam dia akan berkunjung ke rumah. Tadi aku diberitahu ayah tentang obrolan singkatnya dengan Ustadz Faiz.
Sekali lagi dibaca balasan pesan dari Qanita dengan hati yang seakan tercabik, dia berpikir bahwa perjuangannya akan segera berakhir. Kemudian ia membalas pesan itu.
“Lalu bagaimana dengan diriku ? Kapan kau akan memberikan jawabanmu ? Bukankah aku telah lebih dulu menyukaimu, jauh sebelum dia menyukaimu ? Apakah sampai sekarang hati mu masih buta dengan ketulusan dan perasaanku terhadapmu ?”
Setelah mengirim pesan tersebut, Arsen mengusap kasar wajahnya, dan melempar HPnya kearah karpet yang berada dilantai. Iapun memilih membersihkan dirinya sebelum tidur.
Sementara Qanita, setelah membaca pesan tersebut membuatnya begitu kaget, dan hanya mampu menutup mulutnya. Tanpa disadari ia menangis cukup lama, ia tak berani membalas pesan itu.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan dari balik pintu kamarnya, segera ia menghapus air mata yang mengalir dipipinya. Kemudian berjalan kearah pintu dengan santai seolah tak terjadi apa-apa. Ia membuka pintu kamarnya.
“Apa ibu boleh masuk sayang ?” Tanya Maya.
Qanita hanya mengangguk menyetujui dengan mata yang sedikit bengkak dan merah.
“Apakah kamu habis menangis ?” Tanya Maya kembali, sambil melihat Qanita.
“Tidak bu.” Mengikuti ibunya duduk ditempat tidur.
“Apakah kamu sudah mendapatkan jawabnya nak ?”
“Belum bu, sampai sekarang Anit masih bimbang dengan perasaan Anit sendiri.”
“Apakah ada seseorang yang sedang kau sukai nak ?
Anit melihat wajah ibunya, suaranya seolah tercekat ditenggorokannya.
“Katakanlah nak, tidak apa-apa.”
“Anit tidak tahu bu, setelah Anit menerima CV itu, Anit meminta petunjuk Yang Kuasa. Anit hanya menginginkan yang terbaik bu, entah ini yang terbaik yang diberikan. Anit semakin merasa ada yang menahan untuk menerimanya. Tapi Anit nggak tau bu. Sungguh Anit merasa bimbang bu.”
“Berarti ada yang lain nak ?”
“Entahlah bu, inilah yang membuat Anit bimbang. Anit meminta petunjuk untuk jawaban sipemlik CV. Tapi malah Anit merasa cendrung pada orang lain bu. Semakin Anit meminta petunjuk semakin Allah mencendrungkan hati Anit bu. Anit bimbang bu.” Kemudian menangis memeluk Maya.
“Nak, bisa jadi rasa cendrung itulah petunjuk dan jawaban doamu, terbaik untuk dunia dan akhiratmu, Insya Allah. Allah pasti memberikan yang terbaik dari yang baik untuk hamba_Nya.” Ucap Maya sambil mengelus pungung Qanita.
Gadis tersebut hanya menangis tersedu-sedu dalam pelukan ibunya.
__ADS_1
“Nak, dalam hal ini kamu sudah melibatkan yang Maha Cinta. Jika pada akhirnya hatimu lebih cendrung pada orang lain. Maka tak ada alasan untuk bimbang.” Ucap Maya kembali dan meninggalkan Qanita sendiri.