Kisah Ini Bernama Cinta

Kisah Ini Bernama Cinta
Bab 11 Keputusan


__ADS_3

Qanita menatap nanar layar HPnya, rasanya ia telah lelah menangis hingga matanya sembab. Ia bingung kenapa dia harus menangis dan apa yang sebenarnya ia tangisi. Setelah sepertiga malamnya ia habiskan untuk bercerita pada pemilik hati dan hidupnya kini ia sedikit lebih tenang. Waktu menunjukkan pukul 04:00, segera ia bersiap untuk melaksanakan sholat Subuh.


Setelah mengerjakan sholat Subuh ia melanjutkan dengan kegiatan rutinnya. Tak terasa waktupun sudah menunjukkan pukul 06:50, itu artinya ia harus segera bersiap-siap menuju kantornya. Dibukanya pintu pagar rumah, sejurus kemudian tatapannya mengarah pada salah satu rumah tempat tinggal seseorang yang ia benci. Lama diperhatikan rumah itu, berharap sesuatu tapi entah apa itu.


Ketika akan mengalihkan pandangan dari rumah tersebut, tiba-tiba keluar sosok laki-laki dengan setelan jas rapid an sedang berjalan menuju mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Andri. Kini tatapan mereka bertemu, Arsen menatap dengan tatapan kecewa dan keputus asaan sedangkan Qanita dengan tatapan datar dan matanya dalam keadaan sembab, namun wajahnnya menyunggingkan senyum tipis, entah dilihat atau tidak oleh Arsen. Kemudian kembali kedepan rumah untuk memasang helm dan melajukan motornya.


Mobil yang menjemput Arsen kini melewati rumah Qanita, dilihatnya gadis itu yang tengah bersiap-siap menuju kantor. Melihat Qanita sedang dalam keadaan baik-baik saja membuat hati Arsen merasakan sakit kembali.


“Apakah aku sebegitu tak ada harganya ? Apakah perasaanku sebegitu tak ada nilainya ? Mengapa dia terlihat baik-baik saja ? Sementara aku kacau dibuatnya ?” Batin Arsen dengan tatapan kosongnya.


Andri yang tengah menyetir perhatiannya teralihkan pada atasannya, yang sedari tadi dilihat begitu murung. Ia ingin menanyakan, tapi saat ini bukan waktu yang tepat.


“Aduh, kenapa lagi si bos muda ini. Kalau moodnya ancur bisa-bisa ucapannya juga ikut ancur.” Pikir Andri sambil menelan salivanya.


***


Qanita sengaja seolah-olah tak melihat mobil Arsen melewati rumahnya, kini sedang tersenyum kecil, namun entah apa yang ada dipikirannya.


“Semoga ini yang terbaik untuk kita. Untukku, untukmu, dan untukknya. Mari berdamai dengan masa lalu dan dengan diri sendiri.” Gumamnya.


“Bu, Anit berangkat yah. Assalamualaikum.” Pamitnya.


“Waalaikumussalam, hati-hati yah nak. Ntar pulangnya jangan telat ya, ingat ntar malam.” Ucap Maya, sambil berjalan dari dalam rumah menghampiri Qanita.


Qanita hanya melempar senyum kecil dan menutup mata, sembari mengangguk. Pertanda ia mengiyakan ucapan ibunya. Iapun berangkat dan siap membelah jalan menuju kantornya.


***


Qanita sedang bersiap-siap untuk menghadiri rapat dengan beberapa karywan yang bertanggung jawab pada bagian-bagian mereka. Ini adalah rapat rutin yang dilakukan setiap bulan bertujuan untuk membahas perkembangan kantornya. Rapat itu juga dikuti oleh Abdillah ayahnya yang merupakan pemilik tempat ia bekerja.


Saat Qanita sedang membereskan berkas-berkas yang akan dibawanya pada rapat yang akan dimulai limabelas menit lagi. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari seberang ruangannya.


Tok tok tok


“Iya, masuk.” Tanpa melirik kearah pintu.


“Anit.” Sapa Abdillah sembari berjalan memasuki ruangan Qanita.

__ADS_1


“Ayah, ada apa ? Kenapa datang keruangan Anit ?”


“Memangnya tidak boleh, keruangan anak sendiri ? Lagian inikan kator milik ayah. Jadi suka-suka ayah dong.” Timpal Adbdillah dengan wajah disunggingkan senyum.


“Iya boleh dong yah. Maksud Anit tuh tumben ayah kesini. Kan bentar lagi rapat kan ?” Qanita membela diri.


“Ada yang ingin ayah tanyakan nak ke kamu.” Kata Abdillah.


“Apa yah ? Apa sepenting itu sampai ayah sendiri yang sambangi Anit keruangan. Kan biasanya kalau ada yang penting Anit yang diminta keruangan ayah.”


“Bagaimana nak ? Apakah kamu sudah punya jawaban tentang itu ?” Tanya Abdillah langsung.


Qanita yang mengerti maksud ayahnya. Kini menatap sang ayah dengan senyum manisnya, namun sesaat setelah itu ia mengangkat bahu dengan entengnya. Abdillah yang melihat respon anaknya dibuat geleng-geleng, dan tak memaksa Qanita untuk berterus terang.


“Oh iya. Apa kamu sudah sering bertemu dengan Arsen akhir-akhir ini ? Ayah sering bertemu dengannya di masjid saat Subuh dan biasanya juga saat Magrib sampai Isya.”


Mendengar ayahnya menyebut nama Arsen, sontak membuat Qanita menautkan kedua alis dan menatap ayahnya penuh selidik.


“Kenapa ayah menanyakannya ?” Tanya Qanita sembari berjalan menuju tempat duduk disamping ayahya.


“Tidak, tidak ada apa-apa. Ayah hanya menanyakannya saja. Apakah dia sudah benar-benar akan mengurus kantor pusatnya ? Bukannya selama ini ia lebih senang mengurus kantor cabang dikota tempat ia berkuliah itu ?” Tanya Abdillah lagi.


“Iya yah Anit, kenapa juga ayah menanyakan itu ke kamu. Mending ke Saad aja. Kan ayah hampir tiap hari ketemu dia di masijid.” Cerocos Abdillah menyadari bahwa ia bertanya pada orang yang salah.


“Naaaah, itu ayah tahu kan.” Ucap Qanita dengan senyum tipisnya. “Hmmm, sejak kapan ayah suka tanya-tanya tentang dia ?”


“Sudah sudah ! Rapat sebentar lagi akan dimulai ayo keruangan.” Ucap Abdillah sambil beranjak dari tempat duduknya, dan meninggalkan Qanita yang masih bengong karena jawaban ayahnya tidak sesuai deegan pertanyaan diberikan.


“Jangan lupa berkas-berkasmu.” Timpal Abdillah kembali.


“Iya yah.” Qanita berjalan menuju meja kerjanya.


“Ayah kenapa sih kepo banget sama dia, perasaan kemarin-kemarin ayah nggak gitu deh. Malahan menurutku ayah lebih cuek sama dia ketimbang cueknya aku sama dia. Ini pasti ada apa-apa.” Batin Qanita mengekori Abdillah berjalan menuju ruang rapat. Sepanjang jalan menuju ruang rapat semua orang yang melihat ayah dan anak itu memberi senyum ramah dan sapaan sebagai tanda hormat mereka.


***


Arsen yang sedari tadi memperlihatkan wajah kurang bersahabatnya, sedang termenung didepan meja kerja di dalam ruangannya. Arsen memang belum lama bekerja dikantor pusat, bukan berarti desas desus bahwa ia akan memarahi siapa saja yang melakukan kesalahan saat ia dalam keadaan tidak mood, menyebar kekaryawan tempat ia berada sekarang.

__ADS_1


Sesekali Andri berusaha menghibur atasannya, namun yang ada malah ia mendapat lemparan bolpen dari Arsen. Andri memperlihatkan senyum kearahnya, membuat Arsen berpikir bahwa ia sedang menyindir dan seakan-akan mengetahui apa yang ada dalam pikiran Arsen saat ini. Akhirnya Andri disuruh untuk diam dan langsung saja ia tak berkutik kemudian memilih melanjutkan pekerjaan.


Meskipun sudah tak terhitung berapa kali Andri mendapat lemparan bolpin dari Arsen, tak membuatnya jera. Malah semakin lama Andri semakin senang menggoda atasannya tersebut. Menurutnya menggoda Arsen yang kadang konyol itu seperti ada sensasinya tersendiri. Dari dulu Meja kerja Arsen dan Andri memang berada dalam satu ruangan. Itu dilakukan untuk memudahkan mereka berdiskusi tentang hal apapun, terutama masalah perusahaan ayah Arsen. Sekaligus memudahkan Andri menjahili Arsen.


“Ndri, apa kamu sudah mengirim laporan itu ke emailku ?” Tanya Arsen sambil mengecek emailnya bolak-balik, untuk mengalihkan perhatian dan pikirannya. Namun ia tak digubris oleh Andri.


“Ndri ?”


“Ndri, kamu nggak dengar aku ? Kamu lagi sibuk ngerjain apa sih ?” Panggil Arsen yang ketiga kalinya. “Astaga Andri, mending besok kamu nggak usah ke kantor lagi deh, Ndri.” Ucap Arsen.


“Kenapa memangnya bos ? Apa saya diperbolehkan untuk mengambil libur ?” Kata Andri langsung, sambil melihat kearah atasannya setelah mendengar pernyataan Arsen.


“Iya, libur untuk selama-lamanya. Trus bersi in tuh telinga biar kamu bisa dengar kalau ada yang manggil kamu.” Jawab Arsen mulai kesal.


“Laaah, kan si bos yang nyuruh saya diam. Iya saya diam.” Andri membela diri.


“Ndriiii, bener-bener kamu yah. Makin ngelunjak aja yah kamu.” Arsen mulai emosi.


“Iye iye, ini saya kirimkan bos.” Jawab Andri seadanya.


“Tuh telinga jangan lupan dibersi in.” Kata Arsen tanpa menatap Andri, dan mulai sibuk dengan laporan yang baru diterimanya.


Andri hanya menatapa Arsen sekilas “Mulai deh cerewetnya kumat lagi. Marah-marah nggak jelas lagi. Apa lagi PMS kali yah ? Tapi kan dia cowok. Ah bodo amat yang penting angka direkeningku bertambah.” Pikir Andri yang akhiri dengan senyum semeringahnya dan melanjutkan pekerjaannya.


***


Berakhirnya rapat dikantor Abdillah bertepatan dengan waktu istirahat. Qanita sedang membereskan berkas-berkas yang ada di hadapannya. Saat hendak meninggalkan ruangan tersebut tiba-tiba pundaknya merasa ditepuk.


Puk puk puk


Qanita yang begitu kaget langsung saja berbalik dan ternyata sang ayah yang menepuk pundaknya.


“Ingat ntar malam yah nak.” Ucap Abdillah dengan senyum tipis.


“Iya, iya ayah. Anit ingat.”


“Semua keputusan ada ditanganmu nak, pikirkan baik-baik.” Nasehat Abdillah.

__ADS_1


“Udah ah yah, Aku mau sholat trus makan gado-gado dikantin.” Ucap Qanita dan meninggalkan Abdillah yang tengah tersenyum melihat punggung anaknya.


“Ayah sedih sekaligus bahagia nak. Jika kamu menerimanya maka anak gadis ayah akan segera dipersunting itu artinya akan ada tangan lain yang akan menuntunmu, bahu yang akan menjadi sandaranmu, mulut yang akan menasehati saat kamu melakukan kesalahn dan hati yang akan mencintaimu dengan tulus. Ayah serahkan semuanya padamu nak, apapun keputusan dan pilihanmu semoga bahagia selalu ada bersamamu.” Batin Abdillah tak menyadari setetes cairan bening mengalir dari sudut mata kanannya.


__ADS_2