
Sesampainya Arsen dirumah langsung disambut oleh Diana dan Irtiza yang harap-harap cemas. Takut jika ia disembur atau malah dicuekkin oleh Qanita, dan dipastikan akan berujung semakin dalam luka serta hasrat seorang Arsenio untuk memiliki Qanita.
Terutama Diana sungguh menginginkan anaknya untuk menjalani kehidupannya lagi tanpa bayang Qanita yang sudah bertahun-tahun mengikutinya. Namun apa mau dikata, seolah takdir masih menginginkan Arsen seperti itu, seperti ia saat ini.
“Assalamualaikum.” Ucap Arsen.
“Waalaikummussalam.” Jawab Diana dan Irtiza serempak, dari arah ruang depan TV.
“Gimana nak ? Dia mau temui kamu ?” Tanya Diana cemas.
“Alhamdulillah mau ma. Arsen ke kamar dulu ya ma, dek.”
Melihat wajah Arsen mengembang senyum seperti itu, membuat Diana berkaca-kaca. Bagaimana tidak, sudah lama ia tak melihat putranya senyum selebar dan selepas itu. Sementara Arsen kini sedang menaiki anak tangga yang membawanya menuju kamar.
“Semoga senyum itu akan segera kembali. Mama rindu anak mama yang petakilan, bukan dia yang meraung dalam diam.” Batin Diana.
Dikamar, Arsen tak henti-hentinya tersenyum. Mengingat kata hati-hati dari mulut Qanita. Ah, sungguh kata sesederhana itu mampu membuatnya terbang tinggi.
“Eh, nomornya Qanita.” Berbicara pada diri sendiri dan bergegas menemui adiknya.
Setengah berlari dan menemui Irtiza yang sudah berada dikamarnya. “Caaa, deeek.” Membuka dengan sedkit kasar pintu kamar Irtiza.
“Astagfirulahaladzim, kakaaaaak.” Tak kalah berteriak.
“Maaf, maaf, ngagetin yah dek. Aku minta nomornya Qanita yah. Bisa kirim ke aku sekarang ?” Tanya Arsen dengan antusias.
“Iya, udah sana ih. Udah mau tidur nih.”
“Iye, iye cempreng.” Ucap Arsen sembari menutup kamar Irtiza.
Setibanya dikamar, dengan cepat ia meraih Hp yang berada di atas meja samping tempat tidurnya. Dilihatnya notif pesan dari Irtiza yang mengirim nomor gadis yang diminta olehnya. Kembali lagi senyumnya mengembang diwajah tampan Arsen. Iapun menyimpan nomor tersebut dengan nama “Qa”, seperti ia memanggil Qanita selama ini. Kemudian mengetik pesan pertamanya untuk Qanita.
“Assalamualaikum Qa, ini aku Arsen.”
Cukup lama gadis itu merespon pesan Arsen, dan selama itu pula keringat dinginnya tak henti mengucur dari keningnya dan sedikit gugup akan balasan pesan dari gadis yang dicintainya itu.
Namun, apa mau dikata. Pesan yang dikirim oleh Arsen tak dibalas. Melainkan hanya dibaca saja. Arsen merasa cukup kecewa dengan hal itu, dan saat ia akan menutup aplikasi chat tersebut. Ia cukup dibuat terkejut saat profile Qanita kini dapat ia lihat, menandakan bahwa nomornya telah tersimpan dikontak Qanita. Dilihatnya profile gadis tersebut, ternyata kata-kata bijak.
__ADS_1
Sebesar apapun kau mencintai atau membenci sesuatu. Pada akhirnya kau akan tunduk pada ketentuan_Nya yang berlaku atas dirimu.
Arsen tersenyum menandakan bahwa ia mengerti dan menyetujui kalimat tersebut.
“Ya Allah, semoga besarnya cintaku pada hamba_Mu ini tak melebihi besarnya rasa cintaku pada_Mu dan Rasul_Mu. Andai perjuangan ku kedepannya semakin berat untuk mendapatkan cintanya, kuatkanlah aku Ya Robb.” Gumam Arsen lirih, dan beranjak dari tempat tidur untuk mencuci muka, kemudian berwudhu dan melaksanakan sholat witir.
***
Qanita yang masuk ke dalam rumahnya kini mendapat senyuman yang terlihat seperti menggoda dari ibu dan ketiga saudaranya. Namun ia tak begitu mempedulikan hal tersebut, diletakkannya bingkisan di atas meja makan dan membawa cangkir yang berisi minuman Arsen tadi ke wastafel.
“Itu apa kak ?” Tanya Nazeen sambil menunjuk bingkisan yang dibawanya tadi.
“Cookies dari Arsen tadi.” Sambil memindahkan kedalam piring.
“Cookies rasa cinta ni eh.” Goda Nazeen kembali, dan menimbulkan kekehan kecil dari Maya, Syiffa, dan Fateeh. Sementara sang ayah hanya tersenyum kecil dan melanjutkan bacaannya.
“Apaan sih kamu dek.” Kemudian membawa piring yang penuh cookies tersebut ke tempat anggota keluarganya berkumpul. Diambilnya satu buah, kemudian berjalan menuju kamar.
Sesampainya dikamar, ia membuka pintu yang mengarah menuju balkon. Iapun duduk sambil kembali memikirkan ucapan Maya saat memanggilnya untuk bertemu dengan Arsen. Masih begitu jelas diingatannya.
Flashback
Terdengar ketukan dari luar kamarnya, iapun beranjak dari tempat duduk dan meletakkan buku bacaannya kemudian membuka pintu kamar.
“Anit, Arsen di bawah ingin bertemu kamu sayang.”
“Anit nggak mau bu.”
“Anit, liat baik-baik mata ibu nak. Kau boleh saja membencinya dengan rasa benci yang sebenci-bencinya sayang. Tapi kamu ingat setiap orang berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua. Bukannya ibu tidak tahu bagaimana ia sudah cukup tersiksa dengan perasaanya padamu selama bertahun-tahun ini nak. Ibu juga tahu kalau dulu ia pernah mengungkapkan perasaannya kepadamu kan, setahun sebelum ia memutuskan untuk kuliah diluar kota. Kamu saat itu menolak ia mentah-mentah karena alasanmu bahwa dia laki-laki yang tidak baik dan tidak pantas untuk menerima cinta darimu.
“Kan dia sering gonta-ganti pacar bu. Lagian juga Anit nggak mau pacaran.” Sambil masih memandang mata ibunya dalam.
“Kamu tidak mau pacaran bukan berarti kamu berlaku kasar nak padanya. Sering gonta-ganti pacar, iya ibu tahu itu. Qanita sayang, kamu tidak tahu apa sebenar isi hatinya. Kamu tidak berhak menghukum dia sampai seperti ini karena masa lalunya. Itu adalah hak prerogatif yang Kuasa nak. Lihat dirimu sekarang nak, sampai saat ini kamu membencinya. Apakah itu membawa keuntungan untukmu ? Tidak bukan, yang ada sekarang kamu malah perlahan-lahan memutus tali silaturrahmi dengannya. Temuilah dia nak, dengar apa yang ingin disampikannya. Setidaknya hargai niat baiknya.” Maya mengusap penuh kasih ujung kepala Qanita sambil tersenyum dan menginggalkan kamar anaknya.
***
Entah karena angin malam, atau memikirkan ucapan ibunya tadi membuat ia meneteskan beberapa cairan bening dari matanya. Dilihatnya cookies yang sedari tadi digenggam, digigitnya sedikit demi sedikit dengan perasaan yang tak menentu. Malam semakin larut dan udara semakin terasa dingin. Ia memutuskan untuk masuk kekamar dan menutup pintu balkon. Mangambil HP nya yang dari tadi berada di atas tempat tidur dan membukanya. Terdapat sebuah pesan dari nomor yang tak dikenalinya. Iapun membukanya dan mengetahui bahwa nomor yang tak dikenal tersebut adalah nomor Arsen, pria yang beberapa saat lalu bertamu kerumahnya.
__ADS_1
Tanpa niat membalas, ia hanya menyimpan nomornya dan meletakkan kembali HP ditempat semula. Berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri juga berwudhu kemudian sholat untuk menenangkan perasaannya yang sedikit kacau. Entah karena ucapan ibunya atau pertemuannya dengan Arsen malam ini.
Selepas sholat iapun menuju meja rias untuk memakai cream malam dan yang lainnya. Kembali matanya melihat beberapa map coklat yang tertumpuk rapi. Diraihnya kemudian menghela nafas dengan paksa seolah ada yang mengganjal didadanya.
“Aku tidak tahu sudah berapa lama map ini ada meja kerjaku. Aku bahkan sama sekali tak berniat membuka apa lagi membacanya. Sepertinya besok aku harus berbicara dengan ayah.” Gumam Qanita pada dirinya sendiri.
Diletakkannya kembali map tersebut ketempat semula, dan memilih untuk menuju tempat tidurnya.
***
Qanita terbangun sebelum adzan Subuh bekumandang, dibuka pintu kamarnya dan meliaht sang ayah sedang duduk menunggu adzan subuh dan kedua putranya.
“Ayah, bolehkah Qanita berbicara pada ayah sebentar ?” Tanyanya lembut.
“Bicaralah nak. Mengenai apa ?” jawab Abdillah dengan tatapan lembut pada putrinya.
“Ayah, tolong sampaikan permintaan maaf Qanita ke yang mengirim CV Ta’arufnya pada Anit yah. Tolong sampaikan permohonan maaf Anit yang sebesar-besarnya, karena Anit tidak bisa menerima ajakan Ta’arufnya.” Ucapnya lembut sambil menunduk tak sanggup melihat sang ayah.
“Baiklah nak, jika itu pilihanmu. Ayah tidak bisa memaksanya. Insya Allah ayah akan menyampaikannya. Ya sudah kami ke masjid dulu. Assalamualaikum.” Ucap Abdillah berdiri dari tempat duduknya, saat melihat kedua putranya sudah siap berangkat ke masjid.
***
Beberapa hari setelah pertemuan Arsen dan Qanita tak ada yang berubah. Arsen masih dengan senyumnya yang mengembang, Qanita masih dengan cuek dan dinginnya, namun diwajahnya terlihat sedikit kelegaan setelah mengutarakan apa yang mengganjal dibenaknya beberapa saat yang lalu pada sang ayah.
Saat ini Abdillah dan kedua putranya juga Saad dengan kedua putranya tengah berada di masjid. Arsen sedang membaca A-Qur’an sambil menunggu adzan Isya, Abdillah dan Saad sedang berbincang dengan salah satu ustadz, sedangkan Fateeh, Nazeen, dan Azel sibuk dengan obrolannya bertiga.
Sesekali Arsen melihat papanya yang tengah asyik mengobrol, hingga saat ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari ketiga laki-laki yang lebih tua darinya itu.
“Pak Abdi, tolong berikan ini pada putri bapak, Qanita.” Ucap ustadz sambil memberikan map coklat ke tangan Abdillah.
Melihat itu Abdillah sudah bisa mengetahui isi map tersebut. “Mohon maaf sebelumnya pak ustadz, sepertinya putri saya belum memikirkan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis.”
Mendengar kalimat Abdillah membuat Saad menoleh kearah putranya, yang kini juga melihat kearahnya. Tak berapa lama Arsen, kembali melihat Al-Qur’an yang ada ditangannya dan melanjutkan membaca. Ada rasa sakit didada Arsen, melihat CV Ta’aruf yang akan diberikan pada Qanita, dan juga ucapan Abdillah tadi. Sangat terlihat raut kesedihan di wajah Arsen.
“Saya paham pak, tapi saya hanya menyampaikan amanat seorang anak muda yang ingin menjalin hubungan dengan putri bapak. Tolong terima amanat ini pak.” Ucap ustadz dengan senyumnya.
Abdillah hanya tersenyum dan menerima map coklat tersebut.
__ADS_1
“Arsen.”
Seseorang memanggil namanya dan mengulurkan tangan untuk membantu Arsen berdiri.