Kisah Ini Bernama Cinta

Kisah Ini Bernama Cinta
Extra Part 2 Check Out


__ADS_3

Samar-samar terdengar suara adzan dari arah masjid yang letaknya tak jauh dari hotel tempat Arsen dan Qanita menginap. Qanita merasakan salah satu lengannya pegal dan segera melihat penyebabnya. Dengan mata yang terbelalak ia begitu terkesiap melihat ada lengan yang melilit tubuh bagian atasnya.


“Aaargh.” Ia berteriak dan beranjak dari tempat tidur.


Teriakan Qanita langsung membangunkan Arsen dan terlihat begitu panik, “kamu kenapa ?” Tanya Arsen yang terduduk dan memperhatikan Qanita.


“Kamu yang kenapa ? Ngapain kamu tidur sama aku ?” Tanya Qanita yang berusaha menahan marah.


Mendengar ucapan Qanita, Arsen langsung mengerjitkan keningnya dan berkata “Apa kamu lupa ? Aku ini suamimu.” Ucap Arsen dan kembali merebahkan diri.


“Astaga, maaf maaf.” Ucapnya kemudian dan terkekeh geli. “Kenapa aku bisa sampai selupa ini ?” Tanyanya pada diri sendiri dengan memegang kening dan berjalan menuju kamar mandi.


“Memang, mungkin kamu amnesia.” Timpal Arsen dengan mata yang masih terpejam.


“Diam. Subuh-subuh sudah ngajak debat.” Sergah Qanita dan menutup pintu kamar mandi.


“memangnya siapa yang mengajak debat, salah sendiri teriak subuh-subuh. Makanya dulu jangan terlalu membenciku.” Timpal Arsen yang tak mau kalah.


“Diaaaam.” Teriak Qanita dari dalam kamar mandi.


“Di dengar rupanya.” Gumam Arsen dan melanjutkan tidurnya, padahal sudah memasuki waktu subuh.


Sekeluarnya Qanita dari kamar mandi, ia melihat Arsen masih nyaman berada dibalik selimut. Walaupun tak tega membangunkan karena suaminya yang kecapean, tetapi Arsen harus menunaikan sholat Subuh.


“Ar, bangun.” Ucapnya lembut disamping sang suami.


“Ini sudah Subuh. Ayo bangun.” Pinta Qanita lembut dan mengelus pipi suaminya.


“Ah, bahagianya, bisa dibangunkan oleh alarm bernyawa, apalagi oleh istri sendiri.” Ucapn Arsen dalam hati.


“Io bangun.” Ucap Qanita pelan.


“Io ? kamu nggak salah manggil nama orang ?” Tanya Arsen dengan mata yang masih tertutup, rupanya ia sengaja tak menggubris panggilan istrinya.


“Arsenio ? Bukankah itu namamu ?” Tanya Qanita dan menatap suaminya.


“Oh iya, hehehe.” Arsen beranjak dari tempat tidur dan mencium pipi Qanita, kemudian melangkah menuju kamar mandi.


Sepeninggal Arsen ke kamar mandi, Qanita tersenyum dan membersihkan tempat tidur.


“Io, jangan lama-lama. Akupun belum wudhu.” Ucap Qanita dengan sedikit berteriak.


“Iya Qa, ini sudah mau selesai.” Jawab Arsen dari dalam kamar mandi.


Tak lama setelah itu, Arsen keluar dari kamar mandi dan mengedarkan pandangannya pada dua sajadah yang telah tergelar. Dengan cepat ia meraih baju yang sudah dipersiapkan oleh Qanita. Sementara Qanita, beranjak menuju kamar mandi untuk bewudhu.


Sholat Subuh hari ini terasa berbeda bagi kedunya, Arsen yang mengimami Qanita merasa begitu damai bisa beribadah bersama. Begitupun dengan Qanita, ia bersyukur Allah mengirimkan pendamping yang Insya Allah akan membimbingnya menuju Jannah. Arsen memang biasanya melaksanakan sholat Subuh di masjid, namun tidak dengan hari ini karena ia telat bangun. Setelah melaksanakan sholat Subuh, Arsen dan Qanita membaca Al-Qur’an dan sesekali membenarkan bacaannya istrinya.


Dengan cepat Qanita memeluk tubuh Arsen setelah menyudahi bacaan Al-Qur’annya.

__ADS_1


“Apa kamu sudah tidak ragu dan malu lagi ?” Tanya Arsen yang menatap Qanita.


“Sepertinya aku harus membiasakan diri. Hehehe.” Kekehnya. “Aku ingin selalu seperti ini, tegur aku jika aku salah, tapi jangan sekali-kali membentakku, karena itu rasanya pasti sakit sekali.” Jelasnya dan mempererat pelukan pada sang suami.


“Iya aku juga. Beritahu aku saat melakukan kesalahan. Dan jangan diamkan aku, karena dengan kamu diam akupun nggak tau dimana salahku, dan itu rasanya begitu sakit, aku seperti tidak terlihat dimatamu dan seolah tidak ada dibumi ini. Jangan kode-kode, karena kadang aku tidak peka.” Tutur Arsen dan memeluk istrinya kemudian mencium puncak kepala Qanita yang masih terbalut mukenah.


“Hehehe iya.” Kemudian menganggukan kepala. “Aku minta maaf soal itu.” Ucapnya kembali.


Arsen tak menjawab ucapan Qanita namun mengelus lembut tubuh istrinya.


Pagi ini setelah sarapan Arsen dan Qanita mengahabiskan waktu dengan berbincang-bincang mengenai hal apa saja yang disuka dan tidak disukai oleh keduanya. Setelah itu mereka memilih untuk menonton TV, awalnya terlihat begitu antusias namun, tak lama setelah itu Qanita mulai merasa bosan.


“Kenapa ?” Tanya Arsen sambil melihat Qanita.


“Aku bosan.” Jawab Qanita dengan menatap jari kukunya.


“Mau kepantai ?” Tanya Arsen dan melihat Qanita kembali.


“Mau, mau.” Jawab Qanita dengan antusiasnya.


Terlihat Arsen mencari sesuatu di ponselnya, dan mendekatkan pada telinga kanannya “Yan, Assalamualaikum. Kamu dihotel ? Aku pinjam mobil boleh ?” Tanya Arsen pada Royyan yang berada disebrang telepon.


Iya aku dihotel, lagi diruanganku. Kamu ke lobby aja langsung. Jawab Royyan.


“Ya sudah, aku ke lobby bentar lagi.” Ucap Arsen dan menatap Qanita.


Oke, ntar kalau udah disana kamu telepon aku lagi.


Waalaikumussalam.


Dengan segera Arsen dan Qanita bersiap-siap, kemudian menuju lobby hotel. Seperti yang diungkapkan Royyan, Arsen kembali menghubunginya. Setelah itu terlihat resepsionis sedang berbicara dengan seseorang yang berada diseberang telepon.


“Ini kuncinya pak.” Ujar resepsionis itu dengan sopan. “Rekan saya akan mengantarkan bapak ke mobilnya pak Royyan.” lanjutnya kembali dan menunjuk rekan laki-lakinya.


“Emangnya ini hotelnya Royyan Io ?” Tanya Qanita pada Arsen sambil berjalan.


“Iya ini hotelnya Royyan, salah satunya tepatnya.” Jawab Arsen dengan menggandeng tangan Qanita.


“Oooh, pantesan mama pilih hotel ini.” Ujar Qanita.


“Iya, lagian mama nggak tau kok kalau ini hotelnya Royyan.” Ucap Arsen dan membuka pintu mobil untuk istrinya.


Dengan segera Arsen dan Qanita melaju menuju pantai. Sesampainya di pantai terlihat Qanita yang begitu riang, dan mata yang berbinar-binar. Tanpa menunggu Arsen ia segera berlalu dari mobil dan menuju pantai.


Qanita terlihat berlari-lari kecil tanpa menghiraukan Arsen. “Jangan lari-lari Qa.” Nasehat Arsen yang berjalan dibelakang Qanita. Qanita hanya menatap Arsen dan tersenyum sumringah.


Qanita terlihat begitu riang menikmati pantai hingga ia seperti tak menghiraukan Arsen yang sedari tadi duduk dan sibuk mengambil gambarnya secara diam-diam.


“Kalau mau memotretku bilang, jangan diam-diam. “ Celetuk Qanita yang ternyata menyadari kegiatan suaminya.

__ADS_1


Arsen hanya tersenyum tipis dan mendekati istrinya “Sini.” Ucap Arsen dan melingkarkan tangannya dipinggang Qanita. Awalnya terlihat peolakan dari Qanita, namun segera diurungkan saat Arsen semakin mengeratkan tangannya.


Kedua pengantin baru itu berfoto dan terlihat Qanita yang bersender didada Arsen dengan senyum lebar dan lagi-lagi memperlihatkan cekungan kecil dikedua pipinya.


“Kalau sore pasti bagus, bisa liat sunset.” Ujar Qanita sambil melihat hasil foto mereka.


“Kapan-kapan kita kesini lagi. Sore ini kita harus check out dan pulang kerumah.” Timpal Arsen sambil memperhatikan pemandangan sekitar.


“Rumahku atau rumahmu ?” Tanya Qanita kemudian.


“Rumah yang kuncinya kukasih kekamu kemarin.” Jawan Arsen dan mencubit pipi Qanita.


“Memang sudah bisa ditempati ?” Tanya Qanita kembali.


“Sudah, beberapa barang kita sudah diantar kesana, dan mungkin dalam beberapa hari kedepan akan ada tasyakuran rumah itu. Nggak apa-apa kan kita tempati malam ini ?” Tanya Arsen.


“Nggak apa-apa.” Jawab Qanita dan melangkah kedepan Arsen agar kakinya bisa terkena air laut.


“Ayo pulang, ini sudah mau Dzuhur.” Ajak Arsen dan menggandeng tangan Qanita. Sedangkan istrinya hanya mengangguk dan mengikutinya.


Seperti yang dikatakan oleh Arsen bahwa sore ini mereka akan check out dan pulang kerumah yang telah dipersiapkan olehArsen untuk Qanita. Saat akan melakukan check out terlihat Royyan yang baru saja keluar dari lift dan akan kembali kerumah.


“Ar.” Panggil Royyan.


“Hmm.” Jawab Arsen yang sibuk mengeluarkan kartu kreditnya tanpa melihat kearah Royyan.


“Sudah, ajak Qanita pulang.” Ujar Royyan dan merampas kartu kredit milik Arsen.


“Laaah, ngapain kamu ambil ?” Tanya Arsen.


“Pulang, pulang. Mobilku bawa aja dulu.” Tutur Royyan dan mendorong Arsen untuk meninggalkan lobby.


“Eh, setengah waras. Ini aku mau bayar.” Sergah Arsen dan sontak menjadi pusat perhatian orang yang sedang berada disekitar lobby.


“Udah miring. Ini hadiah pernikahan buat kalian dari aku.” Timpal Royyan.


“Astaga Yan, tau gitu. Minggu depan aja aku check outnya.” Timpal Arsen.


“Yang ada aku malah rugi.” Sergah Royyan dan menatap sinis Arsen. “Anit, ajak suami miringmu ini pulang gih.” Ucapnya pada Qanita.


“Hahaha, iya, iya. Ayo Io.” Ajak Qanita. “Terima kasih Yan, atas hadiahnya.” Ucap Qanita sopan.


“Istrimu sopannya nggak ketulungan, lah kamu kurang ajarnya yang nggak ketulungan.” Cibir Royyan pada Arsen.


“Iya makanya aku cuma mau dia.” Timpal Arsen kemudian.


“Eh, ingat ntar malam. Udah baca grup kan kamu ?” Tanya Royyan kembali.


“Iya, kalau dia ngijinin.” Ucap Arsen dan melirik Qanita yang digennggam tangannya. “Udah, aku pulang. Assalamualaikum.” Pamit Arsen dan meninggalkan lobby.

__ADS_1


“Waalaikumussalam.”


__ADS_2