
Flashback
Qanita keluar dari rumah dan berjalan menuju gerbang. Ia berniat untuk pergi rumah Irtiza menemui Arsen. Qanita berjalan dengan santai sambil sesekali bersenandung ria untuk menutupi kegugupannya.
Sesampainya didepan gerbang rumah Arsen segera Qanita memencet bel, dan menunggu dengan rasa gugup yang semakin mendera dadanya. Tak berselang lama ia melihat pintu rumah Arsen terbuka dan dilihatnya Irtiza berada diambang pintu. Dengan semangat ia melangkah menuju gerbang dan membukanya untuk Qanita.
“Assalamualaikum Ca.” Ujarnya dengan senyum tipis.
“Waalaikumussalam.” Irtiza menjawab salam Qanita. “Apa kabar ?” Tanya kembali dan memeluk Qanita.
“Alhamdulillah baik Ca.”
“Ayo masuk yuk.” Ajak Irtiza sambil memegang tangan Qanita.
Perlahan-lahan langkah Qanita mengarah kepintu depan rumah Arsen dengan tangan yang masih digenggam oleh Irtiza.
“Ma, pa, ada tamu ni.” Ucap Irtiza yang mengarah keruang tengah tempat kedua orangtuanya berada.
“Loooh, Anit.” Ujar Diana yang cukup terkaget. Sedanglan Qanita hanya tersenyum.
“Assalamualaikum om, tante.” Salam Qanita pada orang tua Arsen dan mencium tangan keduanya.
“Waalaikumussalam.” Jawab Diana dan Saad bersamaan.
“Kamu apa kabar nak ?” Tanya Diana sambil mempersilahkan Qanita duduk.
“Alhamdulillah baik tan.”
“Syiffa sama Rafay gimana ?” Tanya Saad kemudian.
“Baik juga om. Alhmdulillah.” Jawab Qanita lagi.
“Lia gimana nak ?” Tanya Diana kembali sambil membayangkan pipi gembul cucu dari sahabatnya itu.
“Semakin lucu tan.” Jawab Qanita dengan senyum lebar dan membayangkan semakin lucunya keponakannya itu.
Qanita memandang kesembarang arah seperti sedang mencari sesuatu. Saad menyadari hal tersebut dan berkata, “Dia sedang keluar, sepertinya ke cafe langganannya.” Ujar Saad tiba-tiba dan mengejutkan Qanita.
Sedetik kemudian wajahnya bersemu merah dan merasa seperti tertanggkap basah bahwa ia sedang mencari Arsen. Ia menundukkan pandangannya dan memejamkan mata menunjukkan betapa malunnya ia.
“Eee, kalau gitu saya pamit dulu om, tante.” ucap Qanita.
“Loooh, kok buru-buru Anit. Ini minumannya gimana dong ?” Tanya Irtiza yang berjalan dari dapur.
“Mmm, buat kamu aja Ca.” Jawab Qanita dengan senyum khas dan menampilkan lesung pipinya.
“Iya sudah, papa aja yang minum ntar.” Celetuk Saad.
“Assalamualaikum.” Pamit Qanita dan beranjak dari tempat duduk.
“Waalaikumussalam.” Jawab ketiganya serempak.
Diana dan Saad hanya saling memandang dan mengulas senyum tipis setelah melihat pungung Qanita yang semakin menuju pintu rumahnya.
Sekembalinya dari rumah Arsen, ia langsung menuju kamar dan mengambil kunci motornya. Kemudian berpamitan pada orang tuanya untuk ke cafe.
__ADS_1
***
Sesampainya didepan cafe, ia melihat motor sport Arsen terparkir rapi. Kemudian ia berjalan memasuki cafe. Cukup lama ia berdiri mengamati sekitar untuk mencari keberadaan Arsen.
Rasa gugupnya kini semakin menjadi-jadi, ia takut jika saja Arsen sedang bersama teman-temannya atau malah dengan gadis lain. Namun pikiran itu segera ditepis. Kini pandangannya menangkap punggung seorang laki-laki yang sedang duduk sendiri disalah satu bangku yang berada dipojokkan.
Ia melangkah perlahan sambil meyakinkan dirinya apakah yang dilihatnya adalah benar punggung Arsen atau malah sebaliknya. Pelan ia melangkah dan mengendap seperti sedang bersembunyi karena tertanggkap basah melakukan kesalahan.
Sedangkan laki-laki yang sedang duduk sendiri itu tidak menyadari keberadaan Qanita dibelakangnya. Hingga Qanita mendengar gumamnya yang sangat lirih.
“Aku capek kayak gini terus.”
“Mau ngelupain sesusah ini.” Qanita tersentak saat tubuh Arsen mendarat dengan paksa disenderan kursi. Ia takut Arsen menyadari keberadaannya dibalik kursi yang tengah diduduki oleh laki-laki tersebut.
Kemudian ia mendengarkan kembali suara Arsen yang sangat lirih “Aku akan berehnti dan melupakanmu.” bahkan hamipr tak terdengar jika saja ia berada cukup jauh dibelakang Arsen.
Dengan mengumpulkan keberanian Qanita menanyakan pernyataan Arsen. “Serius ?” Tanyanya pada laki-laki yang sedang memunggunginya itu.
Arsen begitu kaget mendengar suara yang berasal dari belakangnya, dan langsung memutar badan melihat siapa yang berkata. Matanya terbelalak melihat Qanita dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
“Qa.” Ucapnya dan pandangan mengikuti langkah Qanita.
“Hm ?” Jawab Qanita dan berdiri didepan meja Arsen.
Arsen tak bisa berkata apa-apa saat melihat Qanita yang begitu dekat dengannya.
“Assalamualaikum.” Sapa Qanita.
Arsen tak menjawab salam dari Qanita, malah ia merentangkan tangan dan berjalan mendekati Qanita. Langsung saja Qanita memajukan kedua tangannya dan berjalan mundur.
“Astagfirullah. Waalaikumussalam.” Ucap Arsen yang menyadari kesalahan dan menjawab salam. “Maaf, maaf Qa.” Pintanya sembari menunduk.
Qanita mendudukkan tubuhnya dikursi depan Arsen. Hal sama juga dilakukan Arsen. Setelah duduk, Qanita menatap kesembarang arah dan mencari sesuatu. “Nyari apa ?” Tanya Arsen.
“Kamu sendiri ?” Tanya Qanita.
“Iya, ini buktinya cangkir cuma satu.” Menunjuk cangkir yang ada didepannya.
“Oh.” Ucap Qanita dan mencari pelayan cafe.
“Mau pesan apa ?” Tanya Arsen yang berdiri dari tempat duduknya dan langsung mendapat tatapan dari Qanita.
“Hmm, matcha hangat aja.” Ujarnya, dan melihat Arsen berjalan menjauhinya “Mau kemana ?” Tanyanya.
“Laaah, mau pesan lah.” Ucap Arsen.
“Nggak usah, aku aja.” Ujar Qanita.
Arsen membalik badannya dengan sempurna mengahadap Qanita “duduk.” Pinta Arsen dengan penuh penekanan dan meninggalkan Qanita. Qanita terkaget dibuatnya dan menurut saja.
Selang berapa lama Arsen kembali melangkah ketempat Qanita, dan mendudukkan tubuhnya lagi. Lama mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing tanpa ada yang berani membuka pembicaraan. Hingga pelayan cafe datang membawa pesanan Arsen. Dalam nampan tersebut terdapat cangkir berisi matcha dan sepiring cookies kesukaan Qanita.
“Aku mau minta maaf.” Kata Qanita dengan pandangan yang tertunduk.
Arsen mengerutkan keningnya karena tak mengerti “Maksudnya ?”
__ADS_1
“Iyaa, aku minta maaf. Udah kayak gitu kemarin.” Jawabnya memperjelas.
Arsen hanya tersenyum dan menatap lekat-lekat pada Qanita “Aku yang seharusnya meminta maaf, dan terima kasih sudah kembali lagi kerumahmu. Sudah tak menghindari aku.” Ucap Arsen.
Mendengar kalimat terakhir Arsen membuat mata Qanita terbelalak “Siapa juga yang ngehindarin kamu. Percaya diri sekali.” Qanita membela diri dengan ketus.
“Dia sudah kembali.” Batin Arsen. “Iya, iya. Nggak.” Ucap Arsen memangkas bibit yang bisa saja menjadi bahan perdebatan mereka. “Tau dari mana aku disini ?” Tanyanya kembali.
“Tadi aku kerumahmu, kata om Saad kamu kecafe. Makanya aku kesini.” Jawabnya sambil mengangkat cangkir yang berada didepannya.
“Kamu nyari aku ? Kamu kangen aku ?” Tanya Arsen dengan menyelidik dan membuat Qanita mati kutu.
“Ish, nyebelin banget sih. Udah aku mau pulang.” Akan beranjak dari kursi.
“iya, iya nggak.” Ucap Arsen yang sepertinya tak henti-henti menggoda Qanita. “Kenapa, kok tiba-tiba minta maaf gitu ?” Tanya Arsen kembali seperti nada menggoda.
Qanita hanya mencebikkan bibirnya dan menatap Arsen dengan tajam. Lalu iapun menceritakan apa yang telah dilakukan oleh Andri dan Tria padanya.
“Waaah, sepertinya aku harus berterima kasih sekali pada mereka berdua.” Ucap Arsen setelah mendengar penjelasan Qanita.
“Iya memang, harus itu.” Setuju Qanita dan memakan cookies yang telah diambilnya.
“Apa sekarang kamu tau ? Kalau dari dulu cuma kamu satu-satunya ?” Tanya Arsen.
Qanita menghentikan kunyahannya setelah mendengar pertanyaan Arsen. “Cih!” Ia mengangkat salah satu sudut bibirnya. “Dan apakah kamu tau kalau sebenarnya dari dulu aku hanya menaruh hati kekamu ?”
Arsen terkaget setengah mati mendengar Qanita berbicara seperti itu “Lalu kenapa kamu membenciku ?”
“Iyaa karena aku nggak tau, eh tepatnya nggak sadar dengan apa yang aku rasain kekamu. Aku benci saat kamu pacaran sama cewek lain, dan tiba-tiba kamu datang ngajak aku pacaran. Aku benci, kamu baru tau aku setelah menjalin hubungan dengan yaah, aku nggak bisa itung berapa jumlah mantan kamu.” Jelas Qanita dan mengerutkan bibirnya memandang Arsen tajam.
Arsen hanya tersenyum melihat ekspresi Qanita. “Itu juga kulakukan buat hindarin kamu, biar perasaanku kekamu nggak semakin besar. Tapi ternyata. Sudahlah, iya aku minta maaf, atas semua kesalahanku.”
“Hm.” Dehem Qanita dan meminum matcha dalam cangkirnya.
“Mau kapan ?” Tanya Arsen.
“Kapan apanya ?” Tanya Qanita kembali karena tak mengerti.
“Mau dilamar kapan ?” Arsen memperjelas pertanyaannya.
Qanita kaget dibuatnnya dan mendonggakan kepala mencari kebohongan diwajah Arsen namun tak didapatinya.
“Nggak tau.” Ujar Qanita singkat.
“Ya udah sekarang aja.” Arsen beranjak dari duduknya.
“Ngawur.” Ucap Qanita dengan wajah kesal.
“Laaah, katanya tadi nggak tau. Ya apa sih.” Ujar Arsen dan mendudukkan diri kembali.
“Iya tapi nggak sekarang juga.” Kata Qanita.
Cukup lama mereka berbasa-basi setelah berbaikan dan waktu berjalan dengan cepat. Arsen sangat ingin berlama-lama dengan Qanita. Namun waktu sudah menunjukkan pukul 21:15 dan Qanita juga harus segera pulang.
“Ayo pulang. Udah jam segini.” Ajak Arsen.
__ADS_1
Qanita hanya mengangguk dan mengikuti langkah Arsen keluar cafe.