
Sekembalinya kedalam rumah, dilihat orang rumahnya berkumpul diruang tamu juga dengan Andri dan Tria. Gadis tersebut berada diantara Diana dan Irtiza. Dengan emosi yang sedapat mungkin ditahan, ia melihat Tria.
“Kamu ngapain kerumahku ? Siapa yang ngasih tau alamat rumahku ?” Tanya Arsen dalam keadaan berdiri tanpa melihat Tria.
Dengan sisa air mata yang barada dipipi juga mata yang berkaca-kaca “Aku cuma mau ketemu kamu Ar, selama ini aku beberapa kali ke kantor cabang. Tapi mereka nggak ada yang mau ngasih tau kamu dimana, sampai hari itu aku kesana dan mereka ngasih tau aku kalau kamu ada dikantor cabang.”
“Alamat rumahku, kamu tau dari mana ? Hah!” Tanya Arsen berapi-api.
“eh, eeee, ak aku tahu dari mereka juga.” Jawab Tria terbata-bata.
“Silahkan kamu angkat kaki dari rumah ini, sebelum aku mengurismu secara paksa. Jangan pernah sekali-sekali berpikir untuk kembali kesini apalagi menemuiku lagi.” Melangkahkan kaki menuju kamar.
“Kenapa ?” Tanya Tria, dan bangun dari duduknya hingga membuat Arsen menghentikan langkahnya.
“Kamu tanya kenapa ? Karena hubungan kita sudah lama berakhir bahkan sebelum aku memutuskan untuk pindah dari kantor cabang.” Ucap Arsen membelakangi Tria.
“Ar, aku cuma pengen tau. Apa alasan kamu buat mutusin aku. Apa salahku ?” Tanya Tria dan kini pipinya kembali basah.
“Aku tidak pernah sama sekali menaruh perasaan sama kamu bahkan dengan perempuan sebelum kamu, cuma dia satu-satunya yang ada dihatiku dari dulu sampai sekarang bahkan nanti. Ingat baik-baik itu.” Membalik badan dan memberi penekanan pada Tria.
“Huh!” Tria mendengus kecil. “Aku jauh-jauh kesini, menghiba dan merendahkan diri dihadapanmu terutama keluargamu. Tapi jawaban sama yang aku dapetin Ar, emang aku sebegitu nggak ada harganya buat kamu ? Sampai kamu bersikap kayak gini ke aku. Iya, aku emang cinta sama kamu,” Ucapannya terhenti dan bahunya mulai bergetar. “Bahkan cinta banget, tapi bukan berarti kamu seenaknya ke aku. Jika kamu suka dan cinta sama orang lain dari dulu, lalu kenapa aku yang harus kamu seret dalam hidupmu, sementara hati kamu bukan buat aku ?” Susah payah Tria mengeluarkan kalimat itu dari mulutnya. “Aku permisi, selamat sore.” Pamit Tria dengan deraian air mata.
Kalimat yang kelaur dari mulut Tria membuat semua orang diruangan itu terdiam, terlebih Arsen begitu terkejut. Sementara Andri keluar untuk mengejar Tria.
“Tria tunggu.” Panggil Andri.
Tria semakin mempercepat langkahnya untuk menuju tempat mobilnya diparkirkan.
“Ria tunggu Ria, tungguuuu.” Andri setengah berteriak, namun sia-sia. Tria sudah melajukan mobilnya.
Andri hanya bisa memejamkan matanya, melihat gadis tersebut pergi dengan hati yang patah juga kecewa yang begitu dalam. Iapun memilih kembali kerumah Arsen untuk mengambil mobil, namun tak berniat masuk.
Menahan emosi juga amarah yang sudah mulai memuncak Saad bertanya pada Arsen “ Jelaskan pada kami ?” Hanya tiga kata itu yang keluar.
“Paa, papa tenang dulu. Jangan terbawa emosi pa.” Diana berusaha menenangkannya.
“Mau taro dimana muka papa ma, dia ingin mengkhitbah anak dari sahabat papa, dan kini dia malah buat masalah seperti ini. Mau taro dimana muka papa ma. Kamu!” menunjuk wajah Arsen. “Aku tidak akan melamar Qanita untuk laki-laki sepertimu.” Kemudian pergi meninggalkan anak-anak dan istrinya.
Melihat kepergian Saad sontak membuat Diana mengikuti suaminya, sedangkan Arsen hanya mampu mengusap kasar wajahnya. Kini ia terlihat sangat berantakan dan kalut.
***
Qanita kembali kerumah tanpa mengucap salam langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
“Anit, kamu kenapa nak ?” Tanya Maya yang kebingungan dengan tingkah anaknya.
“Assalamualaikum.” Suara seseorang dari arah ruang tamu dan membuat perhatian Maya teralihkan.
“Waalaikumussalam.” Jawabnya, kemudian melihat siapa yang datang. “Ayah, tumben pulangnya telat ?” Tanya Maya pada suaminya.
“Iya, tadi ada beberapa yang harus diurus lebih dulu.” Sambil berjalan menuju ruang tengah dan meletakkan tasnya. “Putrimu sudah pulang lebih dulu kan ?” Tanya Abdillah.
“Sudah, tapi dia tadi bersihin tanaman depan rumah, lah kok tiba-tiba masuk nangis-nangis gitu. Itu sekarang kekamarnya.” Terang Maya, sambil berjalan menuju dapur mengambil minum untuk suaminya.
“Bersihin tanaman depan rumah ? Pantesan tadi masih berantakan gitu. Ku kira kamu yang bersiin.” Ujar Abdillah mengambil gelas minum yang diberikan oleh Maya.
“Nggak iih yah. Ya udah ibu aja yang lanjutin bersiinnya.” Ucap Maya. “Ibu kedepan dulu yah.” Pamit Maya.
Abdillah hanya mengangguk pelan kemudian melanjutkan istirahatnya sebentar sebelum memilih untuk bersih-bersih.
Semenjak sampai dikamarnya, ia mengunci pintu kamar dan menangis terisak-isak. Ia merutuki dirinya kenapa begitu b**oh dan melabuhkan hatinya begitu saja pada pria tersebut. Berkali-kali ia beristigfar untuk menenangkan diri, namun air mata tak henti-hentinya mengalir.
Ia mulai mengangkat diri dari posisi yang telungkup di atas tempat tidur. Matanya yang sembab memandangi gurat-gurat jingga diujung langit. Ia melangkahkan kakinya mengarah kebalkon kamar. Diduduki kursi yang berada disamping pintu balkon. Tatapannya kembali nanar, hatinya kembali merasakan sakit dan kecewa. Lagi ia manangis dalam diam, dipeluk lututnya dan kini wajahnya berada diantara kedua lutut. Ingatan kembali membawanya pada kejadian yang baru saja dialami.
“Sakit! Ya Allah sakit.” Hanya itu yang sedang ada dalam hati dan pikirannya. “Angkat kepalamu Anit, jangan biarkan mahkotamu jatuh.” Ia menyemangati diri sendiri.
__ADS_1
Lama ia melihat matahari yang akan tenggelam dengan tatapan kosong, dan kini sayup-sayup adzan mulai terdengar. Segera ia beranjak menutup pintu dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sebelum menuju mushollah.
Sesampainya dimushollah, dilihatnya sang ibu sudah duduk di atas sajadahnya. Qanitapun menggelar sajadah disamping sang ibu. Setelah melaksanakan sholat Magrib, diraihnya tasbih dan Al-Qur’an sebagai penenangnya. Maya hanya menatap bingung putrinya yang dalam keadaan begitu kalut dan keadaan mata yang sembab.
Qanita terus berdzikir meski air mata tak henti-hentinya mengalir. Kemudian dibukanya Al-Qur’an dan dibacanya setengah berbisik. Ia sadar jika suaranya sudah parau karena tangisan. Magrib sudah berlalu dan suara adzan Isya kini terdengar ditelinga Qanita. Hatinya kembali merasakan sakit seperti diremukkan saat ia mengetahui pemilik suara yang sedang mengumandangkan adzan.
***
“Cepat habiskan makananmu, kemudian temani aku kerumah Abdillah. Sepertinya keluarganya belum mengetahui kejadian sore tadi. Kau berhutang penjelasan pada kami.” Ucap Saad dengan ketus.
“Iya pa.” Hanya itu yang mampu diucapkan Arsen dan kembali bersusah payah menghabiskan makanannya.
“Mama ikut ya pa.” Pinta Diana.
“Terserah mama saja.” Tutur Saad kemudian meminum air dari dalam gelasnya, dan beranjak dari tempat makan menuju ruang tengah untuk menunggu Arsen.
Setelah menunggu beberapa lama, Arsen dan Diana tengah menghampiri Saad. Arsen terlihat begitu gugup dan ekspresi wajah yang gelisah.
“Huh!” Dengus Saad. “Belum bertemu saja kamu sudah gugup begini.” Berjalan mendahului Diana dan Arsen.
***
Keluarga Qanita belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mereka berpikir Qanita menangis karena akan menerima lamaran dari Arsen. Mereka menikmati makan malam dalam diam beberapa saat.
“Nak, keluarga Arsen datang jam berapa ?” Tanya Abdillah tiba-tiba.
“Uhuk uhuk.” Qanita tersedak dan segera meminum air. “Kurang tahu yah.” Jawab Qanita sambil menunduk, kini tatapnnya mulai buram karena cairan bening sedang ditahannya untuk tidak keluar dari matanya. “Semoga dia tak pernah datang yah.” Batin Qanita.
“Hmm, yah. Sudah. Palingan sebentar lagi mereka datang.” Timpal Maya.
Fateeh dan Nazeen hanya senyum-senyum memikirkan kakaknya yang dingin ini akan segera dilamar seseorang. Apalagi orang itu adalah yang dibencinya selama ini.
“Allah maha membolak balikkan hati manusia.” Batin Fateeh sambil tersenyum dan melanjutkan makan.
Abdillah hanya mengangguk pelan “Hmm, ya sudahlah.”
“Anit kekamar dulu yah, bu.” Pamit Anit sedang menaiki tangga.
“Loh loh, kamu nggak nemuin keluarga Arsen sayang ?” Tanya Maya.
“Jika ia dan keluarganya akan benar-benar datang, dan jika Anit dipanggil untuk menemuinya. Maka Anit akan turun bu.” Ucap Qanita tanpa henti berjalan.
“Jikaaa ?” Tanya Abdillah, tapi tak mendapat jawaban dari Qanita.
Suami istri tersebut dibuat bingung dengan ucapan putrinya, namun tak terlalu memikirkannya. Mereka memilih duduk diruang keluarga menunggu tamunya sambil menonton TV.
Tak lama menunggu terdengar suara bel dari arah depan rumah. Segera pintu rumah dibuka. Ternyata benar Maya melihat Arsen dan kedua orang tuanya di balik pagar rumah mereka.
“Assalamualaikum.” Serempak keluarga Arsen saat melihat empunya rumah membukakan pintu.
“Waalaikumussalam.” Jawab Maya sopan sambil mengampiri Diana dan kedua laki-lakinya. “Ayo masuk.” Ajak Maya.
Ketiga tamunya hanya tersenyum kecil, sedangkan Arsen semakin terlihat gugup.
“Assalamualaikum.” Ucap Saad ketika sampai diruang tamu rumah Abdillah.
“Waalaikumussalam.” Jawab Abdillah. “Duduk lah Ad, kamu ini.” Ajak Abdillah.
“Hmm, tanpa kau suruhpun aku akan tetap duduk. Pinggangku sudah tidak bisa lama-lama berdiri.” Ujar Saad.
“Iya paham, pinggang tua begini.” Tutur Abdillah dengan senyum kecil.
“Sempat-sempatnya dua sesepuh ini bercanda, padahal aku sudah gugup, keringat dingin, mules-mules lagi ini.” Batin Arsen.
“Ar, jangan tegang gitu dong nak.” Ucap Maya sedikit menggoda sekembalinya mengambil hidangan untuk tamunya.
__ADS_1
“Bagaimana tidak tegang.” Tutur Saad, melirik sinis Arsen. Sedangkan Diana berusaha menahan bendungan air matanya.
“Sebelumnya ada yang ingin Arsen sampaikan pada kalian berdua, Qanita sudah mengetahui hal ini lebih dulu.” Memulai pembicaraan. “Ayo Ar, jelaskan pada kami.” Ujar Saad.
Kalimat Saad semakin membuat Abdillah dan Maya bingung, apalagi dengan pekataan Qanita beberapa saat lalu.
Arsen semakin gugup dan berkeringat dingin. Dielus punggungnya oleh Diana untuk memberikan ketenangan padanya. “Eeee, om, tante sebelumnya saya minta maaf atas apa yang telah saya perbuat. Karena perbuatan saya membuat Qanita menangis dan pastinya kecewa sama saya.”
Abdillah dan Maya semakin bingung dengan apa yang terjadi.
“Sebelum saya lulus kuliah, saya pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis selama beberapa tahun om, tante. Gadis itu kelihatannya sangat mencintai saya, tapi saya tak bisa membalas perasaannya. Saya tidak pernah melakukan apapun kepada gadis tersebut om, tante. Sungguh! Hingga sebelum saya memutuskan kembali kerumah saya mengakhiri hubungan saya dengan gadis tersebut secara sepihak, dan ia nggak terima dengan keputusan saya om, tante.” Jelas Arsen dengan tatapan menunduk.
“Tadi sore gadis itu mencari alamat rumah saya, dan kerumah diantar Qanita, ruapanya ia menanyakan alamat rumah pada Qanita. Qanita juga mendengar perdebatan kami, dan ucapan bahwa kita belum putus juga gadis itu tidak akan mau putus dengan saya om tante. Tapi sungguh om tante, dihati dan pikiran saya telah ada nama putri om dan tante selama bertahun-tahun, saya sendiri lupa sejak kapan saya mencintainya.” Jelas Arsen panjang lebar, dan kini tak mampu melihat Abdillah ataupun Maya.
Sungguh penjelasan Arsen membuat Abdillah terkejut, sedangkan Maya manangis memikirkan bagaimana hancurnya hati Qanita mengetahui bahwa sebenarnya laki-laki yang dicintai mempunyai kekasih dan bahkan tidak ingin diputuskan. Walaupun hati laki-laki tersebut untukknya.
Air mata yang sedari tadi dibendung oleh Diana kini menetes tanpa jeda. Ditepuk-tepuk punggung sang istri oleh Saad untuk menenangkannya.
“Terima kasih sudah berkata jujur, kurasa kamu tahu pintu keluar rumah ini.” Ucap Abdillah tiba-tiba sambil berusaha menahan emosi dan membuat semuanya terkejut.
“Tapi om sa_.”
Omongan Arsen terhenti saat melihat tangan sang papa terangkat, seolah melarangnya untuk berbicara lagi.
“Aku sungguh meminta maaf Abdi, kamipun terkejut dengan apa yang terjadi. Kami pamit dulu.” Ucap Saad berdiri dari tempat duduk. “Sampaikan permintaan maaf kami untuk Qanita putrimu. Assalamualaikum.” Pamit Saad, menarik tangan Arsen keluar rumah.
“Waalaikumussalam.” Jawab Maya dan berdiri dari tempat duduknya, berbeda dengan Abdillah yang masih bergeming dari tempat duduk.
***
Trrrt trrrt
Suara getaran HP mengalihkan perhatian Qanita dari obrolan singkat keluarganya dan keluarga Arsen. Dilirik nama yang tertera dilayar HPnya “Kak Syi”.
“Assalamualaikum kak.” Salamnya berusaha untuk menyembunyikan suaranya yang parau.
Waalaikumussalam dek. Gimana khitbahnya Arsen ? Qanita langsung ditanya pada intinya oleh sang kakak.
Syiffa sudah mengetahui niat baik Arsen beberapa hari yang lalu, tentu dari Maya sang ibu.
“Ehmm, emmm, Anit tidak tahu pasti kak dia tadi melamar atau tidak, tapi yang jelas Anit telah menolaknya lebih dulu.”
Haaaa. Kok gitu dek ?
Kemudian Qanita menceritakan apa yang terjadi pada ia dan Arsen, dan juga tentang gadis yang bernama Tria itu. Mendengar cerita sang adik membuat Syiffa terkejut.
Astagfirullahaladzim deeeek. Ya Allah Ya Robbi. Kakak nggak bisa ngomong apa-apa dek. Kamu sabar yah, tapi ada baiknya kamupun mendengar alasannya dek. Nasihat Syiffa.
“Anit tadi udah denger kok kak, meskipun samar-samar. Udah yah kak, Anit tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum.”
Waalaikumusslaam.
Berakhirnya sambungan telepon dengan Syiffa, langsung membuat Qanita menjatuhkan cairan bening kembali dari matanya. Selama bercerita dengan Syiffa, Qanita berusaha sekuat mungkin untuk tak menangis, namun kini air matanya sudah tak terbendung lagi. Cukup lama ia menangis, dan kini matanya semakin menyipit bahkan terlihat berkantung.
Lelah menangis ia mulai tertidur dengan air mata yang masih membekas dipipi.
Tok tok tok
Suara ketukan lembut dari luar kamar Qanita, namun tak disahut oleh pemilik kamar.
“Sudah tidur nak ?” Tanya Abdillah dari balik pintu kamar Qanita. Dipegangnya gagang pintu kamar sang putri kemudian diputar, ternyata tidak dikunci.
Perlahan Abdillah masuk dan melihat Qanita berada dibalik selimut yang menutupi sebagian badannya, dengan gorden jendela yang masih terbuka. Abdillah berjalan menuju jendela dan menutup gordennya.
Pandangannya kini sepenuhnya tertuju pada Qanita. Lama ia berdiri disamping putrinya, menangkup inci per inci wajah Qanita. Ia menyadari putrinya sudah banyak menagis hari ini, matanya pun sembab dan berkantung. Dielusnya puncak kepala Qanita yang tak tertutup jilbab dengan sayang.
__ADS_1
Abdillah seolah merasakan kekecewaan yang kini dirasa oleh putrinya. “Maafkan ayah nak, semoga Allah mengirimkan yang terbaik untukmu.” Gumamnya lirih dan mencium puncak kepala Qanita. Setelah itu beranjak dan mematikan lampu kamar Qanita.