Kisah Ini Bernama Cinta

Kisah Ini Bernama Cinta
Bab 26 Akhir dan Awal Baru


__ADS_3

Besok malamnya keluarga Arsen berkunjung kerumah Qanita, namun tanpa sepengetahuannya. Arsen berhasil membujuk papanya yang sempat tidak mau melamar Qanita untukknya, namun demi kebahagiaan putranya ia pun melakukakan.


Nampak diruang tamu rumah Qanita sedang duduk dua keluarga yang ingin memperat persaudaraan. Lagi-lagi Arsen mendadak gugup saat sang papa akan membuka percakapan dengan Andillah.


“Gini Abdi, maksud kedatangan kami kesini ingin meminang Qanita untuk Arsen.” Ujar Saad membuka suara dan sedetik kemudian beradu pandang dengan Abdillah.


Sontak saja Abdillah dibuat terkejut, lebih-lebih Maya yang merasa bingung akan apa yang diucapkan oleh Saad.


“Apa yang membuat kamu ingin melamar dia ?” Tanya Abdillah pada Arsen.


“Putri om sungguh baik, permata yang om jaga dengan sepenuh hati. Jika om ridho Arsen ingin Qanita mendampingi saya untuk beribadah kepada_Nya.” Ucap Arsen dengan setengah menunduk.


“Bukankah kamu sudah memiliki kekasih ?” Tanya Abdillah kembali “Lalu untuk apa melamar Qanita ?”


“Iya om, saya memang pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis, dan itu sudah sama-sama kita ketahui. Tapi hati tidak bisa untuk dibohongi om, Arsen hanya mengikuti kata hati dan petunjuk dari Allah. Makanya Arsen memberanikan diri meminta Qanita pada om. Arsen tau, Arsen masih jauh dari kata baik om, namun Arsen akan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Dimata om, tante, Qanita dan terutama dimata Allah. Arsen akan berusaha menjadi Imam yang baik untuk makmum Arsen om.”


Maya yang mendengar perkataan Arsen sontak ia mengingat bagaimana dulu Rafay meminta Syiffa untuk mendampinginya kepada mereka berdua. Perlahan-lahan air mata jatuh diujung mata Maya, setetes, dua tetes dan mulai tak terhitung.


Abdillah hanya menghela nafas panjang dan berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan linglung seperti tak tau tujuan. Pikiran kalut, nafasnya tersengal-sengal. Hingga akhirnya mendaratkan tubuhnya dikursi belakang rumah. Sedangkan keluarga Saad dan Maya masih terdiam diruang tamu.


Matanya mulai berkaca-kaca dan menengadahkan kepalannya sambil memejamkan mata. Hal itu membuat setetes cairan bening terlepas dari kedua ujung matanya.


“Aku harus melepaskan lagi. Untuk yang kedua kalinya.” Gumamnya. “Gadis kecil yang selalu membawa kecerian dirumah ini akan segera pergi. Meninggalkan kenangan-kenangan yang tak bisa untuk diulang lagi.” Ujarnya lagi dan menangis dengan tersedu-sedu.


Cukup lama Abdillah menangis dan kini ia menyadari bahwa keluarga Saad yang masih menunggu jawaban. Iapun beranjak dari tempat duduk dan berniat melangkah menuju ruang tamu. Namun saat tubuhnya semakin mendekat dengan tangga, ia mengalihkan pandangannya pada pintu kamar Qanita, anak gadisnya yang sedang diminta oleh seorang pemuda.


Iapun menaiki anak tangga tersebut, tanpa menghiraukan tamunya. Dengan lembut ia mengetuk pintu kamar Qanita.


Tok tok tok


“Aniiit. Sudah tidur nak.” Tanya Abdillah didepan kamar Qanita.


Qanita yang sedang membaca sebuah buku dikamarnya, tersadar akan suara ayahnya dibalik pintu. Segera ia berjalan menuju pintu. Dilihat sang ayah dengan mata seperti habis menangis.


“Ayah kenapa ?” Tanya Qanita bingun dan melihat bekas air mata dipipi Abdillah.


“Bisa kita bicara sebentar nak.” Pinta Abdillah.


Qanita hanya mengangguk mengiyakan pemintaan ayahnya. Kemudian mempersilahkan ayahnya masuk kekamarnya.


Abdillah berjalan menuju kursi didepan meja rias Qanita. Sedangkan Qanita duduk diujung tempat tidurnya.


“Kenapa kamu begitu cepat sekali besar nak ?” Tanya Abdillah dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Ayah kenapa ?” Tanya Qanita yang lagi-lagi bingung dengan Abdillah.


“Rasanya baru kemarin ayah mengantarkan jemput gadis kecil ayah ini kesekolah. Tapi sekarang dihadapan ayah gadis kecil itu tumbuh dengan begitu cantik.” Ujar Abdillah dan kembali mengelap matanya yang basah.


“Ayaaah, ayah kenapa ?” Tanya Qanita dan berjalan menuju sang ayah.


Abdillah berdiri dari tempat duduknya dan langusng memeluk erat putrinya. “Arsen ada dibawah nak, dia bermaksud untuk melamarmmu.” Jelas Abdillah.


Mendengar ucapan sang ayah membuat Qanita semakin mengeratkan pelukannya pada pingang Abdillah.


“Rasanya masih terlalu sedikit waktu yang kita luangkan nak. Hanya untuk sekedar berbicara dan bercanda.” Ujar Abdillah.

__ADS_1


Sementara Qanita yang berada dalam pelukan Abdillah hanya menangis menjadi-jadi. Abdillah mencium puncak kepala Qanita, dan megajaknya untuk menemui Arsen. Namun pandangan mereka beradu dengan manik Maya yang sedang berusaha menahan diri untuk tidak menangis.


Qanita hanya mengulas sedikit senyum untuk sang ibu, namun hal itu mampu membuat Maya berhambur kepelukan putrinya.


“Maaf, maafkan kami nak, jika selama ini kami belum bisa menjadi orang tua yang baik untukkmu.” Lirih Maya.


Diraih kedua pundak Maya dan melihat lekat mata sang ibu, kemudian Qanita menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa apa yang diucapkan Maya tidaklah benar.


Terlihat Abdillah, Maya dan Qanita yang digandeng tangannya sedang menuruni tangga untuk menemui keluarga Arsen. Arsen hanya mampu menundukkan kepalanya tanpa berniat melihat kearah Qanita.


“Ar, jawabannya ada pada putri om.” Abdillah melihat Qanita yang duduk diantara ia dan sang istri.


“Gimana sayang ?” Tanya Maya.


Dengan sendu Qanita menatap Maya yang tengah tersenyum padanya, kemudian melihat Abdillah yang memejamkan matanya. Ia melirik Arsen sekilas yang mungkin sungkan untuk menatapnya.


“Bismillah.” Ucapnya dalam hati. “Ar.” Ucapannya tersendat.


Arsen yang merasa namanya dipanggil mengangkat kepala dan menatap Qanita yang sedang menghapus air mata.


“Dengan ridho dari Allah juga restu dari ayah dan ibu, aku terima pinanganmu.” Jawab Qanita dan meninggalkan ruang tamunya.


Mereka yang berada diruang tamu itu tak mempermasalahkan sikap Qanita, karena memang keputusan yang diambil oleh Qanita bukanlah main-main. Wajar saja jika masih syok atas apa yang terjadi.


***


Selang beberapa hari setelah lamaran Arsen diterima, mulailah Diana dan Maya sibuk mempersiapkan keperluan pernikahan untuk kedua anaknya. Tak ketinggalan juga Syiffa yang sesekali membantu mereka, Irtiza selalu siap jika Diana meminta bantuannya. Setelah kedua keluarga itu mempertimbangkan pernikahan Arsen dan Qanita akan dilangsung dua minggu lagi. Terbilang cukup cepat, namun mengingat siapa Saad Ar Rajab dan Abdillah, dirasa semuanya akan berjalan sesuai rencana.


Malam itu Qanita sedang berada didalam cafe langganannya untuk membeli cookies karena tiba-tiba saja ia mengiginkannya. Ditempat yang sama pula Arsen sedang berbincang-bincang dengan Royyan dan Zacky, ia mengabarkan bahwa akan segera menikah.


Sejurus kemudian Zacky melihat Qanita sedang berada dikasir hendak membayar sesuatu. Kemudian Zacky memberi tahu Arsen apa yang dilihatnya.


Arsen yang sedang meminum lattenya langsung mengarahkan pandangannya kearah telunjuk Zacky.


“Aku kedia bentar.” Ucap Arsen pada kedua temannya. Kemudian melangkahkan kakinya menuju Qanita.


“Qa.” Ucapnya saat Qanita akan mengeluarkan beberapa lembar uang, namun Arsen telah lebih dulu memberikan pada petugas kasir.


“Looh, aku aja.” Ucap Qanita tak terima perlakuan Arsen.


“Nggak apa-apa.” Ujar Arsen dan melihat Qanita.


“Jadi nggak enak aku tuh.” Kata Qanita dan meraih paper bag dari atas meja kasir.


“Kenapa ? kan sebentar lagi uangku juga akan jadi uangmu.” Timpal Arsen sambil menerima kembalian.


“Kan belum.” Ucap Qanita sambil merogoh kantong celana kulotnya mencari kunci motor.


“Udah mau pulang ? Tanya Arsen.


Qanita hanya mengangguk saja sebagai jawaban pertanyaan Arsen.


“Aku mau ngomong bentar boleh ?” Tanya Arsen kemudian.


“Ngomong apa ?” Tanya Qanita dan menatap Arsen. “Sama siapa disini ?” Tanyanya kembali dengan penuh selidik.

__ADS_1


Arsen yang melihat ekspresi Qanita membuatnya tertawa geli “Aku harus terbiasa dengan ekspresi menggemaskan itu.” Ucapnya dalam hati. “Tuh.” Ucapnya dan mengarahkan telunjuk ke meja tempat Royyan dan Zacky duduk. Ternyata dua laki-laki itu sedari tadi memperhatikan mereka.


Royyan dan Zacky tersenyum pada Qanita dan dibalas dengan anggukan kepala juga senyuman oleh gadis tersebut. Arsen memberi kode pada Royyan dan Zacky untuk menunggu karena harus berbicara pada Qanita. Kemudian berjalan mendahului Qanita dan mencari tempat duduk yang dirasa nyaman.


Setelah mendapat tempat duduk, Arsen mulai berbicara “Sebenarnya aku ingin mengirimkan pesan untuk menanyakan hal ini. Namun karena kita ketemu disini aku ngomong langsung aja yah.”


Qanita hanya mengangguk tanda setuju.


“Kamu mau mahar apa ? Tanya Arsen.


Qanita terlihat berpikir tentang mahar yang ia inginkan. “Hmm, seperangkat alat sholat, tasbih, sama Al-Qur’an. Biar kamu selalu ingat ada seseorang yang harus kamu tuntun.” Ucap Qanita.


Arsen hanya mengangguk “Apa lagi ?” Tanyanya.


“Cincin kawin yang simple, perpaduan antara mas putih sama kuning buat aku dan mas putih tanpa kuningnya buat kamu. Sama beberapa buku bacaan tentang agama.” Jelas Qanita.


Lagi-lagi Arsen hanya mengangguk dan bertanya “Ada lagi ?”


Qanita hanya menggelengkan kepalanya menandakan sudah tidak ada lagi mahar yang diinginkannya.


“Kamu nggak minta rumah Qa padaku ?” Tanyanya dengan bingung.


“Hahaha.” Qanita tertawa sejadi-jadinya mendengar ucapan Arsen. “Bukankah memang kamu harus menafkahiku dan bertanggung jawab atas diriku ?” Tanya Qanita disela tawanya.


“Hehehehe, iya juga yah.” Arsen membenarkan ucapan Qanita.


“Lagian, aku sudah punya rumah pribadi Ar, beberapa hari ini aku sibuk mengurus administrasinya. Aku bisa menampungmu dulu untuk sementra waktu.” Goda Qanita.


Arsen hanya meyunggingkan senyum tipis dan mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. “Ini. Kamu bawa gih.”


“Apa ini ?” Tanya Qanita melihat beberapa buah kunci yang disatukan dalam gantungan.


“Itu rumah yang aku beli, setelah kamu terima lamaranku, aku langsung menghubungi Andri untuk mencari rumah yang setiap ruangannya bisa disinari cahaya matahari sepanjang hari, halaman luas didepan dengan beberapa pepohonan, halaman belakang cukup luas untuk kamu mananam sayuran, kolam ikan yang berada disebarang dapur dan ruang makan, itu bisa dibuat nanti setelah ditempati. Untuk perpustakaannya juga nanti bisa dibuatkan juga setelah kita tempati. Iya kan ?” Tanya Arsen. “Andri mendapatkan informasi bahwa rumah itu baru dan ternyata itu salah satu proyek Zacky.”


Qanita tercengang mendengar penjelasan Arsen tentang rumah yang ia idamkan. “Kamu tau dari mana ?” Tanya Qanita.


“Kamu lupa siapa calon suamimu ?” Tanya Arsen.


Qanita hanya mencebikkan bibirnya “Udah kan ? Aku mau pulang nih, kasian juga teman-teman kamu.” Ia berajak dari duduk dan membawa paper bag juga kunci rumah yang diberikan Arsen.


“Hmm, aku lupa. Aku minta bahwa sampai kapanpun, hanya aku yang menyandang status nyonya Arsenio Ar Rajab. Gimana ?” Tanyanya dengan penuh penekanan.


“Siap ratuku.” Ujar Arsen dengan senyum merekah “Udah ayo aku antar keparkir.” Ajak Arsen.


“Eh bentar deh. Duduk dulu.” Pinta Qanita pada Arsen, yang telah lebih dulu akan berjalan.


“Apalagi calon istriku ?” Tanya Arsen membalik badan, dengan memasang wajah kesal.


Qanita hanya menatapanya datar “Kenapa pas pulang kemarin pake motor ? kenapa nggak pake mobil ?” Tanya Qanita.


“Aku yang mau, aku ingin motoran. Lagian kan mobil kemarin itu dipake Andri. Rencananya aku akan pake mobil kantor. Tapi ternyata Andri masih jadi asistenku dikantor pusat. Jadi ya udah.” Jelas pada Qanita.


“Hmm, ya udah. Itu aja kok.” Ucap Qanita.


“Sekarang aku yang nanya.” Ucap Arsen “Kenapa kamu lebih suka pake motor kemana-mana, padahal aku yakin kamu ngomong minta mobilpun sama Om Abdi pasti dikasih kan ?” Tanya Arsen.

__ADS_1


“Aku lebih suka pake motor kemana-mana, lebih cepat.” Jawab Qanita dengan senyum lebar dan menampilkan lesung pipinya.


“Manisnya.” Lirih Arsen. “Ayo aku antar keparkiran.” Ucap Arsen dan lagi-lagi mendahului Qanita, kemudian keduanya berpisah diparkiran. Arsen kembali menemui Royyan dan Zacky sementara Qanita memilih untuk pulang.


__ADS_2