Kisah Ini Bernama Cinta

Kisah Ini Bernama Cinta
Bab 7 Meminta Maaf


__ADS_3

Matahari pagi masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya, namun Qanita setia menunggunya keluar dari ufuk timur. Seperti hari-hari sebelumnya ia selalu senang mamandangi matahari terbit yang akan menyinari penduduk bumi. Pandangannya kembali melihat seorang laki-laki yang kini tengah berlari kecil didepan rumahnya. Sontak saja membuat Qanita membalikkan badan dan masuk dalam rumahnya, sebelum laki-laki itu menyadari keberadaanya.


Waktupun kini sudah menunjukkan pukul 06:45 itu artinya kedua putra Abdillah harus segera berangkat sekolah. Seperti biasa mereka di antar oleh ayahnya. Sementara Qanita masih bersiap-siap dan memastikan berkas-berkas yang sudah dipersiapkan tadi malam tidak ada yang tertinggal.


“Anit, depan motormu kenapa nak ? kamu abis kecelakaan ?” Tanya Abdillah saat melihat bagian depan motor anaknya, saat akan masuk dan duduk dibelakang kemudi untuk mengantar kedua putranya.


Mendengar suara Abdillah yang cukup keras karena bertanya pada Qanita yang masih berada didalam rumah, mambuat Maya dan Syiffa keluar menghampiri gadis tersebut keruang depan, dan ternyata Qanita sudah berada diteras rumah. Qanita melihat tatapan ketiga laki-laki yang akan pergi itu seolah menujukkan bahwa mereka harus menerima alasan yang masuk akal. Maya dan Syiffa pun menyusul Qanita, kedua wanita itu cukup dibuat terkejut dengan depan motor Qanita yang lecetnya bisa dibilang cukup parah.


“Kamu abis kenapa Anit ? Kenapa bisa gitu sayang ?” Tanya Maya dengan khawatirnya.


“Kamu nggak luka kan dek ?” Tanya Syiffa.


Mendengar ucapan dari orang-orang rumanhya itu, membuat Qanita memasang wajah malas dan memanyunkan bibirnya sambil memakai alas kakinya. “Beberapa hari yang lalu, saat masuk ke area perumahan, ada laki-laki minim akhlak yang berenti tiba-tiba dan nggak ada aba-aba, Anit yang dibelakangnya nggak sengaja nambrak belakang motornya dia, dan ya udah deh motor Anit juga lecet depannya. Emang kemarin-kemarin nggak pada liat apa ?”


“Nggak kak, kalau liat juga nggak mungkin nanya sekarang kan ? Kak Anita kenal laki-laki itu ?” Tanya Fateeh beruntun.


Melihat ekspresi Fateeh yang tidak bisa dijelaskan olehnya, dan adiknya itu tumben bertanya seperti itu “Hmm, Arsen, kakaknya Irtiza.” Jawabnya malas dan berjalan kearah motornya.


“Ooooo.” Jawab Maya, Syiffa, Fateeh, dan Nazeen bersamaan. Hanya Abdillah yang memasang wajah datar. Kemudian menyalakan mobil dan pergi mengantar kedua putranya tanpa pamit, karena sebelumnya sudah pamit.


Dikenakannya helm “Kenapa sih pada bilang Ooo, sambil senyum-senyum pula ?” Tanyanya penasaran.


“Nggak apa-apa, emang kenapa ?” Timpal Syiffa, yang dipandang oleh Maya dengan senyum tipisnya.


“Pagi ini Anit mau perbaikin motor dibengkel, semoga aja ntar sore udah bisa diambil kalau pelanggan mas-mas bengkelnya nggak banyak.” Ucap Qanita.


“Iya sudah nak, kamu berangkat gih. Ntar kamu telpon ayah aja, biar kamu dijemput di bengkel.” Timpal Maya.


“Iya gimana ntar aja bu, Anit pamit. Assalamualaikum.” Katanya dan segera meninggalkan rumahnya.


“Waalaikummussalam.” Jawab Maya dan Syiffa. “Oooo jadi Arsen laki-laki minim akhlak itu.” Lanjut mereka sambil tertawa kecil.


***


Sesampainya dibengkel, ia disambut dan langsung ditanya oleh karyawan bengkel. “Mas ini kira-kira enaknya gimana yah. Diganti atau diperbaiki aja bagian ini ?” Tanya Qanita sambil menunjuk bagian yang dimaksud.


“Ini diganti atau diperbaiki, dua-duanya bisa mbak. Ini juga cukup parah sih, kalau mau diganti juga nggak apa-apa, diperbaiki juga bisa.” Jawab mas bengkel.


“Hmmm, kalau diganti mahal nggak mas ?” Tanyanya kembali.


“Cukup mahal mbak, kan diganti toh mbak.” Jawab mas itu kembali.


“Ya udah mas, diperbaiki aja deh, kan ini katanya nggak parah banget kan.” Putus Qanita. “Ini bisa diambil kapan mas tapi ?” kembali bertanya.


“Oke mbak. Mbak ntar agak sorean balik aja lagi kesini, semoga udah selesai.” Jawab karyawan tersebut.


Qanita hanya mengangguk tanda mengerti, di ambilnya Hp yang berada didalam tas berniat menghubungi ayahnya, meminta tolong untuk menjemputnya dibengkel. Namun, niat itu urung karena ada suara gadis melengking yang sudah tak asing lagi.


“Assalamualaikum Aniiiiiit.” Sapa Irtiza dengan senyum lebarnya.


“Eh Ca, Waalaikummusalam.” Jawabnya, sedetik kemudian mata melihat Arsen yang sedang berbicara dengan karyawan bengkel yang diajak berdiskusi singkat tadi.


“Kamu ngapain disini ?” Tanya Irtiza lagi.


“Aku mau perbaikin depan motorku Ca, ada kejadian yang kurang mengenakkan beberapa hari yang lalu. Bagian depan motorku lecet lumayan parah.” Jawab Qanita dengan penuh penekanan.


“Looh, kok sama. Kakak juga mau perbaikin belakang motornya yang lecet cukup parah sih. Kok bisa bareng gitu yah ? Kamu bagian depan motornya, kakak bagian belakang motornya.” Kata Irtiza sambil memikirkan sesuatu.


Qanita tak menggubris omongan Irtiza yang sedang berjalan kearah kasir untuk membayar biaya motornya. Kini Qanita tengah sibuk menatap layar ponsel, sementara Arsen menatapnya sekilas dan mengetahui bahwa Qanita juga akan memperbaiki bagian motornya yang lecet.


“Kamu sama siapa ke kantor Anit ? Kan ini udah mau masuk jam kantor.” Tanya Irtiza lagi, sambil bersiap-siap untuk kekampusnya, setelah motornya diambil oleh salah satu karyawan bengkel dan ditempatkan dipinggir jalan.


“Ini aku lagi coba hubungin ayah Ca. tapi belum diangkat juga.” Jawab Qanita.


“Bareng aku aja, kamu turunin aku didepan kampus, trus motorku kamu bawa aja ke kantormu. Ntar aku pulang biar diantar Faiza atau naik ojek aja.” Tawar Irtiza.


“Nggak Ca, kasian kamu ntar.” Jawabnya menolak secara halus.


“Nggak apa-apa Anit, udah ah.” Timpal Irtiza.

__ADS_1


Pandangan Qanita mengarah pada Arsen yang sedang berdiri disamping saudara perempuannya. Irtiza yang bisa menangkap hal itu langsung berbicara “Kakak lagi nunggu dijemput sama asistennya kok, kamu nggak usah khawatir.”


Mendengar kalimat sang adik membuat Arsen menganggguki tanda menyetujui. Anggukan Arsen membuat Qanita melirik sekilas,dan berjalan menuju mereka, kemudian duduk dibelakang Irtiza dan pergi meninggalkannya yang masih berdiri di samping motor adiknya. Sebelum meningggalkan sang kakak Irtiza pamit dan mengucapkan salam, namun tidak dengan Qanita tetap dengan wajah cuek dan dinginnya.


Tak lama sepeninggal Qanita dan Irtiza, asisten Arsenpun datang menjemputnya. Kemudian melajukan mobil kekantor. Asistennya jugalah yang mengajarinya di kantor cabang, yang telah diurusnya sejak awal kuliah hingga sebelum ia diminta untuk mengurus kantor pusat oleh ayahnya. Asistennya ini juga dimintai ikut Arsen oleh sang papa, dan sebelum asistennya meninggalkan kantor cabang, papanya sudah menunjukkan pimpinan baru dikantor cabang tersebut.


“Ndri, sekarang saatnya kamu jelasin kenapa tadi pagi-pagi aku dapat kabar dari papa kalau udah nunjuk pimpinan baru dikantor cabang. Trus kamu ngapain ikut aku kesini ? Tanya Arsen beruntun pada asistennya yang bernama Andri tersebut.


“Itu sudah jadi keputusan bapak bos besar, pak. Kan saya tinggal nurut aja. Udah enak-enak nggak ketemu bos muda dikantor cabang eh sekarang ketemu lagi. Saya kira saya jadi asisten pimpinan baru dikantor cabang eh harus ngurus si bos muda dikantor pusat, huuuu.” Jawab Andri panjang lebar.


“Apa kamu bilang tadi, baru beberapa hari nggak ketemu, makin ngelunjak aja kamu yah ?”


“Lah, saya kan ngomong jujur pak.” Timpal Andri yang tetap fokus mengemudi.


“Sekarang berentiin nih mobil, keluar kamu Ndri.” Ketus Arsen.


“Bos muda mau setirin saya ? Waaaah dengan senang hati.” Jawab Andri semangat.


“Nggak, keluar kamu. Nggak usah ikut aku kekantor. Ku pecat kamu sekarang.” Timpal Arsen kesal.


“Astaga boos, kata-kata anda semakin menajam saja.” Kata Andri.


“Kamunya semakin ngelunjak saja.” Balas Arsen, kemudian melihat mimik wajah Andri yang tersenyum tipis.


Antara Arsen dan Andri memang sudah bukan hal asing berkata seperti itu. Bagaimanapun Andri adalah saksi perjalanan Arsen dalam meniti karir hingga saat ini. Kata dan candaan seperti itu semakin membuat mereka dekat satu dengan lainnya. Andri juga tahu alasan Arsen yang memilih kantor cabang dari pada kantor pusat selama beberapa tahun ini.


***


Tak terasa waktu berlalu, kini sudah menunjukkan pukul 15:00 dan sebentar lagi waktu kerja akan berkahir. Pagi tadi Qanita meminta Irtiza untuk mengabarinya kapan ia pulang, agar ia bisa menjemputnya. Benar saja setelah jam kerja hampir berakhir ia menerima pesan dari Irtiza yang mengatakan bahwa ia akan meminta tolong Faiza untuk mengantarnya. Namun dengan segera ia membalas bahwa ia akan menjemput sahabatnya dan pamit lebih dulu meninggalkan kantor.


Setelah menjemput Irtiza dikampusnya, kedua gadis itu tengah dijalan menuju bengkel tempat Qanita memperbaiki motornya untuk mengecek apakah telah selasai. Sesampainya mereka motor Qanita pun telah selesai diperbaiki, sekilas ia meilhat motor Arsen yang juga sudah diperbaiki oleh karyawan bengkel tersebut. Kemudian ia menuju arah kasir untuk membayar, dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Setelah itu keduanya pulang mengendarai motor masing-masing.


Sementara itu Arsen baru saja keluar dari ruangannya diikuti Andri. “Ndri, ntar kamu turunin aku ditempat tadi aja. Motorku lecet dan tadi kuperbaiki disana.” Ucap Arsen.


“Lecet kenapa bos ?” Tanya Andri.


“Mbak Qanita toh, seharusnya si bos minta maaf tuh. Tapi siapapun dia kalau kita salah udah seharusnya meminta maaf.” Ucap Andri sambil tersenyum.


“Entahlah Ndri, nggak tau.” Jawab Arsen asal, kemudian berdiri didepan pintu masuk kantor. Sementara Andri sedang mengambil mobil ditempat ia parkirkan tadi pagi.


Sesampainya dibengkel iapun langsung menuju motornya namun tak melihat motor Qanita disana, itu berarti sudah diambil oleh pemiliknya. Sejurus kemudian iapun pulang, namun ditengah perjalanan memikirkan kembali ucapan Andri, menyuruhnya meminta maaf pada Qanita. Ia juga mengingat bahwa Qanita menyukai cookies dari cafe kakak ipar Zacky temannya. Dibelokkan motornya yang telah memasuki area perumahan, dan menuju cafe.


***


Arsen kini telah berada dirumahnya dan tengah menuju kamarnya setelah disambut oleh Diana. Sementara papanya, Irtiza dan Azel sedang berada didepan TV sambil menonton acara sore.


“Apa yang kamu bawa itu nak ?” Tanya Diana sambil berjalan menuju depan TV.


Arsen melirik bingkisan yang ada ditangannya “Cookies ma, buat Qanita.” Saad, Diana, dan Irtiza, hanya tersenyum tipis sementara si bungsu Azel menatap abangnya tak percaya.


“Abang ngapain ngasih cookies ke kak Anit, mau nembak kak Anit yaaaa ?” Tanya Azel dengan nada menggoda.


Arsen yang berdiri dianak tangga, menatap adiknya kesal. “Diam.” Kata Saad, Diana, dan Irtiza bersamaan dengan tatapan tajam.


Azel yang bingung karena merasa tak salah berkata, kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


***


Laki-laki dengan bingkisan ditangannya yang berisi cookies itu tengah mengatur deru nafas dan degub jantung, sebelum memencet bel yang ada ditembok pagar rumah Qanita. Setelah menunggu beberapa lama, seseorang membuka pintu rumah dan berjalan menuju pintu pagar rumahnya.


“Loooh, Kak Arsen toh, ayo masuk kak.” Sapa Nazeen.


“Assalamualaikum Zeen.” Salam Arsen ramah.


Dibalas dengan senyum oleh Nazeen dan menjawab “Waalaikummussalam.”


Kedua laki-laki itu masuk, dan Arsen memberi salam sebagai salah satu tanda bahwa rumah itu sedang kedatangan tamu.


“Waalaikummussalam.” Jawab mereka serentak.

__ADS_1


“Arsen bu.” Kata Syiffa.


Dengan senyum ramah, Maya berjalan kearah Arsen yang masih ditemani Nazeen. “Duduk nak, kalau tante boleh tahu ada apa ya malam-malam kerumah ?” Tanya Maya, sedangkan Abdillah kini semakin menajamkan pendengarannya. Sementara Syiffa, Fateeh, melanjutkan kesibukan masing-masing, Nazeenpun meninggalkan Maya dan Arsen diruang tamu rumahnya.


“Eeee, Qanitanya ada tante ? Kalau boleh saya ingin bertemu sebentar dengannya.” Kata Arsen.


Mendengar maksud kedatangan Arsen membuat yang mendengarnya cukup terkejut.


Maya yang tetap menyunggingkan senyumnya berkata “Ada nak, sebentar ya, tante panggilin dulu.” Jawab Maya.


Syiffa yang sudah beranjak dari tempat duduknya kini berjalan ke arah Maya. “Pastiin bu, dia mau nemuin Arsen.” Ledek Syiffa


“Kalau perlu paksa bu.” Timpal Fateeh.


Sementara sang ayah hanya mendengar tanpa berniat ikut berbicara. Maya hanya mengangkat tangan kanannya menyatukan jari telunjuk dan jempol membentuk huruf O.


“Tunggu bentar ya Ar, kakak buatin kamu minum dulu.” Kata Syiffa. Arsen hanya mengangguk tersenyum.


Setelah cukup lama, akhrinya Maya keluar dari kamar Qanita tanpa ekspresi apapun. Sesampainya di anak tangga terakhir, mereka mendengar suara pintu yang terbuka, menandakan bahwa Qanita berhasil dibujuk oleh ibunya. Padahal sebelumnya Maya dibuat bingung dan pusing sendiri jika anaknya itu tidak mau menemui tamunya. Mereka pun seolah tak peduli dengan sikap Qanita dan melanjutkan kegiatan masing-masing, namun sama-sama menahan senyum. Abdillah yang sedari tadi memasang wajah datar, kini setengah terkejut dengan sikap Qanita.


Qanita kini beradu pandang dengan Arsen “Diluar aja.” Qanita berjalan mendahului Arsen untuk menuju kursi dibagian luar rumahnya.


Syiffa yang baru saja selesai menyiapkan minum untuk Arsen dan mendapatinya tidak ada. “Mereka diluar nak.” Kata Maya menjawab kebingungan anaknya. Dengan segera Syiffa mengantarkan minuman tersebut dan kembali sambil tersenyum.


Udara diluar memang sedikit dingin namun bertambah dingin bagi Arsen saat menatap raut wajah Qanita yang tak bersahabat. Qanita masih saja memandang kearah pagar rumahnya sambil sesekali melirik Arsen.


“Kenapa ?” Tanya Qanita membuka percakapan mereka.


“Aku, aku, minta maaf Qa soal kemarin. Uang perbaikan motormu akan kuganti.” Jawab Arsen gugup.


Mendengar ucapan Arsen tentang perbaikan motornya, membuat Qanita memandang Arsen tajam dan semakin dingin. Hingga Arsen merasa akan membeku saja dibuatnya.


“Memangnya kamu pikir aku tidak bisa membayarnya ? Kamu pikir aku berhutang untuk memperbaikinya ? Tanyanya ketus.


“Bukan begitu maksudku Qa.” Jawab Arsen merendah.


“Lalu apa ?” Tanya Qanita balik.


“Ya sudah Qa, kalau kamu nggak mau. Ini aku bawa cookies dari cafe tempat kemarin kita ketemu. Kalau kamu nggak mau nerima uang ganti perbaikan motormu seenggaknya tolong terima ini.” Ucap Arsen sambil menyodorkan bingkisan kearah Qanita.


“Hmmm, makasih. Minumlah, setelah itu kamu bisa kembali kerumahmu.” Kata Qanita seperti mengusir Arsen dengan tanpa basa-basi.


Terlihat Arsen tengah meneguk minuman yang diberikan oleh Syiffa, dan meletakkannya kembali. Kini dalam cangkir tersebut hanya tinggal setengahnya.


“Qa ?” Panggil Arsen.


Qanita hanya berdehem, tanpa melihat Arsen.


“Bolehkah aku meminta Nomor Hp mu ? Tapi kalau nggak boleh juga gak apa-apa Qa.” Arsen menjawab pertanyaan yang diajukan sendiri dengan cepat.


“Untuk apa ?” Jawab Qanita.


“Tidak untuk apa-apa Qa.” Jawab Arsen pasrah.


Sekilas Qanita mantap Arsen dan berkata “Kalau tidak untuk apa-apa, ngapain kamu minta ?”


Arsen terkejut dengan ucapan Qanita yang seolah skak mat baginya, dan berfikir bahwa ia tidak akan pernah lebih dekat dengan gadis itu. “Eeee, siapa tau nanti aku melakukan kesalahan yang sama lagi ke kamu kayak tempo hari Qa. Maka aku akan menanggung semuanya.” Jawab Arsen kikuk.


“Bukankah nomor teleponku sudah lama ada disaudarimu. Lalu untuk apa kamu meminta padaku. Sudah pualnglah, aku masih banyak kerjaan.” Jawab Qanita cukup panjang, namun masih bernada ketus.


Arsen yang mendengar kalimat Qanita, dibuatnya semakin bingung. Namun, yang ada dibenaknya sekarang adalah segera sampai rumahnya dan meminta nomor gadis tersebut pada sang adik. Mengingat jawaban Qanita tidak menolak ataupun melarangnya. “Baiklah Qa, kalau gitu aku pulang dulu. Assalamualaikum.” Pamit Arsen.


“Waalaikumussalam. Hati-hati dan minta tolong tutup pintu pagar dengan bener.” Kata Qanita, yang masih saja bernada ketus.


Mendengar kata hati-hati tersebut membuat jantung Arsen seperti petasan yang siap meletup saking senangnya. Wajahnya bersemu merah seraya bibirnya mengembangkan senyum dengan sempurna. Ia berjalan kearah pagar Qanita, namun merasa seperti berjalan di atas angin.


Bagi Qanita kata hati-hati sudah biasa ia ucapkan pada orang yang pamit pada dirinya. Kini ia sedang memandangi Arsen yang berlajan memunggunginya dan memastikan bahwa pintu pagar rumahnya ditutup dengan benar. Setelah dirasa Arsen menutupnya dengan benar kemudian berjalan kerumahnya. Qanita meraih gelas dan bingkisan yang ada di atas meja kemudian membawanya kedalam rumah.


“Pulang dulu katanya, memangnya siapa yang akan menyuruhnya datang lagi.” Gerutu Qanita sambil berjalan ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2