
Resepsi pernikahan yang dilakukan oleh Arsen dan Qanita sudah berakhir sekitar satu jam yang lalu. Tamu undanganpun mulai meninggalkan ballroom tempat resepsi dilangsungkan.
“Ar, aku pamit dulu ya. Nganter Kei dulu, ntar orang tuanya panic anaknya belum pulang jam segini.” Ucap Zacky sambil menatap gadis yang bernama Kei Humeera tersebut.
“Ehh, aku sekalian Ar. Ntar mama nyariin.” Timpal Royyan karena orang tuanya telah pulang lebih dulu.
Arsen hanya menganguk dan megucapkan terima kasih kepada kedua temannya. Tak lama setelah itu Andri dan Tria pun ikut berpamitan dan menyusul kedua teman Arsen. Hingga kini yang tersisa di ballroom hanya keluarga Arsen dan Qanita.
“Anit, kalian pergi istirahat aja nak. Kami masih berbincang-bincang dulu.” Ucap Maya pada putrinya.
“Iya bu, sebentar lagi.” Ucap Qanita yang menampilkan ekspresi gugup.
Berbeda dengan Arsen, setelah mendengar ucapan mertuanya langsung beranjak dari tempat duduk dan berniat untuk kekamarnya.
“Kamu ngapain masih duduk. Ayo ke kamar.” Tutur Arsen pada Qanita yang masih terduduk disamping Arsen.
“Sebentar lagi.” Ucapnya tanpa melihat wajah sang suami.
“Sebentar lagi apanya ? Tanya Arsen. “Atau kamu mau tidur disini ?” Tanyanya kembali dengan wajah yang sedang menahan senyum, sepertinya ia mengetahui apa yang ada dalam pikiran istrinya itu.
“Sudah, kalian istirahat saja.” Ucap Saad menengahi pasangan baru tersebut.
Tanpa berkata apapun, Arsen meraih tangan Qanita dan menarik untuk menuju kamar.
“Ish, nyebelin banget sih, udah dibilang bentar masih aja maksa.” Gerutu Qanita yang berjalan dibelakang Arsen.
Arsen tak menanggapi omelan Qanita dan memilih tersenyum simpul.
Sesampainya didepan kamar, Arsen langsung saja melangkahkan kakin masuk, sementara Qanita ragu-ragu mengikuti suaminya itu.
“Kamu nunggu apa disitu ?” tanya Arsen melihat Qanita masih berdiri diambang pintu.
“Ng nggak, nggak nunggu apa-apa.” Ucap Qanita dan berjalan pelan kedalam kamar.
“Aku apa kamu yang ke masuk duluan ?” Tanya Arsen sambil melepas jasnya dan menunjuk pintu kamar mandi.
Qanita terkaget mendengar pertanyaan Arsen dan langsung menganggkat kepalanya “Apanya ?” Tanyanya dengan bingung.
Arsen hanya menatap Qanita dan tangannya masih menunjuk kearah pintu kamar mandi.
“Aaa, kamu aja duluan. Aku masih harus melepas ini.” Ucap Qanita dan menunjuk aksesoris yang menghiasi kepalanya.
Hanya anggukan yang dilakukan Arsen untuk merespon ucapan Qanita dan mulai melangkah menuju kamar mandi. “Dia kenapa ? Kayak orang gugup gitu, kan aku nggak makan orang ?” Tanyanya pada diri sendiri dan mulai membersihkan diri.
__ADS_1
Qanita hanya menghela nafas lega, setidaknya untuk beberapa saat dia terhindar dari Arsen. Kemudian melangkah kedepan cermin dan melepas aksesoris. Setelah melepas aksesoris, ia ingin menanggalakan gaun yang melekat ditubuhnya, namun dengan perasaan was-was. Qanita mengarahkan tubuhnya ke depan pintu kamar mandi, dan ternyata ia masih mendengar suara air dari dalam, itu berarti Arsen masih mandi.
Dengan segera ia melepas gaunnya dan mengganti dengan piyama yang sudah dipersiapakan. Qanita begitu terkesiap mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka dan membuat ia mengenakan kembali jilbab dengan asal-asalan, padahal tadi sempat dilepasnya.
Dari arah pintu kamar mandi ia melihat suaminya hanya mengenakan handuk yang terlilit dipinggang. Dengan refleks ia segera mengalihkan pandangan dan beristigfar.
“Kamu kenapa lagi ? Tanya Arsen yang sudah berada didepan lemari untuk mengambil baju. Namun diurungkan karena ia telah meilihat bajunya telah berada di atas tempat tidur.
Laki-laki itu hanya mengulas senyum tipis dan berjalan menuju tempat tidur. Qanita yang melirik dengan ekor matanya, tepat saat Arsen hendak meraih baju yang akan dikenakan, gadis tersebut langsung berdiri dan berjalan dengan tergesa-gesa kekamar mandi. Melihat istrinya yang sungguh bertingkah aneh, lagi-lagi Arsen dibuat bingung dan menggelangkan kepala.
Sementara dikamar mandi, lagi-lagi Qanita menghela nafas lega. Untuk kedua kalinya ia terhindar dari sang suami. Iapun membersihkan make up diwajahnya menggunakan kapas kemudian mulai membersihkan diri.
Arsen yang telah berwudhu terlihat sedang menunaikan sholat witir seperti kebiasaanya. Namun sampai Arsen mengucapkan salam, belum ada tanda-tanda Qanita akan keluar meninggalkan kamar mandi.
Dengan tenang Arsen mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil nama Qanita.
Tok tok tok
“Qa, kamu belum selesai ?” Tanya Arsen.
Namun, ketukan dan panggilan Arsen tidak dijawab oleh Qanita.
“Qa.” Ucap Arsen kembali dan mengetuk pintu kamar mandi.
“Kamu nggak ada rencana tidur dikamar mandi kan sayang ?” Tanya Arsen kembali.
“Haaa, sayang ?” Gumam Qanita yang berdiri didepan cermin untuk membenarkan jilbab.
Dengan gugup ia mengumpulkan keberanian membuka pintu kamar mandi dan benar saja ia mendapati suaminya berdiri dimabang pintu dengan tatapan bingung.
“Ngaco.” Ujar Qanita tiba-tiba dan berjalan menuju lemari untuk mengambil mukenah.
“Ngaco apanya ?” Tanya Arsen kembali dan beranjak ketempat tidur.
“Siapa juga yang tidur dikamar mandi.” Ujar Qanita dan mulai menggunakan mukenah juga mengambil sajadah yang digunakan Arsen. Dengan segera ia mengerjakan sholat witir.
Arsen yang sedari tadi saat berada ditempat tidur terlihat memperhatikan Qanita mengerjakan sholat. Iapun berpikir betapa beruntungnya mendapatkan Qanita, gadis yang telah lama disukainya itu. Sejurus kemudian ia mengambil ponsel yang berada di atas meja samping tempat tidur dan mulai mengecek email serta saham perusahaan.
Qanita telah usai mengerjakan sholat kemudian membereskan mukenah dan hendak beranjak ketempat tidur. Namun ia mengehentikan niatnya, “kamu tidur dengan lampu yang menyala atau mati ?” Tanya Qanita pada Arsen yang masih sibuk dengan ponselnya.
“Dua-duanya bisa, tapi lebih nyenyak kalau dalam keadaan mati.” Jawab Arsen tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
“Hmm, ya sudah. Kumatikan saja.” Ucap Qanita dengan sedikit kesal, namun sebelumnya ia menyalakan lampu tidur.
__ADS_1
“Kamu kenapa ?” Tanya Arsen dengan polosnnya dan meletakkan ponsel ketempat semula, karena ia menyadari salahnya.
“Tidak-tidak apa-apa.” Jawab Qanita singkat dan mendaratkan kepalanya di atas bantal.
“Yakin mau tidur dulu ?” Tanya Arsen melirik Qanita.
“Iy iya, yak yakin.” Jawab Qanita terbata-bata.
“Yakin mau tidur dulu sebelum melepas jilbab ?” Tanya Arsen kembali dan mengangkat alisnya.
Qanita yang menyadari bahwa masih menggunakan jilbab dan berkata “Iya yakin.” Jawabnya mantap.
Dengusan kecil terdengar dari Arsen “Heeei es balok. Aku ini sudah menjadi suamimu. Tidak terlarang jika aku melihat auratmu.” Jelas Arsen.
Qanita hanya mendengus kesal mendengar ia dipanggil es balok. “Iya kah ?” Tanyanya dengan lugu, padahal sebenarnya tahu.
Arsen hanya mengangguk dan masih menatap istrinya.
Tangan Qanita dengan cepat mematikan lampu tidur yang berada disampingnya dan perlahan-lahan membuka jilbab.
“Hahaha,” tawa Arsen lepas. “Liat lampu disampingku ini menyala Qa, itu artinya aku bisa melihatmu tanpa menggunakan jilbab. Astaga Qa.” Ujar Arsen dengan terkekeh.
Qanita yang baru saja menyadari hal tersebut langsung saja mengehela nafas datar dan pasrah. Suaminya kini telah melihat ia dalam keadaan tanpa jilbab. “Toh dia kan suamiku, wajar saja ia melihatku seperti ini.” Ucapnya dalam hati dan merebahkan diri kembali.
“Jika nanti aku menendang atau memukulmu dalam keadaan tertidur. Tolong pahami, aku belum pernah berbagi tempat tidur dengan orang lain, kecuali dengan teman-teman perempuanku.” Ucapnya dalam keadaan mata yang dibuat terpejam.
“Hmm,” ucap Arsen yang menarik tangan Qanita dengan cepat dan menindih gadis tersebut.
“Ka-kak-kamu kenapa ? Mau apa ?” Tanya Qanita dengan terbata-bata dan jantung yang berdegub kencang.
“Aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Kamu kenapa ?” Tanya Arsen dan melihat dalam mata Qanita.
Qanita hanya menggeleng dan berusaha untuk tidak bertatap mata dengan Arsen.
“Apa kamu berpikir aku akan melakukannya malam ini ?” Tanya Arsen kembali.
Lagi-lagi Qanita hanya menggeleng dan berusaha untuk menelan salivanya.
“Sudahlah, jangan gugup seperti ini.” Ucap Arsen sambil mengelus lembut pipi Qanita dan mencium kening istrinya.
“Tidurlah, aku capek, ngantuk juga.” Ucap Arsen kembali dan membenamkan wajah Qanita didada bidangnya.
Aroma shampo Qanita menyeruak ke penciuman Arsen, ia mengecup puncak kepala istinya dan berkata “Selamat tidur.” Kemudian mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Qanita yang berada dalam pelukan Arsen, berusaha untuk mengatur degub jantungnya. Sesaat kemudian ia memberanikan diri untuk melingkarkan tangannya dipinggang Arsen, dan menyusul suaminya ke alam mimpi.