Kisah Ini Bernama Cinta

Kisah Ini Bernama Cinta
Bab 27 Terima Kasih


__ADS_3

Semuanya berjalan sesuai dengan rencana dan pagi ini Arsen dan Qanita akan melangsungkan pernikahannya. Susana dimasjid yang berada dikompleks perumahan Arsen dan Qanita tampak ramai, begitu pula dengan parkirnya terlihat beberapa mobil. Tamu yang datang akan menjadi saksi perjanjian Arsen dengan orang tua Qanita terlebih dengan Allah.


Setelah membaca beberapa doa untuk kelancaran ijab qabul. Tangan Abdillah saling berjabat dengan tangan Arsen. “Saudara Arsenio Ar Rajab Bin Saad Ar Rajab saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Qanita Abdillah binti Abdillah dengan mas kawinnya berupa seperangkat alat sholat tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Qanita Abdillah binti Abdillah dengan mas kawinnya yang tersebut dibayar tunai.”


Para saksipun berkata sah, kemudian Arsen mencium tangan Abdillah. MC mempersilahkan Qanita untuk menuju tempat ijab qabul diucapkan beberapa saat yang lalu. Qanita berjalan perlahan didampingi oleh Irtiza dan Syiffa. Terlihat dari ujung matanya meneteskan cairan bening. Dalam hatinya berkata bahwa ia sekarang telah menjadi istri dari seorang laki-laki yang bernama Arsenio Ar Rajab.


Merekapun melalukan proses pemasangan cincin kawin dan pemberian buku nikah. Setelah itu dilanjutkan dengan sungkem pada kedua orang tuanya.


Sampai pada Qanita mencium tangan Abdillah, langsung saja air mata ayah dan anak itu tak terbendung dipeluk erat-erat sang anak dan berkata “Selamat nak, gadis kecil ayah sudah menjadi milik orang lain. Jangan lupakan ayah nak.” pinta Abdillah dengan lirih.


“Ayaaah.” Hanya itu kata yang terlontar dari mulut Qanita namun semakin memperat pelukannya pada sang ayah.


Tibalah saatnya Arsen mencium tangan Abdillah. “Jaga dia baik-baik jangan pernah kecewakan apalagi kamu menyakitinya. Jika kamu sudah tak mencintainya beri tahu ayah, maka ayah akan membawanya kembali pada ayah.” Ucap Abdillah namun dengan penuh penekanan.


“Insya Allah Arsen akan berusaha untuk selalu ada buat Qanita ayah.” Ucap Arsen.


Setelah melaksanakan ijab qabul tadi pagi, malamnya disalah satu ballroom sebuah hotel terbesar dikotanya. Terlihat pasangan pengantin baru yang tak henti-hentinya mengulas senyum bahagia sambil menyalami tamu yang hadir. Mereka sungguh serasi, Qanita dengan gaun coklat keemasan juga dengan penutup kepala berwarna serupa. Begitu juga Arsen dengan warna yang senada, sungguh indah.


Sedari tadi tamu undangan yang menyalami mereka adalah rekan-rekan Saad dan Abdillah. Juga sesekali menyalami rekan dari kakak ipar Qanita dan juga Syiffa, dan rekan Qanitapun mulai berdatangan dan mengantri. Sementara teman-teman Arsen belum terlihat batang hidungnya.


Dari antrian manik Arsen telah menangkap seseorang yang perlahan-lahan mengarah padanya. Perempuan tersebut mengulas senyum yang begitu manis dan tulus, sepertinya ia ikut bahagia dengan pernikahan Arsen.


“Selamat Ar. Semoga pernikahan kalian sampai dikehidupan setelah kematian.” Doa Tria dengan tulusnya.


“Terima kasih, terima kasih banyak.” Ucap Arsen dengan senyum tipsinya pada Tria.


“Selamat yah.” Ucap Tria tulus dan mencium pipi kanan dan kiri Qanita seperti yang dilakukan perempaun pada saat bertemu temannya.


Qanita hanya Menyunggingkan senyum lebarnya. “Terima kasih banyak. Karena telah menjelaskan semuanya.” Kata Qanita pada Tria. Sementara Tria hanya tersenyum tulus dan mengangguk.


Ternyata dibelakang gadis tersebut ada Andri sang asisten. Sontak saja membuat Arsen mengerjitkan dahi. “Selamat bos.” Ujar Andri dan berjabat tangan dengan Arsen.


Andri hanya mendapat anggukan dari Arsen yang tanpa ingin melepas tangannya. “Kamu ada hubungan apa sama Tria Ndri ?” Tanya Arsen.


Andri tersenyum membalas pertanyaan Arsen “doakan saya juga bos.” Ujar Andri, berlalu meninggalkan Arsen dan beralih pada Qanita. Sementara Arsen hanya dibuat bingung dengan pernyataan Andri.


Dari arah pintu masuk mata Qanita melihat Rizky dari sela-sela antrian. Laki-laki itu bersama seorang gadis. Namun Qanita tidak mengetahui siapa gadis yang sedang bersamanya.

__ADS_1


Semakin lama, Rizky semakin memangkas jarak antara dia dengan Qanita. “Ternyata dia, yang berhasil membuatmu jatuh cinta.” Ucap Rizky dalam hati, sambil mengelus tangan istrinya yang dilingkarkan pada lengan kirinya.


“Ar, selamat yah. Pengantin baru.” Sapa Rizky dan dibalas dengan senyum Arsen yang sumringah.


“Wiih, udah nikah nih.” Menatap perempuan yang berada dibelakang Rizky dan tangannya berada dalam genggaman Rizky. “Nggak ngundnag-ngundang ya.” Ucap Arsen kembali.


“Iya Ar. Alhamdulillah. Tenang kami belum mengadakan resepsi kok.” Terang Rizky kemudian beralih pada Qanita.


“selamat ya.” Ucap Rizky tulus.


“Iya kak. Terima kasih.” Balas Qanita dengan senyum tipisnya. “Ini istrinya kakak ?” Tanya Qanita pada Rizky.


“Iya mbak. Kenalkan saya Arda mbak. Selamat ya mbak atas pernikahannya.


“Terima kasih.” Ucap Qanita, sedangkan Arsen yang berada disamping istrinya hanya tersenyum lembut.


“Eh eh, pengantin baru selamat yah Ar.” Goda Royyan yang tiba-tiba saja berada di depan Arsen.


“Iya Yan. thanks ya.” Ujar Arsen.


“Udah nggak bisa ngumpul-ngumpul lagi kita.” Ujar Royyan.


“Bisa dong, tapi bawa istri.” Jawab Arsen seperti nada mengejek.


“Soory yah Yan. Namaku akan segera tercatat di KUA. Nggak liat bidadari dibelakangku ini.” Ujar Zacky sambil memperkenalkan seseorang yang mengenakan kebaya abu-abu senada dengan jas yang dikenakan Zacky.


“Astaga, berarti ?” ucapan Royyan terputus. “Kurang ajar ya kalian, aku ditinggal kuliah diluar dan sekarang kalian mau ninggalin aku buat nikah juga. Teman macam apa kalian ?” Ucap Royyan menghakimi kedua temannya.


“Makanya cepat nikah.” Sergah Zacky dan Arsen serentak.


“Kasian tuh uang nggak dipake buat beli bumbu dapur rumah tanggamu, nggak guna.” Tambah Arsen.


“Berisik.” Ucap Royyan dan berlalu menuju Qanita.


Suasanapun semakin ramai, namun Arsen dan Qanita tak terlihat capek atupun mengeluh. Mereka bersyukur ternyata banyak yang mendoakan pernikahan mereka. setelah tamu undangan dirasa mulai berkurang, kedua pengantin disuruh untuk berfoto dengan keluarga besar masing-masing.


Kemudian Qanita dan Arsen mulai bergabung dengan para tamu undangan. Mereka duduk satu meja bersama Rafay dan Syiffa juga Lia yang sudah tertidur di gendongan sang ayah.


“Astagfirullah.” Suara perempuan dari arah meja samping Arsen, dan menyita perhatian beberapa tamu undangan.

__ADS_1


“Astaga, maaf maaf aku tidak sengaja.” Ucap Royyan pada Faiza.


Rupanya Royyan tak sengaja menjatuhkan minuman dingin pada gaun Faiza yang saat itu tengah berjalan menuju meja. Sementara Royyan akan beranjak dari tempat duduknya untuk kekamar mandi.


“Astaga Zaaa, kok basah gitu ?” Tanya Irtiza dari arah meja dessert.


“Iya Ca, tadi nggak sengaja ditumpahin sama mas itu.” Ucap Faiza dan menunjuk Royyan.


“Astaga kak Royyan.” Ujar Irtiza dengan sedikit kesal.


“Tanggung jawab Yan, tuh jadi kotor kan itu.” Ujar Zacky seperti memanas manasi Irtiza agar lebih kesal.


“Iya Yan, kotor kan gaunnya Faiza.” Timpal Arsen dari meja sebelah.


“Eeeeh, iya aku tanggung jawab kok. Tapi gimana. ? Aaaaa, pake ini aja, buat nutupinya bekasnya sementara.” Royyan melepas jasnya dan memberikan pada Faiza.


Royyan yang kini lebih jelas melihat wajah Faiza karena beradu pandang saat ia memberikan jasnya. Dan membuat ia terpesona akan kecantikan alami Faiza.


“Ngedip Yan, ngedip.” Goda Zacky yang dari tadi memperhatikan Royyan.


“Apaan sih Zac. Berisik banget.” Ucap Royyan dan kembali duduk, mengurungkan niatnya kekamar mandi.


“Cepet Yan, bawa ke KUA.” Timpal Rafay dengan senyum tipis.


“Kak Royyan suka sama Faiza ?” Tanya Irtiza tanpa basa basi.


“Astaga.” Ucap Arsen lirih, sedangkan Qanita yang berada disamping Arsen hanya memegang kening dan menundukkan kepalanya. Seperti tak mengerti jalan pemikiran gadis yang baru menjadi adik iparnya itu.


“Caaaa.” Pekik Faiza dan melotot pada Irtiza.


“Kalau kakak suka sama Faiza, hadapi aku dulu. Karena aku nggak suka temanku disakitin sama orang.” Jelas Irtiza sambil memandang Royyan.


“Hmmm, aku juga sama kayak Irtiza.” Ucap Qanita.


“Sepertinya jika mas Royyan suka sama mbak Faiza. Mas Royyan harus menghadapi dua macan tutulnya bos muda dulu.” Celetuk Andri dan langsung mendapat gelak tawa dari yang lain.


Arsen menatap Qanita lekat-lekat “Terima kasih sudah memberiku kesempatan.” Batin Arsen.


“Terima kasih sudah mau menerima aku dengan segala kurangku.” Batin Qanita yang juga memandang wajah suaminya yang duduk disampingnya.

__ADS_1


Lama mereka saling menatap dan keduanya menyunggingkan senyum yang begitu manis.


Berbeda dengan kegiatan di atas pelaminan, terlihat kedua orang tua Arsen dan Qanita yang telah resmi berbesanan. Kini sibuk melakukan sesi foto dengan berbagai gaya. Tanpa menghiraukan kejadian yang barusan terjadi di bawah.


__ADS_2