Kisah Ini Bernama Cinta

Kisah Ini Bernama Cinta
Bab 20 Bukan Pilihan Terbaik


__ADS_3

Beberapa hari mendapat perawatan dirumah sakit pasca melahirkan, hari ini Syiffa sudah diperbolehkan pulang. Dalam salah satu kamar rumah sakit bersalin itu terdapat beberapa orang yang sedang membantu Syiffa dan Rafay untuk beberes.


“Syi, ini udah yah sayang. Udah selesai semua.” Ucap Maya setelah tanganya sudah membereskan barang-barangnya.


“Iya bu, makasih.” Tutur Syiffa. “Ma, mas Fay belum kembali ?” Tanya Syiffa pada mertuaya.


Mertuanya hanya melihat kearah pintu kamar, dan menggelengkan kepalanya, pertanda bahwa Rafay belum kembali dari urusan pembayaran rumah sakit istri dan anaknya. Beberapa lama ketiga wanita itu duduk disamping dan bersenda gurau, namun tak membangun sikecil Lia. Pintu kamar Syiffa kini terbuka sedikit menandakan ada orang dibaliknya.


“Udah selesai semua ?” Tanya Rafay dari arah pintu masuk kamar.


“Sudah mas.” Jawab Syiffa yang sedang menggendong Lia.


“Kalau udah, ayo. Ayah udah nunggu diluar.” Kata Rafay dan beralih mengambil dua buah tas jinjing di samping mertua dan ibunya.


Syiffa yang meminta untuk cek out dari rumah sakit sore hari, agar sang suaminya bisa leluasa mengurus pembayaran tanpa diburu-buru oleh kerjaan. Sesampainya diparkiran, sudah dilihatnya Abdillah dan besan laki-lakinya berbicara disamping mobil masing-masing. Sementara Rafay berjalan kearah mobilnya dan membuka pintu untuk istrinya yang sedang menggendong Lia.


“Kita ketempat Lia dulu iya yah.” Pinta Maya pada suaminya.


“Mama juga ya pa.” Pinta ibu Rafay pada suaminya juga.


“Iya sudah.” Jawab dua laki-laki paruh baya itu serempak, dan segera masuk kedalam mobil mengikuti mobil yang tengah dikendarai oleh Rafay.


“Pasti tadi ayah datang buat jemput kan ? Ngira ibu langsung pulang ?” Tanya Maya dengan nada yang menahan cekikikannya.


“Iya, makanya ayah kesini mau jemput ibu. Kasian Rafay kalau harus ngantar ibu dulu baru pulang.” Jawab Abdillah yang tak mengira jika istrinya ingin kerumah anak dan mertuanya lebih dulu.


Dimobil yang lainpun kedua orang tua Rafay juga tengah membahas hal yang sama.


***


Qanita baru saja tiba dirumanya, ia sengaja dari kantor langsung pulang tanpa kerumah sakit dulu. Ia berencana besok untuk mengunjungi keponakannya itu setelah pulang kerja dan akan bermalam beberapa hari disana.


“Assalamualaikum.” Salam Qanita.


“Waalaikumusslam.” Jawab Fateeh dan Nazeen bersamaan.


Ternyata kedua adinya itu tengah menikmati kudapan sambil bersantai didepan TV.


“Ayah belum sampai dek ? Ibu juga belum pulang dari rumah sakit ?” Tanya Qanita berjalan menuju kedua adiknya.


“Ayah jemput ibu, trus katanya tadi kerumah kak Syi dulu. Palingan malam baru pulang. Kita disuruh makan apa aja yang bisa dimakan katanya.” Ucap Fateeh tanpa melihat kearah kakaknya.


“Iya udah, ntar kakak yang masak. Kakak mau kekamar dulu, mau bersih-bersih.” Tutur Qanita, dan berjalan meninggalkan kedua adiknya itu.


Setibanya dikamar, diletakkan ransel dan kemudian mengambil ponsel dari kantong kecil ranselnya. Entah kenapa sore itu Qanita seperti terbayang wajah Arsen beberapa hari lalu saat dirumah sakit. Menggendong Lia, aura Arsen sebagai orang tua terlihat, walaupun Qanita menepisnya.


“Hmmm, ngapain juga aku mikirin dia coba.” Gumamnya kemudian beranjak menuju kamar mandi.


Setelah bersih-bersih Qanita kini sudah berada didapur dan mulai memasak untuknya dan kedua adiknya. Ketika suara dari masjid kedua adiknya dengan spontan mulai bersiap-siap untuk menuju masjid. Sedangkan Qanita menutup jendela dan menyalakan lampu. Masakannya didapur ditinggal sebentar dan apinya dikecilkan.


Tepat saat suara adzan berkumandang, Qanita menyadari suara siapa itu. Ia mamtung beberapa saat. Ia cukup mengenal suara itu, bukan Arsen melainkan laki-laki yang pernah ditolak ajakan ta’arufya.


“Kak, ngak apa-apa sendiri dirumah ?” Tanya Nazeen ditengah diamnya Qanita.


“Haa, iya dek ngak apa-apa.” Ucap Qanita dan diakhiri dengan senyum kecil.


“Kalau nggak, biar Nazeen yang nemenin kakak, aku ke masjid sendiri aja.” Saran Fateeh.


“Nggak usah, kakak sendiri juga nggak apa-apa kok.” Tolak Qanita, sambil berjalan menuju dapur untuk mengecek masakannya.

__ADS_1


“Iya udah kalau gitu. Kita ke masjid dulu.” Ucap Nazeen.


“Kalau ada yang bertamu jangan diterima. Kalau memang ada keperluan ntar pasti balik lagi. Apalagi kakak sendiri dirumah.” Tutur Fateeh.


Qanita hanya tersenyum dan menganggukkan kepala mendengar kekhawatiran kedua adiknya itu.


“Ya udah, kita pergi dulu.” Ucap Fateeh.


“Assalamualaikum.”


“Kunci pintunya kak.” Timpal Nazeen sebelum tubuh mereka benar-benar hilang dibalik pintu.


Sepeninggal kedua adiknya, Qanita berjalan menuju pintu dengan air mata yang sudah berlinang dan siap untuk terjatuh.


***


Pagi kini kembali menyapa, dimeja makan tengah berkumpul keluarga Abdillah yang sedang menikmati sarapan.


“Ayah sama ibu semalam pulang jam berapa ?” Tanya Nazeen mengawali perbincangan.


“Jam 10an nak.” Jawab Maya sembari tangannya telaten memepersiapkan bekal untuk kedua putranya.


“Kak Syi gimana bu, udah lebih baik kah ?” Tanya Fateeh lagi.


“Alhamdulillah sudah nak.”


“Ayah, Anit boleh tidak menginap dirumah kak Syi untuk beberapa waktu ? Untuk bantu-bantu dia.” Tanya Qanita pada Abdillah dan langsung menundukkan pandangannya.


“Boleh saja. Tapi sepertinya tidak bisa dalam waktu dekat ini nak. Kau tau kan, kantor sedang sibuk-sibuknya. Kalau kamu kekakakmu itu artinya, tenagamu juga akan terkuras habis. Kamu dikantor dan dirumah kakakmu. Lagian orang tuanya Rafay sudah mencarikan orang untuk membantu kakakmu.” Jelas Abdillah memberi pengertian pada Qanita.


“Hmm, baiklah yah.” Jawab Qanita singkat.


“Iya bu.” Jawabnya kemudian melanjutkan makannya.


Adbillah tahu, jika keinginannya untuk pergi ke rumah saudara perempuannya bukan hanya ingin membantu, melainkan ada hal lain yang ingin ia tenangkan.


“Ya sudah, Al, Zeen ayo kita berangkat.” Ajak Abdillah setelah melihat kedua putranya telah menyelesaikan sarapannya.


“Ini sayang bekal kalian.” Maya menyodorkan dua kotak bekal untuk kedua putranya.


“Assalamualaikum.” Pamit ketiga laki-laki itu serempak.


“Waalaikumussalam.” Jawab Maya dan Qanita.


Beberapa saat kemudian Qanita pun pamit kepada Maya, setelah menyelesaikan sarapannya. “Bu, Anit pamit yah.”


“Tunggu nak.”


“Iya bu, ada apa.” Seketika Qanita mengurungkan niatnya untuk berdiri dari tempat duduk.


“Ibu tau apa yang sedang kamu rasakan nak. Jangan selalu memendamnya sendiri. Berbagilah nak jika semuanya masih susah untuk dilupakan dan diikhlaskan. Ibu akan selalu ada untuk mendengarnya.” Tutur Maya dengan diiringi seulas senyum.


Qanita membalas senyum Maya tak kalah lebarnya hingga cekungan kecil nampak dipipinya dan memegang kedua tangan Maya “Ibu nggak usah khawatir yah. Anit baik-baik saja, Insya Allah.” Terdengar helaan nafas panjang untuk memberikan kekuatan lebih pada dirinya “Ya udah, Anit pamit ya bu. Assalamualaikum.” Kemudian mencium tangan Maya.


“Waalaikumussalam.” Jawab Maya dan mengelus pipi Qanita dengan lembut.


Tepat sebelum motor Qanita akan keluar dari pekarangan rumahnya, pandangannya melihat mobil yang ia yakin betul didalamnya terdapat Arsen.


Dipandangnya mobil itu dengan datar dan dingin, hingga mungkin saja siapa yang berada disamping Qanita saat ini akan membeku karena hawa dingin yang ditimbulkannya.

__ADS_1


Sementara laki-laki yang berada didalam mobil tersebut hanya mampu menghela napas kemudian memejamkan matanya dan mengingat kesalahan yang telah diperbuatnya.


***


Sesuai dengan janji Abdillah, hampir tiga minggu Qanita menunggu hari ini, iya hari dimana ia diijinkan oleh sang ayah untuk menginap dirumah kakaknya, dengan alasan agar bisa membantu sang kakak meskipun itu tak sepenuhnya salah. Selama tiga minggupun Qanita tak menegur ataupun memberi senyum atau hal ramah lainnya pada Arsen. Hal itu membuat Arsen semakin bersalah pada Qanita.


Kini Qanita terlihat sedang melajukan motor kaerah rumah kakakanya. Jika biasanya tas punggungnya hanya berisi laptop dan beberapa barang lain yang dibutuhkan selama dikantor, kini ranselnnya berisi pakaian dan perlengkapan. Didepannya juga terlihat tas jinjing berukuran sedang.


“Assalamualaikum.” Salamnya saat berada diambang pintu rumah kakaknya.


“Eh, Waalaikumussalam, sudah sampai rupanya.” Jawab Sita, ibu mertua Syiffa.


“Ehehehe iya bu Ita.” Jawabnya kemudian mencium tangan Sita.


“Ibu Ita sendiri aja ? Ibu mana ?” Tanyanya sambil membawa tas jinjing dan mengekori Sita.


“Sama ibumu juga nak. Tapi lagi bersih-bersih dikamar mandi. Ini bu Ita lagi nunggu dijemput.” Mendudukkan diri disofa.


“Looh, Anit sudah datang rupanya.” Syiffa menghampiri adiknya sambil menggendong Lia.


Qanita hanya mengangguk dan melayangkan pandangannya pada keponakannya yang tengah tertidur dalam gendongan Syiffa.


“Kamu bawa gih barang-barangmu ke kamar. Kamu bisa pake kamar tamu disamping mushollah yah.” Jelas Syiffa.


“Iya kak. Kalau gitu Anit kekamar dulu.” Pamitnya pada Sita dan Syiffa.


Sore sudah beberapa jam berlalu, Maya sudah dijemput Abdillah, dan Sitapun sudah dijemput suaminya. Kini Qanita sedang berada didalam kamar dan tengah memasukkan pakaiannya kedalam lemari. Tepat sebelum pakaian terakhirnya dimasukkan terdengar suara ketukan dari balik kamarnya.


Tok tok tok,,,


“Iya masuk.” Jawabnya tanpa beralih membuka pintu.


Syiffa membuka pintu kamar Qanita dan duduk diujung tempat tidur adiknya.


“Looh kak Syi, Lia sudah tidur ?” Tanya Qanita dan duduk disamping kakaknya.


“Sudah dek.” Menatap Qanita dan memegang tangannya.


“Kenapa kak ?” Tanya Qanita mengerjitkan keningnya.


“Kakak tau kamu sedang berusaha baik-baik saja dek. Mungkin kamu bisa sembunyikan ini pada dunia tapi tidak dengan kami yang tulus menyayangi kamu.”


Qanita tak menanggapi ucapan Syiffa dan memilih untuk menunduk.


“Pergi dari rumah untuk menenangkan diri memang pilihan baik dek. Tapi pergi dari rumah untuk mengindarinya bukan pilihan yang baik.” Ucap Syiffa kemudian.


“Aku kesini bukan buat menghindar kak, aku kesini mau bantu-bantu kakak.” Ucapnya menggelak.


“Iya dek kakak tau itu. Tapi setidaknya kasih dia kesempatan dek untuk menjelaskan dan memperbaikinya. Itu lebih baik dari pada kamu mendiamkannya selama ini.


“Aku tidak mendiamkannya kak, bukankah aku memang seperti ini dari dulu ?” Tanya pada Syiffa dan lagi-lagi mengelak.


“Iya, tapi kamu sempat ramah kan padanya sebelum hal yang menyakitimu itu terjadi. Dan sekarang kamu juga menyimpan lukamu sendiri.”


“Aku baik-baik saja kak.” Sambil tersenyum lebar, namun dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Iya kamu terlihat baik-baik saja. Padahal sebenarnya tidak begitu. Kamu sudah cukup lama berusaha untuk selalu tersenyum dan terlihat baik-baik saja. Menangislah jika itu bisa membuatmu lega dek.” Syiffa meraih pundak adiknya kedalam dekapannya.


Sedetik setelah Syiffa berucap seperti itu. Syiffa merasakan pundak Qanita bergetar dan cairan bening dari matanya yang selama ini berusaha untuk ditahan terlepas sudah tanpa rintangan.

__ADS_1


Syiffa hanya mengelus punggung sang adik tanpa berbicara sepatah katapun.


__ADS_2