
Sungguh pagi ini sangat membuat Arsen tak bersemangat, dilihatnya jam dinding yang menggantung dikamar sudah menunjukkan pukul 06:30. Namun masih membuat Arsen ogah ogahan berjalan menuju kamar mandi.
Saat masih bersiap-siap ternyata Andri sudah menunggunya di depan rumah, Saad yang menyadari kehadiran Andri langsung mengajaknya masuk untuk sarapan terlebih dulu. Sekilas Andri menatap Faiza yang tengah duduk di samping Irtiza.
Cukup lama menunggu Arsen, dan laki-laki itu sudah rapi, ia mengenakan Jas berwarna coklat dan berjalan menuruni tangga menuju meja makan tempat yang lain sudah berkumpul.
“Looh Ndri udah datang ?” Tanya Arsen mengabaikan yang lainnya.
“Sudah dari tadi Subuh bos.” Ucap Andri dan tangannya mengambil roti yang sudah diletakkan di atas piring.
Arsen hanya menatap Andri dan menendang kecil tulang kering pria tersebut “Aaauw. Sakit bos.” Ucap Andri.
Melihat tingkah kedua laki-laki yang terpaut tiga tahun itu membuat seisi meja makan tersenyum. Faiza hanya bisa menatap Arsen dengan penuh kekaguman dan seperti tak ingin melepaskan pandangannya dari laki-laki tersebut. Arah tatapan Faiza sudah dari tadi diamati oleh Andri, meskipun ia tengah mengunyah roti dalam mulutnya.
Setelah sarapan kedua laki-laki itu pamit menuju kantor, dan Andri menawarkan tumpangan pada Irtiza, Faiza juga Azel. Namun ketiganya menolak, memilih untuk diantarkan oleh Saad. Kini mobil yang dikendarai oleh Andri kembali memecah jalanan perumahan Arsen untuk menuju kantor.
“Bos, sepertinya teman mbak Irtiza menyukai bos.” Ucap Andri sambil melirik Arsen yang sedang ogah-ogahan.
“Entahlah, aku tidak tau Ndri. Itu urusan dia bukan urusanku.” Jawab Arsen acuh.
Andri hanya menatap sekilas atasannya itu, ia tahu apa yang dipikirkan Arsen. Meskipun tidak terlalu paham dengan masalah perasaan, karena dari dulu Andri tak terlalu mementing urusan wanita, ia hanya fokus pada karier dan impiannya selama ini.
Andri adalah anak tunggal dari keluarga yang kurang berkecupan. Namun dengan kecerdasan dan tekad yang dimiliki membuatnya ingin merubah kehidupan keluarganya. Hingga pada saat Andri kuliah ia memutuskan sambil bekerja diperusahaan ayah Arsen.
***
Pagi ini Qanita tengah berada dibalik meja kerjanya, dipandangi lekat-lekat laptop yang ada didepannya. Namun sedetik kemudian pikirannya tertuju pada Arsen, ia mengingat jelas bagaimana niat baik Arsen untuk mengkhitbahnya, namun tertunda entah sampai kapan.
“Ya Robbi, entah sudah berapa lama aku memutuskan silaturrahmi dengannya. Sepertinya aku belum siap untuk kembali kerumah dan bertemu dengannya.” Ucapnya lirih.
Dengan segera ia mengangkat diri dari kursi dan berjalan menuju mushollah untuk menunaikan sholat Dhuha serta menenangkan diri. Diliriknya jam tangan dipergelanganya, waktu menunjukkan pukul 10:00 itu artinya ia harus segera menuju ruang rapat yang akan segera dilangsungkan.
Rapat dikantor Qanita hingga sampai jam makan siang, kemudian dia berjalan menuju mushollah untuk sholat Dzuhur dan makan siang. Tepat sebelum ia menyendokkan makanan kedalam mulut, ia merasakan HPnya bergetar dan tertera nama “Ibu” dilayar.
“Iya, Assalamualaikum bu.”
Iya, Waalaikumussalam nak, kamu apa kabar ?
Alhamdulillah baik bu, ibu, Fateeh sama Nazeen apa kabar ? Sudah hampir satu minggu ini ibu nggak ke tempat Anit.
Iya nak, makanya ibu menelponmu hari ini, ayah selalu bilang kamu baik-baik saja. Namun, yaaah ibu ingin mengobrol denganmu. Keluarga kakakmu apa kabar ?
“Baik buk, Insya Allah nanti malam ya bu kita sambung lagi, Anit harus segera makan siang karena jam istirahat akan segera selesai.”
Iya sudah nak, nggak apa-apa. Kamu telpon saja ya nanti malam, jika kamu tidak sibuk.
Iya bu, Assalamualaikum.
Waalaikumussalam.
Setelah pembicaraanya dengan Maya, ia segera memakan makanannnya. “Ada yang ingin Anit ceritakan dengan ibu, tapi Anit sungkan bu.” Gumamnya lirih.
Setelah menyelesaikan makan siang, ia segera bernajak dari tempat duduk dan melangkah menuju ruang kerjanya. Meskipun ia putri dari pemilik kantor tersebut tak membuatnya membedakan diri dengan karyawan yang lain, baginya ia juga termasuk karyawan meskipun putri dari “Mayadillah”, perusahaan peternakan dan produsen daging terbesar dikotanya.
Ia sudah terbiasa untuk menikmati makan siang sendiri karena tak begitu menyenangi jika ada orang yang mengajak berbincang lama-lama ditempat kerja.
Ditengah perjalanan ia bertemu dengan Abdillah, kemudian dipanggilnya sang ayah.
“Ayah.”
Mendengar suara yang tak asing, sontak membuat Abdillah berbalik badan dan melihat anak gadisnya sedang berjalan kearahnya.
__ADS_1
“Ayah mau kemana ?” Tanyanya saat melihat Abdillah akan menuju pintu keluar.
“Ayah mau kepeternakan, kenapa ? Mau ikut ?
“Hmm, boleh ? Anit masih ada kerjaan yang harus diselesaikan hari ini yah.” Ucap Qanita.
“Sudah, ayo ikut saja. Nggak lama kok. Sekalian kamu bisa liat hewan ternak juga kan. Dari pada diruangan terus, kan suntuk.” Tawar Abdillah.
“Hmm, baiklah yah.” Setuju Qanita, dan kini matanya sudah dipenuhi bayangan hewan ternak yang sedang merumput.
Benar ucapan Abdillah tadi, dipeternakan Qanita merasa sedikit tenang. Dipandanginya lahan hijau tempat merumput para hewan ternak, karena memang tak dikandang kecuali jika sore dan malam hari. Matanya kini disuguhkan oleh lahan yang hijau ditemani dengan suara hewan ternak yang saling menyahut seperti membentuk sebuah perbincangan.
Seyum lebar kini menghiasi wajah gadis tersebut, dan lagi-lagi cekungan kecil dipipinya terlihat. Abdillah yang tadi berbincang dengan penanggung jawab peternakan perusahaannya, kini tersenyum seolah senyum yang sunggingkan oleh Qanita menular padanya.
“Sudah lama tidak melihat senyum selebar itu.” Lirihnya dan menyenderkan bahu pada sebuah tiang yang menopang kandang.
***
“Caaa, ayo ke kelas. Kan hari ini giliran kita presentasi nih.” Ajak Faiza sambil menarik lengan Irtiza yang masih asyik meminum es jeruknyya.
“Masih lima belas menit lagi Fa. Nanggung nih.” Ucapnya sambil melirik jam tangan dan menatap es jeruk dalam gelas.
“Kutinggal nih.” Ucap Faiza mengancam dan berjalan meninggalkan kantin kampus.
“Eh, eh eh, iya.” Irtiza sedikit berlari untuk mejajarkan langkahnya dengan Faiza.
Sesampainya mereka diruang kelas, masih terlihat sepi dan hanya terdapat bebrapa mahasiswa yang sedang berbicang-bincang. Mereka berdua langsung duduk dibangku yang masih kosong, dan melebur dengan yang lain entah tentang apa yang mereka perbincangkan.
Cukup lama mahasiswa dalam kelas itu berbincang hingga mereka menangkap banyangan dari arah pintu kelas dan semakin jelas, ternyata dosen yang akan mengajar mereka tengah memecah jalan menuju meja dosen yang berada dipojok kanan depan kelas.
Melihat dosennya langsung membuat tenggorokan Irtiza kering saking gugupnya padahal tadi ia meminum es jeruk, sementara Faiza langsung merasakan sakit perut dan ingin ke kamar kecil. Suara dosennya memecah keheningan kelas saat memanggil nama mereka berdua untuk segera mempresentasikannya. Kedua gadis itu melangkah menuju depan kelas dengan percaya diri untuk menutupi kegugupan.
“Duuuh, bisa-bisanya aku mules. Padahal itu sudah presentasi kesekian yang kulakukan.” Ucap Faiza kesal dengan dirinya sendiri, dan mendudukan badan dibangku taman kampus.
“Hmm Ca.” Faiza mengehentikan katanya dan melihat Irtiza yang sedang mengecek HPnya.
“Hm?”
“Kak Arsen kok kayak nggak kenal aku yah ?” Tanyanya dengan ragu.
“Laah, kan kalian cuma ketemu sekali aja Za, itupun udah beberapa bulan lalu.” Ucap Irtiza tanpa mengalihkan pandangannya dari HP.
“Iya Ca, tau.” Ucapnya lirih. “Caaa, kamu percaya cinta pandangan pertama ?” Tanya kembali.
“Haaa, maksudnya ? Aku sampai sekarang belum tau cinta itu apa.” Tatapan Irtiza tertuju pada sahabatnya itu.
“Iya Ca, dari sore itu aku nggak bisa buat nggak mikirin dia Ca, aku udah coba buat ngalihin perhatianku Ca. Tapi sampai sekarang aku nggak bisa Ca.” jujur Faiza dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Siapa yang kamu maksud Za ?” Tanya Irtiza.
Faiza memejamkan matanya dan membuat cairan bening dari matanya terjatuh “Kakakmu Ca.”
“Haaaaa, Za. Kamu, kamu suka kak Arsen ? Tanya Irtiza memastikan.
Faiza hanya mampu mengangukkan kepala dan mengusap air matanya. “Aku selalu menanti untuk kembali bertemu Ca. Iya aku tau ini salah Ca, tapi aku nggak bisa buat cegah perasaan aku.”
Mendengar pernyataan Faiza, Irtiza menatap kesembarang arah, ia benar-benar tidak mengerti. Segera dirangkul sahabatnya itu, “Zaa, ini bukan salahmu kok. Cinta itu fitrah dan dimiliki oleh setiap orang. Tapi Zaa, kakak sekarang sedang ada masalah dengan perasaannya, tepatnya dengan seseorang yang selama dicintai, khitbah dia tertunda atau mungkin saja batal.”
“Haaa, ap apa maksudmu Caa ?” Tanya Faiza dan menjauhkan tubuhnya dari rangkulan Irtiza.
Irtiza segera memegang kedua tangan Faiza. “Iya Za, sekitar dua bulan yang lalu kakak berniat untuk mengkhitbah gadis yang selama ini ia cintai. Dia mencintai gadis itu jauh sebelum kamu mengenalku apalagi mengenalnya Za. Sampai hal yang nggak disangka-sangka terjadi, tapi aku nggak bisa cerita detailnya apa Za.” Ucap Irtiza pelan dan memberikan pengertian pada Faiza.
__ADS_1
“Siapa gadis itu Caa?”
“Gadis itu Qanita Zaa.” Jawab Irtiza.
Faiza langsung menutup mulut tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia merasa bersalah bahwa telah menyukai pria yang juga dicintai oleh temannya. “Caa, tolong jangan beri tahu Qanita tentang perasaanku Caa, tolong. Bagaimanapun caranya aku akan berusaha menghapus perasaan ini. Aku menyukainya, manusiawi aku menginginkannya tapi aku akan berusaha untuk tidak menyukainya lagi.” Jelas Faiza.
Irtiza hanya menatap dalam Faiza “minta doanya Zaa, semoga mereka akan segera baikan dan bersatu.” Kemudian kembali merangkul Faiza “Makasih atas pengertianya Za, terima kasih juga karena kamu tidak egois dengan hal ini.”
Faiza hanya mengangguk mendengar ucapan terima kasih Irtiza, dan semakin mengeratkan rangkulan pada sahabatnya itu.
***
Dikantornya Arsen juga semakin ogah-ogahan dan tak karu-karuan. Ditatapnya dengan nanar setumpuk map yang harus segera dipelajari. Sedetik kemudian tangannya menyingkirkan paksa tumpakan tersebut dan membuat Andri yang tengah sibuk mengerjakan tugas terkaget.
Dilihat sang atasan begitu kacau, dasi yang tadi pagi melekat sempurna dan tergantung rapi dilehernya kini sudah urak-urakan. Dengan perasaan sedikit was-was Andri berdiri dari tempat duduk dan membereskan map yang berserakan kemudian meletakkan di atas meja depan sofa yang digunakan untuk menerima tamu perusahaan.
Tatapan Andri melihat wajah kacau Arsen yang menengadah sambil memejamkan mata. Entah disadari ataupun tidak setetes cairan bening mengalir dari sudut mata kiri Arsen.
“Sakit Ndri, sakit.” Gumamnya lirih pada sang asisten.
Andri hanya mampu memejamkan mata dan memilih duduk di sofa yang berada didekat meja kerja Arsen. “Istigfar bos, jangan seperti ini.” Saran Andri.
Arsen hanya mendengar ucapan Andri dan beristigfar dalam hati. “Apa sudah saatnya untukku membuka hati pada yang lain Ndri. Aku sudah tidak kuat menahan sakit lagi Ndri.” Ucapannya yang semakin lirih, dan air mata semakin mengalir diujung matanya yang masih terpejam.
Lagi-lagi Andri hanya bisa menghela nafas dan mengambil benda pipih dari saku celananya kemudian mengirim pesan pada seseorang.
“Kita pulang sekarang.” Ucap Arsen dan berjalan mendahului Andri dengan keadaan kacau dan tangan yang sedang menenteng jas.
Andri menatap punggung Arsen sekilas dan mengikutinya.
***
Gurat senja sudah terganti dengan cahaya rembulan dan gemerlap bintang. Qanita yang baru saja membantu kakaknya didapur tengah berbaring di atas tempat tidur sambil mencari kontak ibunnya.
“Assalamualaikum bu.”
Waalaikumussalam nak. Sudah makan ?
“Alhamdulillah sudah bu, tadi juga sekalian bantuin kak Syi.”
Syukurlah kalau gitu.
“Buu, dia apa kabar ?”
Dia ? dia siapa nak ? tanya Maya yang tidak mengerti maksud Qanita.
“Arsen bu.”
Hmm, ibu liat dia baik-baik saja nak. Insya Allah. Pertanyaan Qanita membuat Maya tersenyum dan Abdillah juga menyunggingkan tipis senyumnya.
“Syukurlah bu. Bu, mungkin sudah saatnya Anit membuka hati untuk yang lain bu.”
Aniiit, kamu ngomong apa nak ? Maya terkejut mendengar ucapan anaknya.
“Iya bu, sepertinya kita hanya akan saling menyakiti jika bersama. Belum saja, Anit sudah seperti ini bu.”
Kamu tau dari mana nak ? Jangan berandai-andai tentang apa yang akan terjadi nanti. Jangan bilang kalian akan saling menyakiti sementara kalian saling mencintai. Tutur Maya.
Qanita hanya dibuat diam dengan ucapan Maya, ia tak mengelak ataupun membela diri, karena memang begitu adanya.
Sebelum kamu ambil keputusan untuk benar-benar membuka hati pada orang lain, pikirkan baik-baik nak. Jangan sampai suatu saat kamu menyesal dengan keputusan yang kamu ambil. Sekarang kamu istirahatlah, Assalamualaikum. Tutup Maya
__ADS_1
“Waalaikumussalam.” Qanita hanya memejamkan mata setelah menjawab salam Maya rasanya ia sudah bosan untuk menangis, kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.