
Siang telah beberapa jam berlalu, dan sore menghampiri. Gurat-gurat jingga mulai terlihat dibatas langit. Menandakan matahari akan kembali ke peraduannya.
Jalan mulai ramai dilalui orang yang kembali setelah seharian bekerja. Tak terkecuali Qanita. Namun, ditempat lain masih ada laki-laki yang berkutat dengan setumpuk lembar kertas dan siap untuk dipelajari. Ia dia adalah Arsenio dan didampingi oleh Andri yang setia berada disampingnya.
Arsen terlihat begitu fokus dengan kertas yang ada digenggamannya. Meski begitu, dalam hatinya tidak ada satu orangpun yang tahu, kecuali ia dan sang pemilik hati. Dipandaginya kertas itu lekat-lekat hingga tanpa sadar genggamannya mulai keras menandakan adanya guratan emosi yang ingin diluapkan dari dalam diri.
Andri menyadari atasannya sepanjang hari tak fokus dan ingin selalu marah-marah, mulai merasa ingin megetahui penyebabnya.
“Bos kenapa ?”
“Ah, tidak apa-apa. Mungkin sedikit capek Ndri.” Jawab Arsen tanpa mengalihkan pandangan kertas digenggamannya.
“Kalau capek kita pulang saja bos, besok bisa dilanjutkan kembali.” Ucap Andri memberi saran.
“Bentar lagi Ndri, ini nanggung. Dikit lagi.” Kata Arsen.
Andri hanya menghela napas panjang dengan ucapan atasannya. Ia tahu ketika atasannya sedang kalut maka ia akan melampiaskan pada kerjaannya. Andri cukup beruntung karena bosnya tidak melampiaskan emosi pada hal-hal yang kurang baik dan bisa berakibat fatal pada kesehatannya.
Waktu kini berlalu, adzanpun sudah mulai berkumandang diseluruh penjuru kota. Namun Arsen dan Andri masih sibuk dengan tugasnya masing-masing.
“Ndri, sudah magrib ayo pulang. Tapi kita mampir di masjid terdekat dulu. Takutnya nyampe rumah magrib sudah habis.” Ucap Arsen sambil berlalu dari ruangannya.
Andri yang mendengar ucapan atasannya segera berjalan dibelakang, dan seulas senyum tersungging dari bibirnya.
“Inilah salah satu alasan aku tetap setia disampingmu, meskipun mulutmu kadang pedas kayak cabe. Tapi tidak pernah sekalipun terlontar kata kotor, dan yang paling utama kamu selalu mengutamakan yang Kuasa di atas segalanya.” Pikir Andri mengekori Arsen.
***
Setelah menumpuh perjalanan kurang lebih limabelas menit, Arsen dan Andri tiba disalah satu masjid terbesar dikotanya. Kedua laki-laki itupun segera berjalanan ketempat wudhu mensucikan diri sebelum menghadap sang Pencipta. Mereka berdua larut dalam sholat, mengadukan segala yang mereka lalui seharian ini meminta petunjuk atas kebuntuan yang dialami, meminta ketenangan atas kegundaan, dan meminta kesabaran melalui semua ketentuan yang diberikan pada mereka.
Tak terasa waktu kian berjalan, kini mereka telah melaksanakan keawajiban. Arsen berjalan didepan Andri tanpa berkata sepatah katapun. Seperti biasanya Andri berada dibelakangnya. Melihat Arsen seperti itu lagi memuat Andri ingin menanyakan penyebabnya.
“Mau langsung pulang bos ?” tanya Andri yang mengikuti langkah Arsen ke tempat mobil diparkirkan.
“Nggak tahu Ndri, aku belum ingin pulang. Kita makan aja dulu Ndri.” Ucap Arsen sambil memasuki mobil.
“Oh, siap bos.” Jawab Andri.
Mobil yang dikendarai Andri kembali memecah jalanan, tanpa terasa sampilah mereka disalah satu restoran. Memang tidak terlalu mewah tapi memberikan kenyamanan bagi pengunjungnya.
“Kamu selalu tau Ndri dengan apa yang saya rasakan sekarang.” Ucap Arsen sembari mengamati bagunan restoran tersebut.
“Terima kasih pak.” Jawab Andri tiba-tiba formal.
Arsen cukup kaget dibuatnya, dengan sektika kepalanya diarahkan pada Andri dengan pandangan keheranan. “Tumben kamu panggil saya pak. Biasanyakan….,” Arsen tak melanjutkan perkataamya dan berjalan menuju pintu masuk restoran.
Andri hanya memutar bola matanya tanpa membalas ucapan Arsen, dan memilih mengikuti atasannya. Mereka berdua memilih tempat duduk paling pojok. Rasanya pojok merupakan tempat favorit mereka berdua. Baik Arsen ataupun Andri tak mengerti kenapa mereka menyukai tempat yang berada dipojok, tapi sangat membenci jika dipojokkan.
Tak lama setelah mereka duduk, datanglah seorang laki-laki yang mengenakan seragam restoran tersebut. Pegawai restoran mulai menuliskan pesanan yang disebutkan oleh Arsen dan Andri. Setelah dirasa tidak ada pesanan lagi laki-laki tersebut meninggalkan meja Arsen dan Andri. Beberapa waktu Andri memperhatikan wajah Arsen.
“Bos kenapa ? Dari tadi pagi tuh muka kayak nggak dicuci aja.” Tanya Andri yang tengah melihat raut Arsen.
“Sembarangan ya kalau ngomong, lagian suka-sukaku, mauku tekuk kek, mau senyum seharian kek, mau nggak cuci muka kek, atau nggak mandi sekalian. Orang ini muka-mukaku, badan-badanku.” Cerocos Arsen.
“Hmm.” Hanya itu yang terlontar dari mulut Andri.
Arsen mengambil nafas dan membuangnya kasar “Dia akan segera dipersunting orang Ndri.”
Andri yang tidak mengerti kata-kata yang keluar dari mulut Arsen menatap sambil berpikir “Haaa, dia ? Dia akan menikah maksudnya ? Tapi dia itu siapa bos ? Apa dia itu_?
“Iya, udah nggak usah sebut namanya.” Timpal Arsen langsung.
“Tapi bos tahu dari mana ?” Tanya Andri penasaran.
“Aku liat langsung, trus dia juga ngeiyain.” Jawab Arsen jujur.
“Tapi kan_”
__ADS_1
“Udah nggak usah tapi-tapi an. Tuh makanan datang.” Potong Arsen yang melihat karyawan yang membawa makanan melangkah kearah mereka.
Sepeninggal karyawan tersebut Andri melanjutkan omongannya yang dipotong Arsen “Tapi kan bos, belum tentukan dia nerima tuh cowok.” Ucapnya cepat.
“Ndriiiiii.” Panggil Arsen sambil memelototkan matanya, hingga membuat Andri menelan salivanya.
Saat tengah menikmati makan malam, tiba-tiba Arsen ingin mengajak Royyan untuk bertemu. Dirogohnya kantong celana kemudian mulai mengetik pesan untuk Royyan.
“Yan, ketemu di tempat biasa, dan jam biasa. Bisa ?”
Tak berapa lama Arsen menunggu balasan pesannya dari Royyan, kini ponselnya bordering menandakan adanya pesan masuk. Benar saja ternyata itu dari Royyan.
Iyaa, bisa.
Hanya dua kata itu balasan dari Royyan.
“Ndri, abis makan kita pulang yah.” Ucap Arsen sebelum melanjutkan makan.
“Iya bos.” Jawab Andri disela kunyahannya.
***
Arsen kini tengah membersihkan diri dan bersiap-siap untuk sholat Isya dirumahnya, mengingat waktu Isya masuk saat dia berada ditengah jalan. Kemudian karena khawatir orang rumah akan mencemaskannya hingga ia langsung pulang kerumah.
Saat ia menuruni anak tangga bersamaan pula pintu rumahnya diketuk dan orang dari balik pintu mengucap salam.
“Iya, Waalaikumussalam. Sebentar.” Jawab Arsen menuju ruang tamu.
Dibukakannya pintu, kemudia dilihat siapa yang berada dibalik pintu.
“Eh, papa, adek. Arsen kira siapa.” Sapa Arsen sambil mempersilahkan Saad dan Azel masuk. Kemudian menutup pintu.
‘Kamu pulang jam berapa nak ?” Tanya Saad sambil berjalan menuju ruang tengah, diikuti oleh Azel.
“Isya pa, Arsen baru sampe rumah. Abis itu sholat sendiri tadi.” Jawab Arsen jujur.
“Ayo bang.” Azel pun mengajaknya juga.
“Arsen tadi udah makan diluar sama Andri pa.” Ucap Arsen.
“Hmmm, tumben kakak makan diluar. Kenapa ?” tanya Irtiza yang berjalan dari arah dapur menuju ruang makan dengan membawa peralatan makan dan diikuti oleh Diana yang membawa lauk pauk.
“Iya, kakak pengen aja tadi. Arsen mau keluar, mau ketemu Royyan.”
“Hmmm, ya sudah nak. Kamu pergi dulu gih, sebelum kami makan. Nggak baik ninggalin orang makan.” Ucap Maya sambil memberikan piring pada suami dan anak bungsunya.
“Iya ma, Arsen pamit dulu.Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.” Jawab anggota keluarga Arsen serentak.
Setelah menutup pintu rumah segera ia menaiki motor sportnya menuju tempat janjiannya besama Royyan. Arsen sengaja memelankan laju motornya didepan rumah Qanita, pintu rumah itu setengah terbuka menandakan kedatangan tamu. Hati Arsen kembali dibuat sakit oleh itu.
Setelah berkendara dengan pikiran dan hati yang kacau balau, tibalah ia dicafe tempat biasa menghabiskan waktu bersama Royyan. Arsen menuruni motor sportnya dan beberapa mata wanita memandang kearahnya dengan penuh kekaguman. Namun tak digubris olehnya, badannya kini dibawa untuk masuk ke dalam cafe dan memiilih tempat yang ia rasa nyaman. Cukup lama ia menunggu Royyan, iapun memutuskan untuk memesan. Tak lama setelah memesan ia melihat laki-laki tinggi, berhidung mancung dengan rambut cepaknya berjalan kearahnya.
“Sorry Ar lama. Ada yang ku urus tadi dihotel.” Sapa Royyan.
“Hmmm, Assalamualaikum.” Salam Arsen yang seolah menyindir Royyan karena tidak memberi salam lebih dulu padanya.
“Hehehe, Waalaikummussalam, maaf, maaf. Udah pesan ? ucap Royyan.
“Udah tadi, bentar lagi datang paling. Si zacky nggak ada yah ?” Tanya Arsen sambil celingak celinguk.
“Nggak tau, tanya aja sama pelayan yang datang nganter pesanan ntar. Kenapa kamu ngajak ketemu ? Ada masalah ?” Tanya Royyan sambil menatap layar HPnya entah apa yang dicek.
Arsen yang melihat Royyan tengah sibuk dengan HP padahal sedang bersama Arsen “Ya elah Yan, aku didepanmu Yan, bukan dilayar tuh HP.” Ucap Arsen ketus.
“Astaga Ar, ini aku ngechat emakku, mamaku, wanita yang ngelahirin aku. Ngasih tau aku lagi diluar biar dia nggak panik. Tadi aku keluar cuma ada asisten rumah doang. Orang tuaku pergi kondangan anak temannya. Kamu lama-lama kayak pacarku aja.” Jawab Royyan panjang lebar.
__ADS_1
“Iye iye. Emang kamu punya cewek ?”
“Enggak juga sih yah. Lupa. Hahaha.” Ucap Royyan sembari menertawakan kekonyolannya.
Arsen yang melihat pelayan mengarah kearahnya sambil membawa pesanan. Kemudian ia melontarkan pertanyaan dimana keberadaan Zacky. Pelayan itu tak mengetahui keberadaan adik ipar dari pemilik cafe tempat ia bekerja itu.
“Chat aja Ar. Kali aja dia sedang nggak sibuk sekarang.” Usul Royyan.
“Nggak deh Yan, besok-besok aja kita kumpul bertiga.” Jawab Arsen.
“Kamu belum jawab pertanyaanku, kenapa ngajakin ketemu ?” Tanya Royyan.
“Huuuuuuft dia hari ini ngasih jawaban ke tuh cowok Yan. Enggak tahu dah akhirnya ini gimana. Usahaku akan berakhir dimana dan akan seperti apa Yan. Udah saatnya kali yah aku nyerah Yan.”
Royyan hanya dapat menatap Arsen dengan wajah iba. Ia tahu bagaimana dalamnya perasaan Arsen pada Qanita. Tapi apalah daya, diapun tidak bisa berbuat apa-apa. Selain menyemangati dan menghibur Arsen.
“Sudahlah Ar, jika dia memang buat kamu Yang Kuasa akan mempersatukan kalian. Sudah, kamu udah usaha, udah doa juga. Kamu tawakkal yah.” Ucap Royyan dengan bijaknya.
“Yan, tadi kamu nggak jatuh trus kepalamu kebenturkan ? Atau nggak lagi kerasukan jin baik kan ?” Tanya Arsen saat mendengar kalimat tersebut dari mulut Royyan.
“Iya enggaklah Ar. Aku udah bisa jadi pakar cintakan ini.” Ucap Royyan dengan nada konyolnya.
“Hahahahaha, mau jadi pakar cinta ? Pacar aja nggak punya.” Tawa Arsen pecah, dan membuat Royyanpun ikut tertawa.
Royyan senang bisa membuat temannya ini tertawa meskipun hatinya bisa saja sedang menahan sakit. Setelah itu mereka hanya mengobrol santai ngalur ngidul sampai hal-hal konyolpun tak luput dari obrolan mereka.
Sementara diwaktu yang sama, ditempat yang lain sedang ada seorang wanita yang tengah duduk diantara ayah dan ibunya, sambil meremas jari tangannya yang mulai berkeringat. Iya, dia adalah Qanita Abdillah.
“Mohon maaf sebelumnya nak Qanita, mungkin nak Qanita sudah diberitahu oleh pak Abdi maksud kedatangan kami.” Ucap ustadz Faiz.
Qanita hanya mengangguk tanpa melihat kearah Ustadz Faiz dan Rizky yang berada didepannya.
“Langsung saja nak, Apakah kami terutama Rizky bisa mendengar dan mendapat jawaban dari CV yang dikirmkannya kepadamu ?” Tanya ustadz Faiz kembali.
Qanita menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan mata, memantapkan niat juga keputusannya. “Bismillahirohmanirrahim. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada kak Rizky yang sudah mengirimkan CVnya pada saya yang jauh dari kata baik ini. Saya harap apapun jawaban saya semoga ini yang terbaik bagi kita semua. Aamiin.”
Ditarik kembali nafasnya pelan-pelan dan dihembuskan dengan begitu saja. “Mohon maaf kak saya tidak bisa membalasnya seperti apa yang kakak harapkan. Semoga kakak mendapatkan yang lebih baik daripada saya.” Jawab Qanita mantap sambil menatap Rizky dan ustadz Faiz bergantian.
Baik kedua orang tua Qanita ataupun ustadz Faiz cukup dibuat kaget dengan jawaban yang dilontarkan. Tetapi tidak dengan Rizky, seketika kepalanya tertunduk dan menahan rasa sakit juga kecewa yang tidak bisa dibilang kecil.
Maya hanya mengelus punggung anaknya dan Abdillah menggenggam tangan kanan Qanita. Seolah memberi tahu bahwa mereka menghargai keputusannya.
“Boleh aku tahu kurangku dimana Qanita ? Agar aku perbaiki, hingga kamu bisa mengubah keputusanmu itu.” Ucap Rizky tiba-tiba. Ustadz Faiz tersentak akan ucapan anaknya, dan semakin menyadari betapa besar keinginannya untuk mempersunting Qanita.
Beberapa saat Qanita terdiam mencerna ucapan Rizky. Semnatara kedua orang tuanya tetap menggenggam erat tangan dan mengelus punggungnya.
“Kakak tidak kurang, menurutku kakak itu sangat baik bahkan begitu baik. Tapi apakah hati bisa dipaksakan kak ? Bukankah semakin dipaksakan akan semakin membuat luka ? Bukan hanya salah satu pihak, tapi kedua pihak akan merasakan luka.” Jawab Qanita yang sesekali menunduk dan melihat Rizky.
Mendengar jawaban Qanita, lagi-lagi Rizky dibuat terdiam dan menyadari apa yang tidak dimilikinya. Iya, dia tidak memiliki hati Qanita dan mungkin saja salah satu ruang kosong dalam hati itu sudah terisi.
Ustadz Faiz yang menyadari mulai adanya kecanggungan membuka suara kembali.
“Baiklah nak, kami menghargai keputusanmu. Terima kasih setikdaknya sudah mau menemui kami.”
“Maaf pak Ustadz, semoga jawaban saya tadi tidak membuat tali silaturrahmi kita renggang.” Ucap Qanita tulus.
“Insya Allah tidak nak. Bukan begitu Ky.” Ustadz Faiz meminta persetujuan Rizky.
“Eh, iya Qanita. Insya Allah tidak. Terima kasih juga karena telah berkenan menerima CVku.” Ucap Rizky dengan tulus.
Mendengar kalimat Rizky, membuat Qanita tersenyum tulus kearahnya. Tak berselang lama ustadz Faiz dan Rizky pamit pulang pada Qanita dan kedua orang tuanya. Diantarkan tamunya sampai depan rumah, kemudian pandangan Qanita manangkap tangan ustadz Faiz sedang mengelus sayang punggung Rizky sebagai pertanda untuk memberi semangat dan menyabarkan anaknya.
***
Jika beberapa jam yang lalu Arsen masih berada di cafe bersama dengan Royyan, kini ia sudah berada didalam kamarnya dan tengah bersiap-siap untuk melaksanakan sholat witir sebelum tidur. Setelah melakukan sholat witir, jam sudah menunjukkan pukul 22:30. Segera ia membersihkan tempat tidur sebelum merebahkan badannya, kemudian mematikan lampu kamar yang diganti dengan lampu tidur.
Sekali lagi diceknya HP sebelum masuk kealam mimpi. Melihat tak ada notif ataupun yang lainnya, HP tersebut diletakkan kembali ketempat semula. Kemudian mulai menyelam kealam mimpi. Namun sebelum tidurnya benar-benar lelap, samar-samar ia mendengar notif dari HPnya. Dengan kesal ia mengambil HP di atas meja dan melihat siapa yang mengiriminya pesan malam-malam.
__ADS_1
“Ngapain dia malam-malam ngechat ?” Gumam Arsen dengan rasa kantuk yang sudah tak tertahan, sontak ia melempar HP ke bawah tempat tidurnya. Kemudian melanjutkan tidur yang sempat terganggu dan kini ia benar-benar terlelap.