
Kudengar hari ini kamu bertemu dengan klienmu disini. Aku ingin bertemu denganmu besok siang. Akan kukirimkan alamat tempat kita bertemu. “Andri”
Sesuai dengan janjinya kemarin, pagi ini Andri mengirimkan alamat tempat ia akan bertemu dengan Tria. Iya gadis yang dikirimkan pesan oleh Andri kemarin saat Arsen sedang kacaunya. Rupanya mereka akan bertemu disalah satu restorant mewah dikota itu.
Seperti kesibukan Andri dihari kerja, hari ini juga sedang menunggu Arsen yang “katanya” hari tidak enak badan dan enggan untuk berangkat kekantor. Seperti itu yang didengar dari mulut Azel saat Andri dipesilahkan masuk untuk menunggu diruang tamu.
“Ndri, aku lagi nggak enak badan tau.” Celetuk Arsen saat menuruni tangga dan melihat Andri sedang mengecek HP.
“Kalau nggak enak badan ya istirahat lah bos. Nggak perlu kekantor, lagian nggak enak badan segar bugar gitu.” Cetus Andri melihat Arsen sekilas.
“Huh!” Dengus Arsen dan berjalan menuju meja makan. “Kamu ngapain masih liat HP, emang bisa kenyang ? Ayo sarapan.” Ajak Arsen.
Andri tadi hanya memakan sepotong roti dan meminum segelas jus delima kesukaannya, langsung mengangguk dan mengangkat tubuhnya dari kursi menuju meja makan. Keluarga itu dan Andri menikmati sarapan sambil diselingi dengan obrolan-obrolan kecil.
Setelah itu Andri dan Arsen menuju kantor. Sepanjang jalan Arsen hanya menatap layar HPnya dan rupanya laki-laki itu sedang mengecek saham perusahaannya yang sedang naik-naiknya. Terlihat seulas senyum di bibir Arsen.
“Bos, nanti siang saya ada janji dengan seorang teman. Jadi mungkin saya akan sedikit terlambat kembali kekantor setelah makan siang.” Ucap Andri dan memecahkan fokus Arsen.
“Kalau mau pergi pergi aja, nggak usah minta ijin.” Tutur Arsen ketus.
“Saya tidak meminta ijin, saya hanya memberi tau.”
“Hmmm, eh mau kencan kamu yah ?” Tanya Arsen penuh selidik, dan tersenyum menggoda kearah Andri.
“Anggap saja begitu.” Jawab Andri singkat.
“Sama siapa ? Tapi hari jadwalku kosongkan ?” Tanya Arsen kembali.
“Iya sama ceweklah, ya kali sama cowok. Iya kosong bos.” Jawab Andri dan mulai terlihat kesal. “Bagaimana mungkin aku bisa kelayapan jika jadwalmu padat hari ini.” Gerutunya dalam hati.
“Iya kan, bisa aja Ndri. Kan selama ini aku nggak pernah liat kamu dekat sama cewek gitu.” Jelas Arsen karena takut jika jika Andri tidak beres.
“Astagfirullah bos, saya masih normal sama bos saja yang kegantengan lebih sedikit dari saya, saya tidak berminat bos.” Ujar Andri dengan sedikit berapi-api.
“Hahahaha. Iya iya percaya.” Ucap Arsen. “Udah Ndri nikahin aja langsung, nggak usah lama-lama.” Saran Arsen.
“Laaaah, si bos apa kabar ?” Tanya Andri karena tak terima dengan ucapan Arsen seolah mengejek.
“eeeeh bro. Ingat anda lebih tua beberapa tahun dibanding saya yah.” Jelas Arsen dan menepuk punggung Andri.
Andri hanya menatap Arsen sinis dan pandangannya kembali fokus ke depan. Tak berapa lama Andri menyetir mobil tersebut berhenti dipelataran perusahaan milik keluarga Arsen. Arsen masih belum menyadari bahwa ia sudah sampai, bahkan satpam sudah memegang handle mobil untuk membukakan pintu untuknya.
“Ngapain berenti Ndri ?” Tanya Arsen tanpa menoleh.
“Sudah sampai kantor bos, makanya saya berenti.” Jawab Andri yang sedang menahan kekesalannya.
Arsen yang mendengar ucapan Andri, segera mengedarkan pandangan. “Eh iya yah. Kok cepet bener.” Ucapnya sembari bersiap keluar mobil.
Andri masih saya menggerutu kesal meski kini sedang mengikuti Arsen menuju ruangan. “Situ aja yang nggak nyadar. Ni orang butuh air putih satu galon perhari apa, biar fokus.” Namun tak terdengar oleh Arsen karena sibuk tersenyum manis pada karyawannya.
Jam makan siang sebentar lagi akan berakhir, Arsen memang meminta agar makan siangnya diantar keruangan karena harus memeriksa berkas yang kemarin dilemparnya sembarang arah. Cukup lama Arsen fokus pada berkas-berkas dihadapannya. Ia mendengar suara ketukan pintu dari balik ruangan. Dia melirik jam dipergelangan tangan kiri, rupannya waktu masih menunjukkan pukul 13:45.
“Cepet amat Ndri ketemuannya ? berantem kau sama dia ?” Tanyanya tanpa melihat siapa yang berada didepannya.
“Memangnya Andri ketemu sama siapa ?” Tanya orang yang tak dihiraukan oleh Arsen.
Arsen yang mendengar pertanyaan tersebut menoleh kerah pemilik suara. “Looh, papa. Ngapain kekantor nggak bilang-bilang ?” Tanya Arsen pada Saad.
“Memangnya kenapa ? Keberatan papa kekantor ?” Tanya saad yang akan mendaratkan bokongnya disofa.
“Iya nggak pa.”
“Ya sudah.” Jawab Saad. “Andri ketemu siapa ? klien ? Tumben kamu nggak ikut juga.” Tanya Saad yang seperti membombardir Arsen.
“Nggak, katanya dia mau ketemu temannya.” Ucap Arsen sambil memegang gagang telepon dan melakukan panggilan untuk meminta tolong membawakan kopi untuk sang papa.
“Ya sudahlah.” Ucap Saad tanpa mengalihkan pandangannya dari koran yang diambil dari atas nakas samping sofa.
__ADS_1
“Papa nggak mungkin kekantor kalau hanya bermodalkan kangen sama Arsen kan ?” Tanya putra sulungnya dengan sedikit menggoda.
Saad yang melihat Arsen seperti itu langsung bergidik geli. “Ar, kamu belum nggak beres kan ?” Tanya Saad penuh selidik.
Arsen hanya mendengus kecil tanpa niat menjawab pertanyaan papanya.
“Papa___” ucapan Saad terhenti saat melihat seseorang yang membawa nampan berisi satu cangkir kopi untuk Saad dan satu cangkir latte untuk Arsen, juga beberapa potong kudapan yang tertata rapi di atas piring.
Sepeninggal karyawannya, Saad melanjutkan ucapannya “Papa kesini mau ngasih kamu apresiasi, belum lama kamu papa seret paksa dari kantor cabang kesini, saham perusahaan semakin lama papa perhatikan semakin meninggkat. Ternyata nggak sia-sia papa paksa kamu.” Jelas Saad bangga dengan keputusannya.
Lagi-lagi Arsen tak menyauti ucapn Saad, ia kini malah sibuk dengan cangkir lattenya.
“Kamu jangan pernah berpikir apalagi bermimpi untuk kembali kekantor cabang. Biar papa bisa honeymoon tiap hari sama mamamu.” Tutur Saad dengan penuh senyum dan menatap Arsen.
Mendengar ucapan sang papa Arsen hanya menatap sekilas dan memutar kedua bola matanya.
***
Siang itu Andri tengah menunggu Tria. Ia menunggu sekitar sepuluh menit, pandangannya dialihkan pada seorang perempuan yang mengenakan blazer hijau gelap dan kulot hitam.
“Sudah lama ?” Tanya Tria dan mendudukan dirinya dikursi depan Andri.
“Lumayan.” Jawab Andri dengan nada datar dan dingin.
“Kamu dapat dari mana kontak pribadi saya ?” Tanya Tria tanpa basa-basi, mengimbangi sikap dingin Andri.
Andri dan Tria memang saling mengenal karena Arsen. Namun dari dulu Andri tidak pernah berniat untuk berbicara panjang lebar dengannya.
Andri tersenyum seolah mengejek Tria “Aku bahkan bisa mendapatkan lebih dari sekedar kontak pribadimu.”
Tria hanya menyunggingkan senyum kecil, ia sempat lupa bahwa dihadapannya itu seorang Andri Hartanto yang menjadi kaki tangan Arsen. Ia dikenal sangat cerdas dan cekatan.
“Iya, baiklah. Ada apa kamu mengajakku bertemu ?” Tanya Tria kembali.
Namun Andri tak menjawab pertanyaan Tria, malah menawarkan untuk memesan makanan seraya menyerahkan buku menu. Kejadian itu membuat Tria jengkel dan kesal.
“Apa secara tidak langsung kamu mengajakku makan siang ?” Tanya Tria.
“Apa itu yang kau mau ?” Tanya Andri. “Jika memang, anggap saja begitu.”
Tria hanya menggelengkan kepala dan menggerutu tak jelas.
Setelah memesan makanan, meja yang ditempati mereka berdua lengang tanpa suara, hingga akhirnya Andri membuka suara.
“Kamu cukup tangguh kembali kekota ini tak lama setelah kejadian itu.” Andri berucap entah itu mengejek atau mengapresiasi.
“Heh! Aku kembalipun karena terpaksa, klien perusahaan papaku harus segera ditemui dan yah lagi-lagi aku harus kembali lagi kekota ini.” Jelas Tria.
“Baguslah kamu kembali lagi disaat yang tepat.” Tutur Andri.
“Maksudnya ?”
Belum Andri berbicara lagi pesanan mereka tengah dibawakan oleh dua orang pelayan restoran, Andripun mengurungkan niatnya.
Setelah pesanan mereka datang, lagi-lagi Tria dibuat penasaran dengan ucapan Andri yang menggantung. Andri juga menyuruhnya untuk makan karena khawatir jika makanannya akan dingin dan menjadi tidak enak. Entah kengapa Tria malah menurutinya.
“Aku meminta maaf, kerena mengajak bertemu disaat kamu melakukan pertemuan dengan klienmu disini.” Ucap Andri disela kunyahannya.
“Haaaa ? Dia minta maaf ? sungguh sangat langka.” Batin Tria, kerena ia cukup mengenal Andri.
“Iya tidak apa-apa.” Ucap Tria tanpa mengalihkan pandangannya dari piringnya.
“Aku ingin meminta bantuanmu untuk bertemu dengan Qanita.” Ujar Andri yang terkesan tanpa basa basi.
“Untuk apa ?” Tria langsung menghentikan makannya.
Andri menjelaskan apa yang telah terjadi pada atasannya, “Iyaaa, untuk menjelaskan hubunganmu yang sudah berakhir dengan bos muda.” Ucap Andri diakhir ceritanya.
__ADS_1
“Aku tidak mau, dan aku tidak akan mau.” Ucap Tria penuh penekanan.
“Bukankah kamu sangat mencintai bos muda ?” Tanya Andri.
“Iya memang benar. Tapi sekarang mungkin sudah tidak, akupun berhak untuk bahagia. Dan aku ingin dia merasakan apa yang pernah aku rasakan.” Jelas Tria dengan sedikit kesal.
“Konsep cinta macam apa itu ?” Tanya Andri dengan seulas senyum mengejek.
Tria hanya diam dan mematung tanpa tau harus berkata apa.
“Bukankah kamu juga ingin bahagia ? Lalu kenapa masih ada dendam dihatimu ? Bagaimana kamu akan bisa merasakan bahagia jika masih menyimpan dendam ?” Tanya Andri membombardir Tria.
Lagi-lagi Tria hanya diam, tak bisa menjawab.
“Menurutku jika kita ingin bahagia, jangan pernah menyimpan dendam bahkan pada orang yang telah memberi kita rasa sakit yang amat. Tidak ada salahnya kita membantunya untuk bahagia jika kita tidak bisa menjadi alasannya untuk merasakan bahagia.” Tutur Andri kemudian meminum air putih dalam gelasnya.
Deru nafas Tria semakin jelas seolah ada yang tertahan didadanya. Ia merasakan hawa panas dimatanya dan penglihatannya itu tengah berkaca-kaca.
“Hubungi aku, dimana tempat aku akan menjemputmu setelah jam kerjaku berakhir.” Ucap Andri kemudian melangkah meninggalkan Tria, namun sebelumnya ia mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya kemudian diberikan pada Tria.
Andri meninggalkan restoran kemudian menuju kantor, sementara Tria masih mengingat apa yang dikatakan Andri. Entah kenapa ia membenarkan ucapan pria itu. Diusap air matanya dipipi dengan sapu tangan pemberian Andri, dan ia bisa mencium aroma parfum Andri yang menurutnya begitu menenangkan namun sangat misterius.
Perlakuan sederhana pria itu membuat Tria merasakan sangat dihargai padahal ia sangat tahu bagaimana perlakuan Andri terhadapnya selama ini. Ia belum pernah menerima perlakuan tersebut bahkan dari Arsen yang selama ini begitu dicintai. Ia merasakan Andri jauh berbeda dari yang dikenal selama ini.
***
Baru saja Andri tiba diloby kantor, ia merasakan HPnya bergetar. Rupanya pesan dari Tria, dan sedetik kemudian senyum menghiasi wajah tampannya. Iapun melanjutkan langakahnya menuju ruangan, ia juga sudah memasang badan jika akan terkena omelan dari bosnya.
Sore kini mulai datang, matahari sudah condong kebarat. Andri mengantarkan Arsen menuju rumahnya. Sepanjang jalan ia melihat Arsen lebih baik dari pagi tadi, namun bukankah itu baik, dan Andri tak mau mengambil pusing. Sesampainya dirumah, Andri membukakan pintu mobil untuk Arsen. Kemudian segera pamit tentu sebelumnya mengatakan “sampai jumpa besok pagi bos”.
Andri segera melajukan mobil menuju alamat yang dikirimi oleh Tria. Sesampainya dialamat tersebut, ia melihat Tria sudah menunggu dan duduk salah satu bangku taman. Andri menuju Tria dan diajak kemobil, kemudian melajukan mobil kealamat yang didapatkan dari orang kepercayaanya.
Cukup lama Andri berkendara dan kini mulai memasuki salah satu perumahan yang menurut informasi tempat tinggal Qanita sekarang. Dengan pelan Andri melajukan mobil untuk mencari alamat jelas. Sementara Tria mulai terlihat gugup dan meremas kedua tangannya.
“Jangan gugup begitu, Qanita bukanlah seperti yang dilihat.” Ucap Andri menenangkan Tria. Namun Tria tak menjawab.
Mobil yang dikendarai oleh Andri berhenti didepan salah satu rumah. Kebetulan didepan rumah terlihat seorang perempuan sedang menggendong bayi. Andri hanya memberi anggukan dan mengarahkan pandangannya kepelataran rumah tersebut. Tria mengikuti arah Andri.
“Berdua.” Pinta Tria dan Andri menganggukan kepalanya.
“Assalamualaikum.” Salam Andri setelah berada didepan gerbang.
Qanita mengalihkan pandangannya pada orang yang mengucap salam “Waalaikumussalam.” Kemudian melihat Tria berada disamping Andri.
“Boleh kami masuk ?” Tanya Andri.
“Eh, ia mas silahkan. Buka aja nggak dikunci kok.”
“Maaf yah, kami datang sore-sore gini.” Ucap Andri, sementara Tria mengekor dan memegang belakang jas Andri.
“Iya nggak apa-apa. Ayo duduk mas, Tria.” Qanita sambil mengulas senyum pada Tria.
“Sungguh, terbuat dari apa hati gadis ini.” Batin Tria, kemudian berjalan menuju kursi.
“Sebentar yah saya antarkan Lia kedalam dulu sekalian buatkan minum.” Ucap Qanita yang hendak beranjak kedalam rumah.
“Tidak usah Anit. Tria ingin berbicara denganmu. Aku tinggal kemobil dulu.” Ucap Andri dan meninggalkan keduanya.
Qanita mengurungkan niat dan duduk dikursi yang ditinggalkan oleh Andri “Ada apa ?” Tanya Qanita.
Tria menarik nafas dan menceritakan semuanya. Sedangkan Qanita hanya mendengarkan apa yang diceritakan Tria.
“Beri dia kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.” Pinta Tria. “Aku tau dari sorot matamu, kamu begitu mencintainya bahkan lebih besar dari cintaku padanya.” Ujar Tria kembali.
“Aku pamit dulu, sudah sangat sore. Assalamualaikum” dan mengelus lembut pipi Lia yang berada dipangkuan Qanita. Kemudian berjalan menuju mobil tempat Andri menunggu.
Qanita hanya mampu menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata.
__ADS_1