Kisah Ini Bernama Cinta

Kisah Ini Bernama Cinta
Bab 6 Qanita Abdillah


__ADS_3

“Qa, tunggu.” Panggil Arsen saat menyadari gadis tersebut telah pergi dari hadapannya, dan kini hanya terlihat punggungnya dibalut jilbab instan. Sia-sia dipanggil dan yang didapat adalah tolehan dari beberapa orang disekitar mereka.


“Jangan buang suaramu sia-sia, dia udah pergi.” Ucap Royyan, sambil menarik Arsen masuk ke cafe.


Dengan tatapan melas dan tubuh yang masih gemetar membuat Arsen enggan untuk masuk. “Yan kayaknya aku pulang aja deh, tiba-tiba nggak enak badan.” Arsen beralasan.


Melihat Arsen dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan membuat Royyan merasa iba “Sebesar itu yah perasaanmu pada dia, bahkan saat diomelin dan ditatap dinginpun buat kamu deg degan dan sekacau ini Ar.” Batin Royyan.


“Ar, ya nggak bisa lah, kita udah sampai nih, kita juga udah hampir tiga tahun nggak ketemu, dan itu gara-gara kamu nggak pualng. Kamu kalau pulangpun pas hari besar doang. Keluar rumah aja kagak, boro-boro ketemu sahabat forever kamu ini.” Ucap Royyan dengan wajah yang tak kalah memelas.


Melihat Royyan yang masih saja memaksa, membuat Arsen tak tega. Diapun melanjutkan langkah memilih tempat duduk paling ujung sama seperti dulu. Tak ada yang berubah dengannya selama tiga tahun ini, terutama perasaannya.


“Mau pesan apa ?” Tanya Royyan.


“Latte aja Yan”. Jawab Arsen singkat.


Kemudian Royyan menatap pelayan tersebut “Latte sama Cappuccino, trus sama ini.” Kata Royyan sambil mengarahkan telunjukknya ke gambar camilan cafe tersebut. Keduanya memang begitu menggemari minuman yang mereka pesan.


Melihat Arsen yang kini uring-uringan membuat Royyan tersenyum kecil. “Kalau belum melupakan kenapa kamu pulang Ar ?” Tanya Royyan.


“Sepertinya sudah saatnya untuk berdamai Yan, ditolak olehnya beberapa tahun lalu itu emang sakit sih, apalagi dia yang memiliki hatiku bertahun-tahun. Tapi aku nggak mungkinkan Yan menghindar terus bukankah aku terlalu pengecut ?” ucap Arsen sambil melempar senyum sinis seolah menyindir dirinya.


Royyan hanya bisa tersenyum mendengar ucapan yang kelaur dari mulut Arsen, entah itu benar-benar dia atau bukan.


“Dia nggak sadar Yan, dulu aku gonta ganti pacar buat ngehindarin dia, mau hapus perasaanku ke dia, yang dia sama sekali nggak mau peduli, bahkan meilirik saja tidak. Aku tau, dia bahkan sama sekali nggak suka sama aku, itu sebabnya aku kayak gitu. Sampai aku berusaha ngungkapin perasaanku kedia, aku malah dikata playboy, dan mau mainin perasaan dia. Sudahlah Yan.” Kata Arsen panjang.

__ADS_1


“Iya sudahlah.” Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Royyan.


“Eh setengah waras kamu tau aku pulang dari mana ? kamu masang alat pengintai atau ngirim mata-mata buat ngawasin aku ?” Tanya Arsen yang kesan seperti menuduh.


“Dasar miring. Kurang kerjaan banget aku. Tadi pagi liat kamu didepan kampus Irtiza makanya ku telpon buat mastiin dan nanya kamu dimana kan tadi. Perasaan ku udah tau kamu pulang, kamu lupa kita kan sahabat forever.” Imbuh Royyan dengan santai.


Setelah Arsen memainkan adegan mellow, kini kekonyolannya mulai terlihat. Tak berapa lama datanglah pesanan mereka yang diantar oleh pelayan cafe. Pelayan tersebut mengamati mereka berdua, untuk memastikan apa yang sedang dilihat.


“Arsenio kan ? Arsenio Ar Rajab kan. Dan kamu Arroyyan Alfarizi kan ?” Tanya pelayan tersebut sambil menyebutkan nama panjang mereka.


Arsen dan Royyan lagi-lagi dibuat bengong. Kini mata Arsen memicing sambil mengingat sesuatu “Bentar bentar, kamu Zacky Insani kan ? temen dekat kita berdua pas SMA yang sering ngajak bolos pelajaran buat makan dikantin kan ?” Arsen malah balik bertanya.


“Hahaha, masih ingat aja kamu Ar, kamu Yan ingat nggak ?” Kata laki-laki yang kini memegang nampan tersebut sementara isinya sudah dipindahkan ke meja yang berada didepan Arsen dan Royyan.


Royyan yang baru saja menyadari itu kemudian setengah berteriak dan tidak peduli jika mata tengah menatapnya penuh arti “Astaga Zacky, nggak nyangka ini kamu. Aku beberapa kali kesini saat Arsen nggak ada, tapi nggak pernah ketemu kamu. Kamu udah berapa lama kerja disini ?” Langsung saja Zacky disembur dengan pertanyaan yang tanpa saringan keluar dari mulut Royyan.


Arsen dan Royyan yang mendengar penjelasan Zacky hanya ber Oh.


“Hmm, pantes aja bajumu beda sama yang lain.” Timpal Royyan.


Zacky melihat cookies yang dipesan oleh Arsen dan Royyan kini tersenyum simpul “Tadi dia kesini juga beli ini Ar, yang ku dengar dari pegawai sih dia sering beli ini. Apa sampai sekarang kamu masih suka sama dia ?” Ucap Zacky sambil menunjuk cookies yang tengah berada dalam piring tersebut.


Arsen yang mendengar Zacky bertutur dan langsung saja mengetahui “dia” yang dimaksudkan oleh teman lamanya itu.


Royyan kini melihat Arsen sedang memandang cookies yang tadi diambil dan kini berada ditangannya. Kemudian menatap Zacky dengan gemasnya. Zacky yang bisa mengartikan tatapan Royyan kini tengah menangkupkan tangan diantara hidung dan keningnya. Bertanda meminta maaf atas kecerobohannya.

__ADS_1


Zacky kini melempar pandangannya pada Arsen yang tengah mengunyah cookies, yang sebelumnya sempat diperhatikan lama. “Beruntungnya dia Ar, dicintai oleh laki-laki sepertimu. Meskipun dulu kamu menjalin hubungan dengan yang lain. Tapi hatimu tetap ada nama dia. Nggak nyangka aku Ar, kamu luluh lantak kayak gini karena dia. Udah nggak ada Arsen yang petakilan saat kamu mikirin dia. Perasaan kamu sama dia nggak pernah berubah Ar bahkan sekarang yang kulihat makin besar.” Batin Zacky melihat Arsen.


Arsen, Royyan dan Zacky berteman dekat saat masih sekolah. Berpisah saat Zacky memutuskan untuk kuliah keluar negeri seperti yang dinginkan oleh kedua orang tuanya. Arsen yang membawa perasaannya memilih kuliah diluar kota tempat kantor cabang papanya berada sambil belajar menjalankan perusahaan. Hanya Royyan yang kuliah dikota mereka, karena Royyan anak tunggal dan tak tega meninggalkan kedua orang tuanya, meski ada asisten rumah tangga dirumahnya. Kesibukan mereka yang membuat putusnya komunikasi, namun karena Arsen masih bisa pulang walaupun hanya sesekali, jadi Royyan bisa dengan mudah mengetahui kabar Arsen. Sementara Zacky tidak bisa selalu dihubungi, hingga berujung pada putusnya komunikasi. Kini takdir mempertemukan mereka kembali.


Royyan dan Zacky memang sering menjadi tempat berkeluh kesah Arsen, begitu juga sebaliknya. Sehingga tak heran mereka berdua mengetahui kisah Arsen dengan gadis yang begitu membuatnya luluh itu. Mereka juga sepakat bahwa tidak akan menyebut nama “Qanita, ya Qanita Abdillah” didepan Arsen secara langsung. Qanita lah yang membuat Arsenio bertekuk lutut dan tak mampu membuka hati untuk gadis lain, meski berganti-ganti pasangan.


Kini ketiganya yang baru dipertemukan kembali, tengah tertawa sambil mengingat kekonyolan saat masih sekolah dulu. Tak jarang mereka menjadi pusat perhatian saking hebohnya.


Waktu sudah menujukkan hampir tengah malam, keadaan cafe pun semakin sepi. Arsen dan Royyan memilih untuk pulang karena besoknya mereka memiliki tugas masing-masing.


***


Laki-laki yang beberapa jam lalu berada di cafe dan ternyata adalah miik saudara ipar sahabatnya. Kini tengah bersiap-siap untuk beristirahat, tak lupa sebelum ia memasuki alam mimpi terlebih dulu berwudhu dan mendirikan sholat witir. Hal ini sudah menjadi kebiasaan Arsen saat awal kuliah, dan jika tak dilakukannya maka tidurnya tidak akan tenang bahkan tidak bisa terpejam. Senakal-nakalnya ia masih mengingat sang Pencipta.


Diingatnya kembali pertemuannya dengan Qanita dicafe tadi, sambil menarik nafas dan membuangnya sedikit kasar kemudian merutuki dirinya yang belum mampu berpaling dari seorang Qanita Abdillah yang sudah ia sukai bertahun-tahun lamanya. Bahkan saking lamanya diapun tidak tahu kapan perasaan itu mulai timbul.


“Qa, “Malu” itu yang aku rasa, saat aku menyampaikan perasaanku namun penolakan mentah-mentah yang aku dapat dari kamu. Kamu bahkan semakin hari semakin membenciku. Apa salah Qa aku menaruh perasaan sama kamu, perasaan yang tak pernah dimiliki oleh mereka yang pernah menjalin hubungan denganku Qanita Abdillah.” Gumam Arsen yang menatap langit kamarnya sembari mengusap cairan bening yang akan lolos dari sudut matanya. Berkali-kali Arsen ingin bangkit dan melupakan Qanita, namun berkali-kali juga takdir seoalah membawanya kembali pada Qanita.


Jika mendengar lirihnya ucapan Arsen saat ini akan membuat orang berpikir bahwa dia berlebihan dan telah dibawa oleh arus perasaannya, bahkan dia menikmati itu. Namun apakah orang yang mendengarnya itu pernah berada diposisinya saat ini ? Mencintai gadis yang bahkan sangat membencinya. Jangankan untuk berbincang dengannya, melihat wajah Arsen saja sudah membuatnya kesal.


Sebegitu besarnya rasa seorang Arsenio pada Qanita hingga dia memiliki panggilan sendiri untuk Qanita. Jika yang lain bahkan keluarganya memanggil Qanita dengan Anit/Anita, namun Arsen memilih memanggilnya Qa, nama depan Qanita. Orang terdekatnya tahu akan perasaan Arsen pada Qanita, hingga nama gadis itu tak pernah disebut secara gamblang untuk menghargai perasaannya. Arsen menyadari bahwa ia sudah luluh lantak karena Qanita, ia jatuh sedalam-dalamnya dan sulit kembali ke permukaan.


***


Berbeda dengan Arsen yang kini telah mulai memasuki alam mimpi. Qanita baru saja selesai berkutat dengan kerjaannya. Dipandangi laptopnya yang kini sudah dimatikan dan tersenyum.

__ADS_1


“Alhamdulillah, selesai juga.” Ucapnya pada diri sendiri. Tatapannya beralih pada beberapa buah map coklat yang masih tersusun rapi di atas meja kerja dalam kamarnya.


Jika sorot matanya beberapa detik lalu memancarkan kelegaan, namun kini seolah memancarkan banyaknya beban yang dipikul. Dengan cepat Qanita mengalihkan pandangan dari map tersebut dan berkata lirih “Aku bahkan belum tau apa ini sebenarnya, dan kini sudah ada lagi.” Iapun tersenyum sinis.


__ADS_2