Kisah Ini Bernama Cinta

Kisah Ini Bernama Cinta
Bab 19 Kembali Dingin dan Cuek


__ADS_3

Perasaan Arsen begitu kacau, dia berusaha untuk mengatur dirinya, “Andai kamu tahu aku jadi seburuk itu karena kamu.” Batin Arsen dan berbalik arah untuk berlari lagi meluapkan segala emosinya. Padahal sebelum bertemu Qanita ia sudah berniat untuk pulang.


Arsen kembali mengililingi kompleks perumahan mereka, hingga tak menyadari bahwa matahari sudah mulai terasa panas dan segera membawa diri untuk pulang kerumah.


Sesampainya dirumah langsung menuju kamar dan segera membersihkan diri. Tak lupa juga ia berwudhu untuk menunaikan sholat Dhuha. Selepas itu ia mengecek HPnya berpikir ada yang mencarinya dihari minggu ini.


“Nasib nasib, gini nih kalau ngurusin kerjaan aja tiap hari. Yang nyari nanyain kabarpun gak ada. Giliran suka sama orang eh dianya yang__” Gumam Arsen pada diri sendiri dan tersenyum masam.


Diletakkannya HP ketempat semula dan berjalan menuju ruang tengah rumahnya untuk mencari orang dirumah tersebut. Namun sesampainya ia disana tidak dijumpai orang yang dicarinya.


“Maaa, paaa, deeek.” Panggil Arsen seperti mengabsen isi rumahnya.


“Kita dibelakang sayang.” Samar-samar ia mendengar suara Diana dari belakang rumahnya.


Mendengar suara tersebut Arsenpun melangkah menuju sumber suara. Sesampainya disana dilihat kedua orang tua dan kedua adiknya sedang bersantai sambil berbincang-bincang.


“Ayoo bang sini duduk.” Ajak Azel yang tengah lesehan diatas rumput dan ditemani dengan sepiring kue kering ditangannya.


Arsen tertegun dengan adik bungsunya, yang duduk di atas rumput. “Zel kursi masih ada tuh yang kosong.” Tutur Arsen dan menunjuk kearah kursi.


Azel hanya melirik sekilas kakak sulungnnya itu “coba deh bang duduk dulu sini, enak tau. Adem langsung.” Saran Azel.


“Ogah, abang udah mandi tadi.” Jawab Arsen dan duduk dikursi yang kosong tepat disamping papanya.


“Ya udah.” Ucap Azel singkat dan melanjutkan aktivitas makannya.


Keluarga tersebut kini larut dalam obrolannya dan membahas apa saja yang sekira bisa dibahas. Tak jarang juga saling menjahili satu sama lain, hingga mengundang gelak tawa diantara mereka.


Pandangan Arsen mulai enggan beranjak dari kolam ikan yang tak jauh dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju kolam tersebut. Kini otaknya kembali memutar kenangan-kenangan semasa kecil hingga remajanya. Disinilah biasanya dia akan menghabiskan waktunya. Entah hanya sekedar bersantai, membaca, ataupun saat suntuk.


Dilihatnya kolam ikan itu yang menurutnya selalu membuat pikiran tenang, apalagi mendengar gemericik air yang mengalir dikolam. Iapun mendudukan diri disamping kolam dan tangannya meraih makanan ikan yang tak jauh dari tempat duduknya.


“Masih sama.” Gumamnya sambil melempar makanan ikan kekolam.


“Iyalah masih sama, orang biasanya kita gantian buat bersiin. Buat ngasih makan juga, setelah nggak diurus sama yang punya.” Ucap Saad dengan nada setengah menyindir, dan sedang berjalanan mendekati Arsen.


“Hehehehe, makasih pa. udah mau ngurus peliharaannya Arsen.” Ucapnya sambil tersenyum kecil.


“Heee” Saad mengehela nafas. “Iya sama-sama.” Sambil menepuk bahu Arsen pelan. “Tapi ada hal yang harus kamu urus sendiri, dan papa nggak bisa bantu kamu.”


“Iya pa. Arsen tau.” Ucapnya sambil memandang ikan yang berenang didalam kolam.


***


Senin kembali menyapa dan itu artinya Arsen juga Qanita akan kembali pada rutinitasnya masing-masing. Sebuah mobil tengah terparkir didepan rumah Arsen, menandakan bahwa Andri sudah sampai dan akan menjemput Arsen.


Tak lama Andri menunggu, dari dalam rumah tersebut kini terlihat lima orang dengan usia, tinggi, juga jenis kelamin berbeda. Andri yang menyadari kehadiran bos besar dari perusahaan tempat ia bekerja sontak membungkukkan badan sebagai tanda hormat.


“Sama aku nggak pernah kamu kayak gitu Ndri ?” Tanya Arsen yang berada di belakang papanya.


“Yang gaji saya pak bos besar, bukan bos muda.” Jawab Andri, dan langsung mengundang gelak tawa dari Irtiza dan Azel. Sedangkan Saad, Diana hanya merespon dengan senyum.


Terlihat sekali tatapan Arsen yang kesal, namun dibalas dengan senyum mengembang dari Andri seolah tanpa dosa.


“Arsen berangkat dulu. Assalamualaikum.” Pamitnya dan masuk kedalam mobil.


Andri masih berada disamping mobil dan bertanya “Mbak Ica sama mas Azel nggak mau ikut sekalian ?”


“Nggak Ndri, saya yang nganter Azel, dan kakaknya hari ini mau diantar juga.” Jawab Saad dengan ramah.


“Ndri cepetan, jangan lama-lama ngobrol sama papa. Ntar punggungnya sakit kelamaan berdiri.” Tutur Arsen dari dalam mobil, tanpa melihat kearah Andri ataupun Saad.


“Ni anak, nyebar aib papa aja.” Timpal Saad dengan ketus, dan berjalan menuju mobil untuk mengantar kedua anaknya.


Andripun pamit pada Diana yang masih tersenyum dengan tingkah suami juga putra sulungnya itu.


Mobil yang ditumpangi Andri dan Arsen perlahan-lahan meninggalkan halaman rumah Arsen. Arsen melayangkan tatapannya kedepan rumah Qanita.


“Gimana ? Kamu sudah lakuin apa yang saya minta ?” Tanya Arsen tanpa mengalihkan pandangan.


“Sudah bos. Minggu lalu mbak Tria balik lagi untuk bertemu dengan klien papanya dan ini hari terakhirnya disini, sore ini akan kembali ke kotanya.” Jawab Andri yang tetap fokus menyetir.


“Buat dia cek out besok pagi. Aku ingin beretmu dengannya.” Pinta Arsen.


“Kenapa nggak ntar malam saja bos ?” Tanya Andri, dan berpikir bagaimana caranya agar Tria mau menuruti keinginan bosnya.


“Memangnya kamu akan tega liat dia pulang sendiri malam-malam, jarak tempuh kekotanya juga cukup jauh. Kamu ini.” Ucap Arsen dan mendengus kecil.


“Oh, baik bos.” Ucap Andri singkat. “Tapi kan__”

__ADS_1


“Sudah Ndri sudah. Jangan mancing emosi pagi-pagi.”


Andri hanya diam dan fokus menyetir.


***


Gurat senja sudah hampir hilang diujung barat, menandakan bahwa waktu Magrib akan segera habis. Dipelataran sebuah masjid terlihat dua orang pemuda tampan yang sedang menggunakan pantofel hitam nan mengkilap, dan wajannya masih membekas sisa-sisa air wudhu. Sungguh pemandangan yang indah.


“Bos, mbak Tria mau menemui bos malam ini. Kalau bos nggak mau malam ini dia akan cek out subuh besok.” Ucap Andri membuka percakapan antara mereka berdua.


“Oke, dimana ? Jam berapa ?” Tanya Arsen seraya berdiri setelah melakukan aktivitasnya.


“sekarang pun bisa. Dia bilang di restoran tempat ia menginap saja.” Jawab Andri.


“Baiklah, tolong antarkan aku kesana.” Pinta Arsen.


Mobil yang sedang dikendarai oleh Andri sudah terlihat memecah jalanan kembali. Tak butuh waktu lama mereka kini sudah berada diparikiran salah satu hotel terbesar dikotanya. Dengan langkah kaki tegap Arsen melangkah menuju tempat yang sudah ditetapkan untuk ia bertemu dengan mantan pacarnya.


Andri selalu setia berada dibelakang Arsen. Pemandangan itu sudah ada sejak beberapa tahun silam. Sejak Arsen memutuskan belajar mengurus perusahaan papanya. Arsen berhenti mendadak dan dengan spontan langkah Andripun terhenti.


“Dia duduk dimana Ndri ?” Tanya Arsen tanpa menoleh pada Andri.


Andri pun melihat sekeliling dan mencari meja yang sudah diduduki oleh Tria lebih dulu. Tak berapa lama mencari, Andri menuntun Arsen ke tempat dimana Tria telah menunggu.


Jika selama ini Tria sangat senang dengan kedatangan Arsen, namun tidak dengan saat ini. Gadis yang menggunakan blouse warna coklat dengan bawahan yang senada itu terlihat bergeming dengan tatapan datar.


“Sudah lama ?” Tanya Arsen sambil menarik kursi yang akan didudukinya tepat didepan Tria.


Tria hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


Andri cukup peka dengan keadaan atasannya saat ini, ia memilih untuk meninggalkan keduanya dan membuka meja sendiri juga memesan salah satu menu.


“Sudah pesan ?” Tanya Arsen kembali.


“Belum.” Jawab Tria singkat. “Langsung saja, kamu ngapain mau ketemu aku ?” Tanyanya tanpa berbasa-basi.


“Sebelumnya aku minta maaf, kalau aku udah kasar sama kamu tempo hari. Aku juga minta maaf, aku nggak bisa terus sama kamu. Aku udah coba, coba nerima kamu dengan segala perhatian-perhatian juga cinta kamu Ria. Tapi aku___”


“Udah cukup, nggak usah lanjutin.” Tria langsung memotong omongan Arsen. “Aku cukup tau diri Ar. Kalaupun aku tetap pengen sama kamu terus, yang aku dapat cuma sakit Ar. Jika selama ini aku pengen dapetin kamu gimanapun caranya tapi sekarang kamu nggak usah khawatir Ar. Aku mulai sadar Ar, aku juga berhak bahagia.” Jelas Tria panjang lebar dan terlihat indra penglihatannya kini mulai berkaca-kaca, nafasnya semakin berat.


“Aku permisi dulu Ar. Kamu baik-baik yah. Jaga kesehatan juga.” Ucap Tria dan meninggalkan Arsen sendiri yang sedang memperlihatkan ekspresi tak tertebak.


Tria berjalan dengan lunglai melewati meja Andri, namun tak dilihat oleh Andri. “Aku ingin memperjuangkanmu Ar, tapi gimana, kamu sendiri sedang memperjuangkan orang lain.” Batin Tria sambil memejamkan mata dan terbebaslah sebutir cairan bening dari ujung matanya yang sedari tadi ditahannya.


“Maaf, maafkan aku. Aku nggak bermaksud nyakitin kamu.” Gumamnya lirih, dan beranjak dari kursi untuk menuju meja Andri.


Tepat disamping Andri, Arsen terlihat menahan kekesalannya. “Ndri, bisa-bisanya kamu makan ?”


“Memangnya kenapa bos ? Orang saya lapar.” Ucap Andri seperti tanpa dosa.


“Pulang sekarang.” Ajak Arsen dan berjalan meninggalkan Andri dimejanya.


Andri terlihat menahan sedikit kekesalan dan mendengus kecil. Dilihatnya steak yang belum habis dimakan dengan tatapan iba.


“Hmm, sayangkan.”


Kemudian berjalan untuk membayar makanannya, dan dengan langkah cepat mengikuti Arsen yang sudah cukup jauh meninggalkannya.


***


Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Tria, Arsen mulai memikirkan cara untuk kembali dekat dengan Qanita yang kini mulai semakin cuek juga dingin padanya. Setelah memikirkannya sepanjang hari dikantor hingga pekerjaanya pun teraganggu akahirnya dia menemukan ide untuk kembali dekat dengan gadis yang dicintainya itu.


Sore itu terlihat mobil yang dikendarai oleh Andri berhenti tepat didepan rumah Arsen, untuk apalagi jika tidak untuk mengantar atasannya. Saat Andri hendak menutup pintu mobil setelah keluarnya Arsen. Dilihatnya laki-laki pemilik perusahaan tempat ia bekerja. Kemudian ia membungkuk sebagai tanda hormatnya.


“Assalamualaikum.” Ucap Arsen dan Andri (Andri masih sedikit membungkuk).


“Waalaikumussalam. Sudah pulang rupanya Ar ?” Jawab Saad dan menuju putranya juga Andri.


“Iya pa. Mau kemana ?” Arsen saat melihat papanya membawa kunci mobil.


“Mauu__.” Ucapan Saad terpotong saat mendengar suara Diana daridalam rumah.


“Paaa, kunci mobil udah kan.” Berjalan menghampiri sang suami didepan rumah, sambil mencari sesuatu didalam tasnya.


“Udah ma, ini loh.” Jawab Saad dan mengangkat tangannya untuk memperlihatkan kunci mobil ditangannya.


“Oo. Loh Ar sudah pulang ternyata. Mama mau kerumah sakit dulu sama papa.” Tutur Diana, dan menarik tangan suaminya untuk segera menuju mobil.


“Mari saya antarkan pak, buk.” Tawar Andri ramah.

__ADS_1


“Tidak usah Ndri. Kamu pulang saja, istirahatlah kamu pasti capek ngurusi pria disampingmu itu.” Ucap Saad yang berada disamping mobilnya sementara matanya mengarah pada Arsen.


“Eeeh, tunggu dulu pa, ma. Ngapain kerumah sakit ? Siapa yang sakit ? Arsen tanya dari tadi nggak ada yang jawab malah sibuk sendiri.” Cerocos Arsen pada kedua orang tuanya, yang dari tadi sibuk sendiri.


“Syiffa melahirkan.” Jawab Diana singkat, sambil memegang handle mobil. “Udah ayo pa, mama udah nggak sabar nih. Kali aja status baru Maya cepet ketularan ke mama.” Kemudian membuka pintu mobil, tanpa melihat Arsen yang seperti tersindir.


“Kita duluan para bujang.” Pamit Saad dengan nada mengejek. “Assalamualaikum.” Ucap Saad dan Diana seraya mobilnya menapaki aspal perumahannya.


“Waalaikumusslam.” Jawab Arsen dan Andri serempak.


“Sakit hatiku Ndri. Dengar mama sudah pengen punya cucu, aku calon aja masih gantung.” Ucap Arsen seperti memelas.


Andri hanya menahan tawa melihat ekspresi atasannya “Saya pamit dulu bos. Sampai bertemu besok pagi.” Kemudian membuka pintu mobil dan duduk dibelakang kemudi.


***


Keesokannya Arsen dan Andri tengah berada dikoridor rumah sakit. Mereka sengaja tak langsung pulang saat jam kerja berakhir karena ingin membesuk Syiffa sekaligus melihat bayinya yang mungil nan lucu sesuai dengan apa yang diceritakan Diana semalam, sepulangnya dari rumah sakit. Mendengar cerita sang mama membuat Arsen ikut penasaran dengan bayi perempuan dari kakak gadis yang dicintainya itu.


“Ndri kamu tau semalam mama tak henti-hentinya menceritakan bayinya kak Syi. Ah tidak, menurutku itu terdengar seperti nada mengejekku dan menyuruh untuk segera menikah.” Tutur Andri sambil berjalan dan mengamati nomor kamar, agar kamar yang ditempati Syiffa tak terlewat.


“Makanya cepat nikah biar nggak disangka ngejek terus.” Saran Andri dengan wajah yang dibuat sedatar mungkin, padahal ingin sekali rasanya ia terbahak. Bahkan kini tangannya yang sedang membawa sebuah parcel berisi buah dan satu bingkisan peralatan bayi itu terlihat bergetar karena menahan tawa.


Arsen berhenti didepan pintu yang menunjukkan nomor kamar Syiffa. Dibukanya pintu kamar dengan hati-hati seraya mengucap salam. Dari dalam kamar terdengar salam mereka dijawab oleh dua orang wanita.


Qanita dibuat membisu setelah melihat siapa yang tengah membesuk kakak dan keponakannya itu.


“Arsen, ayo masuk dek.” Syiffa menyapa Arsen dengan ramah.


Arsen menjawab ajakan Syiffa dengan senyum kecil dan melangkahkan kakinya menuju Syiffa. Sementara Andri meletakkan buah tangan mereka di atas meja tepat didepan Qanita. Kemudian bergabung duduk di sofa yang terletak tak jauh dari tempat duduk Qanita.


“Selamat yah kak, sudah jadi ibu sekarang.” Ucap Arsen. “Yang lain mana ?” Tanyanya sambil mengedarkan pandangan.


“Terima kasih Ar, kalian nggak perlu repot-repot bawa bingkisan segala. Mertua katanya lagi dijalan, ibu sama ayah pulang tadi bebarengan juga sama yang lain Irtiza sama Faiza juga. Mas Rafay lagi otw juga dari kantornya.” Jelas Syiffa panjang lebar.


“Oooo. Boleh saya gendong kak ?” Tanya Arsen pada Syiffa sambil menunjuk box bayi yang berada disampingnya.


“Boleh, hati-hati yah tapi.” Izin Syiffa.


Dengan hati-hati Arsen mengangkat bayi mungil itu dari dalam boxnya. “Masya Allah cantik sekali, hallo___” Arsen menghentikan perkataannya dan menatap Syiffa seolah bertanya nama bayi dalam gendongannya itu.


“Namanya Azaliadillah Rumi, panggil saja Lia Ar.” Ucap Syiffa menjawab tatapan mata Arsen.


“Hallo Lia, namaku Arsenio. Panggil saja Om Arsen.” Ucapnya pada bayi yang tengah tidur itu. “Azalia nama bunga, dillah dari kata nama Abdillah, nama keluarga ibumu nak, dan Rumi nama belakang ayahmu. Nama yang cantik secantik pemiliknya.” Tutur Arsen menjelaskan nama pada yang bahkan mendengarnyapun tidak karena berada dialam mimpi.


Rasa penasaran Andri membawanya untuk beranjak dari duduk dan memperhatikan bayi yang kini berada dalam gendongan Arsen.


“Memang benar ucapan buk bos menyuruh bos muda segera menikah, bayi secantik dan seimut ini siapa yang tidak ingin ?” Ucap Andri sambil menggeleng kepala dan melihat Lia.


“Sabaaar, calon mamanya lagi ngambek.” Bisik Arsen pada Andri sambil melirik Qanita yang sedang bermain ponselnya.


Andri hanya tertawa kecil mendengar ocehan ngawur bosnya itu.


“Dek, minta tolong bantuin kakak kekamar mandi ya.” Ucap Syiffa pada Qanita.


Dengan segera Qanita berdiri dan membantu kakaknya berjalan menuju kamar mandi. Kemudian menunggu kakaknya didepan pintu.


Saat menunggu kakaknya terdengar suara rengekan Lia yang berada dalam gendongan Arsen. Mendengar rengekan kecil Lia dan tubuhnya yang menggeliat membuat Arsen juga Andri panik tak tahu harus bagaimana.


“Tenangin bos, jangan sampai nangisnnya makin kencang.” Saran Andri.


“Iya iya.” Jawab Arsen. “Tenang ya Lia, tenang ya sayang.” Ucap Arsen mencoba saran Andri.


Lia bukannya tenang malah rengekannya semakin kencang, hingga membuat Qanita yang berdiri depan pintu kamar mandi menunggu kakaknya setengah berlari kearah dua laki-laki tersebut.


Refleks Qanita mengambil Lia dari gendogan Arsen. Pemandangan seperti itu diabadikan oleh Andri yang terasa seperti diabaikan.


“Cup, cup, cup. Sayang. Jangin nangis yah, mama lagi dikamar mandi. Cup, cup sayang.” Tenang Qanita untuk Lia.


“Perasaan tadi dia nggak nangis deh pas aku gendong.” Gumam Arsen pelan.


Mendengar Arsen berkata seperti itu, Qanita malah tak menggubrisnya. Sehingga Arsen merasa ia seperti tak terlihat dimata Qanita.


Setelah keponakannya tenang ia kembali menaruh didalam boxnya. Kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membantu kakaknya berjalan ketempat tidur.


“Mbak Qanita emang tidak pulang ?” Tanya Andri.


“Iya, tadi abis dari tempat kerja langsung kesini dulu. Tunggu Mas Fay sampai dulu mas.” Ucap Qanita lembut.


“Gila, Andri dipanggil mas, sedangkan aku. Boro-boro dipanggil mas disapa aja nggak.” Batin Arsen kesal.

__ADS_1


Andri hanya tersenyum dengan ekspresi bosnya setelah mendengar bahwa Qanita memanggilnya dengan sebutan “mas”.


Pelan Arsen berjalan duduk disamping Andri sambil menatap Qanita sendu “kamu balik lagi kayak dulu Qa, lebih baik kamu liat aku dengan ketus. Daripada kayak gini, aku ngerasa nggak terlihat dimata kamu. Aku seolah terhempas dari bumi Qa.” Batin Arsen.


__ADS_2