
Jika tadi ia menghabiskan pagi hingga menjelang sore dikantor sang ayah, kini gadis yang berlesung pipit itu tengah memarkirkan motornya dihalaman rumah. Samar-samar dia mendengar langkah kaki seseorang dari dalam rumahnya, dan setelah tahu siapa pemilik langkah tersebut. Sebuah senyum tipis diberikannya.
“Assalamualaikum Anit, baru pulang ? Kok Sabtu ngantor ?” Anita dibombardir dengan pertanyaan oleh Irtiza yang baru keluar dari rumahnya.
“Iya Ca. Waalaikumussalam. Ada beberapa kerjaan yang harus dikerjain tadi. Soalnya kemarin aku izin pulang cepet. Jadinya kerjaanku ada yang nggak selesai.” Qanita menjelaskan sambil berjalan kearah Irtiza yang berada diteras rumahnya.
Qanita yang semakin mendekat kearah Irtiza membuatnya semakin jelas melihat mata sembab Qanita, namun ia tak membicarakan hal itu. Ia hanya menanggapi penjelasan Qanita dengan anggukan kepala seolah memahami, meskipun sebaliknya.
“Kamu nyari aku ? Kok kerumah nggak bilang-bilang.” Tanya Qanita yang kini sedang duduk dan melepas alas kakinya.
“Ku kira kamu ada dirumah, kan ini hari Sabtu. Aku nganter sesuatu buat tante Maya dari mama sama buat kamu juga dari aku.” Jawab Irtiza yang masih berdiri dan tengah menatap Qanita.
“Memangnya kakakmu nggak ngasih tau kalau aku ngantor ? Tadi pagi dia liat aku mau kekantor.”
Mendengar Qanita berbicara seolah tak terjadi apa-apa membuat gadis tersebut cukup terkejut. “Nggak, kakak nggak bilang apa-apa tadi.” Berjalan menuju kursi disamping Qanita. “Anit, kamu marah ya sama kakak ?” Tanya Irtiza dengan memasang wajah sedih.
Qanita hanya dibuat tersenyum lebar dengan pertanyaan Irtiza, “Udah yah Ca, jangan dibahas lagi. Aku kedalam dulu yah, mau bersih-bersih lengket nih badanku.” Beranjak dari tempat duduk dengan senyum yang masih mengembang. “Ayo masuk.” Ajak Qanita pada Irtiza.
“Ini udah mau Magrib, besok-besok deh aku kesini. Insya Allah.” Iapun berdiri dari tempat duduk. “Aku pamit yah, Assalamualaikum.”
“Iya, Waalaikumussalam.” Jawab Qanita dan segera memasuki rumahnya.
Irtiza berjalan semakin menjauh dari rumah Qanita, dibukanya pintu pagar dan membalikkan badannya dan melihat teras rumah Qanita. “Maaf Anit, maafkan kakakku. Sudah membuatmu merasakan sakit seperti ini, aku sendiri tak bisa membayangkannya.” Gumamnya lirih dan bergegas menuju rumah.
***
“Assalamualaikum. Bu Anit pulang.” Berjalan menuju ruang tengah yang terhubung dengan dapur.
“Waalaikumussalam.” Jawab Maya yang tengah berdiri didapur sambil mengaduk sayur didalam panci. “Tadi kamu ketemu Irtiza didepan sayang ?” Tanyanya kembali.
“Iya bu, tadi juga ngobrol sebentar. Tadi bilang nganterin sesuatu ?”
“Iya, tuh di atas meja. Dia bilang cakenya buat kamu. Tadi pagi dia buat katanya.” Jelas Maya.
“Hmm, tau aja dia bu.” Ucap Qanita yang melirik kearah meja. “Katanya ada buat ibu juga, apa ?” Tanya Qanita.
“Iyaa dari tante Diana, biasa nak kain baju gitu. Kan kamu tau ibu sama tante Diana sering pake baju yang warna sama gitu.” Tutur Maya.
Maya kini berjalan kearah putri keduanya dan duduk dikursi yang ada disamping Qanita. Sambil memegang kedua tangan putrinya “Sayang, apa kamu marah dan benci sama keluarga Om Saad ?” Menatap Qanita dengan sayang.
Kini mata Qanita tegah berkaca-kaca, namun ia berusaha untuk menahan cairan bening itu. “Kan ibu pernah bilang sama Anit, buat jangan sampai merenggangkan apalagi memutus tali silaturrahmi. Kecewa, Anit sudah pasti bu tapi Insya Allah semoga nggak sampe memutus tali silaturrahmi kita bu, apalagi ayah sudah lamakan sahabatan sama Om Saad.”
Maya hanya tersenyum mendengar ungkapan putrinya, “Terima kasih sayang.” Ucapnya dengan tulus.
Sosok tinggi dari taman belakang tengah berjalan menuju dua wanita beda generasi itu. Sedangkan belakangnya diikuti oleh laki-laki yang lebih pendek darinya.
“Ayah mana kak ?” Tanya Fateeh.
“Kayaknya masih dikantor deh, tadi kakak liat mobilnya masih parkir sih. Atau mungkin kepeternakan.” Qanita menjawab pertanyaan adiknya.
“Ihhhh, kayaknya enak nih.” Ucap Nazeen, sementara tangannya berusaha meraih apa yang dimaksudkan.
Sebelum berhasil meraih tangannya ditepuk oleh Qanita “Nggak boleh, ini khusus buat kakak dari Irtiza.”
“Pelit amat sih.” Ketus Nazeen mengurungkan niatnya. Sedetik kemudian ia mendengus “kok bau asem yah ? Aku udah mandi tadi, abang juga, apalagi ibu.” Tatapannya kini beralih ke Qanita.
Sementara Qanita mencium aroma badannya “aku emang belum mandi sih, tapi masih harum kok.”
Qanita yang sibuk memperhatikan dan mencium badannya, perhatiannya teralihkan dari piring yang berada ditangannya dan membuat Nazeen mengambil satu potong cake dari dalam piring tersebut.
“Yes! Dapaaat.” Ucapnya setangah berteriak dan langsung memasukkan kedalam mulutnya.
“Ihhh ngeselin banget sih kamu deeeek.” Qanita berteriak karena menyadari ia hanya dikerjai oleh adik bungsunya itu.
“Siapa suruh pelit.” Ucap Nazeen yang masih fokus mengunyah.
Maya dan Fateeh hanya tersenyum melihat tingkah dua orang tersebut.
“Sudah, sudah, mending kamu bersih-bersih dulu Anit.” Pinta Maya sambil mengambil piring yang berisi cake dari tangan Qanita dan mendorong kecil tubuh putrinya.
“Tapi ini ntar diabisin dia bu.” Ucap Qanita memelas sambil menunjuk Nazeen.
“Nggak, ini kan dikasih buat kamu.” Bela Maya.
“Ku abasin.” Kata Nazeen memanas manasi kakaknya.
__ADS_1
“Awas aja.” Ketus Qanita sembari berjalan menuju kamar.
“lagian kan kalau abis bisa dibuatin lagi.” Timpal Nazeen tanpa rasa bersalah.
“Bukan masalah buatnya sayang, ini tadi diantar buat kakakmu. Toh kamu juga udah makan kan itu.” Jelas Maya.
“Hehehehe.” Nazeen nyengir Kuda.
“Besok kubuatin Zeen.” Timpal Fateeh.
“Beneran bang ?” Tanya Nazeen dengan sangat bersemangat.
“Besok-besok tapi. Hahahaha.” Ucap Fateeh.
Nazeen semakin kesal saja sementara Maya hanya tersenyum menatap dua putranya.
***
Arsen yang telah memiliki janji dengan Royyan kini sedang menunggu disalah satu tempat duduk di cafe langganan mereka. tak lama menunggu pundak Arsen ditepuk oleh seseorang.
“Assalamualaikum. Sapa Zacky. “Udah lama nih nunggunya ?”
“Eh Zac, Waalaikumussalam. Lumayan lah. Belum jamuran kok bokongku.” Ucap Arsen dengan santai.
Zacky hanya tersenyum kecil dan menggeleng “nggak berubah-berubah ni anak. Udah pesen belum ?” Zacky bertanya kembali.
“Belum. Ntar lah tunggu manusia satu itu dulu.” Jawab Arsen sambil memerhatikan HPnya.
“Ya udah.” Tutur Zacky.
Tak lama setelah obrolan singkat Arsen dan Zacky berakhir, dari arah pintu masuk terlihat seorang laki-laki yang mengarah ketempat duduk mereka dan semakin lama semakin jelas.
Dengan senyum khas Royyan “Assalamualaikum, maaf lama. Abis ngurus anak bini dirumah ?” Ucapnya seperti tanpa dosa.
“Waalaikumusslam.” Jawab Arsen dan Zacky serentak.
“Tadi kamu bilang apa Yan ? Anak bini ? Yang kamu maksud itu tanaman-tanaman mamamu kan ? Tanya Arsen menyelidik.
“Gila apa kamu nyuruh aku ngurusin tanaman mamaku. Yang ada pengin kusingkirin tuh tanaman-tanaman.” Ucapnnya sambil bergidik membayangkan banyaknya tanaman ditaman depan dan belakang rumahnya.
“Hmmm, nih orang satu lagi. Kamu percaya dia musyrik Zac.” Ucap Arsen dengan gemesnya.
“Hahahaha.” Tawa Royyan dan Zacky dengan lepas saat melihat ekspresi Arsen.
“Pesen gih.” Tawar Arsen.
Zackypun tengah memanggil pelayan cafe kakak iparnya, dan memesan beberapa menu untuk mereka bertiga.
“Kamu ngapain ngajak nongkrong gini. Mau ngasih undangan ? Tanya Royyan.
“Undangan apaan ? Khitbah aja nggak jadi Yan.” Jawab Arsen ketus dan membuang nafas dengan kasar.
“Bentar-bentar, ini undangan apaan sih, trus yang nggak jadi khitbah siapa ?” Tanya Zacky lagi-lagi dengan polosnya.
Royyan hanya mendengus kesal “Ini nih, kalau kemarin nggak ngabarin kamu buat kita nongkrong bertiga, jadinya harus ngejelasin deh aku ini. Jadi gini ya Zac, cowok depan kamu ini, Arsen ini. Alhamdulillah udah ngedapetin cintanya Qanita, dan kemarin malam katanya dia mau khitbah. Nah sampai situ saja yang aku tahu, selebihnya aku nggak tahu, pastinya belum tau.” Jelas Royyan pada Zacky panjang lebar.
“Ooohh, trus trus Ar gimana ?” Tanya Zacky. “Kayaknya aku harus ikut terus deh kalau kita ngumpul gini, biar aku juga dapat info dari anggota genk belum menikah ini.” Sarannya pada diri sendiri.
“Ihhhh geli aku denger genk-genk gitu, kayak ABG aja.” Kata Royyan sambil menggidikkan bahu.
“Hahaha, apalagi aku Yan. ternyata dia lebih nggak waras dari kamu Yan.” timpal Arsen.
“Kurang ajar.” Umpat Royyan dan Zacky berbarengan.
“Gimana nih, jadi cerita nggak ?” Tanya Royyan kemudian.
Sekali lagi Arsen mengambil nafas dalam-dalam dan membuang dengan kasar. Kemudian menjelaskan apa yang terjadi pada dua laki-laki telah menyiapkan alat pendengarannya itu.
“Astaga Arsenio, kamu gila apa. Otak kamu dimana ? Percuma Ar, sekolah tinggi-tinggi perusahaan yang kamu pegang semakin berkembang pesat. Tuh otak masih didengkul, tuh hati masih kotor aja . Gila! Gila!” sembur Zacky yang tiba-tiba dan berdiri hingga menyita perhatian pengunjung lainnya.
“Eeeeh duduk lagi kamu, jangan bikin malu.” Sergah Royyan.
“Esmosi aku Yan, aku jadi Qanita kukuliti kamu idup-idup Ar.” Ucap Zacky dengan ketus.
“Emosi Zacky. Bicara udah mulai nggak benar ya.” Tutur Royyan.
__ADS_1
Sementara Zacky mengingat apa yang diucapkan tadi.
“Iya Zac, untungnya bukan kamu yang jadi Qanita.” Timpal Arsen dengan santai.
“Trus sekarang gimana Ar ?” Tanya Royyan.
“Hmm, aku ingin perbaiki sama Qanita Yan.” Ucap Arzen yang mulai melemas.
“Trus siapa tadi namanya, aaa Tria, gimana dia ? kamu tinggal gitu aja anak orang yang udah cinta banget tuh.” Tanya Zacky dengan sedikit menyindir.
“Aku pengen nyelesaiin semuanya sama dia Zac, bener-bener selesai. Kan kalian tau cuma Qanita doang, nggak ada yang lain.” Tutur Arsen mulai terbawa emosi.
Pelayan yang melihat obrolan serius juga dengan otot adik ipar dari pemilik cafe tempat ia bekerja sontak mengurungkan niat untuk mengantar pesanan mereka.
“Ya udah Ar, kamu selesain gih cepet. Sebelum Qanita diembat orang lain.” Ucap Zacky sedikit tenang. “Duuuuuh, serak lagi tenggorokanku, capek juga teriak-teriak. Nggak dikantor nggak disini.” Ucapnya sambil memegang leher.
Arsen dan Royyan hanya tersenyum dengan tatapan mengejek pada Zacky. Kemudian Royyan memanggil pelayan untuk mengantarkan pesanan mereka.
***
Satu minggu sudah berlalu dan dihari Minggu ini entah kenapa Qanita tiba-tiba ingin sekali berolahraga, dan olahraga yang paling digemari hanya lari. Dibukanya lemari dan diambil pakaian olahraganya.
“Nggak apa-apa olahragalah. Siapa tau bisa nenangin hati dan pikiran.” Gumamnya.
Setelah mengenakan pakaian olahraga dan juga kaos kaki, ia berjalan keluar kamar. Qanita membawa tubuhnya berjalan menuju taman belakang rumah tempat kedua orang tua dan kedua adiknya “berjemur katanya” dan bersenda gurau.
Setelah pamit dia melangkah kearah pintu depan dan menggunakan sepatu olahraganya. Sesaat setelah itu ia berjalan menuju pintu pagar rumah dan kakinya yang terbalut sepatu mulai menapaki jalanan depan rumah. Namun, tatapannya menangkap punggung seseorang yang tak asing baginya.
“Huh!” Mendengus kecil. “Ngapain ada dia juga sih. Aku masuk lagi aja deh. Ah jangan jangan, aku harus liatin kedia bahwa aku baik-baik aja.” Gumamnya lirih dan mulai berlari dibelakang Arsen yang terpaut jarak dengannya cukup jauh. Tetapi masih bisa dijangkau oleh pengelihatan.
Qanita dan Arsen berlari mengitari kompleks perumahan mereka, Qanita berusaha mengindari untuk bertemu dengan Arsen. Setelah cukup lama berlari Qanita mulai terlihat capek, dan memilih untuk lesehan disamping jalan sepanjang perumahannya. Baru sekitar lima menit ia beristirahat dan merenggangkan ototnya. Ia mendengar seseorang memanggilnya.
“Qa.”
Ia hafal betul siapa yang memanggilnya dengan dua nama depannya itu, langsung saja dia berdiri tanpa melihat sipemilik suara. Ia hendak melanjutkan langkahnya namun, ujung belakang jilbabnya merasa ditarik dengan terkejut ia refleks memegang bagian atas jidatnya untuk menahan jilbab. Tubuhnypun ikut tertarik kebelakang.
“Lepasin nggak.” Jawabnya kesal dan ketus.
“Nggak.” Jawab Arsen.
“Ihhhh lepasin.” Qanita masih memegang puncak kepalanya.
“Kamu denger penjelasan aku dulu, baru aku lepasin.” Tawar Arsen.
“Nggak mau, lepasin jilbab aku. Atau aku teriak.” Ancam Qanita yang masih enggan membalik tubuhnya kearah Arsen.
“Teriak aja, toh banyak orang yang lewat kan.” Timpal Arsen sambil memperhatikan sekitar mereka.
Qanita mendengus kecil “Iya, tapi lepasin dulu jilbabku.” Ucap Qanita pasrah.
Merasa jilbabnya mulai melonggar, iapun memperbaiki atas jilbabnya namun masih enggan untuk membalik kearah Arsen.
“Kenapa ?” Tanyanya yang masih membelakangi Arsen.
“Liat aku Qa.” Pinta Arsen.
“Nggak mau.” Ucap Qanita.
Arsen menghela nafas kasar “Kamu tau Qa, aku nggak bisa sentuh kamu. Aku pengen perbaiki semuanya, balik dan liat aku Qanita.” Pinta Arsen sambil memelas.
Qanita tak tega mendengar nada suara Arsen yang memelas memutuskan membalik tubuhnya. “Silahkan katakan.” Ucapnya dengan dingin.
“Kasih aku kesempatan Qa, aku pengen perbaiki semuanya. Aku udah nggak ada apa-apa lagi sama Tria. Tapi dia yang masih ngejar-ngejar aku Qa. Aku udah lama putus sama dia Qa.” Jelas Arsen.
“Lalu kenapa waktu itu dia bilang kamu memutuskan secara sepihak ? Dia bela-belain datang kerumah kamu, apa itu namanya benar-benar putus ?” Tanya Qanita mulai berapi-api.
Arsen memejamkan matanya dan mulai mengumpulkan kalimat yang akan ia keluarkan untuk menjelaskan pada Qanita “Qa, aku cuma cintanya sama kamu Qa. Bukan dia dan bukan yang lain. Dari dulu sampai sekarang dan bahkan nanti.”
“Lalu ? Jika kamu hanya mencintai aku kenapa ada gadis lain yang menjalin hubungan denganmu ? Tanya Qanita memiringkan wajah dan tatapannya semakin tajam menatap Arsen.
Mendengar pertayaan Qanita, Arsen benar-benar dibuat diam seribu bahasa.
“Kamu bilang cuma cinta sama aku, tapi kamu jalin hubungan sama gadis lain juga. Gadis itu udah nyerahin sepenuh hatinya buat kamu, tapi kamu malah nyia-nyiainnya dan malah kamu mau khitbah gadis yang kamu cinta itu, sementara gadis yang jalin hubungan sama kamu itu, kamu putuskan hubungan secara sepihak. Nggak adil banget, udah ngehianatin juga.” Tatapan Qanita semakin menajam.
“Huh! Seseorang yang pernah berkhianat tak menutup kemungkinan ia akan melakukannya lagi.” Tutur Qanita lagi, kemudian berjalan meninggalkanArsen yang masih mematung.
__ADS_1