
Arsen dan Qanita yang sudah meninggalkan gedung hotel, kemudian berjalan menuju parkiran hotel. Sesaat kemudian mereka segera meninggalkan hotel dengan mengendarai mobil milik Royyan. Setelah berkendara cukup lama, Arsen menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah rumah yang begitu asri. Dengan segera dia membuka gerbang dan kembali membawa mobil Royyan menuju carport.
“Ayo.” ajak Arsen dan membuka pintu mobil untuk Qanita. Qanita hanya menurut dan mulai memperlihatkan keadaan sekitarnya.
“Waah, bagusnya.” Ucapnya dan mengedarkan pandangan.
“Masuk dulu.” Ajak Arsen.
Terlihat mereka memasuki rumah yang akan ditempati itu. “Kaki kanan dulu, dan jangan lupa ucap salam.” Saran Arsen pada Qanita.
Qanita hanya tersenyum kecil dan menatap kearah Arsen, menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya.
“Gimana ?” Tanya Arsen pada Qanita.
“Bagus, aku suka.” Ucapnya kemudian. “Terima kasih.” Ujarnya lirih.
“Sama-sama. Ayo ke kamar.” Ajak Arsen menuntun tubuh Qanita menaiki anak tangga yang membawa mereka ke kamar.
Sesampainya didepan pintu kamar dengan hati-hati Arsen membuka dan mempersilahkan Qanita masuk terlebih dahulu.
“Masya Allah.” Ucap Qanita dengan mata yang berbinar-binar sambil memperhatikan luasnya kamar yang akan mereka tempati dan juga terhubung dengan balkon.
“Aku sengaja nggak bilang, kalau didalam kamar terhubung kebalkon. Sama kayak kamar kamu dulu. Biar kamu bisa liat sunrise, sunset dan langit malam.” Jelas Arsen.
Qanita menatap suaminya dan langsung berhambur kedalam pelukan laki-laki tersebut. “Terima kasih, terima kasih.” Ucap Qanita dengan tulus.
Dengan cepat Arsen membalas pelukan Qanita “Iya sama-sama. Aku pengin rumah ini nyaman buat kamu. Karena ketika kamu merasa nyaman maka rumah ini akan hidup dan yang tinggal dirumah inipun akan merasa bahagia. Karena kamu adalah kehidupan rumah ini Qa.”
Qanita hanya mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar pada Arsen, tanpa berniat untuk melepas pelukan suaminya itu.
“Royyan ngajak kemana ?” Tanya Qanita kembali.
“Hmm, iya Zacky ngajak kumpul ntar malam. Dia mau ceritain tentang Kei.” Jelasnya pada sang Istri. “Boleh aku ikut ?” Ijin Arsen.
“Iya boleh.” Ujar Qanita yang memberi ijin.
“Apa tidak apa-apa ?” Tanya Arsen kembali.
“Iya tidak apa-apalah, tapi jangan lama-lama.” Tutur Qanita.
“Iya, nggak kok.” Kata Arsen dan kembali mengeratkan pelukannya.
Malamnya setelah makan malam yang disiapkan oleh Qanita tentu dengan menu yang seadanya. Kini Arsen terlihat bersiap-siap untuk bertemu dengan Zacky dan Royyan.
“Io, maaf ya tadi makan seadanya aja.” Ucap Qanita yang duduk memperhatikan suaminya yang berada didepan cermin. “Besok aku mau belanja aja.” Ucapnya kembali.
“Iya nggak apa-apa. Besok aku temenin ya.” Pinta Arsen dan kemudian diangguki oleh Qanita.
“Ya udah aku berangkat dulu yah. Kalau ada apa-apa cepet hubungi ya.” Ucap Arsen dan mencium kening Qanita.
“Iya, hati-hati.” Jawab Qanita.
“Assalamualaikum.” Pamit Arsen dan melangkah menuruni tangga.
__ADS_1
“Waalaikumussalam.”
***
“Nih pengantin baru lama banget sih.” Kesal Royyan yang masih menatap kearah pintu.
“Sabar Yan.” ujar Zacky tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
“Nah itu dia.” Ujar Royyan kemudian saat melihat Arsen yang baru saja memasuki cafe.
“Maaf, maaf telat.” Ujarnya saat melihat Royyan dan Zacky sudah menunggu. “Assalamualikum.” Salamnya kemudian.
“Waalaikumussalam.” Jawab Royyan dan Zacky berbarengan.
“Lama amat Ar, ngambil jatah dulu ?” Tanya Royyan yang seperti menyindir.
“Ehh, setengah waras, aku nggak dari rumah papa atau rumah mertua. Tapi dari rumahku. Wajarlah lama, orang jauh juga.” Sergah Arsen.
“Oh iya yah.” Ucap Royyan membenarkan Arsen.
“Nah, itu tau.” Ucap Arsen kemudian, dan meminum latte yang sebelumnya sudah dipesan oleh Zacky.
“Jadi gimana Zac, kamu harus jelasin nih sama kita berdua. Kok bisa tiba-tiba gitu. Kamu nggak macem-macem kan ?” Tanya Royyan dengan penuh selidik dan diangguki oleh Arsen.
“Gila ! Ya nggak lah. Kenal aja baru beberapa minggu.” Kilah Zacky pada Royyan.
“Terus ?” Tanya Arsen dengan alis yang diangkat.
“Iya, aku ketemu dia beberapa minggu yang lalu, aku lupa tepatnya kapan. Ternyata memang direncanakan oleh mama, aku dijodohin sama dia.” Jelas Zacky.
“Dari pada eloh, sampai sekarang masih sendiri.” Sergah Zacky yang tak terima dengan ucapan Royyan.
“Sudah, sudah. Setelah itu Zac.” Timpal Arsen menengahi kedua temannya.
“Iya, dan ternyata aku atupun dia sama-sama ngerasa cocok. Ya udah nunggu apalagi. Pernikahan udah mau direncanain.” Jelas Zacky kembali pada kedua temannya.
“Hmmm oke. Syukurlah. Tinggal eloh sendiri.” Ujar Arsen pada Royyan yang sedang memperlihatkan ekspresi kesalnya.
“Iya iya, paham.” Kilah Royyan.
“kenapa kamu nggak coba deketin cewek yang kemarin di nikahannya Arsen, Yan.” Saran Zacky.
“Hmm, iya Yan.” Setuju Arsen.
“Iya dianya mau nggak.” Ucap Royyan dengan pesimisnya.
“Iya elah, makanya dicoba dulu Royyan.” ujar Zacky yang semakin memperlihatkan kekesalannya.
“Baiklah akan aku coba.” Ucapnya pasrah.
Setelah mendengar cerita Zacky, ketiganya hanya berbincang-bincang ringan. Hingga akhirnya Arsen melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 22:00.
“Waduh, harus pulang aku ini.” Ucapnya dengan terkejut.
__ADS_1
“Iya gih pulang yang udah nikah.” Ucap Royyan tanpa melirik Arsen.
“Kamu belum mau pulang Yan ?” Tanya Arsen. “Aku bawa mobilmu, sekalian aku nebeng.” Ucapnya kembali.
“Nggak, bawa aja. Aku bawa mobil mama. Besok sore kuminta tolong orang rumah buat ngambil.” Ujar Royyan yang sibuk memakan cookies.
“Okeh.” Ucap Arsen dan segera berpamitan pada kedua temannya itu.
Tepat saat Arsen akan meninggalkan cafe, ia teringat bahwa istrinya menyukai cookies dari cafe tersebut. Kemudian berinisiatif untuk membelinya. Setelah berapa lama menunggu cookies, terlihat Arsen keluar dari cafe dengan membawa paper bag berisi cookies untuk Qanita. Dengan langkah cepat ia menuju mobil dan pulang.
Qanita yang sudah mengenakan piyama, dan saat ini sedang membaca buku sambil berselonjoran disofa kamar. Pendengarannya menangkap suara mobil berhenti didepan rumah, dengan segera ia menuruni tangga tanpa melepaskan buku ditangannya. Tepat saat Qanita akan membuka pintu, terdengar suara Arsen yang memberi salam dan menegtuk pintu beberapa kali, dengan segera Qanita membuka pintu dan menjawab salam suaminya itu.
“Kok udah mati ?” Tanya Arsen memperhatikan lampu dibeberapa ruangan yang sudah dalam keadaan tak menyala, kemudian mencium puncak kepala istrinya yang tak terbalut jilbab.
“Iya, emang sengaja. Aku tadi dikamar soalnya.” Jawab Qanita yang sibuk mengunci pintu.
“Nih.” Ucap Arsen dan memberikan paper bag pada Qanita.
Qanita hanya tersenyum melihat isi dari paper bag tersebut. “Terima kasih.” Ucapnya kembali.
Arsen tak menjawab ucapan Qanita, namun malah mengelus lembut kepala isrinya dan berlalu menuju kamar. Sementara Qanita memilih untuk menuju dapur dan menyimpan cookies yang dibawa oleh suaminya.
Setelah itu mulai melangkahkan kakinya menuju kamar, namun tak didapati suaminya. Sesaat setelah itu Qanita menyadari ternyata suaminya berada dikamar mandi dan dengan sigap ia menyiapkan baju ganti untuk Arsen.
“Qa.”Panggil Arsen setelah keluar dari kamar mandi.
“Hmm.” Jawab Qanita singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah dibaca.
“Ternyata Zacky dijodohin, dan keduanya juga ngerasa cocok. Trus sekarang mereka sedang mempersiapkan pernikahan.” Jelas Arsen pada istrinya.
“Hmm, syukurlah kalau ngerasa cocok, berarti tinggal Royyan sendiri dong.” Ucap Qanita dan lagi-lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
“Iya, makanya ku suruh deketin Faiza.” Ujar Arsen sambil menatap Qanita setelah memakai pakaian.
“Emang dua-duanya mau ?” Tanya Qanita dan langsung menutup buku, kemudian melihat suaminya dengan kening yang berkerut.
“Nggak tau kalau Faiza, udahlah biar itu jadi urusan mereka berdua.” Ucap Arsen. “Yang penting udah dikasih saran.” Ucapnya kembali dan duduk disamping istrinya.
Qanita yang masih memakai kacamata bacanya hanya menatap sekilas pada Arsen. Kemudian hendak melanjutkan bacaannya. Namun, tangan Arsen lebih dulu meraih buku yang akan dibaca.
“Nggak capek baca dari tadi ?” Tanya Arsen dan melepas kacamata yang digunakan oleh istrinya itu.
“Nggak.” Ucap Qanita yang beradu pandang dengan Arsen, sedetik kemudian ia merasa jantungnya berdegub kencang.
“Kenapa lagi ? Hmm.” Tanya Arsen yang menyadari perubahan pada istrinya.
Qanita hanya mampu menggeleng tanpa bisa berkata apa-apa.
Tangan Arsen dengan lembut mengusap bibir milik istrinya itu dan mengecup sekilas.
“Apa aku boleh melakukannya malam ini ?” Tanya Arsen yang hanya berjarak beberapa senti dari Qanita.
Qanita hanya mengangguk sekilas menyetujui permintaan Arsen. Terlihat Arsen menyunggingkan sennyum tipis setelah mendapat persetujuan. Kini ia mencium kening, kedua pipi dan terakhir dibibir sang istri.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya terjadilah hal yang mereka inginkan.