Kisah Ini Bernama Cinta

Kisah Ini Bernama Cinta
Bab 15 Sudut gelap Arsenio


__ADS_3

Arsen menatap cermat kertas-kertas yang ada didepannya saat ini. Sudah hampir satu minggu ia berada dikantor cabang yang menjadi tempat ia meniti karir dulu. Jika memang tak ada halangan dan kerjaannya selesai, hari ini ia akan kembali kerumahnya. Hingga dapat dipastikan akhir minggu ini ia akan mengkhitbah gadis yang dicintai. Ditengah fokusnya ia mendengar suara ketukan pintu ruangannya.


Tok tok tok


“Iya masuk.” Jawab Arsen.


“Maaf pak, ada mbak Ria didepan ingin bertemu dengan bapak.” Suara Andri memelan.


Mendengar nama orang yang sedang mencarinya, langsung saja Arsen dibuat kaget dan memandang Andri dengan tajam. “Dia tau dari mana aku sekarang dikantor cabang ?” Tanya Arsen pada Andri.


“Dia mengetahui hal itu dari resepsionis pak, sebelumnya dia sudah beberapa kali kekantor mencari bapak.” Jawab Andri dengan sedikit takut.


Arsen hanya menghela nafas dan beranjak dari duduknya meninggalkan Andri sendiri diruangan. Melihat tatapan Arsen, Andri menyadari atasannya sedang memendam kekesalan.


“Aaarr, kamu kemana aja, kok udah nggak pernah hubungi aku lagi, nomor kamu juga udah nggak aktif.” Tanya gadis dengan rambut sebahu berwarna coklat gelap, kakinya dihiasi dengan sepatu tinggi dan sedang menggunakan dress sebatas lutut. Terlihat gadis itu sangat senang melihat Arsen dan segera menghampirinya.


“Aku udah bilang ke kamu, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi.” Ujar Arsen tanpa basa-basi.


“Tapi aku nggak mau putus sama kamu Ar, aku minta maaf kalau aku ada salah sama kamu.” Ucap gadis tersebut sambil memegang lengan Arsen, namun segera ditepis.


“Aku sibuk. Kamu nggak usah nyari-nyari aku lagi, ingat Tria Prisilia. Hubungan kita sudah berakhir.” Ucap Arsen penuh penekanan.


“Kamu selalu saja begitu, aku bahkan tidak tahu apa salahku Ar, apa kamu sudah memiliki gadis lain ? Sampai kamu mengabaikan aku seperti ini ?” Tanya Tria dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


“Aku selalu mencintainya, dari dulu hingga saat ini, dan bahkan nanti. Kamu ataupun yang lainnya tidak pernah ada dihatiku tapi hanya dimataku. Camkan itu.” Sentak Arsen, kemudian benar-benar meninggalkan Tria sendiri diruang tunggu.


“Kamu selalu seperti itu, tak pernah ingin disentuh Ar, lalu apa gunanya aku selama ini menjadi pecarmu jika hatimu saja telah lebih dulu mencintai orang lain. Aku akan merebut hatimu darinya Ar. Aku tidak peduli mau dia yang lebih dulu ataupun tidak, aku tetap akan merebutmu darinya.” Gumamnya dan meninggalkan kantor dengan mengantongi tempat tinggal Arsen saat ini.


Sesampainya diruangan dan tanpa menatap Andri “Ndri, peringatkan resepsionis itu untuk tidak membeberkan informasi pribadiku kepada siapa saja termasuk perempuan itu. Masih untung mereka tidak kupecat.”


“Ba baik pak. Mereka memberikan informasi kepada mbak Ria, karena setau mereka mbak Ria memiliki hubungan dengan anda pak.” Ucap Andri jujur.


Andri dapat mendengar helaan nafas Arsen. Hal ini memang bukan sepenuhnya salah karyawannya. Hanya saja ia terlalu ceroboh.


***


Assalamualaikum Qa, hari ini aku akan pulang kerumah. Bagaimana keadaanmu, maaf jika aku baru mengabarimu. Ternyata ada banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan disini.


“Waalaikumussalam, Alhamdulillah aku baik-baik saja. Syukurlah jika kerjaanmu sudah selesai disitu. Hati-hati, tolong pulanglah dengan selamat karena ada seseorang yang sedang menunggumu disini.” Setelah mengirim pesan itu pada Arsen, Qanita langsung melempar sembarang HPnya dan meyesali apa yang telah dikirimkan pada Arsen lalu mulai berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena sepulangnya dari tempat kerja.


Iya, Insya Allah Qa.


Hanya itu pesan yang diterima oleh Qanita, namun dapat dipastikan Arsen tersenyum lebar setelah mendapat pesan tersebut.


Keluarga Qanita kini sedang menikmati makan malamnya, dengan ragu-ragu Qanita memulai percakapan dengan ayahnya. Semenjak pembicaraan dengan ayah dan ibunya minggu lalu mereka sudah tak membicarakan hal tersebut lagi.


“Ayah, Insya Allah hari ini Arsen pulang dari kantor cabangnya. Dan Insya Allah juga akhir minggu ini ia akan berkunjung kerumah untuk bertemu dengan ayah dan ibu.” Ucap Qanita sambil menunduk.


“Hmmm, baiklah, Alhamdulillah. Sepertinya ayah perlu menyiapkan sesuatu untuknya agar pertemuan kita kali ini berkesan.” Ujar Abdillah dengan nada sedikit menggoda putrinya.


“Ayaaaah, jangan gitu. Tuh liat wajahnya Anit.” Peringat Maya pada suaminya.


“Ayah jangan terlalu keras dan jangan terlalu membuatnya gugup yah. Sudah cukup selama ini Anit berlaku tidak baik padanya yah.” Harap Anit tanpa memandang sang ayah.


“Kamu mengkhawatirkannya nak ?” Tanya Abdillah disela kunyahannya.


Lagi-lagi Qanita tidak sanggup menatap ayahnya dan memilih makan dengan wajah yang tertunduk. Sedangkan Maya, Fateeh dan Nazeen hanya makan sambil tersenyum.


“Akhrinya ada juga yang mampu mencairkan hati si es balok. Tinggal satu nih yang alergi sama cewek.” Batin Nazeen.

__ADS_1


***


“Bagaimana nak, apa sudah selesai semuanya ?” Tanya Saad memulai pembicaraan dengan Arsen saat mereka berada diruang tengah.


“Alhamdulillah pa, sudah semuanya. Alhamdulillah juga Arsen pulang dengan selamat.” Ucap Arsen sambil tersenyum.


“Aih, perasaan papa nggak nanya masalah kakak pulang deh.” Timpal Irtiza sedikit curiga.


“Udah deh kak, sudah, sudah. Kayak nggak tahu aja.” Ujar Azel tanpa mamalingkan pandangannya dari layar TV.


“Oalah, calon kakak ipar toh yang minta.” Celetuk Irtiza lagi.


“Sudah sudah, kalian ini. Tuh liat kakak kalian jadi malu tuh. Wajahnya merah tuh.” Ucap Diana yang juga terdengar seperti menggoda. Sedangkan Saad hanya tersenyum dan melihat semu merah diwajah Arsen.


“Jadi kapan kamu mau kerumahnya ? Tanya Saad kemudian.


“Papa sama mama maunya kapan ?” Arsen bertanya balik.


“Hmm, bagaimana jika Jum’at malam.” Usul Saad.


“Iya pa boleh. Arsen kekamar dulu mau ngasih tau Qanita.”


Arsen hanya dijawab dengan anggukan oleh Saad dan Diana, sementara Irtiza dan Azel melihat dan tersenyum penuh arti.


Sesampainya dikamar Arsen segera mengambil HP dan mencari kontak Qanita. Sedetik kemudian dia mulai mengetik.


“Assalamualaikum Qa, Insya Allah Jum’at malam aku akan kerumahmu. Apa bisa Qa ?”


Sekitar 10 menit Arsen menunggu balasan pesannya, sambil menunggu dipandanginya foto profil Qanita dengan senyum manis serta lesung pipit menghiasi wajahnya. Insya Allah Qa, kamu akan segera halal untukku. Kemudian masuklah pesan balasan dari Qanita.


Waalaikummussalam. Iya, kami menunggu kedatanganmu.


***


Hari yang dinanti oleh Arsen dan Qanitapun tiba, tepat malam nanti ia akan dikhitbah oleh laki-laki yang sudah menjadi pilihannya dan Insya Allah pilihan_Nya juga. Sore ini Qanita sedang membersihkan tanaman yang berada didepan pagar. Ia memang sengaja meminta ijin pulang lebih dulu.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti disampingnya dan ia menghentikan kegiatannya. Dari dalam mobil tersebut terlihat sorang gadis cantik dengan rambut sebahu yang berwarna coklat gelap. Ia begitu terlihat anggun dan juga cantik.


“Permisi mbak. Mohon maaf mengganggu waktunya.” Ucap gadis tersebut.


“Iya, ada yang bisa saya bantu ?” Tanya Qanita.


“Saya sedang mencari kediamannya keluarga Ar-Rajab mbak.” Ucap gadis itu lagi.


“Ar-Rajab ? Itukan nama belakang keluarganya Arsen.” Batin Qanita. Kini tatapannya seperti mengintimidasi gadis yang berada didepannya itu. “Ah, itu mbak. Nomor rumah 21M mbak.” Ucap Qanita.


“Mbak kenal dengan keluarga itu ? Bisa minta tolong untuk mengantarkan saya. Ini kali pertamanya saya bertamu kekediamannya mbak.” Tanyanya lagi.


Cukup lama Qanita menimbang, ia takut jika gadis ini akan menipunya. Namun, rasa kemanusianya menang dan memilih mengangguki permintaan gadis tersebut.


“Iya mbak saya kenal. Mari saya antarkan. Mobilnya mbak diparkirkan disini gak apa-apa kok.” Jelas Qanita.


“Oh iya boleh. Kenalkan aku Tria, panggil saja Ria. Sepertinya umur kita juga sama.” Ujar Tria.


“Hmm, saya Qanita.” Kata Qanita memperkenalkan diri juga.


Keduanya kini sedang berjalan menuju rumah Arsen yang tidak begitu jauh dari rumah Qanita. Iya, gadis yang sedang mencari kediaman keluarga Ar-Rajab tersebut adalah Tria Prisilia, gadis yang tidak mau diputuskan hubungannya oleh Arsen.


Setelah sampai didepan rumah Arsen, ditekannya bel, kemudian dari dalam rumah terlihat seorang gadis cantik sedang tersenyum kearah Qanita. Namun tidak dengan gadis disampingnya, entah dia tidak melihat atau memang sengaja tidak menyapanya.

__ADS_1


“Assalamualaikum Ca. Ini aku nganterin tamu, katanya nyari rumahmu.” Sapa Qanita kemudian diangguki oleh Tria.


Lama Irtiza berpikir dan menatap penuh selidik pada Ria “mama punya teman semuda ini ? Tidak mungkin. Azel nggak mungkin punya teman setua ini, akupun belum pernah meilhat dia. Papa sama kakak ? wah wah gawat ini.” Batin Irtiza. “Waalaikumussalam, maaf nyari siapa ya ? Tanya Irtiza dengan nada yang dibikin seramah mungkin.


“Kenalkan aku Ria. Aku sedang mencari Arsen. Apa ini rumahnya ?” Tanyanya


Deg,,


Dada Qanita dibuat berdegub kencang setelah mendengar nama yang disebutkan oleh gadis disampingnya itu. Sedangkan Irtiza tak kalah terkejut dengan siapa yang cari oleh gadis yang bernama Ria itu. Cukup lama mereka bertiga saling diam dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara.


“Ca, siapa sayang ? Loh ada tamu kok nggak diajak masuk sih. Eh Anit juga ada. Ayo masuk sayang.” Ajak Diana dari depan pintu rumah.


“Iy iya tante.” Jawab Qanita, kemudian mulai melangkahkan kakinya kedalam pekarangan rumah Irtiza dengan ragu-ragu. Sementara Irtiza hanya menatap penuh selidik gadis yang tengah berjalan didepannya ini.


Cukup lama mereka berbincang-bincang, namun raut wajah Qanita semakin lama semakin menjadi gugup dan sedang menahan sesuatu yang terjanggal didadanya. Sementara Diana tidak terlalu mengurus mereka bertiga karena ia berpikir itu adalah teman Qanita dan Irtiza, begitu pula dengan Saad dan Azel yang lebih memilih bermain catur diteras belakang rumahnya.


Tiba-tiba saja Qanita ingin kekamar kecil dan Irtiza menunjukkan untuk memakai kamar mandi yang berada didalam kamarnya. Saat Qanita tengah berada dikamar mandi, kini terlihat seseorang yang keluar dari mobil. Iya, dia adalah Arsen. Irtiza yang menyadari lebih dulu bahwa Arsen telah pulang sontak berdiri dari duduknya.


“Kakak.” Gumam Irtiza, namun masih bisa didengar oleh Ria yang membuatnya melihat kearah pandangan Irtiza.


“Arseeen.” Pekik gadis tersebut, kemudian berlari menghampiri Arsen.


Benar saja Arsen dan Andri dibuat kaget setengah mati oleh kehadiran gadis tersebut dikediaman Arsen.


“Ngapain kamu disini ?” Tanya Arsen dengan nada ketusnya.


“Iya nemuin kamulah, aku kangen tau.” Ucap Ria dengan manja dan melingkarkan tangannya dilengan Arsen, namun lagi-lagi ditepisnya.


Arsen kini masuk kedalam rumahnya tanpa mempedulikan gadis tersebut. Riapun mengikuti Arsen, namun tangannya lebih dulu cengkram oleh Andri.


“Kau jangan macam-macam. Lebih baik kamu pualng sekarang.” Ucap Andri dengan penuh penekanan.


“Aku cuma satu macam, merebut Arsen kembali.” Kemudian menghentakkan tangannya dan berlari menuju rumah Arsen.


“Ar, aku jauh-jauh kesini hanya untuk nemuin kamu. Tapi kamu malah nyuekin aku.” Tutur Ria dengan nada yang dibuat selembut mungkin.


“Sudah berapa kali aku ngomong sama kamu, jangan pernah berani temuin aku lagi. Apalagi sampai menginjakkan kaki dirumahku. Apa alat pendengaranmu sudah mulai tidak berfungsi dengan baik ?” Sentak Arsen dengan kasar hingga suaranya terdengar sampai teras belakang dan membuat permainan Saad dan Azel terhenti. Sementara diambang pintu kini tengah berdiri Andri dengan tatapan yang tak bisa artikan.


Disamping Arsen terlihat Irtiza yang mematung karena belum pernah melihat kakaknya berkata sekeras itu sebelumnya. Sementara Qanita baru saja kelaur dari kamar mandi dan sedang menuruni tangga namun langkahnya terhenti karena suara keras Arsen, ia berhenti disamping tembok yang menghubungkan dengan ruang tamu.


“Tapi kita belum putus, dan aku tidak akan pernah mau putus sama kamu Ar, aku cinta banget sama kamu.” Ucap Ria yang mulai terisak.


Mendengar hal itu langsung membuat Qanita menutup mulut berusaha menahan keterkejutan, sementara Irtiza kini tengah berkaca-kaca dan seperti merasakan apa yang kini dirasakan oleh Qanita. Ucapan Ria cukup membuat Saad, Azel dan Diana terkejut. Andri yang berada diambang pintu hanya menghela nafas pelan dan menggelengkan kepala sambil memahami apa yang ada dalam pikiran gadis yang bernama Tria itu.


“Camkan baik-baik, aku tidak pernah memiliki perasaan sedikitpun untukmu. Aku telah mencintai seseorang bahkan jauh sebelum aku berpacaran denganmu.” Ucap Arsen tegas.


“Siapa dia ? Aku akan merebutnya darimu Ar ?” ucap Tria berapi-api.


“Kau tidak perlu mengetahui siapa dia.” Ucap Arsen sambil memajukan kaki kanannya untuk meinggalkan ruang tamu namun, sebelum ia berjalan terlihat seseorang berjalan kearahnya.


“Maaf semuanya, saya pamit pulang. Assalamualaikum.” Ucap Qanita sambil menahan air mata agar tak jatuh. Kemudian berlari melewati Arsen yang tengah terkejut dan bingung akan keberadaannya sementara Andri dan Irtiza hanya dibuat mematung.


Saad, Azel dan Diana tak menyadari keberadaan Qanita dibalik tembok. Mereka hanya fokus pada Tria dan Arsen. Hingga saat Qanita pamit pulang Diana dibuat menitikan air mata, Saad juga Azel dibuat terkejut juga bengong.


“Qa, dengar dulu Qa.” Panggil Arsen setengah berlari mengejar Qanita.


“Qa, dengar penjelasanku dulu Qa. Tolong Qanitaaa.” Panggil Arsen dengan setengah berteriak namun tak digubris oleh Qanita malah semakin membuatnya terus berlari.


Saat Qanita masuk kedalam pekarangan rumahnya, pandangan Arsen menangkap mobil yang dikenalinya parkir didepan rumah Qanita.

__ADS_1


“Ini semua gara-gara gadis gila itu.” Gerutu Arsen dan dengan wajah menahan amarah kembali kedalam rumahnya.


__ADS_2