Kisah Ini Bernama Cinta

Kisah Ini Bernama Cinta
Bab 13 Membuka hati


__ADS_3

Suara dari arah masjid membangunkan Arsen dari tidurnya. Dengan masih menahan kantuk ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan mulai berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum menunaikan sholat Subuh di masjid.


Setelah itu dia bersiap-siap dan mulai melangkahkan kakinya keluar kamar. Benar saja ia mendapati papanya sudah menunggu sepeti biasa sedangkan adik bungsunya berjalanan dengan sempoyongan dan ogah-ogahan karena menahan kantuk dan sedang berjalanan menuju Saad yang di ruang tamu. Rasanya setiap Subuh Azel pasti seperti itu, namun dari kecil mereka telah dibiasakan untuk berjamaah di masjid.


“Ayo, udah mau adzan tuh.” Ajak Saad.


“Zel ngantuk banget pa, Zel nggak masjid hari ini aja pa. hoaam.” Nego Azel dengan menahan kantuk.


Melihat Azel yang menguap segera tangan Arsen menutup mulut adiknya “Kalau nguap tu mulut ditutup, nggak baik. Ntar kemasukan lalat baru tau rasa.”


“Ih, ngeselin aja subuh-subuh.” Ketus Azel.


“Ayo, nggak ada nego-nego.” Saad menarik tangan Azel, sedangkan Arsen telah lebih dulu berjalan kearah pintu.


“Ma berangkat dulu. Assalamualaikum.” Pamit Saad, Arsen, dan Azel.


“Iya, Waalaikummussalam.” Jawab Diana yang sedang berjalan menuju tiga laki-lakinya untuk menutup pintu.


***


Arsen melihat Rizky diteras masjid dengan sisa air wudhu yang masih menetes diwajahnya. Jika saja ada wanita yang sedang melihat Rizky dalam keadaan seperti itu maka tak bisa dielakkan lagi akan terhipnotis. Laki-laki yang mewarisi hidung mancung dan mata besar sang ayah, alis tebal hitam dan teratur sang ibu, kulit sawo matang khas Indonesia, rahang yang tegas, dan perawakan yang tinggi semakin menjadi nilai tambah untuk seorang Rizky Alfaiz.


“Apakah dia sedang bahagia atau malah sebaliknya ?” guman Arsen pada diri sendiri.


Kemudian dipanggilnya Rizky, sedangkan Rizky melayangkan senyum dan menghentikan langkahnya menunggu Arsen yang semakin mendekat kearahnya. Keduanyapun berjalan menuju dalam masjid dan ikut melebur dalam kekhusyu’an bersama jamaah lainnya. Setelah berjamaah terlihat Arsen dan Rizky berbasa-basi. Beberapa saat dirasa waktu yang mereka habiskan sudah terlalu lama.


“Ky, aku pamit dulu yah. Takut telat ntar ngantor. Papa sama Azel juga udah ninggalin aku nih.” Ucap Arsen.


“Eh iya, tinggal kita doang ini. Hahaha. Ya udah aku juga sekalian mau pulang juga. Semoga hari-harimu berjalan lancar Ar. Assalamualaikum.” Ucap Rizky dan memberi salam pada Arsen. Keduanyapun berpisah, karena arah rumah keduanya berlawanan.


Arsen yang berjalan sendirian kerumahnya, saat ini melewati rumah Qanita. Dengan reflex pandangan Arsen, menatap rumah Qanita. Benar saja Qanita kini berada didepan rumahnya dan sedang menatap pada Arsen juga.


Cukup lama mereka beradu pandang, seolah-olah tak ingin saling melepas. Kemudian Qanita tersadar dan beristigfar. Sejurus kemudian dia membalikkan badan memunggungi Arsen dan kembali kedalam rumahnya. Sedangkan Arsen kini berjalan pelan dengan berbagai pertanyaan dikepalanya.


“Tumben, biasanya kan aku langsung dijutekkin. Eh bentar-bentar. Semalam kalau nggak salah aku dapat pesan dari dia. Apa aku mimpi ? Astagaaa HPku.” Gumam Arsen dan berlari menuju rumahnya.


Sesampainya dirumah, ia langsung mempercepat langkahnya menaiki anak tangga yang membawanya menuju kamar. Dibukakannya pintu kamar, kemudian mulai mengedarkan pandangannya mencari barang mungil tersebut. Cukup lama mencari, dan kini tangannya mendapati barang tersebut dibawah tempat tidur.


Bruuk,,


“Aaauw.” Pekikinya karena kepala yang terbentur sisi tempat tidur.


“Perasaan nggak keras-keras amat kulempar ni HP. Kok sampai dibawah tempat tidur segala sih.” Gerutuya sambil mengecek sisi HPnya. Beruntung tidak ada lecet yang berarti.


Dinyalakannya HP tersebut dan benar saja ada notif pesan Qanita, itu juga menandakan bahwa semalam ia tak mimpi.


“Astaga, bearati semalam aku nggak mimpi dong. Tapi ngapain dia malam-malam ngechat.” Arsen berbicara pada diri sendiri dan mulai membuka pesan dari Qanita.


Assalamualaikum, udah tidur kah ?


Arsen bertanya-tanya dengan pesan Qanita. Kemudian jarinya mulai mengetik balasan dari pesan gadis tersebut.


“Kenapa malam-malam ngechat ?” Ia membalas pesan dari Qanita.


Arsen meninggalkan HPnya di atas tempat tidur dan bersiap-siap untuk ke kantor.


***


Sementara Qanita sejak tatapannya beradu pandang dengan Arsen, membuatnya merasakan hal yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Ingatannya seakan tak ingin lepas dari tatapan Arsen. Diucapkannya Istigfar berkali-kali dan melanjutkan kegiatan membantu Maya memasak. Setelah membantu Maya, ia kini melangkah menuju kamar untuk bersiap-siap ke tempat kerja. Ia mengecek HP dan melihat pesan dikirimkan kepada Arsen semalam mendapat jawaban.


“Telat, telat. Ku chat kapan kamu balas kapan.” Kesalnya sendiri.


Telat, aku ngechat kapan kamu balas kapan. Kalimat tersebut langsung dikirimkan kepada Arsen. Setelah itu beranjak menuju kamar mandi.


Hingga setelah bersiap-siappun belum terlihat notif dari Arsen untuk Qanita. Ia pun segera memasukkan HP kedalam tas ranselnya. Sejurus kemudian ikut bergabung dengan lain untuk sarapan.


“Selamat pagi kak.” Goda Nazeen.


Qanita hanya berdehem tanpa ingin berbicara pada adik bungsunya itu.


“Sayang apa hari ini tidak apa-apa kamu pergi kerja ?” Tanya Maya sedikit cemas.


“Nggak apa-apa. Emang kenapa bu ?” Tanyanya kembali. “Anit nggak sakit kok.”

__ADS_1


“Bukan badannya kak Anit yang sakit, tapi hatinya.” Ucap Nazeen dengan gaya yang terkesan lebih menggoda.


Sontak saja membuat Nazeen mendapatkan pandangan yang seperti mengintimidasi. Kecuali Qanita yang tidak mengerti.


“Haaaa, maksudnya. Kenapa hati yang sakit. Emang aku kenapa ?” Tanya Qanita bingung.


“Nggak kak, maksudnya itu. Kan semalam kakak ngasih jawaban tuh, trus abis itu wajahnya tuh nggak enak gitu kayak ada yang ngejanggal gitu.” Kata Fateeh menjelaskan.


“Astaga, Anit baik-baik aja. Gak kenapa-kenapa. Walaupun Anit lagi agak kesal sama orang. Tapi bukan berarti hati Anit sakit kan. Ihhh pada berlebihan banget sih.” Ucapnya dengan wajah menahan kesal.


“Sudah sudah, ayo habiskan sarapan kalian. Ini sudah jam berapa. Ayah juga harus segera ke kantor. Kamu juga kan Anit.” Lerai Abdillah pada ketiga anaknya.


Setelah sarapan, Abdillah mengantar kedua putranya, sementara Qanita tengah bersiap-siap menuju tempat kerjanya. Lagi-lagi pagi ini matanya menatap mobil yang menjemput Arsen. Qanita masih menatap mobil yang sudah melewati depan rumahnya dengan seulas senyum tipis. Kemudian mulai melajukan motornya.


Persis saat Qanita akan memecah jalanan depan rumahnya, ia dikejutkan dengan suara klakson. Saking terkejutnya Qanita dibuat berbalik badan melihat siapa yang mengklaksonnya itu.


“Nggak orangnya, nggak motornya sama-sama cempreng.” Gerutunya.


“Aniiiit. Assalamualaikum.” Sapa Irtiza dengan senyum lebarnya.


“Waalaikumussalam.” Jawab Qanita dengan senyum yang dibuatnya.


“Berangkat bareng yah. Hem, hem, hem kan kita searah.” Ajak Irtiza dengan sedikit menggoda.


“Kamu sarapan apa tadi ? Kok jadi makin aneh sih.” Ucap Qanita, dan segera menyalakan motornya.


Irtiza hanya menatap Qanita dengan kesal, iapun menyalakan motornya dan mengekori Qanita.


Cukup lama mereka berkendara dengan motor masing-masing, dan kini tibalah di depan kampusnya Irtiza. Sebagai tanda pamitnya kepada Qanita Irtiza mengklaksonnya, hal yang sama juga dilakukan oleh Qanita tapi tak menghentikan laju motornya.


Saat akan memarkirkan motornya, Irtiza dikejutkan oleh gadis dengan jilbab abu-abu dan gamis warna senada.


“Assalamualaikum Irtiza cantik.” Kejut Faiza.


“Waalaikumussalam. Zaaaa kamu ngapain bikin kaget aja.” Balas Irtiza sambil mengelus dadanya.


“Nggak ngapa-ngapain. Tadi kamu klakson siapa depan kampus.” Tanya Faiza.


“Calon kakak ipar.” Jawab Irtiza ketus.


“Hahahaha, sabar, sabar. Lah, kamu tahu dari mana kalau aku klakson orang ? Kini Irtiza yang balik bertanya.


“Aku tuh ada dibelakang kamu tadi cempreng, makanya aku tau. Aku yakin kamu pasti nggak tau kalau yang dibelakangmu itu aku. Kebiasaan.”


“Emang nggak tau, kan dibelakangku juga banyak motor sama mobil. Bukan cuma kamu sama motormu.” Ucap Irtiza membela diri.


“Heeem, ayo ke kelas yuk. Kita debat nggak selesai-selesai.” Ajak Faiza. Kemudian diangguki oleh Irtiza.


***


Arsen kini sudah berada diruangannya, dilihat notif dari Qanita namun belum ingin untuk membuka ataupun membalasnya.


“Ndri, jadwalku hari ini apa aja ?” Tanyanya megalihkan pandangan pada Andri.


“Jam sembilan ada rapat dengan para petinggi untuk membahas perkembangan perusahaan. Setelah makan siang ada pertemuan dengan klien, dan terakhir ada tanda tangan kontrak dengan perusahaan X.” Jelas Andri sambil melihat tablet ditangannya.


“Sepertinya akan pulang malam lagi ini. Ya sudah sebelum rapat aku akan mempelajari berkas-berkas ini dulu Ndri.” Tutur Arsen.


Andri hanya melihat Arsen tanpa berbicara sepatah katapun.


Setelah beberapa saat Andri kembali bersuara “Maaf pak, ini sudah jam sembilan, artinya kita harus segera keruang tempat rapat dilaksanakan.” Ucap Andri lebih sopan.


Arsen hanya menghela nafasnya, dan mulai beranjak dari kursi kerjanya. Tak ketinggalan Andripun mengikutinya dengan membawa beberapa buah map.


Pagi berganti siang, dan siangpun kini disambut sore. Tapi Arsen masih berada diperjalanan untuk kembali kekantornya setelah menandatangani kontrak seperti yang telah dijadwalkan. Ingin sekali rasanya ia pulang namun beberapa berkas harus dipelajari dan harus diselesaikan paling lambat besok karena lusa akan harus presentasikan. Perusahaan Arsen memang bergerak dalam seluruh bidang pertanian, tak jarang juga Arsen harus turun lapang melihat lahan-lahan pertanian yang dikelolah oleh perusahannya.


“Ndri ini sudah jam berapa ?” Tanya Arsen sambil menutup mata dan memijit keningnya.


“Jam 15:30 pak.” Jawab Andri dan kembali fokus menyetir.


Arsen hanya mampu menghela nafasnya.


“Sudah kuduga Ndri, dengan papa melimpahkan pekerjaannya dikantor pusat padaku, aku akan semakin sibuk.” Ucap Arsen sambil melihat keluar kaca mobil.

__ADS_1


“Iya pak, sayapun begitu. Akan lebih sering menghadapi kemarahan, uring-uringan juga galaunya bapak.” Ucap Andri dengan jujurnya.


Arsen hanya menatap Andri tajam tanpa berniat menjawab. Sementara Andri, memainkan alisnya untuk menambah kekesalan Arsen.


***


“Ndri, udah Isya. Pulanglah kita, ini juga sudah kan ? Lusa tinggal presentasi aja, sama karyawan dilapangan.” Ucap Arsen.


“Iya sudah pak. Bapak kalau keberatan turun langsung kelapangan biar diwakilkan saja pak.” Usul Andri.


“Nggak Ndri, kan kamu tahu. Kalau kita juga harus menjalin kedekatan emosianal dengan para karyawan dilapangan. Bukan hanya dilingkungan perusahaan saja. Lagian lusa biar saya sekalian refreshing ke lahan-lahan hijau, bosen liat tembok sama kamu mulu tiap hari.” Jelas Arsen.


“Makanya cepet nikah, biar bisa ngeliat istri juga tiap pagi pak.” Ucap Andri tak kalah ketusnya.


“Memang kamu sudah ?” Tanya Arsen dan beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Andri dalam ruangan.


“Iya juga sih. Bos tunggu.” Segera menyusul Arsen yang sudah tak terlihat dibalik pintu.


Mereka berdua tengah berada didalam mobil untuk mengantar Arsen kembali ke rumah. Arsen tiba-tiba ingat dengan pesan Qanita tadi pagi. Dibukanya HP dan membaca pesan dari Qanita.


Lalu ? Hanya itu balasan pesan yang ditujukan pada Qanita.


Dimasukkan kembali HP dalam kantongnya, dan tak terasa mereka sudah sampai depan rumahnya Arsen. Tak lama setelah itu ia masuk kedalam rumah dan mobil tersebut perlahan-lahan meninggalkan depan rumah Arsen.


Setelah mendapat sambutan dari anggota keluarganya, saat ini Arsen tengah membersihkan diri dan bersiap untuk menunaikan sholat Isya. Setelahnya ia menuju meja makan, didapatinya lauk pauk yang telah disiapkan oleh sang mama dan juga adiknya. Meskipun harus makan sendiri namun tak menyurutkan nafsu makannya.


Setelah makan ia membawa piringnya menuju wastafel dan mulai mencuci piring makan yang digunakannya. Meskipun dirumah itu ada beberapa asisten rumah tangga, namun Arsen sudah terbiasa melakukan hal tersebut dan tak ingin merepotkan orang lain.


Sekembalinya Arsen kekamar diceknya kembali HP dan mendapati adanya notif pesan dari Qanita.


Apanya yang lalu ?


“Pesanmu belum ada 24jam tidak kubalas. Sudah membuatmu kesal. Lantas bagaimana dengan ku yang menunggu bertahun-tahun. Namun nyatanya aku harus liat kamu dengan orang lain ?” Pesan itu kini telah terkirim pada Qanita.


Aku ingin memberitahumu tentang jawabanku pada dia semalam.


“Apa untungnya untukku mengetahui jawabanmu ? Apa kamu berniat untuk menyakitiku lebih lagi ? Karena kamu tahu aku lemah jika denganmu, kemudian kamu ingin memberikan lebih lagi ? Udah cukup Qanita.” Dengan sakit dan bertekad untuk tetap kuat meski sebenarnya tidak akan mudah ia mengirim pesan yang cukup menyindir itu.


Baiklah, aku ingin memberi tahu jawabanku terhadap perasaanmu.


Mendapat balasan seperti itu membuat Arsen duduk dari tidurnya, mulai mencerna pesan Qanita. Sedetik kemudian jariya mulai menari di atas layar HPnya.


“Apa ? Apakah aku mendapatkan penolakan lagi ? ah tentu saja.”


Jangan sok tahu, memangnya kamu tahu apa yang ada dipikiranku ?


Lagi-lagi Arsen dibuat bertanya-tanya tentang maksud Qanita. “Lalu ?” Hanya itu balasan pesan untuk Qanita. Tak berapa lama iapun menerima balasan dari pertanyaannya tadi.


Semalam aku menolak ajakan Ta’arufnya kak Rizky.


Dan lagi Arsen dibuat sangat terkejut dengan pesan dari Qanita dan lagi hanya kata “Lalu ?” yang bisa dikirim pada Qanita.


Sudahlah, tidak lalu lalu. Terserah kamu saja.


“Aneh dia ini.” Gumamnya. Sejenak dia berpikir dan seulas senyum lebar mengembang dibibirnya. Kemudian mulai mengetik balasannya “Apa ini artinya aku masih punya kesempatan Qa ?” dan mengirim pesan tersebut.


Nggak tahu. Aku ngantuk.


Senyum Arsen lagi-lagi mengembang dibibirnya. “Kalau begitu kupastikan untuk memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik mungkin. Mohon bantuannya Qa.”


Lalu bagaimana jika aku nggak mau bantuin ?


“Berarti kamu berdosa, padahal kan kamu bisa bantu aku.”


Selamat berusaha Mr. petakilan. Semoga berhasil.


“Aku akan berhasil jika kamu bersedia membantu.”


Aku akan coba membantu.


Terima kasih. Tadi katanya ngantuk, kenapa masih dibalas chatku ?


Senyum Arsen tak henti-henti mengembang dari bibirnya. Sementara pesan terakhirnya sudah tidak mendapatkan balasan dari Qanita.

__ADS_1


Ditempat lain, Qanita sedang menyunggingkan senyum manisnya. Kemudian mulai membuka laptopnya untuk mengerjakan pekerjaan yang dibawanya pulang tadi.


__ADS_2