Kisah Ini Bernama Cinta

Kisah Ini Bernama Cinta
Bab 17 Berubah


__ADS_3

Sekembalinya dari rumah Abdillah, tak langsung membuat Saad beranjak kekamarnya. Ia sedang duduk diruang tamu ditemani Arsen dan Diana yang sesekali sesenggukan. Irtiza dan Azel telah kembali kekamarnya masing-masing.


Terdengar helaan nafas yang cukup berat dari Saad, “Ar, tolong kamu jelaskan tentang gadis itu ?” Tanya Saad tanpa memandang putra sulungnya itu. “Tolong jelaskan sedetail-detailnya.” Ucap Saad kembali dan penuh penekanan.


“Pa, ma.” Ia menatap kedua orang tuanya. “Seperti yang telah Arsen jelaskan tadi dirumah om Abdi, Arsen memang berhubungan dengannya selama beberapa tahun. Selama itu Arsen berusaha untuk meyakini hati Arsen untuk menjadikan ia satu-satunya dihati Arsen, karena Arsen liat dia begitu memperhatikan dan mencintai Arsen.”


Diana kini menatap putranya dengan serius “lalu?” Tanyanya pada sang anak yang sepertinya sedang mengumpulkan keberaniannya lagi.


“Sedikit demi sedikit, lama kelamaan, Arsen mulai nyaman dengannya. Sampai saat Arsen berpikir untuk membuka hati Arsen buat dia, tapi nggak tau malam itu Arsen benar-benar ragu buat ngelakuin hal itu.” Ucap Arsen kembali.


“Kemudian kamu putusin dia secara sepihak gitu maksudmu ?” Tanya Saad dengan nada yang mengintimidasi.


“Arsen udah coba ngomong baik-baik pa sama Tria, tapi dia nggak terima dengan keputusan Arsen. Arsen kembali kerumah inipun jika tidak bisa memperjuangkan Qanita, setidaknya Arsen ingin berdamai dengan diri Arsen pa. Arsen nggak mau jadi pengecut lagi pa.” kata Arsen dan memejamkan matanya. “Arsen ngerasa hanya putri om Abdi yang Arsen cintai pa, Arsen yakin akan hal itu. Bahkan dari dulu.” Timpal Arsen.


“Dan sekarang kamu menyakiti hati dua gadis yang tak bersalah, karena perasaanmu itu ? Kau lihat betapa kecewanya gadis itu tadi ? Dan kau liat betapa hancurnya hati Qanita tadi sore ? Dan sekarang liat mama nak, liat mama. Mama merasa telah gagal mendidikmu, mengajarimu untuk memuliakan wanita. Bukan seperti ini nak, mama seperti tak mengenalimu lagi.” Tutur Diana dengan berapi-api, sedangkan Saad sudah sedikit lebih tenang.


“Maaaa, tenang.” Ucap Saad sambil mengelus lembut tangan istrinya. “Lalu, sekarang bagaimana perasaanmu pada gadis itu ?” Tanya Saad kembali dan menatap lekat-lekat wajah Arsen.


“Hanya Qanita yang ada dihati Arsen pa.” Jawab Arsen sembari menatap kedua ujung kakinya dilantai. “Tapi sekarang Arsen tau, sudah tidak mungkin lagi Arsen mendapat kesempatan darinya. Sedangkan Tria sudah Arsen buat kecewa, dan mungkin sudah tak ingin bertemu dengan Arsen lagi, setelah kejadian tadi sore.”


Lagi-lagi terdengar helaan nafas berat dari Saad “Kembalilah kekamarmu, tenangkan dirimu. Dan jangan menghubungi atau menemui kedua gadis yang telah kau sakiti itu dulu.” Saran Saad dan beranjak dari tempat duduk sambil menggandeng tangan istrinya.


Dengan langkah yang berat Arsen mengajak tubuhnya untuk berjalan kekamar. Sesampainya dikamar, dan dengan langkah yang lunglai juga pikiran kosong ia membaringkan diri di atas tempat tidur. Dipandangi langit kamarnya lekat-lekat. Tak lama kemudian, ia memasukkan tangannya disalah satu kantong celana, diraih benda mungil itu dan mulai menyalakannya.


Ia mencari kontak Andri dan mulai mengetik pesan untun asisten pribadinya itu.


“Cari tahu tentang dia, usahakan untuk awasi dia. Jangan sampai terjadi hal-hal buruk padanya.” Kemudian mengirim pesan tersebut pada Andri.


Andri menyadari siapa yang dimaksud oleh atasannya, langsung menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk memantau Tria.


Baik pak.


Arsen yang telah menerima balasan dari Andri, langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum mengistirahatkan tubuh juga pikirannya.


***


Sudah menjadi rutinitas Arsen jika hari libur ia akan berolahraga untuk menjaga kebugaran juga bentuk tubuhnya. Sama dengan pagi ini, ia akan melakukan jogging mengitari kompleks perumahnya yang tak bisa dibilang kecil.


Pagi ini ia sedang duduk sambil mengikat tali sepatunya disalah satu kursi yang ada didepan rumahnya. Terlihat bayangan seseorang dari arah dalam rumah.


“Mau jogging kak ?” Tanya Irtiza.


“Iya Ca, mau ikut ?” Ajak Arsen.

__ADS_1


“Hmm, nggak kak. Kakak aja. Aku lagi siklus jadi males.” Jelas Irtiza.


“Iya udah, kakak jalan dulu. Assalamualaikum.” Pamit Arsen.


Irtiza terlihat menyunggingkan senyum kearah kakaknya “Hati-hati, Waalaikumussalam.” Terlihat mata Irtiza berkaca-kaca melihat kepergian kakaknya. “Seharusnya semalam jadi awal perjalanan bahagiamu kak, malah seperti ini. Kakak kuat yah, aku tau kakak orang baik kok.” Batinnya dan beberapa cairan bening lepas dari ujung matanya. Saat membalik badannya, ia melihat Diana sedang memperhatikannya.


“Kamu kenapa ?” tanya Diana dengan lembut, sambil berjalan menuju putrinya.


“Nggak apa-apa ma.” Ucapnya diringi senyum semeringahnya.


Diana tersenyum dan membawa putrinya duduk dikursi ruang tamu “Mama tau apa yang sedang kamu pikirkan sayang. Biarkan kakakmu belajar dari masalah ini dan mengambil pelajarannya.” Ucap Diana memberi pengertian pada putrinya.


“Apa kakak salah ma, ingin melupakan Anita dan memulainya dengan gadis lain ?” tanya Irtiza dengan lembutnya.


“Tidak salah sayang, tidak ada yang salah. Mereka diseret oleh situasi yang sulit untuk dipahami. Kakakmu berhak mencari kebahagiannya, namun kenapa ia masih menyimpan perasaan yang amat pada Qanita, Qanitapun tak salah jika ingin membenci kakakmu karena masa lalunya itu. Dan Tria juga tidak salah sayang, karena dia mencintai kakakmu dengan tulus, meskipun kakakmu tidak bisa membalasnya.” Ucap Diana yang tengah memeluk putrinya dan mengelus puncak kepalanya. “Apa kamu membenci Qanita sayang ?” Tanya Diana kembali.


“Tidak ma, aku tidak membencinya. Untuk apa aku membencinya.” Ucap Irtiza yang semakin mempererat pelukan mamanya.


***


Setelah merasa semakin lelah dan keringatnya sudah membasahi hampir seluruh bajunya. Iapun berlari pelan menuju rumah, kini ia tengah berada didepan rumah Qanita, matanya pun melirik depan rumah tersebut. Tak lama setelah itu pintu pagarnya terbuka, dan memperlihatkan Qanita yang sudah rapi menandakan ia akan bepergian.


Dibukakannya pintu pagar rumahnya lebar-lebar. Sedetik kemudian tatapannya bertemu dengan manik Arsen. Cukup lama mereka saling berpandangan, namun Arsen dibuat terkejut dengan yang dilihatnya. Mata Qanita seolah menyipit dan berkantung, menandakan bahwa ia telah banyak menangis. Qanita menatap laki-laki tersebut tanpa ekspresi apapun, dan tanpa kata apapun.


Langkah Arsen kembali diayunkan menuju rumah. Dengan ogah-ogahan dibukanya tali sepatu dan meletakkannya ditempat yang telah disediakan. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana kacaunya keadaan Qanita tadi. Meskipun ia terlihat rapi, tapi Arsen yakin kini hatinya sedang hancur berkeping-keping.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan halus dari balik pintu kamarnya. “Buka aja.” Ucap Arsen.


“Kakak, apa mau Ica bikinkan cake ?” Tanya Irtiza lembut, ia hanya memperlihatkan kepalanya yang terbalut jilbab instan hitam.


Arsen dibuat tesenyum dengan tingkah adik perempuannya itu. “Iya boleh, asal jangan ditambahkan racun saja.” Ucap Arsen.


Irtiza hanya terkekeh mendengar ucapan kakaknya “Ya udah, kakak bersih-bersih aja dulu. Ntar kalau udah mateng Ica akan panggil.” Kemudian segera berlalu menuju dapur.


“Iya Ca, terima kasih.” Tutur Arsen tulus.


Seperginya sang adik, Arsen mulai membersihkan diri dan tak lupa untuk memunaikan sholat Dhuha. Diambilnya HP dan mencari kontak Royyan, mengingat temannya itu belum mengetahui hal yang terjadi pada dirinya. Royyan hanya mengetahui bahwa ia telah diterima oleh Qanita dan akan segera melamarnya.


“Yan, ntar malam kan malam minggu. Nggak sibuk kan kamu ?” Arsen mengirim pesan itu pada Royyan. Tak lama menunggu, pesan Arsen kini sudah dibalas oleh Royyan.


Iya nggak, mau ngajak nongkrong kan kamu. Udah hafal aku. Ketemu tempat biasanya. Balas Royyan yang langsung pada intinya.

__ADS_1


“Hahaha, tau aja kamu Yan. hubungi Zacky juga. Biar bisa bertiga gitu. Jam biasa yah.” Arsen pun kembali mengirim balasan pesan tersebut untuk Royyan.


Hmmm.


Hanya kata singkat tersebut yang menjadi balasan pesan untuk Arsen.


“Kaaaak, Kakak. Udah siap nih. Kakak udah selesai belum.” Terdengar suara Irtiza yang cempreng dari arah dapur.


Tanpa menyauti Arsen segera menuruni anak tangga yang membawanya menuju ruang keluarga dan langsung terhubung kearah dapur, kemudian duduk dimeja makan.


Irtiza yang masih memotong cake melihat sang kakak berjalan kearahnya kemudian memindahkan beberapa potong kedalam piring "Niiiih cakenya, khusus buat kakak. Cake rasa cinta." Ucap Irtiza semangat.


“Kalau khsusu buat kakak, berarti yang lain nggak boleh makan dong ?” Tanya Arsen, kemudian mulai memakan cake tersebut “loooh, tadi katanya rasa cinta, kok ini manis dek ?” Tanyanya kembali.


Irtiza hanya terkekeh dengan candaan sang kakak “maksud Ica, cake dalam piring ini khusus buat kakak.” Sambil menepuk samping piring yang sedang ada dihadapan sang kakak. “Ini memang rasanya manis tapi Ica buat dengan cinta dan sepenuh hati.” Tuturnya sambil tersenyum sumeringah.


“Jangan senyum kayak gitu dek.” Ucap Arsen.


“Kenapa?” Tanyanya dengan kening yang berkerut.


“Cakenya makin manis nih, ntar kakak kena diabetes.” Tutur Arsen sambil tersenyum menggoda.


“Hahahaha, kakak bisa aja.” Kemudian mendaratkan tubuhnya dikursi samping Arsen, dan bersandar dibahu sang kakak.


Arsen yang sudah mengetahui niat sang adik adalah ingin menghiburnya, langsung mencium puncak kepala Irtiza dengan sayang “Mama kemana dek?” Tanya Arsen disela kunyahannya.


“Biasa lagi ngumpul sama teman-temannya, papa lagi ada urusan sama teman katanya. Jadinya cuma kita berdua sama beberapa asisten rumah deh.” Jawab Irtiza tanpa mengubah posisi kepalanya dari bahu Arsen.


Arsen hanya ber-oh ria, tanpa berhenti menguyah.


***


Pertemuannya dengan Arsen pagi tadi membuat hati Qanita semakin sakit dan lagi-lagi cairan bening itu keluar dari matanya. Ia sudah tak peduli dengan matanya yang semakin menyipit dan menyita perhatian beberapa karyawan ayahnya. Lama ia menangis dalam diam, sebelum ia memutuskan untuk ke kamar mandi dan berwudhu untuk melakukan sholat Dhuha.


Ia segera melangkahkan kaki jenjangnya yang terbalut rok plisket berwarna hitam mengarah ke mushollah yang ada di dalam kantornya. Sesampainya dimushollah, dipakainya mukenah yang telah dibawa dari ruangan dan mendirikan sholat Dhuha.


Cukup lama ia menengadahkan tangan dan mulutnya melafadzkan beberapa ayat Al-Qur’an beserta doa dan harapannya. Ia sudah lelah menangis namun lagi-lagi untuk kesekian kalinya air mata kembali menetes. Sepasang mata tengah menatap kearahnya yang juga selesai mengerjakan sholat Dhuha, dan pandangan mereka bertemu ketika Qanita akan keluar dari mushollah.


“Ayah, Anit kira nggak kekantor hari Sabtu ini. Ayah ngapain berdiri disitu ? Ngapain juga ngeliat Anit kayak gitu ?” Tanyanya sambil merapikan jilbab.


“Iya, ada beberapa pekerjaan yang harus ayah selesaikan. Kamu sebaiknya pulang dan istirahat nak, kamu sedang terlihat tidak baik-baik saja.” Tutur Abdillah.


Seulas senyum tipis diberikan kepada sang ayah “Anit nggak apa-apa yah. Anit baik-baik aja. Anit keruangan dulu yah.” Pamitnya pada Abdillah.

__ADS_1


Sambil memejamkan mata dan mengangguk Abdillah mempersilahkan putrinya pergi keruangan. Saat ini Abdillah sedang menatap punggung putrinya kemudian dia menghembuskan nafas dengan berat seolah ada batu yang mengganjal didadanya.


__ADS_2