
Qanita, Rafay dan Syiffa tengah menikmati makan malamnya. Tidak ada percakapan antara ketiganya hinnga Syiffa bertanya pada Qanita.
“Tadi siapa yang datang dek ?”
“Hmm, Andri kak.” Jawab Qanita dan meminum air dalam gelasnya.
“Andri siapa ?” Tanya Rafay.
“Asisten Arsen mas.” Jelas Syiffa.
“Ngapain dia Anit ?” Tanya Rafay dengan penuh selidik.
“Maaaas, jangan pengen tau aja deh.” Ucap Syiffa menghentikan suaminya yang seperti tengah mengintrogasi adik iparnya.
“Kan cuma pengen tau aja dek.” Rafay membela dirinya.
Qanita hanya menatap datar sepasang suami istri itu. “Ada yang dibicarakan.”
Mendapat jawaban dari Qanita keduanya pun diam dan menghabiskan makanan masing-masing.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23:00 namun mata Qanita belum mau terpejam. Ia sedang memikirkan ucapan Tria tadi sore yang membuatnya berpikir apakah dia terlalu egois dan tidak ingin mendengarkan penjelasan dari Arsen.
Namun bukankah ia sudah mendapat penjelasan dari Arsen juga dari Tria tadi. Lantas apa yang masih membuatnya bingung. Ia harus segera mengambil keputusan.
“Tidak tahu, aku ingin tidur saja.” Kemudian membenamkan diri dibalik selimut.
Pagi ini Qanita tengah bersiap-siap menuju kantor, padahal sebenarnya hari ini adalah hari Sabtu, bisa saja ia meliburkan diri. Namun ia menyadari tugasnya sedang menumpuk di atas meja kerja kantornya.
“Kak, kayaknya Anit nanti liat rumah yang akan dibayar itu dulu deh sepulang kerja.” Ujarnya pada dua orang yang sedang bersamanya menikmati sarapan.
“Kamu jadi beli rumah ?” Tanya Rafay.
“Iya mas.”
“Iya, tapi ntar kamu kabarin yah, kalau pulang telat.” Tutur Syiffa.
“Iya kak.” Ucap Qanita dan segera menyelesaikan sarapannya.
***
Dari sesampainya dikantor ia sudah sibuk dengan map-map yang ada didepannya dan sesekali membuka email juga mengetik sesuatu dikomputer. Tanpa ia sadari waktu sudah semakin berlalu, dan sudah menunjukkan jam makan siang.
“Pantes aja perutku udah bunyi, ternyata udah jam segini.” Gumamnya dan meninggalkan ruangan untuk melaksanakan sholat lebih dulu.
Setelah melaksanakan sholat ia berniat untuk menuju kantin, namun ia teringat jika di hari Sabtu kantin kantornya tak seramai hari-hari biasa, maka bisa dipastikan makananpun tak begitu beragam. Lama ia menimbang akan makan dimana, dan memutuskan untuk makan bakso yang tak jauh dari kantornya, ia juga berencana untuk sekalian pulang. Qanitapun melangkahkan kakinya kmbali keruangan dan membereskan perlengkapan dan kantor.
Kini ia sedang duduk disebuah warung bakso yang ia sukai, diambilnya HP dan mencari kontak agen perumahan yang akan dibeli. Kemudian mengirim pesan bahwa ingin melihat rumah itu sekali lagi sebelum memutuskan untuk membeli.
Setelah menikmati bakso, ia melajukan motornya keperumahan. Letak perumahan yang tersebut tak jauh dari kantor ataupun rumah kedua orang tuanya. Motornya berhenti disalah satu depan rumah, ia sangat suka dengan konsep rumah tersebut. Meskipun ada beberapa bagian yang tidak menggambarkan dirinya, namun itu bisa direnovasi.
Dari dalam rumah terlihat dua wanita yang menunggunya, kemudian ia berjalan menuju halaman rumah dan menyapa kedua wanita tersebut. Cukup lama mereka berdiskusi hingga akhirnya Qanita memutuskan untuk membeli dan akan segera menyelesaikan administrasi.
Mereka berpisah didepan rumah yang akan dibeli oleh Qanita, ia terlihat bingung harus kemana, karena belum ingin pulang kerumah kedua orang tuanya dan juga rumah kakaknya. Sedetik kemudian dia menyunggingkan senyum menandakan tahu harus kemana, dan mulai menjalankan motornya. Rupanya ia akan pergi kepantai untuk menenangkan pikiran dan hatinya.
Sesampainya dipantai, yang dikiranya akan sepi tetpaimalah sebaliknya. Ia mengingat bahwa ini hari Sabtu dan sudah bisa dipastikan orang-orang akan menghabiskan waktunya untuk berlibur bersama keluarga. Meski begitu ia tetap berjalan-jalan sendiri dibibir pantai, sambil mempersilahkan kakinya diterpa ombak.
Setelah merasa cukup bermain dipanatai segera ia kembali ketempat motornya diparkirkan. Dan lagi, ia memikirkan harus pulang kemana. Cukup lama berpikir dan dengan berat hati memutuskan untuk kembali kerumah kedua orang tuanya. Ia juga kangen pada orang-orang rumahnya.
***
“Assalamualaikum.” Salamnnya saat berada didepan rumah.
“Waalaikumussalam.” Seorang wanita menjawab salamnya dari dalam rumah, dan terdengar derap langkah menuju sumber suara.
__ADS_1
“Anit sayang. Sudah pulang.” Ucap Maya menyapa putrinya dengan senyum yang mengembang.
“Iya bu.” Kemudian mencium tangan Maya “yang lain mana bu ?”
“Biasa sayang, mereka jalan-jalan katanya.” Ucap Maya mendahului Qanita.
“Hmm, pantesan mobilnya ayah nggak ada.” Timpalnya. “Anita kekamar dulu ya bu, tadi Anit abis ngantor soalnya.”
“Iya sayang.” Seulas senyum tak henti-hentinya Maya berikan. “Selamat datang kembali sayang.” Batinnya.
***
Setelah membersihkan diri dikamar Qanita kembali menuruni anak tangga yang membawanya ke dapur untuk membantu sang ibu.
“Ada yang bisa Anit bantu bu ?”
“Kamu siapin aja peralatan makan sayang, ini udah mau selesai kok.” Ucap Maya.
Qanita hanya mengangguk dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Maya “Kok mereka belum pulang bu ?”
“Paling sebentar lagi nak.” Tanpa melihat Qanita sambil sibuk memasak. “Kamu sudah ngasih tau kakakmu kalau kamu pulang kerumah ?” Tanya Maya sedang berjalan menuju Qanita yang tengah duduk dikursi meja makan, setelah menyelesaikan masakannya.
“Sudah bu tadi.” Ucap Qanita.
“Kenapa lagi ?” Tanya Maya kembali yang melihat wajah Qanita yang sedang ditekuk.
“Hmmm, kemarin Andri dan Tria ke rumah kak Syi bu.” Ucapnya dengan lirih.
“Terus ?”
Lagsung saja Qanita menceritakan apa yang didengarnya dari Tria kemarin perihal hubungannya dengan Arsen yang sudah berakhir.
“Jadi makanya kamu pulang karena itu ?” Tanya Maya.
“Iya sayang, gadis itu benar. Berikan dia kesempatan, jangan langsung menghukumnya seperti ini, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan nak. Allah saja selalu memaafkan hamba_Nya yang bertaubat apa pula kita nak yang hanya sebagai sesama makhluk ciptaan_Nya.” Maya memberi pengertian dan menatap wajah putrinya.
“Anit sedang mencobanya bu, semoga saja bisa.” Tuturnya jujur.
“Sini.” Maya membawa Qanita dalam pelukannya. “Denger kata-kata ibu ini ya nak, sebagai seseorang yang mengenal kamu dari kecil sampai sekarang. Ibu tau kamu baik, dan kamu rela berkorban untuk orang yang kamu sayangi. Masalah kalian saat ini hanya bagian kecil dari masalah dalam sebuah hubungan nak, kamu sudah mendengarkan penjelasannya bukan ?” tanya Maya.
“Sudah bu, tapi menurut Anit ia memang salah dalam hal ini.”
“Dengar sayang, ini bukan tentang siapa yang salah siapa yang benar nak, tapi ini tentang siapa yang mampu menurunkan ego agar tidak terlampau menguasai diri. Bukakah kalian saling mencintai ?”
Qanita hanya mendengar ucapan Maya tanpa berniat menjawab.
“Kamu juga sudah mendengar penjelasan dari Tria juga kan ?”
“Iya sudah bu.”
“Bukannya tadi katamu Tria mengatakan bahwa cuma kamu yang ada dihatinya dia ?”
“Iya bu, dia bilang gitu.”
“Ya sudah. Sudah jelaskan sekarang ?” Tanya Maya dan memegang kedua bahu anaknya.
Qanita hanya mengulas senyum dan menatap kedua manik ibunya.
“Assalamualaikum.” Terdegar suara laki-laki dari depan rumah.
“Waalaikumussalma.” Jawab Qanita dan Maya bersamaan.
Langkah Qanita mengajaknya untuk menemui orang yang sedang berada didepan rumah. Seperti dugaannya tiga laki-laki yang ditinggal bersamanya kini terkejut melihat Qanita telah kembali. Sementara Qanita memberikan senyum yang begitu manis hingga lesung pipinya terlihat.
__ADS_1
“Kaakaaak.” Pekik Nazeen dan berlari memeluk Qanita.
“Iya ini aku.” Ucapnya sambil mengelus kepala adiknya.
“Aku kangen tau, rumah ini kayak kurang warna nggak ada kakak.” Ucap Nazeen tanpa berniat melepas pelukannya.
“Kamu harus membiasakan dirimu. Ucap Qanita.
“Kok nggak liat motornya kakak ?” Tanya Fateeh dan mencium tangan Qanita.
“Ku taro disamping tadi.”
Fateeh hanya mengangguk dan menarik tubuh bagian belakang adiknya yang masih memeluk Qanita “Udaaah, tuh ingus keluar tuh.”
“Ihhh paan sih.” Kemudian berjalan menuju ruang tengah dan mendahului Fateeh.
“Ayah.” Melihat Abdillah yang sedari tadi mematung.
Abdillah hanya merentangkan tangan, sontak saja Qanita langsung membenamkan wajahnya ke dada sang ayah.
“Maaf yah, maafin Anit.”
“Tidak sayang, sudah, ini sudah berlalu. Lupakanlah.” Tutur Abdillah.
***
Keluarga Abdillah kini tengah menikmati makan malamnya dan tanpa bersuara. Namun Qanita membuka percakapan disela-sela kunyahannya.
“Yah, Anit jadi beli rumah yang tempo hari. Tadi sepulang dari kantor Anit liat lagi dan dalam beberapa hari kedepan Anit akan selesaikan administrasinya.”
“Kakak jadi beli itu rumah ?” Tanya Nazeen.
“Iya Zeen, tapi hari Senin baru bisa diurus.” Ucap Qanita.
Abdillah hanya senyum dan mengangguk menyetujui keputusan putrinya. Begitu juga yang diperlihatkan oleh Maya.
Makan malampun telah usai, Qanita kini berada dikamarnya dan seperti biasa ia sedang menatap langit malam yang ditemani gemerlap bintang dan samar cahaya rembulan yang tertutup awan. Lagi, kata-kata Tria mengalun dikepalanya juga ditambah dengan ucapan sang ibu sore tadi.
Dilangkahkan kakinya menuruni anak tangga dari kamarnya, ia mengedarkan pandangan diruang tengah.
“Buu, Anit pamit keluar sebentar yah.”
“Mau kemana ?” Tanya Maya.
“Keluar, sebentar aja kok bu.”
“Iya sudah. Jangan lama-lama.”
“Iya bu. Assalamualaikum.” Pamit Qanita.
“Waalaikumussalam.”
***
Arsen sedang berada dicafe favoritnya. Jika selama ini ditemani oleh Royyan juga terkadang Zacky, tapi sekarang memilih sendri saja. Dia duduk sendiri dibangku yang paling pojok dan tatapannya kosong kesembarang arah.
“Aku capek kayak gini terus.” Gumamnya, disentuhnya bibir cangkir dengan jari telunjuk dan gerakan telunjuknya mengikuti bibir cangkir.
Dengan kasar ia mendaratkan paksa tubuhnya disenderan kursi. “Mau ngelupain sesusah ini.” Gumanya lagi dengan mata terpejam.
“Aku akan berhenti dan melupakanmu.” Lirih namun masih bisa didengar dan penuh dengan penekanan.
“Serius ?” Tanya seseorang yang sedang berada dibelakangnya saat ini.
__ADS_1