
Arsen terbangun menjelang Subuh, ia merasakan kebas dilengan kirinya. Perlahan-lahan ia meraba nakas yang ada disamping tempat tidurnya kemudian menyalakan lampu tidur. Sesaat setelah lampu menyala dilihatnya Qanita yang masih terlelap dengan berbantalkan lengannya.
Ia merasa tak tega untuk membangunkan istrinya, setelah semalam kali pertamanya mereka melakukan hubungan suami istri. Perlahan-lahan Arsen menarik lengan yang dijadikan bantal oleh Qanita. Namun belum sempat lengannya ditarik dengan sempurna, Qanita sudah membuka matanya dan mendongak kearah Arsen.
“Sudah bangun ?” Tanya Arsen dan dengan cepat menarik lengannya kemudian mengganti dengan bantal.
Qanita hanya menganguk pelan dengan masih menahan kantuk dan akan berbalik memunggungi Arsen. Namun malah pekikan yang keluar dari mulutnya.
“Aaaauww.” Pekiknya pelan kemudian menutup mata untuk meredakan rasa nyeri dibagian bawah tubuhnya.
“Kenapa ?” Tanya Arsen yang sudah dalam keadaan terduduk.
Qanita hanya menggeleng pelan namun wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
Melihat wajah sang istri, Arsen hanya tersenyum tipis kemudian mengelus kepala istrinya. “Maaf yah, sudah membuatmu kesakitan.” Ucapnya tulus.
“Hmm.” Qanita hanya berdehem dan menarik selimut untuk semakin membungkus tubuhnya yang tak berbusana.
“Mandi dulu gih.” Ujar Arsen dan melihat layar ponselnya.
Lagi-lagi Qanita menggeleng “kamu aja dulu. Aku rasanya masih susah bergerak.”
“Iya udah.” Ucap Arsen kemudian mencium kening Qanita dan beranjak menuju kamar mandi.
Qanita yang masih terbaring di atas tempat tidur, perlahan-lahan menududukkan tubuhnya. Dirasakan semua badannya pegal dan sakit apalagi dibagian bawah tubuhnya.
“Aduh sakitnya.” Adunya pada diri sendiri dan meraih pakaian yang masih tergeletak disamping tempat tidur.
Iapun bangkit dari atas tempat tidur untuk menyalakan lampu kamar. Tak berapa lama lampu kamarpun menyala, dan yang pertama kali dilihat ialah tempat tidur yang terbalut sprei dengan warna dominan cream menampakkan bercak darah.
“Huuh !” dengusnya kecil. “Subuh-subuh sudah harus mengganti sprei.” Gumamnya dan membuka lemari untuk mencari sprei cadangan. Beruntungnya beberapa peralatan mandi dan yang lain-lain sudah disediakan oleh keluarganya.
Meski masih menahan sakit ia berusaha untuk mengganti sprei dan menyiapkan baju yang akan digunakan oleh suaminya berjamaah ke masjid Subuh ini. Tak lama setelah semuanya seselai pintu kamar mandipun terbuka dan terlihat Arsen yang sudah lebih segar setelah melakukan mandi.
“Udah diganti ?” Tanya Arsen yang melihat Qanita berbaring di atas tempat tidur dengan kaki yang menjuntai dilantai.
“Hmmm.” Jawab Qanita singkat sambil memejamkan matanya.
“Ya udah tidur aja lagi.” Saran Arsen, tengah memakai baju yang telah disiapkan oleh Qanita.
“Ntar kebablasan.” Jawab Qanita dan mengangkat tubuhnya untuk menuju kamar mandi.
Arsen yang tak tega melihat Qanita berjalan seperti Siput dengan refleks ia menggendong tubuh istrinya.
“Aku bisa jalan sendiri.” Ucap Qanita sambil meronta dalam gendongan Arsen.
“Udah, aku nggak tega liat kamu jalan kayak Siput gitu.” Semakin mengeratkan gendongannya sampai kedalam kamar mandi.
Setelah menurunkan Qanita, Arsen segera baranjak dari kamar mandi dan munutup pintu dari luar. Qanita mulai membersihkan dirinya, dan seperti kebanyakan wanita lainnya yang membutuhkan waktu cukup lama dari pada laki-laki untuk melakukan ritual mandi. Hingga Arsen akan berangkat ke masjidpun Qanita belum menyelesaikan mandinya. Dengan terpaksa Arsen pamit saat Qanita masih berada dikamar mandi.
Tok tok tok…
“Qa, aku kemasjid ya.” Ucap Arsen dan segera keluar dari kamar.
“Iya, hati-hati.” Sahut Qanita dari dalam kamar mandi.
***
Arsen kembali dari masjid sedikit terlambat dari biasanya, karena ia harus berkenalan pada tetangga-tetangganya.
“Assalamualaikum.” Salam Arsen dan melihat Qanita tengah membaca Al-Qur’an diruang depan TV.
“Waalaikumussalam.” Jawab Qanita dan menyudahi bacaannya.
Kakinya melangkah menuju Qanita yang masih terduduk di atas sofa. Qanita membalas tatapan Arsen dengan senyum lebar dan lagi-lagi menampilkan lekungan dipipinya.
“Eh sebentar aku ambil cookies yang semalam.” Ucap Qanita dan bangkit dari tempat duduknya.
Arsen hanya mengangguk tanpa menjawab Qanita. Saat Qanita tengah mempersiapkan cookies. Tiba-tiba ponselnya berdering dan menampilkan nomor baru yang tengah menelponya.
“Nomor baru ?” Tanya Arsen pada dirinya sendiri.
“Siapa Io ?” Tanya Qanita pada Arsen.
“Nggak tau, nomor baru. Aku angkat ya.” Ucap Arsen dan segera menganggat panggilan tersebut tanpa persetujuan dari Qanita. Sementara Qanita hanya menggeleng melihat kelakuan suaminya.
“Hallo. Selamat pagi.” Ucap Arsen dengan dingin pada orang yang berada dibalik telepon.
Hmm, iya. Jawab seseorang yang berada dari ujung telepon.
__ADS_1
“Ini siapa ?” Tanyanya kembali.
Dasar suami posesif. Ini papa Ar. Jawab Saad dari ujung telepon.
“Loh, kok papa hubungi nomor Qanita. Kan bisa telepon nomor Arsen.” Ujar Arsen dengan kesal.
Memangnya kenapa ? Papa sudah telepon kamu dari tadi tapi nggak ada yang jawab. Tutur Saad.
“Oh dikamar HPnya Arsen pa. Ada apa pa ?” Tanya Arsen dengan terkekeh.
Ada client yang mau ketemu sama kamu pagi ini. Seperti biasa Andri yang akan jemput kamu. Tutur Saad.
“Astaga pa, nggak bisa diwakilkan papa atau Andri ?” Tanya Arsen dengan nada kesalnya.
Papa sudah bilang gitu, tapi dianya tetap mau ketemu kamu. Sudah iya,kamu temuin dia dulu nggak sampai sore kok. Oh iya lusa kita adakan tasyakuran dirumahmu. Mamamu sama Maya udah sepakat. Jelas Saad panjang lebar dari ujung telepon.
“Hmm.” Hanya deheman yang keluar dari mulut Arsen.
Saad menyadari kekesalan putranya itu, dan dengan segera mengakhiri sambungan telepon. Assalamualaikum.
“Waalaikumussalam.” Jawab Arsen.
Qanita berjalan menuju Arsen dengan membawa nampan di atasnya terdapat secangkir teh hangat dan sepiring cookies.
“Kenapa ?” Tanya Qanita dan mendaratkan tubuhnya di atas sofa.
“Papa nyuruh ketemu client. Clientnya maunya ketemu sama aku, pagi ini.” Ucap Arsen dan meminum teh.
“Ya udah, temuin aja dulu.” Saran Qanita dengan menatap suaminya lembut.
“Tapi kan kita mau belanja hari ini.” Ujar Arsen yang semakin kesal.
“Iya, kan bisa sore toh.” Saran Qanita.
“Iya udah kalau gitu. Aku siap-siap dulu. Oh iya, lusa tasyakuran kata papa tadi.” Ucapnya pada sang istri dan berjalan menuju kamar.
“Iya tau, tadi ibu udah bilang.” Kata Qanita yang berjalan dibelakang suaminya.
Dua hari berselang diadakan tasyakuran dirumah Arsen dan Qanita. Terlihat yang datang hanya keluarga inti, kerabat Arsen dan Qanita, serta tetangga pengantin baru tersebut.
***
Hari ini mereka akan menghadiri pernikahan Zacky dan Kei yang berlangsung ditempat mereka melangsungkan pernikahan dulu.
“Qa, sudah ?” Tanya Arsen pada Qanita yang masih sibuk mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.
“Belum Io, lagian sih tadi sempet-sempetnya juga.” Gerutu Qanita pada Arsen yang mengajaknya berhubungan terlebih dulu.
“Iya maaf, namanya juga udah nggak tahan.” Ucap Arsen dan tersenyum lebar.
“Dasar mesum.” Cebik Qanita dan menaikkan salah satu sudut bibirnya.
“Biarin. Sama istri sendiri.” Bela Arsen yang kini merapikan jasnya.
Setelah mengeringkan rambut Qanita beralih pada wajahnya yang akan disapukan make up tipis untuk membuat penampilan tak terlalu mencolok. Setelah dirasa cukup Qanita mulai menggunakan jilbabnya. Ternyata aktivitas itu mengalihkan perhatian Arsen dari layar ponselnya yang sempat memeriksa saham perusahaan.
“Kamu selalu saja cantik.” Ucap Arsen pada Qanita yang sedang berdiri didepan cermin.
“Sudah tau kok. Nggak usah bilang.” Ujar Qanita yang masih sibuk untuk merapikan jilbabnya.
Kemudian Arsen memeluk Qanita dari belakang dan menempelkan dagunya di atas pundak Qanita. Sedangkan Istrinya masih sibuk dengan jilbabnya sembari memperhatikan make up nya, ia takut ada yang tidak rapi.
“Io ?” Panggil Qanita.
“Hmm.” jawab Arsen yang masih memeluknya erat, seraya tersenyum penuh maksud.
Qanita yang menyadari maksud dari suaminya itu, langsung menghentakkan tangan Arsen dari perutnya dan berbalik “Nggak.” Tolak Qanita dan berjalan meninggalkan Arsen dikamar.
Arsen hanya mendengus kecil dan mengikuti istrinya untuk menuju kepernikahan Zacky.
***
Cukup lama Arsen berkendara, selain tempatnya yang lumayan jauh juga karena beberapa kali terjebak kemacetan. Berkali-kali juga Qanita mendengus kesal, apalagi saat melihat suaminya.
“Iya iya maaf, aku salah. Emang kamu mau suamimu uring-uringan ?” Tanya Arsen dengan senyum menggoda.
Qanita hanya menatap datar tanpa ingin menjawab pertanyaan suaminya.
Tak lama setelah itu mobil yang dikendarai Arsen sudah sampai diparkiran salah satu hotel milik keluarga Royyan. Dengan segera meraka turun dan memasuki gedung sambil bergandeng tangan.
__ADS_1
“Ar.” Panggil Royyan saat melihat Arsen yang baru saja memasuki gedung hotel.
Sontak Arsen dan Qanita melihat siapa yang memanggil, dan ternyata Royyan dengan diikuti oleh seorang gadis cantik dibelakangnya.
“Yan, baru nyampe ?” Tanya Arsen pada Royyan.
“Iya, jemput dia dulu tadi.” Jawab Royyan. Setelah itu tampaklah seorang gadis yang bersembunyi dibelakang Royyan.
“Faizaaaa.” Panggil Qanita dengan sedikit teriak.
“Assalamualaikum Anita, kak Arsen.” Salam Faiza pada keduanya.
Arsen dan Qanita saling manatap dan tersenyum “Waalaikumussalam.” Jawab keduanya.
“Ayo Zaa.” Ajak Qanita dan meraih tangan Faiza kemudian melangkah terlebih dulu meninggalkan kedua laki-laki yang bersama mereka.
“Kamu tumben baru datang jam segini ? Nggak biasa-biasanya telat.” Tanya Royyan yang berjalan beriringan dengan Arsen.
“Biasa Yan.” Jawab Arsen dengan penuh maksud. “Abis itu, dia kesal.” Ucapnya kembali dan mengingat bagaimana istrinya tadi.
Royyan hanya menatap sinis namun tak ingin berkata apapun.
***
“Zac, selamat.” Ucap Royyan menyalami Zacky dan mereka saling melempar senyum lebar.
“Siapa ?” Tanya Zacky yang melihat Faiza dibelakang Royyan.
“Calon.” Ucap Royyan dan beralih pada Kei.
Kemudian Faiza menyalami Zacky dengan menangkupkan kedua tangannya. Hal serupa juga diperlihatkan oleh Qanita. Namun dengan Kei terlihat menyalami dan berpelukan layaknya seorang teman.
“Eh, ayo foto dulu.” Ucap Kei saat melihat keempatnya akan berlalu dari pelaminan.
Dengan segera mereka mengatur posisi dan tersenyum kearah kamera. Lebih-lebih Zacky dan Kei yang terlihat bahagia dihari mereka itu.
Cukup lama mereka berada dipernikahan Zacky sebelum memutuskan untuk pulang karena Faiza harus segera di antar juga Qanita yang mengeluh sakit punggung.
***
Keesokannya Qanita terlihat sedang mempersiapkan sarapan untuk Arsen dan dibantu oleh Bi Ijah yang menjadi asisten rumah tangga mereka, karena keduanya memutuskan untuk tetap bekerja. Namun Qanita sudah mengurangi jam kerjanya mengingat ia sudah menjadi seorang istri.
Qanita yang tengah mengiris bawang tiba-tiba saja merasa mual dan segera berlari kekamar mandi yang berada dibelakang dapur. Ia tetap merasa mual bahkan saat isi perutnya sudah terkuras habis. Ia tidak tahu penyebabnya, namun anehnya saat dia membayangkan rasa matcha hangat yang sering diminumnya lagi-lagi ia merasa mual dan muntah.
“Mbak, kalau nggak enak badan. Sebaiknya istirahat saja. Mungkin karena semalam pulang terlalu larut makanya jadi masuk angin.” Ucap Bi Ijah mendatangi Qanita tanpa curiga sedikitpun.
Sementara Qanita merasa ada yang aneh pada dirinya, karena selama ini meskipun ia berada dibalkon rumah malam haripun belum pernah ia merasa masuk angin apalagi sampai mual seperti ini.
“Bi, tolong bikinkan saya latte seperti yang biasa diminum mas Ar ya. Kalau sudah tolong panggilkan saya.” Ucapnya pada Bi Ijah dan berlalu menuju kamar.
“Baik mbak.” Jawab bi Ijah.
Sesampainya dikamar dilihatnya Arsen tengah bersiap memakai kemeja yang telah dipersiapkannya tadi. Tanpa menghiraukan sang suami, Qanita langsung berlalu menuju kamar mandi. Namun sesampainya dikamar mandi ia melupakan sesuatu dan meminta Arsen untuk mengambilnya.
“Io, bisa tolong ambilkan plastik apotek yang ada dilaci meja samping tempat tidur ?” Ucapnya pada sang suami.
“Iya sebentar.” Jawab Arsen yang kini masih merapikan kemejanya, kemudian mengambil apa yang diminta oleh Qanita.
Setelah menerima plastik yang diberikan oleh Arsen ia segera membuka bungkus beberapa barang pipih. Rupanya plastik tersebut berisi beberapa buah testpack dengan merk yang berbeda. Ia sengaja membelinya beberapa hari yang lalu karena merasa sudah telat datang bulan. Dengan segera ia menggunakan barang tersebut sesuai petunjuk yang sudah tertera dikemasannya.
Setelah menunggu beberapa saat, ekspresi Qanita seperti tidak bisa terbaca, ia begitu senang sekaligus haru. Terlihat pada testpack tersebut ada yang menunjukkan dua garis, tanda +, dan tanda love.
Dengan cepat Qanita membuka pintu kamar mandi dan berteriak pada suaminya “Ioooo.” Panggilnya dengan senyum lebar dan wajah berseri-seri.
“Astaga Qa. Kenapa ? Jangan teriak-teriak.” Ucap Arsen sambil mengelus dadanya.
Qanita memeperlihatkan benda tersebut pada Arsen dan wajahnya masih dihiasi dengan senyum yang semakin lebar.
Sungguh Arsen terkaget melihat benda yang berada ditangan istrinya. “Ka kamu, kamu hamil Qa ?” Ucap Arsen dengan raut wajah bingung dan menatap manik istrinya untuk mencari kebohongan namun tak didapati.
“Hee’em.” Ucap Qanita yang masih tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya.
“Ya Allah Qa. Alhamdulillah.” Arsen langsung memeluk istrinya dan tanpa ia sadari setetes cairan bening keluar dari ujung matanya. Qanita membalas pelukan suaminya dengan tak kalah erat.
Arsen terlihat berlutut dan berbicara didepan perut sang istri “Assalamualaikum anaknya Arsen. Baik-baik dirahim mama ya nak. Papa sudah tidak sabar menunggu kehadiranmu ditengah-tengah kita nak. ucap Arsen dan mencium perut istrinya yang masih datar.
Qanita hanya tersenyum manis dan mengusap lembut kepala Arsen.
-Tamat-
__ADS_1
Terima kasih, sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca karya sederhanaku😊.