Kisah Ini Bernama Cinta

Kisah Ini Bernama Cinta
Bab 14 1/3 Malam Arsenio dan Qanita


__ADS_3

Hari-hari berikutnya dihabiskan oleh Arsen sebagai orang yang ramah akan senyum. Akhirnya perasaan yang sudah dirasakannya sekian tahun kini berbalas sudah. Orang-orang terdekatnyapun turut bahagia dengan apa yang dirasakan Arsen.


“Assalamualaikum semua.” Sapa Arsen saat baru tiba diruang makan.


“Waalaikummussalam.”


“Ayo sarapan dulu nak.” Ajak Diana, sambil mengambil sarapan untuk anak sulungnya.


“Iya ma.”


“Gimana hasil kamu turun lapang dua minggu kemarin Ar, apakah baik-baik saja ? Atau ada keluhan ataupun tuntutan dari karyawan disana ?” Tanya Saad berbasa basi disela sarapan, padahal ia sudah menerima laporan dari staffnya.


“Alhamdulillah nggak ada pa, cuma kemarin ada beberapa jenis bibit tanaman yang baru dikembangkan dan masih dipantau perkembangannya pa.” Jelas Arsen disela kunyahannya.


“Hmm bang. Kalau hatinya gimana sekarang ?” Tanya Azel tanpa basa basi.


Mendengar pertanyaan Azel membuat Saad, Diana, dan Iztiza menoleh pada Arsen yang sedang menghias wajahnya dengan senyum lebar.


“Alhamdulillah, baik dan semakin baik.” Jawab Arsen semangat. “Pa, apa Om Abdi sudah tau kalau aku suka sama putrinya ?” Tanya Arsen pada papanya.


Mendapat pertanyaan seperti itu, Saad langsung menoleh dan tersenyum “Bahkan semua orang dalam rumah Abdi tau, kalau kamu dari dulu memang menyukai Qanita nak, hanya saja Qanita bersikap dingin kekamu. Itu karena masa lalu kamu itu, dan semakin membuat Qanita enggan menatap apalagi berbicara denganmu.”


“Hmmm, besar juga nyalimu kak, mampu mencairkan si es balok.” Timpal Irtiza.


Mendengar kata es balok membuat Azel tertawa begitu keras, sampai Diana memperingatkannya.


Arsen tengah berada dalam mobil yang membawanya menuju kantor, tentu saja Andri yang menyopirinya. Saat melewati rumah Qanita, dilihatnya gadis yang dicintai sedang bersiap-siap menuju tempat kerja. Arsen hanya melihat dan mengulas senyum dengan begitu tulus. Andri yang mengetahui Arsen sudah terkena virus merah jambu dari Qanita, sontak mengklakson mobilnya, dan membuat Qanita menoleh lalu memberi senyum hingga menimbulkan cekungan kecil dikedua pipinya.


“Sungguh kamu tahu Ndri apa yang sedang aku butuhkan sekarang.” Tutur Arsen tanpa menoleh pada Andri.


“Bos, ingat dia belum halal untukmu bos.” Peringat Andri.


“Astagfirullah, ya kamu sih ngapain klason dia. Kan dia ngeliat.” Cerocos Arsen.


“Salah lagi, hmm.” Gumam Andri sambil fokus menyetir.


“Apa ku halalkan saja Ndri, biar bisa liat senyum dan lesung pipinya tiap hari ?” Usul Arsen.


“Iya silahkan bos. Tapi apa mbak Qanita mau ?” Tanya Andri dengan sedikit mengejek.


Arsen hanya melayangkan pandangan mengancam sekaligus kesal pada Andri tanpa ingin berkata-kata.


***


Qanita mengetahui siapa yang sedang menumpangi mobil tersebut dan ia memberi senyum yang begitu manis. Hingga tak menyadari ada sepasang mata yang tengah melihatnya dengan raut wajah penuh arti.


“Apa kamu sudah sering bertukar kabar dengannya ?” Tanya Abdillah tiba-tiba dari arah dalam rumah.


“Astagfirullah.” Qanita mengelus dadanya. “Emm, jarang yah, hanya beberapa kali saja.” Jawab Qanita, sambil menundukkan kepala menyembunyikan wajah merahnya.


“Apakah dia sesuka itu padamu ?” Tanya Abdillah kembali, dan kini sudah berada tepat disamping Qanita.


“Nggak tahu yah.” Jawab Qanita.


“Tanyakan padanya, jika memang dia menyukaimu. Kapan dia ingin menemui ayah ?” Tutur Abdillah kemudian berjalan kearah mobil disamping rumah.


Qanita hanya dibuat mematung mendengar pertanyaan ayahnya, hingga ia tak menyadari Fateeh dan Nazeen sudah berada disampignnya.


“Kak Anit ngapain bengong ? Tanya Fateeh, sementara Nazeen hanya mengamati kakaknya itu.


“Ah, nggak apa-apa dek, udah kalian berangkat gih. Tuh ayah udah nungguin.” Elak Qanita yang berusaha terlihat baik-baik saja.


“Hmmm, ya udah kita berangkat dulu kak.” Ucap Nazeen.


“Assalamualaikum.” Pamit keduanya saat akan menaiki mobil.


“Waalaikumussalam.” Jawab Qanita.


Setelah melihat mobil yang ditumpangi oleh ayah dan kedua adiknya perlahan-lahan meninggalkan rumah. Kini iapun pamit pada Maya untuk berangkat kerja. Ia melajukan motor maticnya dan masih terngiang-ngiang ditelinganya pertanyaan sang ayah tadi.


Sepanjang hari ia hanya memikirkan kata-kata ayahnya tadi namun tak menyebabkan ia kehilangan fokus dalam bekerja. Ia memikirkan bagaimana menyusun kata-kata untuk menanyakan hal itu pada Arsen. Apakah akan baik-baik saja jika ia menanyakan hal itu dalam waktu dekat ini ? Sementara mereka baru saja dekat dan tak terlalu sering untuk saling mengabari ? Apakah Arsen tidak memikirkan hal aneh-aneh ? Contohnya akan menyebutkan Qanita wanita yang agresif sementara sebelumnya ia membenci Arsen ?


“haaaaa, pusing, sudahlah pulang aja dulu, kan ini udah jam pulang. Males aku mikirnya.” Gerutu pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Namun lagi-lagi tidak semudah itu membuang kalimat Abdillah pagi tadi dalam pikirannya, meskipun ia sudah mensugesti dirinya untuk tak memikirkan namun tetap saja nihil. Sepanjang perjalanan ia memikirkan bagaimana caranya menyampaikan apa yang dikatakan ayahnya pada Arsen.


“Apa aku ajak ketemu di cafe ? tidak tidak, aku nggak mau ketemu sama dia diluar.” Berkata pada dirinya sendiri.


“Apa minta dia datang kerumah ? Hmm, nggak nggak, ntar dia malah besar kepala, dan pasti orang-orang rumah terutama Nazeen akan ngejek aku.” Gerutunya lagi.


“Nggak tau, nggak tau.” Ucapnya frustasi.


“Eeeeeh, ini kan jalannya udah ngelewatin jalan masuk perumahanku, laaaah kebablasan dong. Astaga Qanita pinter banget kamu. Besok-besok gini lagi yah. Gara-gara mikirin itu sih.” Ejeknya pada diri sendiri, sambil memutar balik.


“Assalamualaikum, Anit Pulang.” Salamnya saat akan memasuki rumah.


“Waalaikumussalam.” Jawab Maya.


“Ayah emang belum pulang ya ? Tadi dikantor mobilnya udah nggak ada pas Anit mau pulang bu.” Tutur Qanita.


“Sudah, tapi lagi jemput adik-adikmu disekolah. Mulai hari ini mereka mendapatkan pelajaran tambahan dari sekolahnya.” Jelas Maya.


“Oh, iya udah bu, Anit kekamar dulu mau bersih-bersih.” Pamitnya.


Sesampainya dikamar ia segera membersihkan diri mengingat gurat senja sudah mulai terlihat menghiasi langit sore, itu artinya magrib akan tiba sebentar lagi.


Selesai sholat Magrib, diambilnya tasbih dan sebuah Al-Qur’an untuk menenangkan hati dan pikirannya. Meminta langkah baik yang akan ditempuh, iapun larut dalam dzikir dan perlahan cairan bening jatuh dari matanya. Setelah berdzikir diaraihnya Al-Qur’an dan mulai membaca dengan suara yang parau karena tangisan. Hingga adzan Isyapun terdengar, iapun menebak-nebak siapa pemilik suara tersebut, bukan Rizky, ataupun muadzin masjid tersebut.


Hatinya dibuat terkejut dan berdegub kencang, setelah menyadari siapa pemilik suara yang belum pernah ia dengar itu. Perlahan ia memejamkan mata dan suara adzan mulai menusuk kedalam qalbunya, lagi kini air matanya jatuh hingga adzan itu selesai dan membacakan doa. Qanita berkata lirih.


“Masya Allah, semoga Allah mengizinkan kita bersatu hingga menggapai Jannahnya.”


Maya yang berada dibelakang Qanita hanya tersenyum sambil berkaca-kaca. Bagaimana tidak, anaknya sangat menggantungkan hatinya pada sang pemilik hati, bahkan hingga ia jatuh hati pada makhluknya ia selalu menginginkan menuju Jannah dengan makhluk pilihan_Nya.


Qanita menyadari Maya ada dibelakangnya dan tengah berdiri dipintu mushollah, iapun melihat sang ibu dengan senyum manis dan sisa air mata dipipinya.


“Semoga ia yang akan menuntunmu hingga Jannah_Nya nak.” Harap Maya dan segera menggelar sajadahnya.


Qanita hanya mampu tersenyum dan mengaamiinkan dalam hati.


***


“Sudah lama nak, nggak dengar kamu adzan lagi. Alhamdulillah Allah ngasih mama kesempatan dengar suara merdu itu lagi.” Ucap Diana disela-sela makannya.


“Pa, ma, boleh Arsen menanyakan sesuatu ?” Tanya dengan ragi-ragu, dengan tatapan sayu.


“Apaaa ?” jawab Saad dan Diana serempak.


Irtiza dan Azel yang menyadari akan adanya obrolan penting antara sang kakak dan kedua orang tuanya, membuat mereka makan dalam diam. Terlihat mereka segera menghabiskan makanannya. Setelah makan malam selesai Saad dan Diana beranjak menuju ruangan yang berada dilantai dua, Arsenpun mengikutinya. Irtiza membereskan peralatan makan malam mereka ditemani asisten rumah tangga sedangkan Azel menonton acara favoritnya.


“Kamu mau ngomong apa ?” Tanya Saad dan memilih duduk disamping sang istri sedangkan Arsen berada didepannya.


“Pa, ma. Apakah tidak terlalu buru-buru jika dalam waktu dekat ini Arsen akan melamar Qanita ?”


Diana yang mendengar ucapan Arsen kini tengah memandangi suaminya dengan senyuman, sedetik kemudian tatapan suami istri itu bertemu dan sama-sama tersenyum.


“Apa yang telah kalau libatkan dalam hal ini nak ?” Tanya Saad.


“Maksud papa ? Arsen nggak ngerti pa.”


“Maksud papamu, apakah kamu sudah mantap dengan pilihanmu, dan yang paling penting serta yang utama. Apakah kamu telah melakukan istiqarah dan apakah kamu sudah melibatkan pemilik hatimu dalam hal ini nak ?” Jelas Diana.


“Insya Allah sudah, Arsen selalu minta jika memang dia yang terbaik buat Arsen. Dekatkan Arsen sama dia, buat Arsen tetap pada pendirian Arsen jika nanti ada hal-hal kurang baik yang ingin menghalangi niat baik Arsen pa, ma.”


“Baiklah nak, jika memang itu sudah keputusanmu papa sama mama akan selalu mendoaknmu. Kapan kamu ingin melamarnya ?” Tanya Saad.


“Sekiranya kapan papa sama mama bersedia melamarnya untuk Arsen ?” Tanya Arsen.


“Papa sama mama Insya Allah kapanpun siap nak.” Jawab Diana yang tak henti-hentinya memberi senyuman.


“Jika akhir minggu depan ? Besok kamu harus ke kantor cabang dulu untuk beberapa hari. Ada beberapa hal yang harus kamu selesaikan disana, karena pimpinannya tidak bisa menanggulanginya.” Ucap Saad.


“Hmmm, baiklah pa. besok sehabis Subuh Arsen akan berangkat.”


“Iya, Andri akan menemanimu.” Kata Saad.


“Waktu begitu cepat pa, ternyata sekarang dia sudah besar. Sebentar lagi kita akan punya mantu pa.” Ucap Diana berkaca-kaca.

__ADS_1


“Arsen minta doanya ma, pa.” tutur Arsen sambil berdiri dari duduknya dan kembali kekamar.


Didalam kamarnya, dipelajari beberapa berkas yang baru saja diterima dari Andri melalui email. Hingga ia tak menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 22:30. Segera ia menutup laptopnya dan berjalan kekamar mandi untuk membersihkan diri dan menunaikan sholat witir sebelum tidur.


***


Tok tok tok


Terdengar bunyi ketukan pintu dari luar kamar Qanita.


“Iya, sebentar.” Ucapnya sambil berjalan menuju pintu.


“Ayah, ibu, ada apa ?” Tanyanya kembali.


“Kamu sudah tidur nak ?” Tanya Maya.


“Belum.”


“Boleh kami masuk ?” Tanya Abdillah.


Qanita hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian memberi jalan pada kedua orang tuanya untuk memasuki ruangan privasinya. Kini orang tuanya duduk disamping tempat tidur sementara siempunya kamar berada dikursi meja riasnya.


“Anit, ayah serius dengan ucapan ayah tadi pagi nak.” Ucap Saad membuka pembicaraan.


Qanita hanya menundukkan pandangannya dan berusaha menghalangi bulir air mata jatuh membasahi pipinya.


“Nak, kami berkata seperti itu bukan untuk memaksa atau menuntutmu. Tapi kami liat kalian memang sudah sama-sama jatuh cinta. Tidak baik nak jika itu dibiarkan berlarut yang kami takutkan terjadi hal-hal yang buruk.” Jelas Maya dengan lembut penuh kasih.


“Tapi ayah, ibu. Anit tidak pernah bertemu dengannya, kami bertukar pesanpun jarang. Apa ini artinya Anit secara tidak langsung diusir dari rumah ini.? Ucapnya sambil sesenggukkan.


“Astagfirullah tidak sayang, ibu sama ayah tidak pernah berpikir seperti itu nak. Kami hanya ingin yang terbaik untuk kita semua terutama kamu nak.” Ucap Maya lagi, sementara Abdillah sudah mulai berkaca-kaca.


Abdillah beranjak dari duduknya dan berjalan menuju jendela yang mengarah kebalkon “Kau tau nak, betapa ayah menyanyangimu. Ayah membesarkanmu dengan segenap cinta dan kasih yang ayah punya. Melihatmu tumbuh dan menjadi permata sholehah untuk kami. Namun mau tidak mau, ayah juga harus melepas putri kecil ayah yang kini sudah dewasa untuk menemukan kebahagiannya sendiri dan bersanding dengan laki-laki pilihannya. Kau tau betapa sakitnya ayah saat melepas kakakmu, dan kini mau tidak mau cepat atau lambat ayah akan melepaskanmu juga. Sebenarnya ayah sakit, saat ada laki-laki lain yang sudah mulai mengisi hatimu. Tapi ayah tidak ingin menjadi egois.”


Mendengar apa yang disampaikan oleh sang ayah semakin membuat Qanita menangis dalam-dalam, dan air matanya kini jatuh semakin tak terhalang.


“Nak, kami tidak memaksamu. Tapi pikirkanlah lebih dulu dengan masak-masak. Jangan lupa minta petunjuk_Nya.” Ucap Maya dan meninggalkan kamar Qanita sedangkan Abdillah terlebih dulu mengelus puncak kepala putrinya dengan sayang kemudian mengikuti sang istri.


***


Waktu menunjukkan pukul 02:30 dini hari. Dua insan ditempat yang berbeda, sama-sama dilanda cinta kini terbangun dari tidurnya. Dilangkahkan kaki menuju kamar mandi dan berwudhu untuk menunaikan sholat malam.


Arsen dan Qanita sama-sama larut dalam sujud terakhirnya yang begitu panjang dan mencurahkan segala isi hatinya pada sang Pencipta. Meminta petunjuk dan meminta yang terbaik. Setelah terbangun dari sujud, pipi keduanya sama dihiasi dengan cairan bening yang mengalis dari ujung mata. Disudahi sholatnya kemudian sama-sama menengadahkan tangan.


“Ya Allah Ya Robb, ampunkan kesalahan serta dosa yang hamba perbuat, baik yang disengaja maupun tidak. Tetapkanlah hati hamba atas agama_Mu. Jadikanlah hamba pribadi yang lebih baik lagi. Ya Robbi, Engkaulah yang menghadirkan perasaan ini terhadap makhlukmu, makhluk yang begitu engkau istimewakan. Andai dia adalah yang terbaik untuk hamba, baik untuk agama, dunia dan akhirat hamba maka dekatkanlah ia pada hamba. Berikanlah hamba kemudahan untuk menghalalkannya.” Doa Arsen dengan tulusnya. Kemudian dilanjutkan dengan dzikir dan membaca Al-Quran.


“Ya Ilahi Robbi, ampunkan segala kesalahan hamba baik yang lalu, saat ini ataupun yang akan datang, baik dosa yang hamba sengaja maupun tidak. Ya Allah Engkau yang maha Tahu atas semua perasaan yang hamba rasakan saat ini, jika rasa ini salah maka hapuslah ya Allah. Jika Engkau menakdirkan ia bersamaku untuk meraih Jannah_Mu, satukan kami Ya Allah dalam ikatan yang halal, ikatan yang Engkau ridhoi. Namun, jika tidak berilah hamba kekuatan dan kesabaran dalam menerima semua ketentuan dari_Mu. Ya Ilahi Robbi jadikanlah hamba pribadi yang lebih baik lagi, pribadi yang selalu mendekatkan diri kepada_Mu. Aamiin.” Setelah itu Qanita meraih tasbihnya dan berdzikir.


Tak terasa waktu berlalu, kini Subuh mulai terdengar syup-sayup ditandai dengan suara adzan. Qanita tertidur sambil memegang tasbih, dalam keadaan duduk dan kepala disandarkan di samping tempat tidur. Terbangun saat alarm Subuh di HPnya bordering, juga ditandai dengan adanya notif pesan. Diraihnya HP untuk mematikan alarm dan melihat siapa yang mengiriminya pesan.


Assalamualaikum Qa, maaf jika aku mengirimimu pesan subuh begini. Bisa temui aku didepan rumahmu sebentar ? Sekarang. Rupanya pesan itu dari Arsen. Jari kecil Qanita kini mengetik pesan balasan untuk Arsen.


“Waalaikummussalam, iya aku akan keluar sekarang.” Kemudian ia berjalan dengan masih menggunakan mukenah dan membuka kamar, namun belum melihat ayah dan kedua adiknya, ruang tamupun masih terlihat gelap.


Tepat saat Qanita membuka pintu pagar rumahnya, Arsen telah berada disitu sontak saja membuat gadis tersebut kaget.


“Astagfirullah, ngagetin aja.” Kejut Qanita sambil mengelus dada dan menghela nafasnnya.


“Maaf maaf Qa.” Sesal Arsen dengan gaya cengengesannya. “Assalamualaikum.” Sapanya kemudian.


“Iya, Waalaikumussalam. Ada apa subuh gini, om sama Azel mana ? Tanya Qanita.


“Papa sama Azel masih dirumah masih siap-siap. Om Abdi, Fateeh, sama Nazeen mana ? Tanya Arsen balik.


“Masih dirumah juga kayaknya, kenapa ih ngajak ketemu ?” Tanya Qanita dengan kesal karena dari tadi Arsen belum menjawab pertanyaannya.


“Qa, abis subuh aku akan kekantor cabang untuk beberapa hari.” Ucap Arsen mulai gugup.


“Hati-hati yah. Lalu ?”


Arsen memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam dan berkata “Qa, sepulang aku dari kantor cabang dan diakhir minggu depan, aku ingin mengkhitbahmu. Apa kamu keberatan ? Aku akan menemui kedua orang tuamu.” Ucapan itu dengan susah payah dikeluarkan Arsen.


Setelah mendengar ucapan Arsen, Qanita merasa tubuhnya seperti kapas, dan kakinya kini bergetar hebat. Disandarkannya telapak tangan pada tembok pagar rumahnya, mulai mengatur nafas dan menguasai diri “Akhir minggu depan yah ? Sekarang hari Kamis. Aku akan menunggu kedatanganmu Arsenio. Assalamualaikum.” Pamitnya setelah memberi jawaban dengan menatap tajam kearah mata Arsen. Ditingalnya Arsen yang sedang diselimuti oleh senyum lega.

__ADS_1


Dibalikkan badannya yang masih gemetar dan matanya kini mulai berkaca-kaca. Tepat sebelum membuka pintu, namun sudah terbuka dari dalam. Keterkejutan sengaja diperlihatkan oleh Abdillah padahal sebenarnya ia tau apa yang terjadi. Tanpa melihat sang ayah ia setengah berlari menuju mushollah dalam rumahnya dan melewati kedua adiknya begitu saja.


Arsen yang ditinggal oleh Qanita didepan rumahnya, kini tengah berjalan sendirian menuju masjid. Sedangkan Saad dan Azel sedang bertatapan sambil tersenyum penuh arti ditengah perjalanannya.


__ADS_2