
Fokus Arsen kembali terpecah saat seseorang mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri, karena adzan Isya akan segera dikumandangkan. Dilihatnya siempunya tangan. Betapa terkejutnya Arsen, ternyata tangan tersebut milik ayah dari gadis yang dicintainya. Wajahnya sungguh teduh dan menenangkan, serta diselimuti senyum mengembang. Ia tak melihat sorot mata dingin dan datar, seperti yang selama ini ia lihat.
Diraih tangan tersebut, saat telapak tangan mereka bersentuhan, Arsen merasakan adanya semangat yang diberikan oleh Abdillah padanya, seolah memberi tahu pada anak muda tersebut untuk tidak menyerah.
“Ayo, ini sudah mau Isya. Jika ingin ke kamar mandi segeralah.” Kata Abdillah.
Laki-laki berusia 25 tahun tersebut masih tertegun dengan apa yang dilihatnya. “Ba-baik om, saya ke kamar mandi dulu.”
Laki-laki paruh baya itu hanya melempar senyum kearahnya.
***
Kini keluarga Saad tengah menikmati makan malam, tampak mereka menikmati salah satu rejeki yang diberikan oleh Sang Pencipta. Namun tidak dengan Arsen, dia hanya mengaduk-aduk makanan tersebut tanpa berniat untuk memakannya sedikitpun. Melihat Arsen yang kembali murung, membuat semua anggota keluarga hanya diam seribu bahasa. Diana yang menyadari anaknya sedang tidak baik-baik saja, berusah membujuknya.
“Nak, makanlah. Bagaimana kamu bisa menjalani hari-hari mu jika makan saja kamu enggan ?”
“Arsen tak berselera ma.” Jawabnya malas.
“Arsen, papa tahu, apa yang sedang kamu pikirkan. Tapi bukankah pada akhirnya kamu harus tunduk pada ketetapan_Nya nak ?” Ucap Saad sedikit melunak.
Arsen tak berbicara apa-apa, kemudian ia ingat dengan kata-kata yang dijadikan profile oleh Qanita. Ia paham sekarang, walaupun dia begitu ingin bersanding dengan Qanita, namun yang Kuasa tahu apa yang terbaik bagi dirinya dan bagi Qanita gadis yang dicintainya.
Segera Arsen memakan makanannya, walaupun tak sampai habis setidaknya makanan tersebut masuk ke perutnya.
***
Abdillah tengah berada diruang keluarga bersama Qanita yang dipanggilnya tadi setelah makan malam.
“Ini ada titipan untukmu Anit, tadi ustadz Faiz menitipnya pada ayah.” Abdillah memberikannya pada Qanita.
Diterimanya map coklat itu dengan malas “Iya, ayah. Terima kasih. Anit pamit ke kamar dulu yah.” Mengangkat badannya dari kursi dan berjalan menuju kamar.
“Tunggu nak, ayah tahu. Bahwa CV yang ada di meja kerjamu itu tidak kau buka satu pun. Tapi kali ini, tolong kau buka dan baca CV itu didepan ayah.” Ucap Abdillah penuh penekanan.
Dilihat ayahnya sekilas dengan tatapan sayu. Kemudian pandangannya kembali teralihkan pada map coklat. Dengan ragu ia mulai membukanya, betapa terkejutnya ia. Siapa yang mengirim CV itu kepadanya.
“Allahurobbi !” Hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya yang tertutup disela-sela jarinya. Sambil memegang CV tersebut, ia mulai membaca tulisan hitam di atas kertas putih itu. Air matanya tak terbendung lagi.
“Ayah, apa pantas dia yang begitu sempurna mengirim CV Ta’arufnya pada Anit yah ?”
“Ayah sudah menduganya.” Kata Abdillah, saat melihat foto seorang laki-laki tampan dari kertas yang ada dipangkuan anaknya.
“Sayang, pikirkanlah ini. Semua pilihan ada ditangan mu.” Abdillah berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ke kamar, meninggalkan Qanita sendiri yang masih terlihat bingung.
Cukup lama ia merenung sambil memperhatikan beberapa lembar kertas itu. Kemudian ia kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk tidur. Sungguh ia hanya menginginkan tidur sekarang.
***
Esoknya, saat pagi datang. Qanita sedang berada didepan rumahnya dan akan segera berangkat kerja. Saat akan menjalankan motor matic kesayangannya, ia melihat sebuah mobil cukup mewah lewat depan rumahnya, namun tak terlalu mempedulikannya. Dijalankannya motor dan memeceh jalanan perumahannya. Sedangkan mobil tersebut berhenti di depan rumah keluarga Saad.
Iyaa, mobil itu hanya berisi Andri yang sedang menjemput Arsen atasannya. Beberapa lama menunggu kini mobil itu kembali memeceh jalanan dan berisi dua orang laki-laki. Semenjak Arsen menyetujui permintaan Saad untuk mengurus kantor pusat, sedikit membuatnya Saad berleha-leha dirumah, pagi ia isi dengan jalan santai dan mengantar sibungsu sekolah.
Saat Arsen melewati rumah Qanita, Arsen memalingkan pandanganya untuk melihat apakah gadis tersebut sudah berangkat kerja atau belum. Ternyata motor matic yang biasa digunakannya sudah tidak ada didepan rumah, itu artinya ia telah berangkat kerja.
Wajahnya kembali murung, dan mengingat kejadian di masjid tadi malam.
“Bos muda kenapa ?” Tanya Andri tiba-tiba.
__ADS_1
“Ah, tidak apa-apa Ndri. Jadwalku hari ini apa saja ?” Tanyanya untuk mengalihkan perhatian Andri.
“Jam 9 ada rapat dengan perusahaan A, setelah itu bla, bla, bla,” jawab Andri dengan cepat sambil memperhatikan wajah atasannya itu dengan ekor mata.
“Apakah malam ini aku akan pulang malam lagi Ndri ? aku ingin menemui Royyan, sudah lama tidak bertemu dengannya.” Ucap Arsen lembut.
Andri bisa membaca bahwa atasannya itu sedang tidak baik-baik saja.
“Sepertinya hari ini tidak sampai malam sekali bos, mungkin Magrib kita akan bisa pulang.” Jawab Andri.
“Syukurlah.”
Dikeluarkannya Hp dari kantong celana, dan mulai mengetik pesan untuk Royyan.
Yan, nanti malam sibuk nggak ? kita ketemu di cafe biasa. Jam tujuh tapi lewat 30 menit.
Setelah mengetik pesan, kemudian mengirimnya pada “Royyan Setngh Waras”.
Dilain tempat, Royyan yang kini tengah sibuk memeriksa berkas-berkas tiba-tiba perhatiannya teralihkan pada HPnya menandakan ada pesan masuk. Dilihatnya pesan tersebut dan pengirimnya “Arsen Miring”. Setelah membaca pesan bibirnya menyunggingkan senyum mengejek.
“Nih anak, pasti lagi ada masalah. Nggak mungkin tiba-tiba ngajak ketemu. Dan biasanya nggak nyebut namaku, pasti bilang setengah waras.” Guman Royyan.
Iyeeee. Hanya itu yang dikirim oleh Royyan kepada Arsen, pertanda ia menyetujui.
Sama seperti Arsen, Royyan juga melanjutkan usaha keluarganya yang bergerak dibidang perhotelan. Keduanya sama-sama bekerja keras untuk menjadi pantas sebagai penerus usaha keluarga masing-masing.
***
Tepat seperti apa yang dikatakan oleh Andri pagi tadi bahwa mereka akan pulang sekitar Magrib. Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang tepat setelah adzan magrib berkumandang. Sedikit berbeda dengan Arsen, Qanita sudah tiba dirumah beberapa jam yang lalu dan kini tengah bersipa-siap untuk sholat Magrib. Setelah melaksanakan sholat tak membuat gadis itu beranjak dari atas sajadah dan memilih mengambil tasbih juga sebuah Al-Qur’an.
Saat ini Qanita tengah termenung dikamarnya sambil melihat lembaran kertas dari dalam map coklat yang diberikan oleh ayahnya.
“Ya Robbi. Aku memikirkan untuk menerimanya. Namun kenapa hatiku seolah enggan menyetujuinya, apa sebenarnya ini ?” Tanyanya.
Diraihnya HP yang berada di atas meja samping tempat tidur. Mencari kontak kakaknya, setelah menumakan kontak dengan nama “Kak Syi”. Iapun melakukan panggilan.
Assalammualaikum dek.
“Waalaikummussalam kak, apa kakak lagi sibuk ?”
Tidak dek, ini kakak lagi nonton TV kok, mas mu juga lagi pelajarin berkas. Ada apa dek ?
“Kak, kemarin malam ada seorang pemuda yang menitipkan CV nya untuk Anit.”
Lalu ? Jangan bilang kamu nggak buka dek ?
“Nggak kak, Anita buka dan baca didepan ayah kak.
Siapa pemuda itu dek, sampai ayah menyuruhmu membuka CV itu didepannya ? Tapi kakak yakin ayah sudah tahu, kalau selama ini kamu nggak pernah kan buka CV yang dikirm ke kamu itu ?
"Iya kak, ayah tahu kak. Pemuda itu anak bungsunya ustadz Faiz kak. Rizky Alfaiz kak.”
Apa dek ? kakak nggak salah dengar ? Laki-laki yang suaranya merdu itu apalagi kalau adzan, trus bacaan Qur’annya juga itu. Yang kamu suka wajah teduhnya itu ? Masya Allah dek. Trus kamu gimana dek ? Langsung saja, Qanita dibombardir oleh kakaknya.
“Aku belum tahu kak, aku disuruh mikirin ini baik-baik sama ayah. Jujur kak, aku memikirkan untuk menerima ajakan ta’arufnya kak, tapi aku juga nggak tahu rasanya ada yang nahan aku kak.”
Ayah ada benarnya dek, sebaiknya kamu pikir ini baik-baik dek. Tapi ingat yah, Rizky itu anak baik-baik kok. Insya Allah. Kamu minta petunjuk yah dek. Istiqarah yah.
__ADS_1
“Iya kak, aku tutup yah kak, makasih kak. Assalamualaikum.”
Waalaikummussalam dek.
Setelah memutuskan panggilan dengan kakaknya, iapun meletakkan HP ditempat semula.
“Apa sebenarnya yang membuatku seperti ini. Hah.” Gumamnya pada diri sendiri.
***
Arsen kini berada didalam cafe langganannya. Dia sedang menunggu Royyan yang katanya sedang dalam perjalanan. Seperti biasa ia memilih duduk dipojok tempat favoritnya saat berkunjung ke cafe ini. Cukup lama menunggu, kemudian ia melihat laki-laki yang ditunggu itu sedang berjalan kearahnya.
“Assalamualaikum. Sorry Ar ada urusan bentar tadi.” Ucap Royyan dan duduk dihadapan Arsen.
“Waalaikummussalam. Iyee gak apa-apa.” Sahut Arsen malas.
“Kenapa sih ?” Tanya Royyan langsung.
Arsen menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar “Aku begitu menginginkannya Yan, tapi aku juga ingin liat dia bahagia.”
“Kamu ngomong apa sih Ar, aku nggak ngerti. Yang bener kalau ngomong, jangan kayak puzzle dong yang harus disusun dulu. Bingung aku mau nyusun, males juga.” Sergah Royyan.
“Eh, setengah waras. Semalam aku liat di masjid tempat biasa aku dan keluarga ku jamaah sama keluarganya Qanita. Ada ustadz yang nitipin CV seseorang ke ayahnya, dan CV itu buat Qanita. Paham kau.” Ucap Arsen panjang lebar pada Royyan.
“Trus hubungannya sama kamu apa ?” Tanya Royyan santai, malah sibuk mengunyah.
“Huh, Arroyan Alfarizi, itu CV ta’aruf. Itu artinya Qanita mau diajak ta’aruf sama tuh pemilik CV. Kalau Qanita nerima otomatis akan ke jenjang serius lagi, dan bisa saja mereka akan nikah.” Ucap Arsen setengah emosi.
Mendengar ucapan Arsen Royyan beraksi “What ?” menyemburkan makanan dan menatap lawan bicaranya dengan bingung.
“Yaaaaan, kaget, kaget aja. Nggak usah pake nyembur.” Jawab Arsen kesal.
“Maaf, maaf Ar. Asli keget banget aku. Trus kamu gimana ? Masih mau berjuang buat dapetin dia ? Atau mulai berpikir buat ikhlasinnya ? Tanya Royyan sambil membersihkan makanan yang disemburnya tadi.
“Entahlah, aku mulai mikir buat nyerah Yan. Aku yakin yang ngajak dia ta’aruf bukan cuma satu. Aku juga yakin kalau sainganku berat-berat Yan.” Jawabnya lemah.
“Ar, sebelum kamu mau nyerah mending kamu pikirin dulu baik-baik. Aku yakin cepat atau lambat dia akan belajar buka hatinya buat kamu. Ini hanya sekedar saran Ar dari aku. Pikirin matang-matang sob.” Ucap Royyan dengan bijak.
Arsen tidak mengucapkan apa-apa. Ia hanya memijit keningnya pelan-pelan sambil memejamkan mata.
***
Diruang depan TV Diana sedang mengkhawatirkan Arsen yang keluar tanpa pamit. Sedangkan Irtiza dan Azel, sedang menonton ditemani oleh Saad.
“Ma, mama kenapa ? Apa mama sakit ?” Tanya Azel.
“Nggak sayang, mama cuma khawatir sama abangmu.” Jawab Diana.
“Ma, paling kakak cuma pergi ke cefe tempat biasa ia nongkrong sama kak Royyan kok.” Ucap Irtiza menghibur sang mama.
“Iya ma, biarin dulu ma. Kalau dia udah siap buat cerita. Dia pasti cerita ma.” Saad ikut menghibur.
“Sebenarnya ada apa sama dia pa ?” Tanya Diana pada Saad.
Mendengar pertanyaan Diana, langsung membuat Saad mengalihkan pandangan pada istrinya. “Kemarin pas lagi nunggu sholat Isya, papa, Abdi, dan ustadz Faiz ngobrol. Sampai pada ustadz Faiz ngasih map coklat ke Abdi, dan itu buat Qanita. Sepertinya map itu CV ta’aruf seorang pemuda yang ingin mengajak Qanita ta’aruf ma. Dan Arsen ngeliat itu.”
Diana hanya menutup mulutnya dan enggan membayangkan kemungkinan buruk yang akan terjadi pada putra sulungnya itu. Sementara Irtiza dan Azel hanya bengong, hingga yang tersisa diruangan itu hanya suara dari TV untuk beberapa saat.
__ADS_1