Kisah Ini Bernama Cinta

Kisah Ini Bernama Cinta
Bab 21 Penyesalan


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu, Arsen sudah tak melihat Qanita hampir satu bulan. Bukannya Arsen tak ingin bertanya pada keluarga Qanita, hanya saja sungkan. Ia juga baru pulang dari perjalanan bisnis yang dilakukan selama kurang lebih dua minggu. Ini adalah hal baru bagi Arsen, karena selama ini Saadlah yang menanganinya. Namun semenjak kantor pusat telah dilimpahkan pada Arsen, maka otomatis semua hal yang berkaitan dengan perusahaannya akan ditangani juga olehnya, termasuk perjalanan bisnis.


Sore itu, Arsen sedang diantar pulang oleh Andri. Ia sempat mengalihkan pandangannya pada rumah Qanita. Berharap motor matic gadis tersebut terparkir didepan rumah, namun tidak seperti yang diharapkan.


Sesampainya dirumah langsung disambut oleh Diana dengan senyum lebar seperti biasa. Setelah menyapa sang mama, Arsen melangkahkan kaki kekamar. Langkahnya terhenti saat mendengar suara tawa yang cukup keras dari arah kamar Irtiza, entah dengan siapa gadis cempreng itu tertawa. Arsepun tak mau ambil pusing dan segera kekamar untuk membersihkan diri.


Seperti biasa, Arsen akan ikut berjamaah ke masjid dengan Saad dan Azel. Arsen yang ditunggu oleh papa dan adiknya telah bersiap dan meninggalkan kamar. Tepat ditengah anak tangga, tatapan Arsen melihat seorang gadis yang tak asing lagi, namun ia lupa. Gadis itu menatap Arsen dengan tatapan begong seolah terkesima dengan pesona yang dimilikinya. Arsen menyadari tatapan gadis tersebut dan memilih untuk tak mempedulikannya kemudian berangkat ke masjid.


“Caa, pemandangan tadi itu tiap hari kamu liat ?” Tanya Faiza dengan tatapan yang masih mengarah kepintu utama padahal badannya sedang berasa di atas sofa ruang keluarga, dan ucapannya tertuju pada Irtiza.


“Pemandangan apa ?” Irtiza malah bertanya balik.


“Tadi itu, kakakmu itu Ca. Masya Allah. Sungguh sempurna ciptaan_Nya.” Ucap Faiza tanpa berkedip, padahal Arsen sudah tak terlihat dipandangannya.


“Oooo, kakak toh. Iya aku udah biasa liat gituan mah.” Tutur Irtiza dan mengibaskan tangannya, mengisyaratkan bahwa yang dilihat oleh temannya tadi tak ada istimewanya.


“Iya kamu kan udah biasa. Laaah aku. Adeeem.” Ucap Faiza dengan wajah dihiasi dengan kekaguman pada saudara temannya itu.


“Udah, ayo sholat. Tuh mama udah nungguin kita tuh.” Ajak Irtiza sambil menarik tangan Faiza.


***


Waktu Magrib telah berlalu, dan menyisakan beberapa jamaah laki-laki yang sedang berbincang. Termasuk dengan Saad, Abdillah dan ustadz Faiz. Meskipun ada hal yang kurang mengenakkan terjadi antara mereka, namun tak menjadikan hubungannya renggang. Sama halnya diperlihatkan oleh Fateeh, Nazzen dan Azel yang sibuk berbincang entah tentang apa.


Sedangkan Arsen memilih untuk berdua dengan Rizky diteras masjid, mereka sangat akrab dan sesekali tertawa menanggapi apa yang sedang mereka bahas.


“Hmmm Ar, kamu kemana aja ? baru sekarang nongol lagi dimasjid, kukira balik kantor cabang.” Tanya Rizky dengan penuh antusias.


“Aku perjalanan bisnis selama dua minggu Ky, beberapa hari lalu juga aku pulang malam terus. Biasalah ngurus ini, ngurus itu. malah diri sendiri yang nggak keurus. Hahaha.” Tawa Arsen pecah setelah memberi jawaban.


“Pantas, makanya cepat nikah biar ada yang ngurus.” Ledek Rizky.


“Eh eh eh, kamu sendiri masih bujang juga kan ?” Tanya Arsen yang tak terima dengan ucapan Rizky.


“Doakan Ar, aku sedang melakukan ta’aruf dengan salah satu gadis dari pesantren tempat aku mondok dulu. Dia anak dari salah satu ustadz yang ngajar disana.” Jelas Rizky pada Arsen.


“Semoga lancar Ky, semoga diberi kemudahan sama Allah.” Doa Arsen tulus.


“Aamiin, kamu sendiri gimana ? Masa tampang cakep kayak gini nggak ada yang mau ? Tanya Rizky penuh selidik.


“Iya aku tau, aku ganteng.” Ucap Arsen dengan percaya diri.


“Akupun nggak kalah ganteng.” Sergah Rizky membela diri.


“Hahahaha, iya Ky. Aku sedang berusaha memperbaiki hubunganku dengan seseorang. Beberapa waktu lalu sempat terjadi masalah antara kita. Doain yah Ky.” Pinta Arsn.


“Pasti Ar. Semangat yah.” Ucap Rizky tulus.


Dari arah dalam masjid kini terdengar kumandang adzan, menandakan Isya sudah tiba. Sontak membuat Rizky dan Arsen menyudahi perbincangannya dan berjalan beriringan ke tempat wudhu laki-laki.


***


Jamaah sholat Isya diperumahan Arsen kini sedang saling menyalami dan satu per satu beranjak keluar masjid untuk kembali kerumah. Arsen tampak ragu-ragu untuk mengajukan pertanyaan pada Abdillah setelah tadi dimasjid ia mencium tangannya. Tetapi ia sudah bertekad untuk menanyakan kabar gadis yang dicintainya malam ini. Dikumpulkan keberanian dan memanggil Abdillah yang berada didepan bersama dengan kedua putranya.


“Om Abdi.” Panggilan Arsen ternyata membuat ketiga laki-laki yang berada didepannya itu menoleh. Sedangkan Saad dan Azel memilih untuk meninggalkan Arsen yang tadi berada disamping mereka.

__ADS_1


Abdillah menghentikan langkahnya, sementara Fateeh dan Nazeen memilih jalan bersama Saad dan Azel untuk kembali kerumah.


Dua laki-laki beda genarasi itu diam dalam waktu beberapa saat sambil saling memandang dengan pikiran masing-masing.


“Ada apa ?” Tanya Abdillah dengan wajah datar dan dingin.


“Waduh kok mendadak dingin yah.” Ucapnya dalam hati. “Eee Qanita apa kabar om ?” Susah payah Arsen mengeluarkan pertanyaan itu.


“Iya, Alhamdulillah sudah lebih baik Ar. Ayo sambil jalan saja.” Ajak Abdillah, dan mengurangi rasa gugup Arsen.


“Syukurlah om, saya minta maaf om. Saya tau saya salah, saya nggak mau nyari pembelaan atau ngelak om. Saya tau saya salah om.” Ucapnya tanpa berani mengangkat pandangannya.


“Huh! Sebenarnya om sangat kecewa sama kamu Ar. Bahkan om sampai berpikir untuk tidak akan pernah mau berbicara denganmu lagi.” Ucap Abdillah dengan kekehan kecil.


“Jangan gitu dong om.” Melas Arsen.


“Tapi buktinya sekarang om bicara kan sama kamu, kita bincang-bincang malah.” Tutur Abdillah sambil tertawa pelan.


“Ehehehe iya om.”


Kini mereka berjalan tanpa berkata sepatah katapun, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Arsen sendiri sudah siap jika harus dicaci maki oleh Abdillah.


“Qanita sekarang ada dirumah kakaknya. Om biarkan dia disana sampai hatinya yang membawanya kembali kerumah.” Ucap Abdillah menatap jalan. “Jujur saja Ar, om masih sangat kecewa denganmu, tapi om sadar semua orang pasti pernah melakukan kesalahan.”


“Iya om, saya tau. Sekali lagi saya minta maaf om.” Ucap Arsen tulus.


“Iya, om juga minta maaf udah ngusir kamu dengan kasar kemarin.” Ucap Abdillah.


“Nggak kok om, om pantes kayak gitu sama saya.” Tutur Arsen membenarkan perlakuan Abdillah padanya waktu itu.


“Waalaikumussalam.” Jawab Arsen dan berjalan dengan pelan menuju rumahnya.


***


“Assalamualaikum.” Salamnya saat berada didepan pintu rumah.


“Waalaikumussalam.” Jawab seorang wanita dari dalam rumah, yang tak lain adalah Diana.


“Langsung ke meja makan saja Ar, tinggal nunggu kamu sayang.” Ucap Diana yang tengah menutu pintu rumah.


Arsen berjalan beriringan dengan Diana yang berada disampingnya, Arsen memicingkan mata karena melihat seorang gadis yang tengah duduk disamping adik perempuannya.


Tampak dalam penglihatan Arsen, gadis tersebut senyum begitu manis dan begitu dalam untuknya. Arsen terperangah dan segera menguasai diri kemudian beristigfar atas apa yang dilihatnya tadi.


“Ayo sayang.” Diana mengelus punggung Arsen.


“Itu siapa ma ?” Tanya Arsen setengah berbisik.


“Itu Faiza temannya Irtiza dan Qanita. Malam ini dia nginap disini karena sedang mengerjakan tugas bersama adikmu.” Jelas Diana.


“Ohh, iya Arsen ingat.” Kemudian berjalan menuju meja makan dan bergabung dengan yang lainnya.


Mereka makan dalam keadaan diam beberapa saat, hingga Saad membuka pembicaraan dan bertanya pada Arsen.


“Gimana tadi ketemu Abdi ?”

__ADS_1


“Nggak gimana-gimana pa.” ucap Arsen pelan tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya.


“Sudah sudah.” Lerai Diana.


Setelah menikmati makan malam, Arsen memilih untuk menuju kamar dan berdiri disamping jendela kamarnya. Sungguh saat ini ia sangat merindui Qanita, namun ia cukup tau diri untuk tidak menghubungi gadis itu.


Cukup lama Arsen berdiri disamping jendela sambil melihat taburan bintang di atas sana, dan tetap merutuki dirinya kenapa bisa sampai berbuat senekat itu. Dan ia telah melukai hati dua orang gadis, gadis yang sangat dicintai dan gadis yang (pernah) mencintainya.


“Maaf, maafkan aku.” Hanya itu yang terlontar dari mulutnya.


“Ar, Arsen ?” Panggil seseorang dari balik pintu kamarnya.


Tok tok tok


Pintu kamarnya diketuk namun tak ada jawaban dari pemilik kamar.


“Arsen ?” namanya kembali disebut. Namun sipemilik nama masih saja bergeming dari tempat berdiri.


Pelan pintu kamar itu terbuka, dan kini penglihatan orang yang memanggil Arsen melihatnya termenung disamping jendela sambil menatap langit malam.


“Ar.” Panggil Diana pelan.


Tak juga ditanggapi oleh sang putra membuat Diana berjalan menuju Arsen, ditepuk punggung sang putra hingga menimbulkan kaget pada siempunya tubuh.


“Astaga mama. Astagfirullah. Ngagetin aja mama.” Ucap Arsen sambil mengelus dada dan mengatur nafas.


“Mama tadi udah ngetuk pintu, udah panggil nama kamu berkali-kali sayang. Tapi nggak ada jawaban.” Ucap Diana dan menatap kearah pandangan Arsen.


“Cantik ya ma.” Kata Arsen yang menyadari Diana juga melihat kearah langit.


“Iya sayang___.” Menghentikan ucapan dan menatap Arsen yang cukup kalut dalam penglihatannya.


“Ceritalah pada mama. Jika berat kamu menceritakannya pada papamu.” Saran Diana dan berjalan munuju tempat tidur Arsen.


“Arsen nggak tau ma.” Terdengar helaan nafas berat darinya, sambil berjalan kemudian duduk disamping Diana.


“Kamu obrolin apa sama Abdi tadi ?” Tanyanya kembali dan mengusap punggung Arsen yang sedang menunduk.


“Arsen tanya kabar Qanita ma.”


“Lalu ?”


“Dia sekarang sedang dirumah kak Syi, om Abdi nggak mau paksa dia pulang, sampai dia sendiri yang ingin pulang ma.” Jawab Arsen jujur.


“Iya tidak apa-apa nak, biarkan dia menenangkan dirinya. Saat dia kembali kamu bisa jelasin lagi kedia.” Saran Diana.


“Gimana kalau saat dia balik tapi udah nggak mau ketemu Arsen dan___” Ucapan Arsen terhenti membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


“Jangan memikirkan hal yang belum terjadi nak. Entah Qanita mau menerima penjelasanmu atau tidak, yang penting kamu sudah jujur dan mengatakan yang sebenarnya.” Kembali mengelus punggung Arsen.


“Ma.” Mengangkat kepalanya dan terlihat matanya kini merah juga berkaca-kaca. “Arsen nyesel ma udah kayak gitu. Arsen rasa Qanita nggak akan mau maafin Arsen dan ngasih Arsen kesempatan lagi ma.” Ucapnya melihat dalam Diana.


Dengan segera Diana merangkul tubuh putranya “diberi atau tidak biar itu menjadi keputusannya sayang, kamu tidak bisa memaksanya. Semua penyesalan pasti datang belakangan nak, tapi kamu harus ingat ya, setiap pendosa punya masa depan yang belum ternoda. Mama harap kamu bisa jadikan ini pelajaran ya sayang.” Nasehat Diana.


Kemudian dia merasakan tubuhnya semakin didekap erat oleh Arsen dan kini lengan bajunya terasa basah. Mata Dianapun berkaca-kaca, ia mengelus juga mencium puncak kepala putra sulungnya itu.

__ADS_1


__ADS_2