
Ketimbang berbicara, diam adalah hal yang jauh lebih berharga. Kebanyakan dari kita berbicara tanpa berpikir tentang sesuatu di luar kita.
Entah itu perasaan mereka yang engkau ajak bicara atau pikiran mereka, pendapat anda terkadang memang jauh sangat berbeda dengan mereka tetapi kapan terakhir kali anda memikirkan ulang tentang pendapat anda sendiri ketimbang pendapat orang lain.
Argumentasi bisa dibangun dengan pengalaman dari otak setiap manusia, lantas kenapa kebanyakan dari kita justru hanya melihat argumentasinya tanpa menimbang suatu nilai dan perjalananan panjang dari sebuah pengalaman yang melatar belakanginya.
Apakah karena Kearogasian yang terus memuncak di dalam diri kita sehingga seolah dunia harus tunduk di bawah lutut sambil terus memuja egoisnya manusia.
Seolah hidup tanpa ke egoisan bagaikan hidup tanpa bernafas, tanpa keogoisan kita bagaikan berada di dalam lautan lepas di mana kita di kelilingi oleh gelapnya palung berselimut dinginnya air dan tak ada yang lebih sepi daripada itu. Kita terus memuaskan kehidupan dengan nafsu yang terus ingin dipuaskan, lingkaran setan kamerad...
-----
Laut paling dalam adalah misteri bagi manusia tetapi tidak ada misteri yang paling besar selain diri
kita sendiri. Terkadang pikiran sebegitu membingungkan hingga sering kali yang keluar adalah ucapanan yang melukai banyak orang. Berpikir dengan logika yang salah sangat merugikan bukan saja untuk orang lain tetapi justru yang terbesar adalah diri kita sendiri.
Aku menjadi semakin yakin dengan sebuah hukum yang mengatakan bahwa segala yang kita perbuat hanya akan bermuara kepada diri kita sebagai pelakunya. Karma yang dikatakan oleh beberapa kepercayaan agama. Hukum
kausalitas yang mungkin beberapa orang yakini tetapi entah bagaimana suatu sebab bisa memengaruhi sebuah akibat. Yang jelas semuanya seolah membentuk siklus panjang kehidupan. Kata-kata bijak selalu mengatakan apa yang engkau tuai adalah apa yang engkau tanam.
Dari titik itu terkadang pikiran memprosesnya dengan cara negatif. Bagaiamana mungkin seseorang bisa merasakan sakit hati dan sedih dan macam-macam perasaan jikalau dulunya ia sendiri tak pernah membuat
sakit hati dan sedih seseorang. Lantas apakah kehidupan selalau bekerja dengan sebab akibat yang semacam itu ataukah ada sebuah hal lain yang memengaruhi atau jangan-jangan manusia saja yang menginteprestasikannya dengan demikian.
Seduhan kopi harum melati merupakan ciri khas minuman kopi dari pesisir pantai Pulau Stoa. Kopi
yang kaya dengan cita rasa, beraroma khas yang tak pernah ada dua. Di tempat lain mungkin kopi yang menjadi ciri utama yang berbeda adalah seperti kopi areng, kopi kelapa dan jenis campuran kopi yang begitu-begitu saja, tetapi berbeda ketika kopi sudah diolah di pulau ini kopi bercampur dengan aroma-aroma
bunga.
Kopi bunga kamboja, kopi seduhan aroma kenanga, kopi bunga bangkai pun sepertinya ada. Aroma bunga melati menjadikan nikmat malam ini, ditemani dengan suasana syahdu rintik hujan. Udara sejuk dengan cepat membuat suasana menjadi damai dan tenang. Rintik yang pelan mengalun memebuat sebuah ritme musik-musik
terapi kesehatan.
Tubuh meresponnya dengan lembut dan lalu menjadikannya sebuah energi ketenangan jiwa, pikiran-pikiran terbuka, jenuh yang begitu tinggi tersimpan oleh kepala sedikit demi sedikit turun yang juga bersamaan dengan
turunnya air hujan malam itu. Obrolan malam yang menjadi semakin meriah dan
syahdu.
Peter adalah seorang yang pendiam tulen, ia suka dengan ketidak bicaraan seperti pejabat yang juga
suka dengan ketidak adilan. Entahlah tetapi kedua sifat itu seolah sama. Bagaimana tidak, pejabat akan diam seribu macam bahasa jika ketidakadilan berdiri tegak sehingga masyarakat menajdikannya seperti sudah merupakan kewajaran dan kebiasaan saja sehingga rakyat-rakyat kecil yang harus bersuara lantang agar bisu yang dilakukan pejabat bisa terdengar oleh Dewi Justitia.
Corong pejabat yang seharusnya digunakan untuk menyuarakan keadilan justru
menjadi mati jikapun hidup suaranya akan sumbang karena terbiasa untuk diam.
Peter memang pendiam tetapi dia bukan memiliki maksut dan kepentingan seperti
seorang pejabat.
Justru diamnya itu memiliki hikmah dan kehebtannya sendiri. Ia
__ADS_1
yakin dengan diam akan menjauhkannya dari berbagai macam persoalan. Diam yang
artinya tak banyak aksi membuatnya tak banyak kritik dan salah langkah, tetapi
yang pasti Peter bukan orang yang bodoh, justru ia tahu tentang ketidak
tahuannya terhadap berbagai hal.
Dimanan dengan hal itu menjadikannya seorang
yang memiliki prinspi lebih baik diam daripada banyak berbicara tetapi tak
membuat manfaat apa-apa karena ketidaktahuannya yang terlupa. Tetapi malam ini
ia berbeda, Peter merasakan getaran yang salah sehingga ia seolah memiliki
panggilan jiwa untuk angkat suara.
Di depannya duduk Roger yang ditemani dengan
alunan musik ia dengan nikmat menghisap Marijuana. Roger mendapatkan Marijuana
itu dari seorang temannya teman teman temannya si teman dan beribu temannya temannya
karena memang di Pulau Stoa ini begitu susah mendapatkannya. Marijuana seolah
menjadi barang langkah di tanah yang subur untuk menanamnya. Ototritas Negara
bersabda untuk mengharamkannya ada.
kanannya juga sudah tersedia minuman soda penghangat tubuh untuk malam yang
begitu syahdu. Roger melontarkan sedikit pernyataan kepada Peter.
Dunia ini di isi dengan begitu banyak sampah sampai-sampai aku tak bisa lagi membedakan batu dengan
mutiara karena keduanya diselimuti lumpur yang sama.
Peter menjawabnya dengan tak kalah dialektis.
Yahhh Roger, beginilah dunia. Kita hanya harus berusaha sebisa mungkin agar menahan nafsu kita untuk tidak serakah. Jangan sampai mutiara yang kita kumpulkan ternyata sebatas batu kali bahkan tai yang mengeras saja.
Tetapi Pet, mencoba memuaskan nafsu itu kan nikmat.
Peter membalas kalimat itu dengan mencoba bertanya kepada Roger bagaimana cara kita memuaskan nafsu,
kapan nafsu akan puas dan apakah nafsu bisa merasakan kepuasan.
Ah entahlah tetapi Marijuana ini begitu nikmat menurutku dan aku akan terus menikmatinya.
Marijuanamu mungkin memang membuatmu nikmat tetapi Begitu hisapan pertamamu
selesai kau akan sampai dihisapan terakhir dan satu batang habis kau baru akan
__ADS_1
sadar jika ternyata kau sudah sampai di batang terakhirmu.
Tetapi pet, bukankah memang terkadang begitu, seolah dunia berputar lebih
cepat ketimbang kita dahulu masih kanak-kanak
Bukan Roger, bukan kita yang menjadi dewasa sehingga waktu menjadi cepat
tetapi kita yang terlampau rakus terhadap waktu sehingga semua yang kita
nikmati justru tak bisa dirasakan kenikmatannya lagi. Dalam artian waktu tetap
sama tapi kita yang menjadikannya singkat.
Tolong jelaskan dengan rinci pet.
Bagaikan melihat gadis cantik yang memainkan lengkuk tubuhnya di atas
panggung sana. Melenggak-lenggokan perut dan pinggangnya dan membius setiap
mata. Lambaian rok mini juga uraian rambut panjangnya membuat siapa saja akan
lupa pada dirinya yang ternyata sudah memandanginya selama berjam-jam. Entahlah
Roger tetapi tak bisa dipungkiri bahwa memandangi wanita itu hanya akan membuang-buang
waktumu saja. Apakah itu nikmat Roger. Aku mungkin menanyakan apakah kenikmatan
itu.
Atau mungkinkah kita tak akan pernah sampai kepada kenikmatan itu Pet. Setiap kali usaha kita untuk memuaskan nafsu yang ada kita berada di gerbang pemuasaan yang berikutnya.
Tepat seperti itu yang aku maksut Roger, membuang waktumu saja bukan.
Benar begitukah kawan? Jika usaha kita untuk memuaskan nafsu dan merasakan sedikit kenikmatan di dunia
yang brengsek ini hanyalah sebuah bualan dan kesia-siaan. Jika benar, lalu
bagaimana dengan kebahagiaan. Apakah memang Tuhan tidak pernah menciptakan
kebahagiaan.
Bagaikan gelombang di tepi laut, ia datang dengan segera dan pergi secepat ia datang. silih berganti
terus menerus tak ada gelombang yang menetap di tepi pantai, semua akan menuju
laut kembali.
Buddha mengatakan bahwa segala sesuatu akan terus bergerak, tidak ada yang bisa kita katakan bahwa ini miliku karena semuanya bergantian datang dan pergi.
Lantas hal ini juga sama dengan kenikmatan dunia yang nyatanya tidak akan pernah sampai pada titik kepuasan hingga raga menjadi tulang belulang maka Buddha mengajarkan untuk hidup dalam kekangan, dalam artian untuk menjalankan kehidupan yakni menahan kesenangan duniawi.
Hal ini juga sama dengan filsafat Hedoinism yang dikatakan oleh Epicurus bahwa kehidupan harus diisi dengan kepuasan dan kesenangan tetapi Epicurus melanjutkan namun jika ingin mencapainya kita harus mengontrol dan membatasi kesenangan itu.
__ADS_1
....