
Pernah hidup seorang
gelandangan. Ia hidup di tengah-tengah kota yang ramai dekat alun-alun dan
pasar. Tempat tidurnya adalah gang-gang kumuh dan kotor atau terkaadang agak
sedikit mewah yakni di depan tokoh kelontong abah-abah keturunan Thionghoa.
Walaupun begitu setiap hari ia makan dengan kecukupan bahkan sringkali ia
menderita berlebih makanan. Setiap 10 meter berjalan ia selalu mendapatkan
uluran tangan masyarakat sekitar entah itu makan, minum, cemilan dan lainnya.
Terkadang suatu hari ada yang mencamin makan gelandangan itu sehari bahkan
sebulan lamanya. Uh, konon katanya gelandangan ini merupakan filosof sejati,
seorang pemikir ulung, ia adalah sufi kalau saja tradisi islam mengakui.
Gelandangan ini memiliki
kebiasaan berdiam diri pinggir lapangan alun-alun kota. Disana ia sendiri
menikmati sepi. Katanya kepada seseorang yang pernah berjumpa dan berbicara
kepadanya. Ketika sepi aku berbicara dengan diriku sendiri, tiada yang mengira
bahwa diri sendiri lebih bermakna ketimbang buku tua atau naskah kuno di museum
bahkan atau penelitian terbaru mengenai eksistensi manusia dengan alam,
kesendirian adalah bentuk dari keramaian dalam diri seorang manusia.
Gelandangan itu mengatakannya dengan tangkas, seperti seorang yang bijak.
Memang tak dapat
disangkal bahwa ia dihormati dan
disegani karena kebijaksanaanya dan keulungannya dalam berpikir, dalam
menjalani hidup yang sederhana dan tanpa pamrih, sombong. banyak orang yang
datang kepadanya untuk mendapatkan serpihan kebijaksanaanya. Dari pedagang
biasa, petani sampai pejabat bahkan seorang pangeran. Gelandangan tersebut di
undang ke istana sang pangeran, di ajaknya ia bertemu kepada sang raja di
negeri jauh sana. menaiki kereta kuda menuju dermaga lalu menaiki kapal
mengarungi samudera ke sebelah barad daya, lalu melanjutkan perjalan darat yang
amat melelahkan dan penuh rintangan menuju ke selatan hingga ia mencapai di
ujung daratan lalu melanjutkannnya dengan menaiki kapal menyebrang ke sebuah
gugusan pulau yang amat banyak dan berhenti ke sebuah pulau yang besar di
antara pulau yang lain. di sanalah negeri iitu berada, negeri yang dijuluki
miniatur bumi. Negeri yang beragam penduduknya, negeri yang subur dan kaya
raya. Bagaikan permata hijau di antara onggakan batu cadas dan batu kali,
negeri itu bersinar dan berkilauan, istana raja diselimuti permata dan emas, jalan menuju istana dihiasi
bunga-bunga yang snagat indah, semua warna bunga sepertinya ada di sana. negeri
itu negeri yang paling indah kata si gelandangan, tetapi keindahan dan kekayaan
hanyalah ilusi yang diciptakan mata dan pikiran. Gelandangan itu tetap berada
di jalannya.
Masuklah gelandangan itu
__ADS_1
ke dalam istana, di sana ia dihadapkan langsung kepada sang raja dan takhtanya.
Ruangan itu sangat luas, dapat diisi hampir 500 orang dengan desak-desakan,
tetapi appaun itu ruangan tersebut sangat luas. Berbagai macam perabot dan
pernah-pernik kerajaan bergemerlap. Emas, permata dan batu raksasa menempel di
dinding-dinding ruangan. Di ujung sana ada anak tangga yang tak terlalu tinggi,
di ujung anak tangga terdapat raja yang duduk di takhtanya. Selir bergantian
memberikan buah-buah ke mulut raja. Di anka tangga yang sedikit lebih bawah ada
menteri-menteri raja juga pengawal yang mengelilinginya. Pengawal-pengawal ini
berbadan besar, memoncongkan senjata bersiap siaga seolah sedang menghadapi
perang maha dahsyat. Di ruangan megah ini kami berjalan menuju ke hadapan sang
raja lebih dekat. Di antara jalan itu Sang pangeran berkata.
Wahai tuan, di sanalah
aku nanti duduk menggantikan ayahku.
Bolehkah kiranya kau
duduk disana sebentar, dari sekian perjalnaan yang jauh aku lelah.
Tidak boleh tuan, itu
adalah singgasana raja dan hanya raja yang boleh duduk di sana.
Gelandangan tersebut
melangkah agak maju ke hadapan sang raja. Raja memakai baju dari kain sutera
yang panjang berwarna hitam. Kiri-kanan tangannya dipenuhi gelang-gelang emas
yang berkilauan, jari jemarinya juga dipenuhi dengan batu cincin emas yang mengkilap,
lebatnya.
Wahai raja, dari sekian
perjalananku yang jauh untuk bertemu denganku bolehkan aku singgah untuk duduk
di kursi empukmu itu.
Biar tak terlalu lama,
Bayangkan saja semua makhluk yang ada di ruangan itu geram dan marah. Bayangkan
saja prajurit-prajurit itu sudah bersiaga ingin memenggal gelandangan kumuh itu
karena telah lancang seperti demikian. Semua tertegun lalu raja berdiri dan
mengatakan dengan nada sedikit marah.
Uh, untuk apa. kau ingin
menjadi raja juga. Tidak mungkin.
Tidak raja, aku hanya
ingin duduk sebentar beristirahat di sana. kursimu yanng besar itu bisa
menopang tubuhku untuk rebahan.
Prajurit-prajurit sudah
geram, mereka yang tadi mengelili raja kini mengelili gelandangan tersebut.
Tidak seperti itu...
jawab raja.
__ADS_1
Bukankah kursimu yang
luas dan berhias permata itu hanya tempat bersinggah. Coba sebelum engkau
menjadi raja siapa yang duduk di situ.
Raja *** yang maha
perkasa
Berapa lama ia menjadi raja
Duapuluh tahun dengan
menginvansi seluruh kepulauan, memajukan perekonomian dan membangun istana
megah di semua penjuru negeri.
Lalu, sebelumnya lagi
siapa rajanya
Kakekku\, Maha Raja ****\,
sang gagah berani dan bijaksana. Bla bla bla dan pujian-pujian mneyertainya.
Berapa lama ia menjadi
raja
Selama 15 tahun.
Nah, jadi bukankah
kursimu itu hanya tempat singgah. Tidak ada yang mendudukinya selamanya.
Bukankah setelah mati kau pun akan digantikan oleh anakmu ini.
Biar singkat, bayangkan
saja semua tertegun, seolah mendapatkan cahaya pencerahan ke dalam kepalanya.
Raja pun juga sama, ia kembali duduk dan memandang lama-lama kepada sang
gelandangan. Bayangkan semua makhluk yang ada di sana terdiam dan hening
memandangi gelandangan yang seorang diri. Pangeran menunduk lesu, pikirannya
berkomat-kamit tiada henti memikirkan apa yang akan terjadi kepadanya setelah
ini. ide membawakan gelaandangan ada idenya. syukur jika raja senang dengan
kedataangan gelandangan ini tetapi apa jadi jika raja tersiinggung dan sangat
marah, bisa-bisa tak segan ia mengusir anaknya dari istana.
Cerita tentang reaksi
raja dan nasib pangeran tak ada yang penah tahu, mungkin telah hilang termakan
zaman. Tetapi sepulang dari negeri yang jauh disana itu. gelandangan menjadi
semakin terkenal dan termahsyur. Tiada yang berubah dari kehidupannya. Ia tetap
menggelandang dan tidur di gang-gang kumuh atau depan tookoh kelontong babah
keturunan Thionghoa. tetapi kehidupan di negeri itu berubah setelah adanya
gelandangan tersbut. Kabarnya walaupun negeri itu sangat kaya raya, tanahnya
subur, n egeri yang bagaikan permata hijau itu ternyata memiliki sisi gelap
yakni rakyat dan penduduknya melarat dan sengsara. Rajanya memiliki kekuasaan
sepenuhnya dan suka bersewenang-wenang. Seperti dongeng-dongen normatif lainnya
semenjak kedatangan gelandangan yang bijak itu kehidupan masyarakat di negeri
__ADS_1
itu menjaadi makmur sejahtera...