Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Gelandangan


__ADS_3

Pernah hidup seorang


gelandangan. Ia hidup di tengah-tengah kota yang ramai dekat alun-alun dan


pasar. Tempat tidurnya adalah gang-gang kumuh dan kotor atau terkaadang agak


sedikit mewah yakni di depan tokoh kelontong abah-abah keturunan Thionghoa.


Walaupun begitu setiap hari ia makan dengan kecukupan bahkan sringkali ia


menderita berlebih makanan. Setiap 10 meter berjalan ia selalu mendapatkan


uluran tangan masyarakat sekitar entah itu makan, minum, cemilan dan lainnya.


Terkadang suatu hari ada yang mencamin makan gelandangan itu sehari bahkan


sebulan lamanya. Uh, konon katanya gelandangan ini merupakan filosof sejati,


seorang pemikir ulung, ia adalah sufi kalau saja tradisi islam mengakui.


Gelandangan ini memiliki


kebiasaan berdiam diri pinggir lapangan alun-alun kota. Disana ia sendiri


menikmati sepi. Katanya kepada seseorang yang pernah berjumpa dan berbicara


kepadanya. Ketika sepi aku berbicara dengan diriku sendiri, tiada yang mengira


bahwa diri sendiri lebih bermakna ketimbang buku tua atau naskah kuno di museum


bahkan atau penelitian terbaru mengenai eksistensi manusia dengan alam,


kesendirian adalah bentuk dari keramaian dalam diri seorang manusia.


Gelandangan itu mengatakannya dengan tangkas, seperti seorang yang bijak.


Memang tak dapat


disangkal bahwa ia dihormati  dan


disegani karena kebijaksanaanya dan keulungannya dalam berpikir, dalam


menjalani hidup yang sederhana dan tanpa pamrih, sombong. banyak orang yang


datang kepadanya untuk mendapatkan serpihan kebijaksanaanya. Dari pedagang


biasa, petani sampai pejabat bahkan seorang pangeran. Gelandangan tersebut di


undang ke istana sang pangeran, di ajaknya ia bertemu kepada sang raja di


negeri jauh sana. menaiki kereta kuda menuju dermaga lalu menaiki kapal


mengarungi samudera ke sebelah barad daya, lalu melanjutkan perjalan darat yang


amat melelahkan dan penuh rintangan menuju ke selatan hingga ia mencapai di


ujung daratan lalu melanjutkannnya dengan menaiki kapal menyebrang ke sebuah


gugusan pulau yang amat banyak dan berhenti ke sebuah pulau yang besar di


antara pulau yang lain. di sanalah negeri iitu berada, negeri yang dijuluki


miniatur bumi. Negeri yang beragam penduduknya, negeri yang subur dan kaya


raya. Bagaikan permata hijau di antara onggakan batu cadas dan batu kali,


negeri itu bersinar dan berkilauan, istana raja diselimuti  permata dan emas, jalan menuju istana dihiasi


bunga-bunga yang snagat indah, semua warna bunga sepertinya ada di sana. negeri


itu negeri yang paling indah kata si gelandangan, tetapi keindahan dan kekayaan


hanyalah ilusi yang diciptakan mata dan pikiran. Gelandangan itu tetap berada


di jalannya.


Masuklah gelandangan itu

__ADS_1


ke dalam istana, di sana ia dihadapkan langsung kepada sang raja dan takhtanya.


Ruangan itu sangat luas, dapat diisi hampir 500 orang dengan desak-desakan,


tetapi appaun itu ruangan tersebut sangat luas. Berbagai macam perabot dan


pernah-pernik kerajaan bergemerlap. Emas, permata dan batu raksasa menempel di


dinding-dinding ruangan. Di ujung sana ada anak tangga yang tak terlalu tinggi,


di ujung anak tangga terdapat raja yang duduk di takhtanya. Selir bergantian


memberikan buah-buah ke mulut raja. Di anka tangga yang sedikit lebih bawah ada


menteri-menteri raja juga pengawal yang mengelilinginya. Pengawal-pengawal ini


berbadan besar, memoncongkan senjata bersiap siaga seolah sedang menghadapi


perang maha dahsyat. Di ruangan megah ini kami berjalan menuju ke hadapan sang


raja lebih dekat. Di antara jalan itu Sang pangeran berkata.


Wahai tuan, di sanalah


aku nanti duduk menggantikan ayahku.


Bolehkah kiranya kau


duduk disana sebentar, dari sekian perjalnaan yang jauh aku lelah.


Tidak boleh tuan, itu


adalah singgasana raja dan hanya raja yang boleh duduk di sana.


Gelandangan tersebut


melangkah agak maju ke hadapan sang raja. Raja memakai baju dari kain sutera


yang panjang berwarna hitam. Kiri-kanan tangannya dipenuhi gelang-gelang emas


yang berkilauan, jari jemarinya juga dipenuhi dengan batu cincin emas yang mengkilap,


lebatnya.


Wahai raja, dari sekian


perjalananku yang jauh untuk bertemu denganku bolehkan aku singgah untuk duduk


di kursi empukmu itu.


Biar tak terlalu lama,


Bayangkan saja semua makhluk yang ada di ruangan itu geram dan marah. Bayangkan


saja prajurit-prajurit itu sudah bersiaga ingin memenggal gelandangan kumuh itu


karena telah lancang seperti demikian. Semua tertegun lalu raja berdiri dan


mengatakan dengan nada sedikit marah.


Uh, untuk apa. kau ingin


menjadi raja juga. Tidak mungkin.


Tidak raja, aku hanya


ingin duduk sebentar beristirahat di sana. kursimu yanng besar itu bisa


menopang tubuhku untuk rebahan.


Prajurit-prajurit sudah


geram, mereka yang tadi mengelili raja kini mengelili gelandangan tersebut.


Tidak seperti itu...


jawab raja.

__ADS_1


Bukankah kursimu yang


luas dan berhias permata itu hanya tempat bersinggah. Coba sebelum engkau


menjadi raja siapa yang duduk di situ.


Raja *** yang maha


perkasa


Berapa lama ia menjadi raja


Duapuluh tahun dengan


menginvansi seluruh kepulauan, memajukan perekonomian dan membangun istana


megah di semua penjuru negeri.


Lalu, sebelumnya lagi


siapa rajanya


Kakekku\, Maha Raja ****\,


sang gagah berani dan bijaksana. Bla bla bla dan pujian-pujian mneyertainya.


Berapa lama ia menjadi


raja


Selama 15 tahun.


Nah, jadi bukankah


kursimu itu hanya tempat singgah. Tidak ada yang mendudukinya selamanya.


Bukankah setelah mati kau pun akan digantikan oleh anakmu ini.


Biar singkat, bayangkan


saja semua tertegun, seolah mendapatkan cahaya pencerahan ke dalam kepalanya.


Raja pun juga sama, ia kembali duduk dan memandang lama-lama kepada sang


gelandangan. Bayangkan semua makhluk yang ada di sana terdiam dan hening


memandangi gelandangan yang seorang diri. Pangeran menunduk lesu, pikirannya


berkomat-kamit tiada henti memikirkan apa yang akan terjadi kepadanya setelah


ini. ide membawakan gelaandangan ada idenya. syukur jika raja senang dengan


kedataangan gelandangan ini tetapi apa jadi jika raja tersiinggung dan sangat


marah, bisa-bisa tak segan ia mengusir anaknya dari istana.


Cerita tentang reaksi


raja dan nasib pangeran tak ada yang penah tahu, mungkin telah hilang termakan


zaman. Tetapi sepulang dari negeri yang jauh disana itu. gelandangan menjadi


semakin terkenal dan termahsyur. Tiada yang berubah dari kehidupannya. Ia tetap


menggelandang dan tidur di gang-gang kumuh atau depan tookoh kelontong babah


keturunan Thionghoa. tetapi kehidupan di negeri itu berubah setelah adanya


gelandangan tersbut. Kabarnya walaupun negeri itu sangat kaya raya, tanahnya


subur, n egeri yang bagaikan permata hijau itu ternyata memiliki sisi gelap


yakni rakyat dan penduduknya melarat dan sengsara. Rajanya memiliki kekuasaan


sepenuhnya dan suka bersewenang-wenang. Seperti dongeng-dongen normatif lainnya


semenjak kedatangan gelandangan yang bijak itu kehidupan masyarakat di negeri

__ADS_1


itu menjaadi makmur sejahtera...


__ADS_2