
Minggu pagi yang cerah.
Doni seorang remaja desa yang hidup hanya sebagai beban rumah tangga orang
tuanya, ia bangun pagi-pagi untuk memberi makan ternak ayahnya. Setidaknya
dengan begitu ia tidak menjadi terlalu membebankan. Doni putus sekolah karena
suka mengintip rok ibu guru ketika sedang duduk-duduk manja di teras depan
kantor kepala sekolah. Mata siapa yang tidak terpikat oleh paras cantik dan
mulus yang terpancar dari wajah ibu guru
itu, sosoknya yang anggun ketika menghentakan kakinya untuk berjalan seolah
sedang melakukan pentas di depan panggung fashion show. Senyum yang ia
lontarkan dari bibir tipisnya membuat teh pahit tuan akan terasa manis. Ah,
sudah bagaikan gombalan bapak-bapak di warung tongkrongan Doni saja.
Doni selagi sebagai
seorang pemuda desa yang menggeluti bidang ke-pengangguran sehingga capaian
tertingginya ialah tanpa adanya masukan keuangan dalam hidupnya, ia juga gemar
sekali berdialektika dengan bapak-bapak di warung seberang jalan sana yang
dekat dengaan sate Madura. Bau harum sate ketika Doni duduk bersila di dipan
warung itu membuat Doni sudah merasa kenyang, itulah sebabnya ia suka
duduk-duduk sendiri di sana sebelum bapak-bapak gang kampung itu datang
menyerang.
Pagi ini Doni mendapati
sebuah tugas mulia dari sang Ayahanda yakni mencari rumput di lapangan belakang
rumah untuk makan kambing. Pagi yang masih gulita, semak-semak masih dipenuhi
oleh basahan embun sisa semalam yang belum dibasuh dengan tissu, cabang pohon
masih berdiri tegak dan juga lembut menyapa hari Doni yang gemulai terbungkus
oleh seprai. Tubuhnya yang kering kerempeng itu segera ia paksakan untuk
bangkit dari tidurnya. palu dan arit ia bawa lantas bersorak sorai penuh gairah
menuntut keadilan dan kesetaraan. Eh, ternyata si Doni masih di bawah pengaruh
mimpi hantu-hantu kapitalis dan keserakahan para penguasa modal. Doni lepaskan
semua atribut yang ia bawa tadi. Revolusi pemberontakan kaum tertindas
cepat-cepat ia urungkan di dalam alam bawah sadarnya. Kini kesadaran Doni
sedikit demi sedikit pulih dari tidur panjangnya tadi. Doni lantas pergi ke
kamar mandi, sedikit kencing lalu mengusapkan air di seluruh permukaan
wajahnya. Wajah yang nampak kusam dan murung ketika kesadarannya belum pulih
itu tadi kini menjadi segar dan penuh kebugaran seperti seorang yang masih
belia. Ia menatap wajahnya sendiri dengan gairah libido yang tinggi, rasa
__ADS_1
kepercayaannya terhadap wajahnya yang rupawan di depan cermin itu layaknya
benar-benar ia seperti seorang artris yang tiba-tiba jatuh dari langit di
sebuah desa yang antah brantah. Di tengah imajinasi tingginya tentang wajah
rupawannya itu Doni dikagetkan dengan sebuah realitas bahwa kambingnya
berteriak kencang karena belum mendapat jatah rumput-rumput segar pagi hari.
Konsentrasinya pecah dan sosok aktris di depan cermin tadi menghilang
menjadikan semuanya kembali suram. Doni menjadi Doni yang utuh kembali dengan
wajah pas-pasan, berjerawat dan jauh dari standar rupawan masyarakat.
Berjalanlah ia si Doni
menuju lapangan belakang rumah yang penuh rumput hijau dan segar, benar saja
jika kambing itu ialah manusia sudahlah pasti bahwa lapangan ini adalah sebuah
ladang yang penuh gula-gula yang siap untuk di santap. Manusia yang kambing itu
tentu saja akan memakan semua gula-gula itu entah kenyang atau tidak. Semuanya
manusia libas tak tersisa, hanya dirinya yang berkuasa memakan semua gula-gula
di lapangan luas itu sekaligus. Tetapi kambing adalah kambing, ia hanya memakan
secukupnya dan se kenyangnya tentu dengan demikian pekerjaan Doni memnjadi
sedikit lebih mudah untuk merawat kambing daripada manusia. Karena Doni hanya
perlu membawakan rerumputan itu secukupnya saja. Bisa dibayangkan jika kambing
yang di pelihara itu manusia sudah tentu lapangan itu akan lenyap dalam sehari
lapangan itu sekaligus, sudah pasti sangat melelahkan.
Sebelum memotong rumput,
Doni beroda kepada Tuhan Yang Maha Esa agar memberikan keselamatan kepadanya
juga kepada rumput yang akan ia potong. Doni berbicara dengan rumput itu bahwa
ia ingin memotongnya, Doni meminta izin kepada rumput agar ia bersedia
merelakan klorofil-klorofilnya, merelakan tubuhnya di sayat oleh celurit, agar
merelakan tubuhnya dimakan kambing-kambingnya dan seterusnya-seterusnya. Ritual
itu kemudian di tutup Doni dengan berdoa agar kelak tumbuh rumput-rumput baru
dengan kualitas yang jauh lebih indah sebagai bentuk manifestasi kehidupan
rerumputan. Ia menari-nari dalam kegairahan untuk memotong rumput sampai di
tengah perjalanan penyayatan rumput ia lupa dengan cara bagaimana memotong
dengan tepat dan akurat sehingga di sinilah sekarang ia berada. Selang infus
melilitnya, perban-perban juga memenuhi langit-langit matanya, pusing yang tak
terhingga sampai-sampai dudukpun seolah merasakan fertigo yang tak
berkesudahan. Pelipis kanannya tertancap oleh celurit, Doni benar-benar lupa
bagaimana ini bisa terjadi, yang ia tahu bahwa sekarang ia sudah berada di
__ADS_1
ruangan dingin, tertidur di atas ranjang dengan selimut dan perban juga infus
yang memenuhi tubuhnya. Doni jelas bingung kenapa ia ada di sini sampai
ayahanda yang memeberikan tugasnya memotong rumput itu menjelaskan kronologis
kejadiannnya dan kini Doni benar-benar menjadi beban keluarga seutuhnya. Ia tak
bisa melakukan apa-apa selain tidur dan menonton pertandingan bola di televisi
rumah sakit.
Tubuhnya yang ia putar-putarkan
sehingga seolah membentuk sebuah angin topan dengan kekuatan celurit itu
berhasil menebas banyak sekali rerumputan. Celurit itu ia kibaskan dengan penuh
gairah semangat ke atas ke bawah bergantian. Terkadang ia juga lari dengan
kencang mengarahkan celurit kebawah lalu mendadak keatas. Doni sudah seperti
penari balet dengan celurit. Ia melompat ke kiri, ke atas memutar-mutarkan celuritnya
berdanssa asik di atas lapangan rerumputan. Ia sudah bagaikan terasuki oleh roh
manusia kambing yang ganas dan lapar oleh gula-gula di lapangan dan lalu hingga
ia tergelincir dengan tumpuannya yang kurang kuat. Celurit itu melayang dan
mendarat di pelipis kanannya. Ia langsung tak sadarkan diri, darahnya
bermuncratan bagaikan air terjun yang meluber di sepanjang jalan para
demonstran. Doni sang pembawa celurit.
Aku tidak percaya dengan semua bualan ini, semuanya pasti
hanya sebuah konspirasi belakang. Mana ada kamu bisa memotong rumput dengan
tanganmu yang buntung itu.
Seorang bapak parubaya
memprotes cerita yang Doni sampaikan barusan.
Tapi aku benar-benar pernah melakukan itu semua pak,
buktinya aku sekarang bisa bercerita dengan sungguh-sungguh dan berapi-api. Jikapun
bapak tidak percaya coba tanyakan Ibu guru itu bahwa aku pun juga pernah dan
sering mengintip rok manisnya.
Aihhh Doni, ibu guru yang kamu maksut itukan pohon di
seberang jalan sana yang kebetulan ada poster wanita yang membawa buku, itu
Cuma foto wanita Doni.
Lagian kamu itukan bisu sejak kecil Don, mana bisa
bercerita dengan lancar. Semua ini hanya
bualan kosongmu saja. Sudahlah.
Obrolan di warung
sebelah sate Madura itu berakhir dengan tibanya pagi yang cerah dan
__ADS_1
terbangunlah Doni untuk kembali memotong rumput di belakang rumah.