Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Meminang Celurit


__ADS_3

Minggu pagi yang cerah.


Doni seorang remaja desa yang hidup hanya sebagai beban rumah tangga orang


tuanya, ia bangun pagi-pagi untuk memberi makan ternak ayahnya. Setidaknya


dengan begitu ia tidak menjadi terlalu membebankan. Doni putus sekolah karena


suka mengintip rok ibu guru ketika sedang duduk-duduk manja di teras depan


kantor kepala sekolah. Mata siapa yang tidak terpikat oleh paras cantik dan


mulus yang terpancar  dari wajah ibu guru


itu, sosoknya yang anggun ketika menghentakan kakinya untuk berjalan seolah


sedang melakukan pentas di depan panggung fashion show. Senyum yang ia


lontarkan dari bibir tipisnya membuat teh pahit tuan akan terasa manis. Ah,


sudah bagaikan gombalan bapak-bapak di warung tongkrongan Doni saja.


Doni selagi sebagai


seorang pemuda desa yang menggeluti bidang ke-pengangguran sehingga capaian


tertingginya ialah tanpa adanya masukan keuangan dalam hidupnya, ia juga gemar


sekali berdialektika dengan bapak-bapak di warung seberang jalan sana yang


dekat dengaan sate Madura. Bau harum sate ketika Doni duduk bersila di dipan


warung itu membuat Doni sudah merasa kenyang, itulah sebabnya ia suka


duduk-duduk sendiri di sana sebelum bapak-bapak gang kampung itu datang


menyerang.


Pagi ini Doni mendapati


sebuah tugas mulia dari sang Ayahanda yakni mencari rumput di lapangan belakang


rumah untuk makan kambing. Pagi yang masih gulita, semak-semak masih dipenuhi


oleh basahan embun sisa semalam yang belum dibasuh dengan tissu, cabang pohon


masih berdiri tegak dan juga lembut menyapa hari Doni yang gemulai terbungkus


oleh seprai. Tubuhnya yang kering kerempeng itu segera ia paksakan untuk


bangkit dari tidurnya. palu dan arit ia bawa lantas bersorak sorai penuh gairah


menuntut keadilan dan kesetaraan. Eh, ternyata si Doni masih di bawah pengaruh


mimpi hantu-hantu kapitalis dan keserakahan para penguasa modal. Doni lepaskan


semua atribut yang ia bawa tadi. Revolusi pemberontakan kaum tertindas


cepat-cepat ia urungkan di dalam alam bawah sadarnya. Kini kesadaran Doni


sedikit demi sedikit pulih dari tidur panjangnya tadi. Doni lantas pergi ke


kamar mandi, sedikit kencing lalu mengusapkan air di seluruh permukaan


wajahnya. Wajah yang nampak kusam dan murung ketika kesadarannya belum pulih


itu tadi kini menjadi segar dan penuh kebugaran seperti seorang yang masih


belia. Ia menatap wajahnya sendiri dengan gairah libido yang tinggi, rasa

__ADS_1


kepercayaannya terhadap wajahnya yang rupawan di depan cermin itu layaknya


benar-benar ia seperti seorang artris yang tiba-tiba jatuh dari langit di


sebuah desa yang antah brantah. Di tengah imajinasi tingginya tentang wajah


rupawannya itu Doni dikagetkan dengan sebuah realitas bahwa kambingnya


berteriak kencang karena belum mendapat jatah rumput-rumput segar pagi hari.


Konsentrasinya pecah dan sosok aktris di depan cermin tadi menghilang


menjadikan semuanya kembali suram. Doni menjadi Doni yang utuh kembali dengan


wajah pas-pasan, berjerawat dan jauh dari standar rupawan masyarakat.


Berjalanlah ia si Doni


menuju lapangan belakang rumah yang penuh rumput hijau dan segar, benar saja


jika kambing itu ialah manusia sudahlah pasti bahwa lapangan ini adalah sebuah


ladang yang penuh gula-gula yang siap untuk di santap. Manusia yang kambing itu


tentu saja akan memakan semua gula-gula itu entah kenyang atau tidak. Semuanya


manusia libas tak tersisa, hanya dirinya yang berkuasa memakan semua gula-gula


di lapangan luas itu sekaligus. Tetapi kambing adalah kambing, ia hanya memakan


secukupnya dan se kenyangnya tentu dengan demikian pekerjaan Doni memnjadi


sedikit lebih mudah untuk merawat kambing daripada manusia. Karena Doni hanya


perlu membawakan rerumputan itu secukupnya saja. Bisa dibayangkan jika kambing


yang di pelihara itu manusia sudah tentu lapangan itu akan lenyap dalam sehari


lapangan itu sekaligus, sudah pasti sangat melelahkan.


Sebelum memotong rumput,


Doni beroda kepada Tuhan Yang Maha Esa agar memberikan keselamatan kepadanya


juga kepada rumput yang akan ia potong. Doni berbicara dengan rumput itu bahwa


ia ingin memotongnya, Doni meminta izin kepada rumput agar ia bersedia


merelakan klorofil-klorofilnya, merelakan tubuhnya di sayat oleh celurit, agar


merelakan tubuhnya dimakan kambing-kambingnya dan seterusnya-seterusnya. Ritual


itu kemudian di tutup Doni dengan berdoa agar kelak tumbuh rumput-rumput baru


dengan kualitas yang jauh lebih indah sebagai bentuk manifestasi kehidupan


rerumputan. Ia menari-nari dalam kegairahan untuk memotong rumput sampai di


tengah perjalanan penyayatan rumput ia lupa dengan cara bagaimana memotong


dengan tepat dan akurat sehingga di sinilah sekarang ia berada. Selang infus


melilitnya, perban-perban juga memenuhi langit-langit matanya, pusing yang tak


terhingga sampai-sampai dudukpun seolah merasakan fertigo yang tak


berkesudahan. Pelipis kanannya tertancap oleh celurit, Doni benar-benar lupa


bagaimana ini bisa terjadi, yang ia tahu bahwa sekarang ia sudah berada di

__ADS_1


ruangan dingin, tertidur di atas ranjang dengan selimut dan perban juga infus


yang memenuhi tubuhnya. Doni jelas bingung kenapa ia ada di sini sampai


ayahanda yang memeberikan tugasnya memotong rumput itu menjelaskan kronologis


kejadiannnya dan kini Doni benar-benar menjadi beban keluarga seutuhnya. Ia tak


bisa melakukan apa-apa selain tidur dan menonton pertandingan bola di televisi


rumah sakit.


Tubuhnya yang ia putar-putarkan


sehingga seolah membentuk sebuah angin topan dengan kekuatan celurit itu


berhasil menebas banyak sekali rerumputan. Celurit itu ia kibaskan dengan penuh


gairah semangat ke atas ke bawah bergantian. Terkadang ia juga lari dengan


kencang mengarahkan celurit kebawah lalu mendadak keatas. Doni sudah seperti


penari balet dengan celurit. Ia melompat ke kiri, ke atas memutar-mutarkan celuritnya


berdanssa asik di atas lapangan rerumputan. Ia sudah bagaikan terasuki oleh roh


manusia kambing yang ganas dan lapar oleh gula-gula di lapangan dan lalu hingga


ia tergelincir dengan tumpuannya yang kurang kuat. Celurit itu melayang dan


mendarat di pelipis kanannya. Ia langsung tak sadarkan diri, darahnya


bermuncratan bagaikan air terjun yang meluber di sepanjang jalan para


demonstran. Doni sang pembawa celurit.


            Aku tidak percaya dengan semua bualan ini, semuanya pasti


hanya sebuah konspirasi belakang. Mana ada kamu bisa memotong rumput dengan


tanganmu yang buntung itu.


Seorang bapak parubaya


memprotes cerita yang Doni sampaikan barusan.


            Tapi aku benar-benar pernah melakukan itu semua pak,


buktinya aku sekarang bisa bercerita dengan sungguh-sungguh dan berapi-api. Jikapun


bapak tidak percaya coba tanyakan Ibu guru itu bahwa aku pun juga pernah dan


sering mengintip rok manisnya.


            Aihhh Doni, ibu guru yang kamu maksut itukan pohon di


seberang jalan sana yang kebetulan ada poster wanita yang membawa buku, itu


Cuma foto wanita Doni.


            Lagian kamu itukan bisu sejak kecil Don, mana bisa


bercerita dengan lancar. Semua ini  hanya


bualan kosongmu saja. Sudahlah.


Obrolan di warung


sebelah sate Madura itu berakhir dengan tibanya pagi yang cerah dan

__ADS_1


terbangunlah Doni untuk kembali memotong rumput di belakang rumah.


__ADS_2