
Ketika itu senja menerpa
seorang bocah dipesisir pantai uatara pulau jawa. Nelayan-nelayan kembalimenepi
selepas mencari ikan. Tangkapan sore ini lumayan seru beberapa nelayan diujung
cakrawala sana. tidakkah semua nikmat tangkapan besar ini kita kembalikan
kepada kita kepad Tuhan semua alam. benar sekali tetapi adakah yang lebih
penting ketimbang syukur itu sendiri. Bocah kecil itu yang tak tahu menahu
tentang rasa bersyukur dengan tiba-tiba terpental pikirannya ketika mendengar
kata Tuhan. Suatu kekuatan mistis nan ghaib yang diagungkan oleh setiap
manusia. Mereka menyembahnya dengan ritual-ritual yang skaral. Bocah kecil ini
juga pernah suatu waktu menceritakan kepada senja tentang sesaji yang
ditinggalkan para nelayan untuk dibiarkan diterkam oleh ombak. Bocah ini tak
begitu mengerti mengapa ombak dan laut harus memakan ayam panggang dan
buah-buahan juga disana. Ada juga nasi tumpeng dan lain-lain atributnya.
Mengapa harus demikian. Dikepala sang bocah polos ini mempertanyakan semuanya
dengan gamblang tanpa pengaruh dari nilai-nilai yang ada. Tentu senja yang
mendengar cerita itu tersenyum lebar sehingga memancarkan rona cahayanya yang
mensyahdukan. Senja mengatakan kepada bocah itu bahwa itulah syukur. Yah,
itulah rasa hormat manusia kepada Tuhan. Belum pula Senja menjelaskannya dengan
tuntas Sang Bocah menyanggah dengan cepat secepat pertanyaan-pertanyaan yang
keluar dari dalam kepalanya. Yah Senja,
setidaknya aku mengerti apa itu syukur dari Pak.Burhann di tempat ibadah itu.
Syukur tak ubahnya adalah suatu rasa terimakasih kita kepad-Nya, bukankah
begitu senja. Tetapi kenapa harus dengan sesaji bukankah bentuk syukur bisa
selain itu. Dan apakah baik pula membuang makanan sedemikian itu. Duh senja...
begitu banyak pertanyaan yang terlontar dariku bocah polos ini. tolong maklmu
senja. Dan juga pula kenapa kepada laut kita persembahkan sesaji itu. Kenapa tidak
kepada Tuhan langsung kita mengungkapkannya. Apakah manusia itu ingkar kepada
Tuhan?
Senja tertawa
sejadi-jadinya. Tawa yang menggembirakan dan bukan tawa berupa ancamaan. Senja
__ADS_1
menyadari bahawa setiap kali manusia bertanya disitu ada sebuah harga untuk jawaban.
Yah, ketika manusia tak tahu maka tanggugjawab terbesar ada pada penjawabnya.
Senja mengatakan dengan perlahan bahwa bukan berarti memberikann sesaji itu
bentuk ketidaksyukuran itu sendiri. Yah, secara cermat kita mata kita
mengatakan hal itu menjadikannya mubazir, tentu begitu bukan? Tetapi manusia
tidak bermain dengan hal semacam itu. Manusia selama sejarah peradabannya
mmengambil nilai-nilai yang terkndung. Bahwa nilai dari sesaji adalah rasa
syukur kita dan bukan bentuk penghianat syukur itu sendiri. Mengerti kau nak?
Tentu kau harus banyak belajar agar dapat memahami mereka. Dan kenapa manusia
itu tidak memberikannya langsung kepada Tuha. Tentu saja manusia memberikannya
langsung kepada Tuhan. Lagi-lagi kita tertipu oleh telanjangnya mata nak.
Manusia itu bukan berarti memberikan sesaji kepada laut atau samudra bukan pula
menyembah butiran-butiran air yang membentuk samudra. Ku tanyakan kepadamu dan
siapa yang menciptakan laut. Bocah polos
ini kemudian menjawab bahwa yang menciptakan adalah Tuhan. Yah tepat sekali
kata senja dan lalu manusia itu yah, nelayan-nelayan itu yang juga salah
satunya adalah bapakmu. Mereka semua mendapatkan uang dari mana, mereka semua
ini ada didalam dirimu.
Bocah ini yang sembari
tadi duduk teremenguu menghadap senja, ditemani camar-camar laut dan deruh
ombak pesisir pantai menjawab pertanyaan senjan dengan tangkas bahwa nelayan
mendapatkan rezeki dari laut.
Sekarang kau mengerti
apa maksutku nak. Yah benar bahwa laut sebagaimana kita manusia adalah makhluk
Tuhan. Dan kepada Tuhan kita mendapatkan rezeki. Kamu pasti tahu tentang cerita
kuno bahwa tabib bukan Tuhan, bukan Dewa penyembuuhan tetapi tabib hanyalah
manusia juga makhluk Tuhan seperti kita yanng diberikan kemampuan untuk
menyembuhkan. Tabib adalah perantara nak dan juga dengan laut dan samudra adalah perantara Tuhan untuk nelayan
menangkap ikan, untuk mengais rezeki dari-Nya. Tentu demikian. Ah, senja...
bocah ini berwelas kasih. Tentu itu sekarang aku mengerti dan terimakasih atas
__ADS_1
penjelasanmu tetapi barusan kau mengacungkanku dengan sebuah pernyataan bahwa
aku adalah seluruh alam semesta. Apakah juga kau adalah diriku dan diriku
adalah juga senja.
Senja kembali tersenyum
sumringah. Dari kerut-kerut cahayanya tercurah keindahan serta kedamaian.
Sangat akan berbahagia dunia ini jikalau senja telah tersenyum diufuk cakrawala
dengan keindahan-keindahannya. Tentu keindahan senja hanya terjadi sementara
dan bukankah juga kedamaian dunia juga sama dengannya?. Senja kembali sebelum
ia hilang digantikan malam. Di detik-detik akhirnya ia mengatakan bahwa. Iya
benar nak. Bahwa aku adalah dirimu. Didalam dirimu ada seluruh alam semesta.
Engkau adalah gambaran seluruh semesta yang berputar itu. Tak ada jua yang
lebih agung dari sleuruh jagad ketimbang satu manusia. Dan hal itu bukan
berarti engkau terlampau istimewa dan dapat berlaku seenaknya. Tetapi justru
bahwa seluruh semesta ada didalam dirimu yah... dan apa jadinya ketika dirimu
merusak hutan, menghancurkan sungai, menghilangkan lekuk pada teluk. Yah nak
apa yang akan terjadi dengan alam ini adalah tanggung jawab terbesarmu. Bahwa
didalam dirimu ada semesta. Engkau bentuk kecil alam semesta dan alam semesta
juga senja yang engkau ajak diskusi ini adalah bentuk besarnya. Fahamkah kau
nak. Bahwa dunia ini ada didalam dirimu. Maka satu kerusakan lam itu juga akan
berdampak pada dirimu sendiri. Ketika ekosistem alam telah runtuh bersiaplah
juga hancur bersamanya. Ini suatu pelajar yang teramat penting namun sering
kali manusia itu melupakan.
Senja telah tenggelam.
Dan dingin malam segera menerpa kulit-kulit lembut sang bocah. Kini ia sedikit
menyadari bahwa sesaji itu adalah bentuk kehormatan manusia dengan alam terutama dengan laut. yah, bocah itu
sebegitu yakinn bersamaaan dengan manusia yang harus pula menghormati alam.
menghormati ritme-ritme kelestarian. Menjaga kehormatan alam adalah menjaga
kerhomatan anak manusia.
Momentum kebangkitan
bangsa.. yah, juga adalah momentum kebangkitan moral dan etika kita terhadap
__ADS_1
keberpihakan kepada alam. dan bocah polos itu adalah kertas kita untuk
menusilkan bait-bait pernghormatan kepada alam.