Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Bocah Lestari


__ADS_3

Ketika itu senja menerpa


seorang bocah dipesisir pantai uatara pulau jawa. Nelayan-nelayan kembalimenepi


selepas mencari ikan. Tangkapan sore ini lumayan seru beberapa nelayan diujung


cakrawala sana. tidakkah semua nikmat tangkapan besar ini kita kembalikan


kepada kita kepad Tuhan semua alam. benar sekali tetapi adakah yang lebih


penting ketimbang syukur itu sendiri. Bocah kecil itu yang tak tahu menahu


tentang rasa bersyukur dengan tiba-tiba terpental pikirannya ketika mendengar


kata Tuhan. Suatu kekuatan mistis nan ghaib yang diagungkan oleh setiap


manusia. Mereka menyembahnya dengan ritual-ritual yang skaral. Bocah kecil ini


juga pernah suatu waktu menceritakan kepada senja tentang sesaji yang


ditinggalkan para nelayan untuk dibiarkan diterkam oleh ombak. Bocah ini tak


begitu mengerti mengapa ombak dan laut harus memakan ayam panggang dan


buah-buahan juga disana. Ada juga nasi tumpeng dan lain-lain atributnya.


Mengapa harus demikian. Dikepala sang bocah polos ini mempertanyakan semuanya


dengan gamblang tanpa pengaruh dari nilai-nilai yang ada. Tentu senja yang


mendengar cerita itu tersenyum lebar sehingga memancarkan rona cahayanya yang


mensyahdukan. Senja mengatakan kepada bocah itu bahwa itulah syukur. Yah,


itulah rasa hormat manusia kepada Tuhan. Belum pula Senja menjelaskannya dengan


tuntas Sang Bocah menyanggah dengan cepat secepat pertanyaan-pertanyaan yang


keluar dari dalam kepalanya.  Yah Senja,


setidaknya aku mengerti apa itu syukur dari Pak.Burhann di tempat ibadah itu.


Syukur tak ubahnya adalah suatu rasa terimakasih kita kepad-Nya, bukankah


begitu senja. Tetapi kenapa harus dengan sesaji bukankah bentuk syukur bisa


selain itu. Dan apakah baik pula membuang makanan sedemikian itu. Duh senja...


begitu banyak pertanyaan yang terlontar dariku bocah polos ini. tolong maklmu


senja. Dan juga pula kenapa kepada laut kita persembahkan sesaji itu. Kenapa tidak


kepada Tuhan langsung kita mengungkapkannya. Apakah manusia itu ingkar kepada


Tuhan?


Senja tertawa


sejadi-jadinya. Tawa yang menggembirakan dan bukan tawa berupa ancamaan. Senja

__ADS_1


menyadari bahawa setiap kali manusia bertanya disitu ada sebuah harga untuk jawaban.


Yah, ketika manusia tak tahu maka tanggugjawab terbesar ada pada penjawabnya.


Senja mengatakan dengan perlahan bahwa bukan berarti memberikann sesaji itu


bentuk ketidaksyukuran itu sendiri. Yah, secara cermat kita mata kita


mengatakan hal itu menjadikannya mubazir, tentu begitu bukan? Tetapi manusia


tidak bermain dengan hal semacam itu. Manusia selama sejarah peradabannya


mmengambil nilai-nilai yang terkndung. Bahwa nilai dari sesaji adalah rasa


syukur kita dan bukan bentuk penghianat syukur itu sendiri. Mengerti kau nak?


Tentu kau harus banyak belajar agar dapat memahami mereka. Dan kenapa manusia


itu tidak memberikannya langsung kepada Tuha. Tentu saja manusia memberikannya


langsung kepada Tuhan. Lagi-lagi kita tertipu oleh telanjangnya mata nak.


Manusia itu bukan berarti memberikan sesaji kepada laut atau samudra bukan pula


menyembah butiran-butiran air yang membentuk samudra. Ku tanyakan kepadamu dan


siapa  yang menciptakan laut. Bocah polos


ini kemudian menjawab bahwa yang menciptakan adalah Tuhan. Yah tepat sekali


kata senja dan lalu manusia itu yah, nelayan-nelayan itu yang juga salah


satunya adalah bapakmu. Mereka semua mendapatkan uang dari mana, mereka semua


ini ada didalam dirimu.


Bocah ini yang sembari


tadi duduk teremenguu menghadap senja, ditemani camar-camar laut dan deruh


ombak pesisir pantai menjawab pertanyaan senjan dengan tangkas bahwa nelayan


mendapatkan rezeki dari laut.


Sekarang kau mengerti


apa maksutku nak. Yah benar bahwa laut sebagaimana kita manusia adalah makhluk


Tuhan. Dan kepada Tuhan kita mendapatkan rezeki. Kamu pasti tahu tentang cerita


kuno bahwa tabib bukan Tuhan, bukan Dewa penyembuuhan tetapi tabib hanyalah


manusia juga makhluk Tuhan seperti kita yanng diberikan kemampuan untuk


menyembuhkan. Tabib adalah perantara nak dan juga dengan laut dan samudra  adalah perantara Tuhan untuk nelayan


menangkap ikan, untuk mengais rezeki dari-Nya. Tentu demikian. Ah, senja...


bocah ini berwelas kasih. Tentu itu sekarang aku mengerti dan terimakasih atas

__ADS_1


penjelasanmu tetapi barusan kau mengacungkanku dengan sebuah pernyataan bahwa


aku adalah seluruh alam semesta. Apakah juga kau adalah diriku dan diriku


adalah juga senja.


Senja kembali tersenyum


sumringah. Dari kerut-kerut cahayanya tercurah keindahan serta kedamaian.


Sangat akan berbahagia dunia ini jikalau senja telah tersenyum diufuk cakrawala


dengan keindahan-keindahannya. Tentu keindahan senja hanya terjadi sementara


dan bukankah juga kedamaian dunia juga sama dengannya?. Senja kembali sebelum


ia hilang digantikan malam. Di detik-detik akhirnya ia mengatakan bahwa. Iya


benar nak. Bahwa aku adalah dirimu. Didalam dirimu ada seluruh alam semesta.


Engkau adalah gambaran seluruh semesta yang berputar itu. Tak ada jua yang


lebih agung dari sleuruh jagad ketimbang satu manusia. Dan hal itu bukan


berarti engkau terlampau istimewa dan dapat berlaku seenaknya. Tetapi justru


bahwa seluruh semesta ada didalam dirimu yah... dan apa jadinya ketika dirimu


merusak hutan, menghancurkan sungai, menghilangkan lekuk pada teluk. Yah nak


apa yang akan terjadi dengan alam ini adalah tanggung jawab terbesarmu. Bahwa


didalam dirimu ada semesta. Engkau bentuk kecil alam semesta dan alam semesta


juga senja yang engkau ajak diskusi ini adalah bentuk besarnya. Fahamkah kau


nak. Bahwa dunia ini ada didalam dirimu. Maka satu kerusakan lam itu juga akan


berdampak pada dirimu sendiri. Ketika ekosistem alam telah runtuh bersiaplah


juga hancur bersamanya. Ini suatu pelajar yang teramat penting namun sering


kali manusia itu melupakan.


Senja telah tenggelam.


Dan dingin malam segera menerpa kulit-kulit lembut sang bocah. Kini ia sedikit


menyadari bahwa sesaji itu adalah bentuk  kehormatan manusia dengan alam terutama dengan laut. yah, bocah itu


sebegitu yakinn bersamaaan dengan manusia yang harus pula menghormati alam.


menghormati ritme-ritme kelestarian. Menjaga kehormatan alam adalah menjaga


kerhomatan anak manusia.


Momentum kebangkitan


bangsa.. yah, juga adalah momentum kebangkitan moral dan etika kita terhadap

__ADS_1


keberpihakan kepada alam. dan bocah polos itu adalah kertas kita untuk


menusilkan bait-bait pernghormatan kepada alam.


__ADS_2