
Kehampaan datang ketika manusia menghilangkan dan atau mengikis kekuatan
berfikir dalam keseharian kehidupannya. Secepat kabut turun dari puncak gunung
kekosongan akan menerjang masuk kerelung-relung jiwa dan hati manusia ketika ia
berhenti untuk berfikir. Mengikuti arus kehidupan yang demikian rupa, melupakan
kepekaan diri terhadap fenomena nyata di kehidupannya. Manusia, merasakan sepi
dan terhuyung entah tanpa arah. Berifikir menjadi teramat penting bagi kita.
Manusia, hewan yang berfikir. Tetapi tak jarang bahwa dunia ini terlalu riuh
dan membuat bising telinga, menumpulkan analisa, membebali otak dengan
kedunguan semata. Terseret arus kosmopolitan membuat manusia terasa telah
melakukan tugasnya. Berfikir menjadikannya rutinitas tanpa batas padahal kenyataan
yang sesungguhnya ia hanyalah tikus yang terjebak dalam perangkap, mengejar
aroma keju, memasuki seluk-beluk peradaban dengan arah yang telah ditentukan. Kita menjadi
terkekang dalam kebebasan yang semu. Terjepit kekuatan magis dalam jurang
kebodohan.
Perdaban ini sedemikian maju dan canggih, memudahkan setiap kegiatan
manusia, yah, dan hal itu yang membuat kita. Manusia berjalan dalam kehampaan
hidup, kesepian makna dan daya nalar yang tumpul. Kita dimanjakan oleh sesuatu
yang kita bangga-banggakan. Teknologi. Semesta peradaban maju membuat kekuatan
dan potensi besar kita sebagai manusia Yang Abadi menjadi sirna. Amerta tak
lagi ada. Kita musnah juga mati ditengah klakson Go-jek dan Grab.
Kemunduran alam dan penurunan taraf kehidupan bagi pohon cemara di gunung,
mengeringnya danau dan surutnya aliran sungai, burung-burung yang tak lagi
terhilat bertengger didahan-dahan, heningnya suara auman singa di Afrika. tanda
bahwa kita telah berada diambang pintu kehancuran. Kerusakan alam yang artinya
adalah kemerosotan moral manusia terhadap dirinya. alam adalah diriku yang
bermanifestasi. Dan aku adalah hewan yang memiliki kekuatan berfikir, menerjang
zaman merangkak menuju kemajuan. Ketimbang makhluk yang lain, aku adalah
satu-satunya yang berkuasa. Mampu mengelola yang tak dimiliki oleh kekuatan
tubuhku, namun kekuatan pikiranku dengan mudah dapat melakukanya. Eksploitasi
yang tak akan pernah mampu dilakukan oleh lima jari tangan, dua pasang kaki dan
tangan, tubuh yang tak sampai dua meter itu. walaupun memiliki keterbatasan
fisis manusia tetap mampu meng-eksploitasi alam raya dengan kekuatan nalar dan
pikiran dengan penemuan-penemuan.
__ADS_1
Sains dan teknologi tidaklah jahat, tetapi jika ia bersekutu dengan pikiran
jahat maka mereka adalah kekuatan jahat.
Dan kapitalisme melandasi semua kerusakan serta eksploitasi yang kini
sedang terjadi. Manusia sebagai korban dan juga pelaku mendapatkan kehampaan
hidupnya di zaman ini. kebahagiaan yang kemudian dikejar tak pernah mampu untuk
didapatkan. Bagaikan seorang yang mengejar cakrawala. Mereka berlari menghadapi
rintangan tetapi tak pernah sampai pada tujuan.... manusia yang nestapa.
Sehari tanpa berfikir sama dengan sehari penuh tertidur. Yah, dan walaupun
seharian penuh tidur sedikit lebih baik karena mampu menghibur kita dengan
mimpi-mimpinya yang indah. Dan bukankah sehari takpa berfikir itu sama dengan sehari merasakan kematian.
Membaca buku, ah ia sungguh indah juga. Seharian membaca buku membuat kita
menjelajah dunia, dimensi yang berbeda dan itu membuat daya imajinasi terasah
tetapi seharian penuh membaca tanpa berfikir kita hanya akan menyiksa mata daan
memakan waktu dengan sia-sia. Tetapi lalu kemudian apa yang membuat kita
berfikir. Apakah dengan lecutan-lecutan pertanyaan sehingga neuron-neuron kita
berkecambuk memikirkannya. Apakah dengan keluar melakukan sedikit perjalanan
melihat realitas kehidupan membuat kita sedikit terenyuh terhadapnya. Apakah
dengan berdialektika, entah itu dikepala atau dengan sahabat kita. Semua itu
itu. penggerak, pendobrak pikiran untuk terseret dalam arus dialektika.
Menemukan suatu persoalan mendasar dan mencari jawaban yang akan terus dicari
tanpa henti. Penderitaan yang terjadi membuat rasa kemanusiaan kita tergerak
untuk menentang keserakahan. Kemanusiaan, yah. Dan karena kita semua manusia,
sedikit apapun rasa itu kita pasti akan memilikinya.
Apakah kemanusiaan itu. Apakah rasa kemanusiaan itu hanya ditujukan kepada sesama
manusia. Kareana rasa yang timbul karena melihat bayi di Afrika kelaparan,
gadis kecil Palestina yang tertimpa gedung karena rudal Israel, atau seorang
anak Papua yang musti berjalan belasan kilometer hanya untuk menenggak segelas
air putih. Apakah rasa-rasa yanng semaacam itulah rasa kemanusiaan. Tetapi
lalu, bagaimana dengan rasa sedih karena badak putih yang barusan kemarin
dinyatakan telah punah, Apakah itu juga termasuk rasa kemanusiaan. Atau apakah
ia merupakan rasa kehewanan. Gunung yang mulai hilang lerengnya, sungai yang kering
alirannya, hutan yang semakin tahun menghilang, tanah yang terus digali batu
baranya menyisahkan kolam-kolam kecil beracun, burung-burung yang merdunya
__ADS_1
hanya terdengar dari gawai saja. apakah
rasa prihatinn terhadap itu semua, yah.
Terhadap hewan, tumbuhan serta alam juga merupakan rasa kemnusiaan. Bukankan karena
kita sebagai manusia, makhluk yang berfikir itu maka sesungguhnya kita
memikirkan segala hal. Sebagai sesama
makhluk keberpihakan kita yang tidak hanya kepada penderitaan sesama manusia
tetapi juga terhadap hewan, tumbuhan serta alam bukankah hal itu juga merupakan
rasa kemanusiaan. Apa sesungguhnya rasa kemanusiaan itu.... perlukah kita
menamai dan atau menciptakan satu lagi ”rasa” untuk kepedulian kita terhadap
alam, terhadap kelestarian. Bukan rasa kemanusiaan itu saja sudah cukup untuk
kita bahwa bumi dan air dan kekayaan
yang terkandung didalamnya dan diatasnya dan semua ekologi yang ada harus kita
bersihkan dari sifat-sifat keangkuhan, kegosentrisan, keserakahan dan
kesewenang-wenangan.
Ketika catat-catatan ini ditulis, Rumah kita adalah bumi. Tempat kita lahir dan mati adalah bumi.
Sebelum orang-orang membuat koloni di Mars. Planet bumi adalah segalanya bagi
kita. Seemua kebahagiaan dan kesedihan ada di sini. Segala permasalahan ada
disini. Dari kudeta kepala negara, perselingkuhan, percintaan, pemerkosaan,
pembunuhan, genosida dan segala hal.... yang telah dilakukan manusia...
terhadap ambisi masa depannya.... segala hal... yang telah dilakukan manusia untuk kepuasan nafsunya.... segala
hal, yang telah dinampakan manusia untuk arogansinya terhadap rumah bumi. rumah
seluruh makhluk baik yang diatas tanah ataupun hidup didalamnya. Dari Mars itu kita saksikan bahwa bumi sebagai rumah kita, sebagai tempat kita lahir
dan mati, tempat kita melakukan intrik politik pemerintahan negara sampai
intrik keluarga, tempat dimana kita tumbuh dewassa, tempat dimana kita
menjalani kehiduapn yang begitu terasa bebanya. Bumi dari Mars hanyalah setitik
cahaya yang berkedip-kedip tak lebih terang dari bulan terdekatnya. Bumi
hanyalah setitik kecil di alam semesta. Tempat yang menampung diri kita dan segala macam permasalahannya.
Dan saat ini, ambisi kita adalah menghancurkannya. Memusnahkan setitik
cahaya kosmos itu menjadi debu yang benar-benar habis sampai ke atomnya. Dan
ketakterbatasan keinginan kita itu kini akan menjadikan bumi sebagai planet
neraka. Mengubahnya menjadi batu kecil yang terombang-ambing di samudra
alam semesta. Tanpa satupun makhluk yang mampu hidup disana. Itulah ambisi kita
yang diorong oleh rasa keinginan dan nafsu untuk mendapatkan
__ADS_1
sebanyak-banyaknya... dan jika bumi sudah tak lagi mampu menampungnya dan apa
yang kita peroleh selain kehancuran.