Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Manusia


__ADS_3

Kehampaan datang ketika manusia menghilangkan dan atau mengikis kekuatan


berfikir dalam keseharian kehidupannya. Secepat kabut turun dari puncak gunung


kekosongan akan menerjang masuk kerelung-relung jiwa dan hati manusia ketika ia


berhenti untuk berfikir. Mengikuti arus kehidupan yang demikian rupa, melupakan


kepekaan diri terhadap fenomena nyata di kehidupannya. Manusia, merasakan sepi


dan terhuyung entah tanpa arah. Berifikir menjadi teramat penting bagi kita.


Manusia, hewan yang berfikir. Tetapi tak jarang bahwa dunia ini terlalu riuh


dan membuat bising telinga, menumpulkan analisa, membebali otak dengan


kedunguan semata. Terseret arus kosmopolitan membuat manusia terasa telah


melakukan tugasnya. Berfikir menjadikannya rutinitas tanpa batas padahal kenyataan


yang sesungguhnya ia hanyalah tikus yang terjebak dalam perangkap, mengejar


aroma keju, memasuki seluk-beluk peradaban dengan  arah yang telah ditentukan. Kita menjadi


terkekang dalam kebebasan yang semu. Terjepit kekuatan magis dalam jurang


kebodohan.


Perdaban ini sedemikian maju dan canggih, memudahkan setiap kegiatan


manusia, yah, dan hal itu yang membuat kita. Manusia berjalan dalam kehampaan


hidup, kesepian makna dan daya nalar yang tumpul. Kita dimanjakan oleh sesuatu


yang kita bangga-banggakan. Teknologi. Semesta peradaban maju membuat kekuatan


dan potensi besar kita sebagai manusia Yang Abadi menjadi sirna. Amerta tak


lagi ada. Kita musnah juga mati ditengah klakson Go-jek dan Grab.


Kemunduran alam dan penurunan taraf kehidupan bagi pohon cemara di gunung,


mengeringnya danau dan surutnya aliran sungai, burung-burung yang tak lagi


terhilat bertengger didahan-dahan, heningnya suara auman singa di Afrika. tanda


bahwa kita telah berada diambang pintu kehancuran. Kerusakan alam yang artinya


adalah kemerosotan moral manusia terhadap dirinya. alam adalah diriku yang


bermanifestasi. Dan aku adalah hewan yang memiliki kekuatan berfikir, menerjang


zaman merangkak menuju kemajuan. Ketimbang makhluk yang lain, aku adalah


satu-satunya yang berkuasa. Mampu mengelola yang tak dimiliki oleh kekuatan


tubuhku, namun kekuatan pikiranku dengan mudah dapat melakukanya. Eksploitasi


yang tak akan pernah mampu dilakukan oleh lima jari tangan, dua pasang kaki dan


tangan, tubuh yang tak sampai dua meter itu. walaupun memiliki keterbatasan


fisis manusia tetap mampu meng-eksploitasi alam raya dengan kekuatan nalar dan


pikiran dengan penemuan-penemuan.

__ADS_1


Sains dan teknologi tidaklah jahat, tetapi jika ia bersekutu dengan pikiran


jahat maka mereka adalah kekuatan jahat.


Dan kapitalisme melandasi semua kerusakan serta eksploitasi yang kini


sedang terjadi. Manusia sebagai korban dan juga pelaku mendapatkan kehampaan


hidupnya di zaman ini. kebahagiaan yang kemudian dikejar tak pernah mampu untuk


didapatkan. Bagaikan seorang yang mengejar cakrawala. Mereka berlari menghadapi


rintangan tetapi tak pernah sampai pada tujuan.... manusia yang nestapa.


Sehari tanpa berfikir sama dengan sehari penuh tertidur. Yah, dan walaupun


seharian penuh tidur sedikit lebih baik karena mampu menghibur kita dengan


mimpi-mimpinya yang indah. Dan bukankah sehari takpa berfikir  itu sama dengan sehari merasakan kematian.


Membaca buku, ah ia sungguh indah juga. Seharian membaca buku membuat kita


menjelajah dunia, dimensi yang berbeda dan itu membuat daya imajinasi terasah


tetapi seharian penuh membaca tanpa berfikir kita hanya akan menyiksa mata daan


memakan waktu dengan sia-sia. Tetapi lalu kemudian apa yang membuat kita


berfikir. Apakah dengan lecutan-lecutan pertanyaan sehingga neuron-neuron kita


berkecambuk memikirkannya. Apakah dengan keluar melakukan sedikit perjalanan


melihat realitas kehidupan membuat kita sedikit terenyuh terhadapnya. Apakah


dengan berdialektika, entah itu dikepala atau dengan sahabat kita. Semua itu


itu. penggerak, pendobrak pikiran untuk terseret dalam arus dialektika.


Menemukan suatu persoalan mendasar dan mencari jawaban yang akan terus dicari


tanpa henti. Penderitaan yang terjadi membuat rasa kemanusiaan kita tergerak


untuk menentang keserakahan. Kemanusiaan, yah. Dan karena kita semua manusia,


sedikit apapun rasa itu kita pasti akan memilikinya.


Apakah kemanusiaan itu. Apakah rasa kemanusiaan itu hanya ditujukan kepada sesama


manusia. Kareana rasa yang timbul karena melihat bayi di Afrika kelaparan,


gadis kecil Palestina yang tertimpa gedung karena rudal Israel, atau seorang


anak Papua yang musti berjalan belasan kilometer hanya untuk menenggak segelas


air putih. Apakah rasa-rasa yanng semaacam itulah rasa kemanusiaan. Tetapi


lalu, bagaimana dengan rasa sedih karena badak putih yang barusan kemarin


dinyatakan telah punah, Apakah itu juga termasuk rasa kemanusiaan. Atau apakah


ia merupakan rasa kehewanan. Gunung yang mulai hilang lerengnya, sungai yang kering


alirannya, hutan yang semakin tahun menghilang, tanah yang terus digali batu


baranya menyisahkan kolam-kolam kecil beracun, burung-burung yang merdunya

__ADS_1


hanya  terdengar dari gawai saja. apakah


rasa prihatinn terhadap itu semua,  yah.


Terhadap hewan, tumbuhan serta alam juga merupakan rasa kemnusiaan. Bukankan karena


kita sebagai manusia, makhluk yang berfikir itu maka sesungguhnya kita


memikirkan segala hal.  Sebagai sesama


makhluk keberpihakan kita yang tidak hanya kepada penderitaan sesama manusia


tetapi juga terhadap hewan, tumbuhan serta alam bukankah hal itu juga merupakan


rasa kemanusiaan. Apa sesungguhnya rasa kemanusiaan itu.... perlukah kita


menamai dan atau menciptakan satu lagi ”rasa” untuk kepedulian kita terhadap


alam, terhadap kelestarian. Bukan rasa kemanusiaan itu saja sudah cukup untuk


kita bahwa bumi  dan air dan kekayaan


yang terkandung didalamnya dan diatasnya dan semua ekologi yang ada harus kita


bersihkan dari sifat-sifat keangkuhan, kegosentrisan, keserakahan dan


kesewenang-wenangan.


Ketika catat-catatan ini ditulis, Rumah kita adalah bumi.  Tempat kita lahir dan mati adalah bumi.


Sebelum orang-orang membuat koloni di Mars. Planet bumi adalah segalanya bagi


kita. Seemua kebahagiaan dan kesedihan ada di sini. Segala permasalahan ada


disini. Dari kudeta kepala negara, perselingkuhan, percintaan, pemerkosaan,


pembunuhan, genosida dan segala hal.... yang telah dilakukan manusia...


terhadap ambisi masa depannya.... segala hal... yang telah dilakukan  manusia untuk kepuasan nafsunya.... segala


hal, yang telah dinampakan manusia untuk arogansinya terhadap rumah bumi. rumah


seluruh makhluk baik yang diatas tanah ataupun hidup didalamnya.  Dari Mars itu kita saksikan bahwa bumi  sebagai rumah kita, sebagai tempat kita lahir


dan mati, tempat kita melakukan intrik politik pemerintahan negara sampai


intrik keluarga, tempat dimana kita tumbuh dewassa, tempat dimana kita


menjalani kehiduapn yang begitu terasa bebanya. Bumi dari Mars hanyalah setitik


cahaya yang berkedip-kedip tak lebih terang dari bulan terdekatnya. Bumi


hanyalah setitik kecil di alam semesta. Tempat yang menampung diri kita  dan segala macam permasalahannya.


Dan saat ini, ambisi kita adalah menghancurkannya. Memusnahkan setitik


cahaya kosmos itu menjadi debu yang benar-benar habis sampai ke atomnya. Dan


ketakterbatasan keinginan kita itu kini akan menjadikan bumi sebagai planet


neraka.  Mengubahnya menjadi  batu kecil yang terombang-ambing di samudra


alam semesta. Tanpa satupun makhluk yang mampu hidup disana. Itulah ambisi kita


yang diorong oleh rasa keinginan dan nafsu untuk mendapatkan

__ADS_1


sebanyak-banyaknya... dan jika bumi sudah tak lagi mampu menampungnya dan apa


yang kita peroleh selain kehancuran.


__ADS_2