Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Cangkul Kebenaran


__ADS_3

Butiran embun turun


beralun bersama tarian rerumputan. Kicauan burung memekik tinggi setinggi  matahari terbit yang datang dari ufuk timur


memuncratkan cahaya-cahaya ilahi. Kembalilah kepada sang pencipta tuan pemuda.


Kata seorang lelaki tua dengan cangkul kebenarannya. oh sesungguhnya kebenaran


Tuhan ialah apa yang engkau lihat saban pagi, saban hari, saban waktu ketika


mega-mega telah memulai harinya maka bertobatlah anakku, dengan tobat yang


benar-benar tak dapat di tawar-tawar kembali.


Alunan merdu kicau


burung berirama bagai orkestra alam raya.  Saut menyaut kicauannya mengisi setiap ruang daun telinga, menggetarkan


gendang telinga mengisi setiap jengkal kepala. Paduka Tuan muda sedang asik


menonton telivisi dengan siaran live didalam gua hangatnya menenggelamkan diri


dengan coklat panas dan cerutu khas Zimbabwe. Paduka Tuan Muda sungguh sedang


senang hatinya melihat seorang gadis belia cantik menari menohok di telivisi


sana. Sungguh bibit unggulah dia itu kata Paduka Tuan Muda. Lelaki tua dengan


cangkul kebenarannya sedang berkonsentrasi untuk meyangkul ladang-ladang


kedustaan, ladang-ladang pertikaian dan ladang permusuhan di teras samping


rumah. Ia benar-benar bersungguh-sungguh membawa sebuah risalah kebenaran


menuju sang Lillah. Tuan Muda berkemaslah sucikan diri Tuan muda dengan mandi


tujuh daun rupa. Daun yang dapat menyembuhukan gatal-gatal di mata. Tuan Muda


ohhh, Ketahuilah jikalau tuan muda telah mendapatkan sebuah petaka dengan


menyaksikan apa yang Tuan Muda tak boleh saksiskan. Tuan muda dikau telah


merusak dan menodai mata tuan, sucikanlah dengan tujuh daun mujarab itu.


......


Di tengah pertapaanya.


Lelaki tua pembawa cangkul kebenaran dihampiri oleh seekor sapi. Gemericik


lonceng di kaki dan lehernya menghantui pertapaan sang lelaki tua. Suaranya lama-lama


mengalun tambah keras. Langkahnya semakin dekat semakin cepat. Berdegub


kencangg jantung lelaki tua. Nafasnya semburat pas ditelinga lelaki tua. Bau


busuk  rerumputan tercium keras, sapi itu


kembali mengeluarkan nafasnya tepat diwajah lelaki tua. Dengan keras sapi itu


mengaum sejadi-jadinya. Lelaki  tua tetap


berusaha berkonsentrasi dengan tapanya, ia tetap berusaha untuk tenang dan tak


membuka sedikitpun mata, tetap bertahan untuk tidak bergerak sedikitpun dari


tempat dan menggerakan bagian tubuh sedikit pun bahkan batang ***** yang


berkontraksi ia tahan. Gemericik lonceng sapi betina menggema begitu keras


bagaikan gema tabuhan beduk waktu shalat. Hentakan kakinya menggetarkan tanah.


Lelaki tua dalam pikirnya bertanya-btanya. Seberapa besar pula sapi ini.

__ADS_1


nafasnya keras terasa oleh tubuhnya, ia juga merasakan hembusan nafasnya


membuat tanah disekelilingnya bergetar keras. Bertanya-tanya lelaki tua itu.


sapi apa ini yang mampu menggetarkan tanah hanya dengan satu tarikan nafas. Ia


kembali mengaum begitu keras, kali ini  aumannya tujuh kali lebihh keras dibanding sebelumnya. Lelaki tua tak


mampu mendugaa dari arah sebelah mana, gendangnya pecah. Telinganya dienuhi


darah yang mengalir keluar menetes ketanah. Lelaki tetap mempertahankan posisi


dengan sebaik munngkin meski rasa sakit pasti menerkam dari dalam. sapi itu


kembali lagi meggetarkan tanah dengan hentakan kakinya. Tubuh lelaki tua


terguncang keras hampir-hampir sempoyongan dan posisi tapanya nyaris akan rubuh.


Lelaki tua tetap mempertahankan tapanya dengan baik. Dan suara-suara pergerakan


sapi itu lama-lama hilang, nafas baunya sudah tak tercium lagi oleh lelaki tua.


Tak ada getaran, tak ada auman pun juga tak ada lagi gangguan-gangguan dari


sapi lagi. Dengan rasa gemetar dan takut lelaki tua  itu memaksakan untuk membuka matanya dengan


cepat-cepat ia berdiri dan lari dengan sempoyong ke kiri  juga kanan. Mata yang telah ia tutup beberapa


minggu tiba-tiba ia buka dengan ceat-cepat membuat semua yang ia lihat adalah


putih yang menyilaukan. Ia berlari tanpa  arah. Kepalanya tiba-tiba pusing, begitu berat  sampai lelaki tua itu tersungkur menuju


jurang terjal, berputar-putar tubuhnya jatuh kebawah mengntam rantung dan akar,


menerjang bebatuan dan sampai kepada sungai suci dilembah Alaska.


Lelaki tua itu tak


sadarkan diri, ia terseret arus sungai begitu jauh dari sumber mata air sampai


kebijaksanaan.


Bersembah sujud Tuan


Muda kepada lelaki tua yang sekarat itu. Tuan muda sungguh bersih dan baik hati


tuan muda mau merawat aku yang diujung kebinasaan dan peleburan ini. apakah


yanng engkau mau dariku  tuan muda.


Bagaikan tuan muda-tuan


muda lainnya, ia ingin kaya, mobil mewah, hewan ternak berlimpah, tanah seluas


kerajaan Alengka  dan harta yang tiada


kira tiada banding.


Gemuruh langit hitam


menggetarkan bumi. Awan gelap tiba-tiba menggumpal tepat diatas tuan muda.


Petir menyahut bergantian keras memuncratkan aliranlistrik yang begitu dahsyat.


Angin berehembus kencang merobohkan pohon-pohon suci. Tanah merekah terbelah


menjadi dua memisahkan antara lelaki tua dengan Tuan Muda. Cahaya bersinar


keras dari dalam tanah yang merekah. Cahaya itu begitu keras sampai menyilaukan


mata membuat semua menjadi kuning bercahaya. Tak kuasa Tuan Muda menyaksikan


apa yang ada didalmnya, Tuan muda menutup matanya dengan mejerit karena

__ADS_1


ketakutan.


Lelaki tua tetap berada


diposisinya dengan tenang menyaksikan cahaya yang semburat itu di balik


kecamata hitam legamnya.


Ohh tuan muda saksikanlah dihadapanmu kini telah tersedia apa yan engkau


pinta lantas kenapa engkau hanya menutup mata. Ambilah. Ambilah apa yang engaku


inginkan itu.


Tuan pertapa, di depan cahaya sebesar ini bagaimanakah aku dapat


mengambilnya, jika membuka mata saja aku tak kuasa.


Itulah tuan muda, engkau meminta apa  yang engkau sendiri tak kuasa untuk mengambilnya.


Aduhh... Maafkanlah hamba tuan pertapa. Bagaimana hamba dapat menebus


keserakahan hamba ini


Pergilah ke sebuah gunung agung. Gunung Olympus di Planet Mars. Taklukanlah


gunung itu. Larilah menuju puncak singgahsananya. Dan ambilkanlah untukku


sebuah senjata yang begitu sakti mandraguna.


Senjata apa itu Tuan.


Jangan bertanya apa senjata itu, tetapi ingatlah perkataanku. Bahwa


perjalananmu untuk mendapatkannya itu snagat panjang dan melelahkan,


menyusahkan bahgkan mengancam eksistensianmu di kehidupan ini. engkau akan


menaiki sebuah baja terbang mengantarkanmu menuju Planet Mars lalu kemudian


engkau akan dikelilingii baju putih berat. Kepalamu dikelilingi kaca. Di sana


engkau akan biisa terbang, melompat dengan tinggi setingg duapuluh gajah yang


disusun keatas. Engkau akan mampu mengangkat batu yang seberat ratusan kali


lipat dari seekor singa. Engkau akan mendapatkan kekuatan yang ekstra tetapi


jalanmu menuju Puncak Agung Gunung Olympus itu bukanlah sebegitu gampangnya.


Ingatlah perkataanku Tuan Muda!


Aku maish menunggu...


            Disana bukanlah tempatmu tetapi engkau harus menebus


kesombonganmu yang terlalu tinggi itu maka engkau juga harus menapaki sebuah


gunung tertinggi di jagad ini. engkau harus menemukan sebuah senjata yang maha


agug, maha saksi, maha digdaya untukku. Engkau akan melewati tigaratus lembah,


tujuh puluh sungai berlahar yang disana kau pun harus berhati-hati dengan


ikan-ikan neraka. Engkau juga akan melewati sarang naga dengan semburan api


ganas, gurita pemakan jari-jari kaki dan yang paling penting engkau akan


mendaki sebuah gunung tertinggi di alam semesta. Kuharap kakimu tak akan


lumpuh...


Kelak di sebuah catatan

__ADS_1


kuno. Senjata itu berhasil didapatkan dengan nama cangkul  kebenaran.....


__ADS_2