
Bermandikan embun pagi yang suci
darri segala kotoran peradaban. Mulia matahari menyinari bumi dan angkasa
seroang diri dalama pemujaan ke-Agungan-Nya. Kehidupan kembalilah bermuara kepada kesucian yang amerta. Duhai cinta
yang tiada engkau tahu siapa bumi dan langit itu. duhai cinta yang telah
menempatkan hati dimana rindu telah akan berpulang ke pemujaan dewata. Setiap
tetes kasih tidak akan pernah terbuang sia-sia dalam tong sampah pengabdiaan
dan ekspploitasi kehidupan. Rasa yang gemerlap bagaikan angkasa malam menghiasi
dunia dari kegelapan terlampau lama akan sirna oleh aktivitas peradaban. Dan
keberaniaan yang hidup di setiap hati manusia itu hanya akan menjadi apa jika
semuanya diam. Lalu adakah manusia yang dalam dirinya adalah kehampaan dan
kekosongan... lalu, keskosongan itu menjadi penuuh oleh cinta ilahiah. Adakah
manusia yang dalam hidupnya tak akan terpuaskan hanya dengan nafsu dunia tetapi terpuaskan hanya dengan cinta ilahiah.
Cinta yang amerta dalam jiwa setiap manusia adakah potensi semacam itu bahwa
menanggap dunia tak ubahnya kebohongan besar alam semesta. Penipuan terdahsyat.
Semuanya semu bagaikan seonggokan kayu yang terombang-ambing dalam samudra
lepas. Terguntai dan terpecah-pevah menjadi sebuah senyawa lalu atom-atom kecil yang tak terhingga dan kemudian inti itu yang dinamakan quark dan dunia yang
dinamakan para sains menjadi dunia kuantum tak ubahnya adalah kekosongan
partikel semata. Dan dunia ini terbentuk oleh kekosongan. Seluruh semesta dan
semuanya adalah kekosongan. Lalu manusia yang hidup dengan kekosongan itu
hidupnya bagaimana. Sungguh hamba masih kurang faham, kurang mengerti dan
baiknya begitu. Di masa muda begini bukankah baik unntuk mempertanyakan
segalanya. Mempertanyakan saja juga percuma bukan jika tidak mencari tahu dan
mendalami, menyelami, meminum air pengetahuan dan masa senja adalah masa untuk
sebuah kebijaksanaan. Dan akan hamba tuliskan sebuah filsafat kehidupan hamba.
Yah, walalupun hanya untuk hamba sendiri. Bedebah siapa yang ingin membaca
filsafat kehidupan yang kacau dan tak penting itu. yah, tapi semuanya masih ada
di masa depan. Dan semoga adalah doa untuk mewujudkannya....
Hamba masih kurang tahu tentang manusia yanng hidup dengan kematian nafsu
dan kekosongan. Dimana hidupnya hanyalah diisi oleh cinta kepada Sang Pencipta.
Hamba masih kurang mengerti yah memanglah hamba ini masih terlampau muda untuk
mengerti untuk tahu hal-hal yang
dibaliknya, didalam misteri dunia. Hamba hanyalah sebuah batu kerikil yangtak
__ADS_1
diminati untuk diperhatikan namun apa salahnya jika hamba berminat untuk
memperhatikan keindahan-keindahan dunia dari pinggir trotora ini. yah, hamba
adalah batu kerikir yang terseok-seok oleh roda-roda keangkuhan. Jika dunia
seorang anak manusia adalah kehampaan, kekosongan. Mereka ciptakan dunia hanya
untuk Sang Pencipta. Lalu bagaimana denngan dirinya. bukankah hal semacamm itu
akan membunuh visi dan tujuan-tujuan hidupnya. Lalu apa yang ada didalam
hatinya. Buknakah akan meredupkan api semnagat didalam jiwa serta hatinya.
Jikapun tidak karena hati serta pikiran serta seluruh jiwa raganya penuh sesak oleh cinta kepada ilahiah.
Kehidupannya tak jauh lebih penting dan berharga ketimbang Sang Pencipta. Yah,
dan untuk apa semangat hidup serta visi hidup jika semuanya sudah terpuaskan
oleh cinta yang dalam kepada Tuhaan. Ia menjadi sirna. Semangat hidup serta
visi dalam dirinya itu bagaikan cahaya lilin disiang hari. Lenyap tertelan oleh
dahsyatnya cahaya matahari. tak ada gunanya pula. Lagian, bukanakah dunia ini
hanyalah kemayaan dan kefanaan.
Kehampaan didalam dirimu adalah jauh lebih baik karena masih terisi penuh oleh
cinta Ilahiah ketimbang jiwamu terisi oleh cinta dunia yang hampa dan
kekosongannya terlampau nyata. Bukankah dunia ini hanyalah fana.visi mengejar
dunia dalah visi menuju kehampaan. Dan cinta kepada Tuhan adalah cinta menuju
keabadian. Lantas bagaimana nanti seorang anak manusia mampu menjalani
kehidupannnya di dunia ini, jika semangat dan visinya sudah tiada. Jikalau
engkau mengataakan bahwa kesuksesan dunia hanyalah jalan menuju yang fana...
yah, dan padahal kita hidup di dunia ini. bagaimana lantas kita menjalaninya.
Apakah harus kita bunuh diri. Apakah
harus kita mengakhiri kehidupan yang maya ini. kehidupan yang penuh kekejian
dan kekejaman, yang dipenuhi penderitaa. Bukankah semnagat dan visi hidup
itulah yang terus membuat kita hidup. Untuk impian masa depan itulah kita sekarang tetap ingin hiudp. Keinginan ideal
untuk kehidupan selanjtnya itulah mengapa anak manusia tetap semangat menjalani kehdiupannya. Hamba takut akan
menjadi arogan dan angkuh jikalau hanya memikrkan Engkau lantas melupakan
kehidupan di dunia ini. meng-asingkan sesama manusia, merendahkan setiap makhlukmu
dan hanya memuja-mujamu. Tentu dilubuk hati hamba hal itu bukanlah cinta
Ilahiah yang sesungguhnya. Dan kenikmatan dunia mana yang mamou bertahan
selamanya. Segala apa yang ada didunia ini berubah dengan cepat. Seiring
__ADS_1
berjalannya waktu yang terus melaju dunia akan berubah terlepas sadar atau
tidaknya dirimu. Dan itukah yang engkau tuju. Itukah yang engkau mau. Terus
berlari dan terseok oleh peradaban...
Rambut panjang ini sedikit banyaak sudah mulai menganggu aktivitas
kehidupan hamba. Tetapi bukankah ini yang hamba mau selama ini. yah, tentu saja
penerimaan dengan segala konsekuensinya. Yah,tentu saja ini merupakan tugas
kehidupan. Oleh siapa tugas itu? bukankah oleh Tuhan Sang Pencipta.... yah, aku
berpikir demikian. Bukankah dari Tuhan? Dan untuk Tuhan?. Secepat sambaran
petir didalam sebuah lapangan sepakbola menyambar rerumputan hijau mengubahnya
menjadi hitam gelap. Gmuruh api didalam kepala menyambar sudut-sudut neuron
otak. Tentu saja benar jika itu kehendak Tuhan tetapi bukankah hal itu adalah
mintamu dan kemauanmu... dan Tuhan seolah engkau kambinng hitamkan dalam
problema kehidupan. Padahal yang membuat sebuah problema itu adalah dirimu
sendiri. Manusia. Yah, manusia memang demikian. Mereka hidup dalam belenggu
yang mereka ciptakan sendiri. Manusia adalah makhluk dimana tahu bahwa jatuh cinta adalah kata lain dari
derita. Dan manusia tahu hal itu tetap saja dijalaninya,
dicita-citakannya dan dicarinya.... sebegitu menderita setiap manusia yang
mengejar kepalsuan dalam dunia yang fana. Banthe disuatu acara mengatakan
adakah penderitaan yang tidak diciptakan oleh keinginan.... jebakan keinginan
kata Banthe. Uh entahlah biarkan pertanyaan itu menjadi misteri. Dan memang
benar setiap rasa kecewa adalah hasil dari rasa keinginan bukan. Dan membunuh
keinginan sama halnya dengan membunuh luka. Tetapi, oh Tuhan jika hidup ini tak
diisi dengan keinginan lalu hamba akan berbuat apa.... hidup bukan apa yang kau
inginkan, tetapi hidup apa yang Aku (Tuhan) Kehendaki. Ah, yah. Memang benar jika manusia hanya
mampu merencanakan dan Tuhan itulah yang menentukan. Tetapi setiap doa yang
teruntai dari hati dan kuucapkan saban hari itu juga memuat keingan-keinginanku
kepadamu Tuhan. Bukankah Engkau yang memintaku untuk selalu berdoa kepadamu.
Berodalah, mintalah maka akan ku(Tuhan) Kabulkan... sungguh hati menjadi
dilema. Dan beberapa orang mengatakn keyakinan yang penuh akan menentukan
terwujud tidaknya doa itu. ada pula yang mengatakan bagaimana daomu terwujud
jika engkau yang meminta saja tiada yakin.
Dikehidupan yang fana ini (dunia) aku harus bagaimana. Menjalankannya
__ADS_1
dengan api semangatku, keinginan pencapaian atau membunuhnya dan meleburkan
diriku hanya untuk-Mu.