
Apa yang kita hadapi untuk melawan korupsi. Dia dan atau mereka tidak
nampak satu kalipun. Kita semua hanyalah memperdugakannya, seolah yang kita
hadapi adalah makhluk tak kasat
mata. Hantu-hantu korupsi menghantui
negeri ini. bunyinya keras nyaring ditelingasetiap pribadi namun usut-diusut
lalu ditelusuri ternyata bunyi itu bersumber dari diri sendiri. Yah, korupsi.
Siapa yang bisa kita hadapi untuk mneghalau, memberantas dan membabat habis
korupsi. Langkah utama unutk menghadapinya adalah melawan diri sendiri. Berlaku
jujur terhadap diri sendiri. Tidak menjadi penjilat pantat, mengemis jabatan
dan memebeli kekuasaan. melawan korupsi artinya melawan diri sendiri. Dan ini
tidak hanya dilakuka oleh satu lembaga tetapi semua elemen bangsa, semua rakyat
Negeri. Msusuh utama pemberantasan korupsii adalah diri sendiri. Dan ini
(perang badar) hanyalah perang kecil, setelah ini kita akan menghadapi perang
yabbg lebih besar yakni perang melawan
diri kita sendiri (hawa nafsu). Perlu pengontrolan diri. Jelas tidak mudah
untuk mengendalikan diri yanng terus berubah, terus bergejolak hati, rasa,
emosi dan jiwa itu. tetapi untuk masalah yang besar perlu langkah kecil untuk
memulainya. Jika tidak dimulai dari diri
kita lantas kepada siapa lagi perjuangan ini diserahkan. Tak layak perjuangan
besar seperTi ini harus dibebankan hanya kepada satu punggung saja (satu
lembaga). Yah, ini merupakan pekerjaan
berat. Setiap manusia dari setiap jengkal tanah air ini adalah pegawai KPK.
Pegawai pemberantasan korupsi yang digaji dengan masa depan gemilang untuk anak
cucu dan peradaban. Untuk negerii yang sejahtera.
Penjajahan demi penjajahan yang telah kita rasakan. Tidakkah kita mampu
mmengambil pelajaran darinya. Siapakah yang telah menjajah kita selama ini. apa
yang menyebabkan kita terjajajh demikian rupa. Mengeruk sumberdaya dan yah,
seolah kita hanyalah sapi yang terus diperah susunya tiap pagi, seolah kita
kerbau yang terus dilucuti untuk membajak sawah. Kita tak ubahnya negeri
pekerja yang terus bekerja di tanah air kita yang penuh kaya. Emas dimana-mana, hutan gunung melimpah, air
beribu sumbernya, ikan dan samudra
terbentanng luasnya. tetapi sungguh aneh kita tetap miskin dan sulit untuk
sekedar makan hari-harinya padahal, bukankah kita telah bekerja keras sedemikian
rupa. Bagaikan kuli yang saban hari bekerja menyusun batu bata dan mengaduk semen. Tetapi bangunan itu
satu bentuk pun tak kunjung jadi. Ah,
entahlah. Apa mungkin setiap susun batu
bata itu ada yang mengambilnya. Ah entahlah. Kala malam para kuli tertidur.
Mungkinkah hantu-hantu tuyul itu yangmembredeli susunan batu bata? Kita seolah
pasrah dan tak ingin sekali-kali menengok ditenagh malam siapa yang mengambil dan merusak susunannya. Uh,
tetapi seandainya kita mampu dan menyadarinya. Justru kebanyakan dari kita
__ADS_1
tidak. Yah, ita tidak sadar dan juga belum mampu untuk pergi dimalam hari
mengintai siapa yang mengambil susunan itu. kita hanya bekerja dan bekerja.
Tetapi pernyataan tadi seolah-olah adalah pernyataan dari manusia pesimis.
Manusia tolol yanng berputus asa untuk terus bekerja menyusun batu batanya.
Lebih daripada itu kita menyalahkan sesuatu yang kita sendiri tidak tahu,
itulah mengapa hantu adalah musuh kita yah itu diawal tetapi musuh kita
paling utama adalah diri kita.
Pernahakah kita mengambil pelajaran dari rentetan sejarah penjajahan. Pernahkah
kebanyakan dri kita ingin mengluk sedikit emas berharga dari peradaban masa
lampau. Emas itu adalah kesalahan-kesalahann kita yang terus ditutupi oleh
tumpukan debu hinngga mengubah emas menjadi seolah tai. Yah, emang benar emass akan tetap menjadi emas tetapi jika
emas itu tertutup debu yang tebal sedekat apa mata kita dengannyaia juga akan dihiraukan.
Kesalahan itu kita kira adalah aib yang harus tertutup rapa. Padahal kita
belajar dari bangsa Eropa yang selalu
menyalahkan dirinya bukan untuk pesimis dan patah hati tetapi untuk memperbaiki
sistem dan menuju tingkat yang lebihh tinggi. Yah, mereka ber-muhasabbah saban
hari dari zaman ke zaman. Tetapi kita tak mampu melakukannya kita terlalu naif
untuk mengakui kesalahan. Duh, manusia siapa yang tak pernah salah. Bukan untuk
memperbaiki tetapi justru ia ditutupi. Dan yah, mental kita masih mental para
pekerja terus bekerja dibawah asuhan tuan-tuan. Ketika pekerja salah tuan akan
marah tak hanya kepada pekerja yng salah tetapi kepada yang lainnya dan itu
dimarahi bukan oleh tuan saja tetapi juga sesama pekerja. Dan inilah yang terjadi dinegeri ini ketika
harapan terlampau tinggi kepada sebuah lembaga atau seorang manusia
katakanlah. Kita terlampau mengharapkan
dan ketika ia melakukan sebuah kesalhan. Ah, lihatlah caci maki bertubi-tubi
mengarah kepada mereka. Duh, manusia
mana yang tak pernaah salah. Dan aib itu yah, aib itu seolah menjadi santapan
sedap bagi kita semua. Seolah diri kita sendiri tak memiliki aib yang sama yang mungkinn jauh lebih parah.
Ketika itu, lihatlah betapa buruk moralitas bangsa ini. yang gusar bagai anak
ayam kehilangan induknya. Tak mengerti arah baik dan buruk. Seua dicaci seolah
dirinya yang paling benar.
Yang kita hadapi adalah ketidaksadaran. Analogi Plato didalam bukunya
“Republik”. Kita terbelenggu didalam goa, kita menghadap dinding goa melihat
bayang-bayang indah yang dihasilkan dari refelksi cahaya dari belakang kita. Kita
terfokus kepada bayang-bayang yang tidak haq itu. kita duduk terus menatapnya
dan menganggap bahwa kebeneran telah berhenti disana padahal dibelakang kita,
yah, dari luar goa terdapat alam semesta yang jauh lebih menakjubkan, yang
berwarna-warni hanya ketimbang bayang-bayang suram itu. kita terjebak didalm goa ketidaksadaran dan
menghardik, mencaci bahkan membunuh siapa-siapa yang ingin menyadarkan. Bahwa
kebodohan ada didalam diri kita sendiri.
__ADS_1
Sebuah sistem penjajahan yang mengkerdilkan manusia kita. Yah, lihatlah
mental kita tetaplahh sama. Tak ubahnya
seperti dulu kita masih diperbudak oleh feodalisme. Oleh sistem yang brengsek
sialan itu. penjajahan... yah, memang benar bahwa negeri eropa telah menjajah
kita tetapi apakah mereka menjajah sendiri disini. Dengan jumlah, wilayah pun
juga alusista, kekuatan militter kala itu. Mereka hanya sekian persen dari
kita, jauh taksebanding. Negeri kita negeri kaya, bergelimang harta,
berkekuatan tempur tak ada dua, kita penguasa asia tenggara. Bertekuk lutut dihadapan
Belanda, dan itu semua karena bangsa kita sendiri yang telah menjajah.
“Perjuanganku jauh lebih mudah karena hanya mengusir penjajah tetapi
perjuangan kalian akan lebih susah karena melawan bangsamu sendiri.”
Begitu keras dunia ini. segala masalah kau sendiri yang menciptakan. Yah,
manusia adalah makhluk yang menciptakan masalahnya sendiri. Dan kau harus bertanggungjawab untuk menyelesaikannya
sendiri juga. Lebih dari itu kita dihadapkan oleh sebuah sistem feodal yang
tetap bertahan. Yang mewariskan nila-nilai kefeodalannya kepada anak turunya.
Yakni kita. Salah satunya adalah korupsi.
Doaku bukan untuk memberantas korupsi, bukan bermaksut untuk tak
menghilangkannya dimuka bumi ini tetapi
doaku untuk senantiasa kuat menghadapinya. Berlaku jujur kepada diri sendiri
dan mampu sadar atas segala salah.
Itulah manusia yang selalu membungkam salahnya. Malu atas dirinya dan esok
akan melaklukan salah lagi yah dan itu terus berputar dalam lingkaran setan.
Harapan adalah pintu gerbang menuju kecewa, manusia tahu dengan pasti itu
tetapi manusia masih berani untuk
berharap. Tentu, dengan harapan ada energi besar untuk kuat menghadapi dunia
dan pun juga energi yang sama untuk terluka. Cinta adalah .... jatuh cinta
merupakan titik awal tumbuhnya sakit hati, kecewa, terluka dan banyak lagi
diksi untuk mengungkapkan rasa kecewa yang dimulai dengan deruh air mata. Yah,
manusia tahu itu tetapi tetap memutuskan untuk jatuh cinta. Adakalanya mereka
mengatakan jika jatuh cinta itu membuatmu sakit maka bangun cintalah. Bukankah
membangun jauh lebih baik... yah, kami setuju. Tetapi juga bukankah membangun
jauh lebih sakit pula. Ketika kau membangun dari bawah, tinggi kau membangunnya
lantas apa yang terjadi. Angin akan merobohkanmu dari ketinggian. Kau keatas
dan terhempas jatuh kebawah menjadi puing-puing nestapa.
Kesakitan apa yang tercipta di dunia ini jika bukan oleh harapan. Oleh keinginan dan apakah ia tercipta dari
nafsu yang selama ini akan kita perangi. Banyak manusia terlenda dan tak sadar akan dirinya sendiri.
Beberapa diantara kita mengatakn untuk selamat dan hidup tentram haruslah kalian mengenal Tuhan.
Tetapi diantaranya yang lain melanjutkan untuk mengenal Tuhan harus kita mengenal diri kita sendiri. Ketika diri kita
sendiri sudah kita kenali maka Tuhan pun akan kita ketahui. yah, mungkin Tuhan
bersemayam didiri kita. Dan Apakah mungkin Tuhan adalah diri kita sendiri....?
__ADS_1