Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Kucing Dan Korupsi


__ADS_3

Apa yang kita hadapi untuk melawan korupsi. Dia dan atau mereka tidak


nampak satu kalipun. Kita semua hanyalah memperdugakannya, seolah yang kita


hadapi adalah  makhluk tak kasat


mata.  Hantu-hantu korupsi menghantui


negeri ini. bunyinya keras nyaring ditelingasetiap pribadi namun usut-diusut


lalu ditelusuri ternyata bunyi itu bersumber dari diri sendiri. Yah, korupsi.


Siapa yang bisa kita hadapi untuk mneghalau, memberantas dan membabat habis


korupsi. Langkah utama unutk menghadapinya adalah melawan diri sendiri. Berlaku


jujur terhadap diri sendiri. Tidak menjadi penjilat pantat, mengemis jabatan


dan memebeli kekuasaan. melawan korupsi artinya melawan diri sendiri. Dan ini


tidak hanya dilakuka oleh satu lembaga tetapi semua elemen bangsa, semua rakyat


Negeri. Msusuh utama pemberantasan korupsii adalah diri sendiri. Dan ini


(perang badar) hanyalah perang kecil, setelah ini kita akan menghadapi perang


yabbg lebih besar yakni  perang melawan


diri kita sendiri (hawa nafsu). Perlu pengontrolan diri. Jelas tidak mudah


untuk mengendalikan diri yanng terus berubah, terus bergejolak hati, rasa,


emosi dan jiwa itu. tetapi untuk masalah yang besar perlu langkah kecil untuk


memulainya. Jika  tidak dimulai dari diri


kita lantas kepada siapa lagi perjuangan ini diserahkan. Tak layak perjuangan


besar seperTi ini harus dibebankan hanya kepada satu punggung saja (satu


lembaga).  Yah, ini merupakan pekerjaan


berat. Setiap manusia dari setiap jengkal tanah air ini adalah pegawai KPK.


Pegawai pemberantasan korupsi yang digaji dengan masa depan gemilang untuk anak


cucu dan peradaban. Untuk negerii yang sejahtera.


Penjajahan demi penjajahan yang telah kita rasakan. Tidakkah kita mampu


mmengambil pelajaran darinya. Siapakah yang telah menjajah kita selama ini. apa


yang menyebabkan kita terjajajh demikian rupa. Mengeruk sumberdaya dan yah,


seolah kita hanyalah sapi yang terus diperah susunya tiap pagi, seolah kita


kerbau yang terus dilucuti untuk membajak sawah. Kita tak ubahnya negeri


pekerja yang terus bekerja di tanah air kita yang penuh kaya.  Emas dimana-mana, hutan gunung melimpah, air


beribu sumbernya, ikan dan  samudra


terbentanng luasnya. tetapi sungguh aneh kita tetap miskin dan sulit untuk


sekedar makan hari-harinya padahal, bukankah kita telah bekerja keras sedemikian


rupa. Bagaikan kuli yang saban hari bekerja menyusun batu  bata dan mengaduk semen. Tetapi bangunan itu


satu bentuk pun tak  kunjung jadi. Ah,


entahlah. Apa mungkin setiap  susun batu


bata itu ada yang mengambilnya. Ah entahlah. Kala malam para kuli tertidur.


Mungkinkah hantu-hantu tuyul itu yangmembredeli susunan batu bata? Kita seolah


pasrah dan tak ingin sekali-kali menengok ditenagh malam siapa  yang mengambil dan merusak susunannya. Uh,


tetapi seandainya kita mampu dan menyadarinya. Justru kebanyakan dari kita

__ADS_1


tidak. Yah, ita tidak sadar dan juga belum mampu untuk pergi dimalam hari


mengintai siapa yang mengambil susunan itu. kita hanya bekerja dan bekerja.


Tetapi pernyataan tadi seolah-olah adalah pernyataan dari manusia pesimis.


Manusia tolol yanng berputus asa untuk terus bekerja menyusun batu batanya.


Lebih daripada itu kita menyalahkan sesuatu yang kita sendiri tidak tahu,


itulah mengapa hantu adalah musuh kita yah itu diawal tetapi musuh kita


paling  utama adalah diri kita.


Pernahakah kita mengambil pelajaran dari rentetan sejarah penjajahan. Pernahkah


kebanyakan dri kita ingin mengluk sedikit emas berharga dari peradaban masa


lampau. Emas itu adalah kesalahan-kesalahann kita yang terus ditutupi oleh


tumpukan debu hinngga mengubah emas menjadi  seolah tai. Yah, emang benar emass akan tetap menjadi emas tetapi jika


emas itu tertutup debu yang tebal sedekat apa mata  kita dengannyaia juga akan dihiraukan.


Kesalahan itu kita kira adalah aib yang harus tertutup rapa. Padahal kita


belajar dari bangsa Eropa  yang selalu


menyalahkan dirinya bukan untuk pesimis dan patah hati tetapi untuk memperbaiki


sistem dan menuju tingkat yang lebihh tinggi. Yah, mereka ber-muhasabbah saban


hari dari zaman ke zaman. Tetapi kita tak mampu melakukannya kita terlalu naif


untuk mengakui kesalahan. Duh, manusia siapa yang tak pernah salah. Bukan untuk


memperbaiki tetapi justru ia ditutupi. Dan yah, mental kita masih mental para


pekerja terus bekerja dibawah asuhan tuan-tuan. Ketika pekerja salah tuan akan


marah tak hanya kepada pekerja yng salah tetapi kepada yang lainnya dan itu


dimarahi bukan oleh tuan saja tetapi juga sesama pekerja.  Dan inilah yang terjadi dinegeri ini ketika


harapan terlampau tinggi kepada sebuah lembaga atau seorang manusia


katakanlah.  Kita terlampau mengharapkan


dan ketika ia melakukan sebuah kesalhan. Ah, lihatlah caci maki bertubi-tubi


mengarah kepada mereka.  Duh, manusia


mana yang tak pernaah salah. Dan aib itu yah, aib itu seolah menjadi santapan


sedap bagi kita semua. Seolah diri kita sendiri tak memiliki  aib yang sama yang mungkinn jauh lebih parah.


Ketika itu, lihatlah betapa buruk moralitas bangsa ini. yang gusar bagai anak


ayam kehilangan induknya. Tak mengerti arah baik dan buruk. Seua dicaci seolah


dirinya yang paling benar.


Yang kita hadapi adalah ketidaksadaran. Analogi Plato didalam bukunya


“Republik”. Kita terbelenggu didalam goa, kita menghadap dinding goa melihat


bayang-bayang indah yang dihasilkan dari refelksi cahaya dari belakang kita. Kita


terfokus kepada bayang-bayang yang tidak haq itu. kita duduk terus menatapnya


dan menganggap bahwa kebeneran telah berhenti disana padahal dibelakang kita,


yah, dari luar goa terdapat alam semesta yang jauh lebih menakjubkan, yang


berwarna-warni hanya ketimbang bayang-bayang suram itu.  kita terjebak didalm goa ketidaksadaran dan


menghardik, mencaci bahkan membunuh siapa-siapa yang ingin menyadarkan. Bahwa


kebodohan ada didalam diri kita sendiri.

__ADS_1


Sebuah sistem penjajahan yang mengkerdilkan manusia kita. Yah, lihatlah


mental kita tetaplahh sama. Tak  ubahnya


seperti dulu kita masih diperbudak oleh feodalisme. Oleh sistem yang brengsek


sialan itu. penjajahan... yah, memang benar bahwa negeri eropa telah menjajah


kita tetapi apakah mereka menjajah sendiri disini. Dengan jumlah, wilayah pun


juga alusista, kekuatan militter kala itu. Mereka hanya sekian persen dari


kita, jauh taksebanding. Negeri kita negeri kaya, bergelimang harta,


berkekuatan tempur tak ada dua, kita penguasa asia tenggara. Bertekuk lutut dihadapan


Belanda, dan itu semua karena bangsa kita sendiri yang telah menjajah.


“Perjuanganku jauh lebih mudah karena hanya mengusir penjajah tetapi


perjuangan kalian akan lebih susah karena melawan bangsamu sendiri.”


Begitu keras dunia ini. segala masalah kau sendiri yang menciptakan. Yah,


manusia adalah makhluk yang menciptakan masalahnya sendiri. Dan kau  harus bertanggungjawab untuk menyelesaikannya


sendiri juga. Lebih dari itu kita dihadapkan oleh sebuah sistem feodal yang


tetap bertahan. Yang mewariskan nila-nilai kefeodalannya kepada anak turunya.


Yakni kita. Salah satunya adalah korupsi.


Doaku bukan untuk memberantas korupsi, bukan bermaksut untuk tak


menghilangkannya dimuka bumi  ini tetapi


doaku untuk senantiasa kuat menghadapinya. Berlaku jujur kepada diri sendiri


dan mampu sadar atas segala salah.


Itulah manusia yang selalu membungkam salahnya. Malu atas dirinya dan esok


akan melaklukan salah lagi yah dan itu terus berputar dalam lingkaran setan.


Harapan adalah pintu gerbang menuju kecewa, manusia tahu dengan pasti itu


tetapi manusia masih berani  untuk


berharap. Tentu, dengan harapan ada energi besar untuk kuat menghadapi dunia


dan pun juga energi yang sama untuk terluka. Cinta adalah .... jatuh cinta


merupakan titik awal tumbuhnya sakit hati, kecewa, terluka dan banyak lagi


diksi untuk mengungkapkan rasa kecewa yang dimulai dengan deruh air mata. Yah,


manusia tahu itu tetapi tetap memutuskan untuk jatuh cinta. Adakalanya mereka


mengatakan jika jatuh cinta itu membuatmu sakit maka bangun cintalah. Bukankah


membangun jauh lebih baik... yah, kami setuju. Tetapi juga bukankah membangun


jauh lebih sakit pula. Ketika kau membangun dari bawah, tinggi kau membangunnya


lantas apa yang terjadi. Angin akan merobohkanmu dari ketinggian. Kau keatas


dan terhempas jatuh kebawah menjadi puing-puing nestapa.


Kesakitan apa yang tercipta di dunia  ini jika bukan oleh harapan. Oleh keinginan dan apakah ia tercipta dari


nafsu yang selama ini akan kita perangi. Banyak manusia  terlenda dan tak sadar akan dirinya sendiri.


Beberapa diantara kita mengatakn untuk selamat dan hidup  tentram haruslah kalian mengenal Tuhan.


Tetapi diantaranya yang lain melanjutkan untuk  mengenal Tuhan harus kita mengenal diri kita sendiri. Ketika diri kita


sendiri sudah kita kenali maka Tuhan pun akan kita ketahui. yah, mungkin Tuhan


bersemayam didiri kita. Dan Apakah mungkin Tuhan adalah diri kita sendiri....?

__ADS_1


__ADS_2