
Berbicara mengenai
kerusakan lingkungan dan juga alam serta ekosistem yang ada di dalamnya. pohon
yang ditebang tanpa menanamkan benih baru untuk tumbuh, harimau-harimau yang
diburu belangnya menyisahkan populasi babi hutan yang sangat besar, hutan-hutan
yang hilang kehutanannya, burung serta cacing yang tak lagi nampak walau seekor
pun di alam yang semestinya, orang utan, bekantan, monyet, lutung dan
sejenisnya tumpah ruah di jalan-jalan mencari rumahnya yang hilang.
Semua itu ulah manusia,
semua pembabatan hutan ratusan hingga ribuan hektare itu siapa dalang dan aktornya
jika bukan manusia. Kembali lagi manusia sang pembawa kerusakan di bumi,
menari-nari dengan traktor dan gergaji penebang pohon demi memuaskan nafsu
kerakusan semata. Manusia yang hilang sifat manusianya terus merusak dan
merusak. Bukan kepada alam tetapi justru kepada dirinya, namun lagi-lagi alam
menjadi kambing hitam atas kerusakan yang terjadi.
Hujan. Tuan Presiden
dalam kesempatan pidatonya menyalahkan hujan dan alam atas banjir bandang yang
terjadi di Kalimantan Timur kala itu. Intensitas air hujan yang tinggi
merendamkan rumah-rumah dan lahan yang luasnya mungkin hampir dua kali lipat
kota metropolitan Jakarta. Hujan menjadi sodor-sodoran aktor penyebab kerusakan.
Oh sungguh nestapa nasibmu hujan, bukan rahmat dan kata-kata mutiara yang
dijatuhkan bersamaan dengan rintik-rintik airmu namun justru hinaan dan adu
domba penguasa yang tertuju bertubi-tubi kepadamu.
Kepada banjir itu, Tuan
menyalahkan hujan. Pun juga sama dengan polusi udara yang diakibatkan asap
tebal karena kebakaran hutan itu para penegak hukum menyalahkan masyarakat adat.
Kepulan asap yang terjadi yang mengakibatkan hampir membuat jarak pandang
ketika itu kurang lebih hanya lima sampai tujuh meter. Kriminalisasi dan
tuduhan tak mendasar dilontarkan kepada masyarakat adat atas terjadinya
kebakaran hutan. Padahal fakta yang nyata ladang-ladanmg sumber penghidupan para
masyarakat adat itu ada di hutan yang terbakar, aih bodoh kali masyarakat adat
itu kenapa membakar ladangnya sendiri. Bisa-bisanya tanamanan yang mereka rawat
dan sirami sendiri dengan penuh cinta itu lantas mereka bakar, bagaimana pula
ceritanya. Ah entahlah yang pasti para penegak hukum itu hebat sudah menangkap
tuan rumah di dalam rumahnya sendiri, meangkap pemilik rumah yang membakar
rumahnya sendiri. bagaimanapun tuan polisis hebat sehebat-hebatnya.
Alamat untuk mengadu
__ADS_1
domba dan menjadi kambing hitam terus-terusan dikirim ke alam dan lingkungan.
Kerusakan ekosistem itu mana mungkin bisa terjadi dilakukan oleh alam sendiri.
Dan aku seorang manusia mencoba mencabik-cabik diriku sendiri dengan gergaji,
mencongkel bola mataku dengan palu dan celurit kemudian merusak sistem
pencernaanku dengan sebilah pisau bermata ganda agar aku lekas-lekas mati
ditanganku sendiri, mungkin seperti
itulah gambaran ketika terdapat tuduhan bahwa alam merusak ekosistemnya
sendiri. Namun ternyata sebuah fakta menyatakan selama ratusan juta tahun alam
selalu hidup dengan ekosistemnya sebelum manusia datang membangun peradaban.
Lalu bagaaimana semua ini bisa terjadi, kenapa alam justru menjadi kambing
hitam dan selalu di salahkan, apakah sudah nasib alam untuk menerima semua
hinaan ini.
Kepala yang sudah keras
lalu disusul dengan darah yang telah terisi penuh dengan kerakusan tak akan
pernah sadar bahwa ia rakus dan egois. Manusia menganggap dirinya tinggi dan berkuasa,
ia ada di atas segalnya. Pohon bahkan berada di bawah kaki-kakinya, pun juga
sama dengan hewan-hewan di sana bahkan juga raja hutan itu berada di bawah kaki
rantai makanannya. Antropsentrism itulah pandangan tersebut. bahwa menganggap
manusia yang berkuasa dan mengatur segala-galanya. Manusia memang hebat. Tepuk
Tetapi itu hanya
pendapat manusia atas dirinya senidiri sedangkan mengesampingkan bahwa
tumbuhan, pohon juga hewan dan semua makhluk hidup yang ada di bumi ini menuliskan
hukumnya sendiri. Manusia lupa bahwa alam juga memiliki hak asasi. Kau kira hak
asasi hanya dimiliki oleh manusia? Sungguh sangat dangkal sekali pemikiran
seperti itu. Hewan dan tumbuhan serta makhluk-makhluk hidup yang lain pun
memiliki hak asasi juga kamerad. Jangan sombong dengan hak asasi manusiamu itu,
kita juga harus menghormati hak pohon untuk tumbuh, hak burung untuk terbang
dan bahkan hak singa untuk mengaum keras di tengah hutan. Kita harus menyadari
bahwa posisi kita tidak ada di atas rantai makanan tetapi justru kita bersatu
membaur dengan semua makhluk. Artinya apa, bahwa kita semua saling
ketergantungan dan terikat satu sama lain. Kita semua, yah kita semua sebagai
makhluk hidup saling berkaitan dan berhubungan saling membutuhkan. Jangan
menganggap dirimu itu tinggi. Lagi-lagi bahwa pohon juga memiliki hak, sungai
dan gunung juga memiliki hak asasi seperti apa yang kamu agungkan selama ini
dengan hak asasi manusiamu itu. Mungkin seperti itulah sedikit pandangan mengenai
konsep Biosentrism yang dicoba oleh beberpa pemikir untuk menyelaraskan dan
__ADS_1
mendegradasikan hierarki makhluk hidup di bumi yang didmoniasi oleh manusia.
Berbicara mengenai hak
asasi pohon, hak asasi hewan juga hak asasi sungai artinya mereka-mereka ini
juga harus kita akui sebagai subjek hukum. Kita mengakui haknya juga harus
melindungi haknya dengan cara regulasi dan peraturan-peraturan yang dengat
tegas berbbicara untuk kepentingannya semata,. Benar-benar untuk kepentingannya
bukan untuk kepentingan kita (manusia). Konflik yang terjadi sekarang ini di
hutan-hutan dan ebagainya bukankah tidak lebih sebagai konflik yang tericipta
karena perbedaan kepentingan saja. Terdapat tiga aktor penting setidaknya
ketika kita berbicara mengenai konfik lahan, konflik pertanahan ataupun
sengketa ladang atau hutan. Yakni penguasa pemerintah, pengusaha dan juga rakyat lokal ataua
masyarakat adat. Dimanaa mereka bertiga ini mempunyai tujuan masing-masing dan
kepentingannya asing-masing pula dalam upaya pengelolaan sumber daya.
Pemerintah memiliki kepentingan untuk selalu bagaimanapun caranya dan
bagaimapun kondisinya berkewajiban untuk memberikan pemasukan dalam kas Negara,
jadi dengan cara appaun pemerintah akan berupaya mengelola hutan atau
sumber-sumber daya alam lainnya untuk kepentingan Negara entah itu denga
perdagangan karbon, pembukaan lahan, menerbitkan hak guna usaha, hak guna hutan
dan lain sebagainya. Sedangkan kepentingan seorang kapital yakni seorang pengusaha yang di dalamnya
terdapat aliran deras deras darah kerakusan entah apapun yang terjadi dengan
alam intinya pengusaha ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya namun di sisi
lain pertentangan muncul terhadap pengusaha dari masyarakat lokal atau
msyarakat adat yang merasa ketika pengusaha itu mengeksploitasi hutan
besar-besaran artinya juga mengeksploitasi hutan adat mereka. Mata pencaharian
masyarakat pun menjadi susah bahkan bisa sampai menghilang karena pengaruh
penguasaan lahan dan pengelolaan alam oleh para pengusaha yang tidak
memperdulikan akibat lingkungan itu. Pada akhirnya semua mementingkan
kepentingannya sendiri untuk memuaskan hasratnya dalam pengelolaan sumber daya,
ketiga aktor ini memiliki peran dan tujuannya masing-masing yang saling
bertentangan dan seharusnya di sinilah peran pemerintah sebagai penguasa
seklaigus otoritas sebuahn Negara di mana politik sebagai alat pendistribusian
keadilan difungsikan semaksimal mungkin.
Dan kembali lagi adakah
yang benar-benar peduli dengan alam. Dimanakah letak hak-hak asasi pohon juga
sungai di tengah-tengah pertentangan kepentingan ini. Apakah benar-benar
diperjuangkan entah oleh masyarakat adat atau dari restorasi oleh pemerintah
__ADS_1
dan pengusaha.