Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Dakwaan Alam


__ADS_3

Berbicara mengenai


kerusakan lingkungan dan juga alam serta ekosistem yang ada di dalamnya. pohon


yang ditebang tanpa menanamkan benih baru untuk tumbuh, harimau-harimau yang


diburu belangnya menyisahkan populasi babi hutan yang sangat besar, hutan-hutan


yang hilang kehutanannya, burung serta cacing yang tak lagi nampak walau seekor


pun di alam yang semestinya, orang utan, bekantan, monyet, lutung dan


sejenisnya tumpah ruah di jalan-jalan mencari rumahnya yang hilang.


Semua itu ulah manusia,


semua pembabatan hutan ratusan hingga ribuan hektare itu siapa dalang dan aktornya


jika bukan manusia. Kembali lagi manusia sang pembawa kerusakan di bumi,


menari-nari dengan traktor dan gergaji penebang pohon demi memuaskan nafsu


kerakusan semata. Manusia yang hilang sifat manusianya terus merusak dan


merusak. Bukan kepada alam tetapi justru kepada dirinya, namun lagi-lagi alam


menjadi kambing hitam atas kerusakan yang terjadi.


Hujan. Tuan Presiden


dalam kesempatan pidatonya menyalahkan hujan dan alam atas banjir bandang yang


terjadi di Kalimantan Timur kala itu. Intensitas air hujan yang tinggi


merendamkan rumah-rumah dan lahan yang luasnya mungkin hampir dua kali lipat


kota metropolitan Jakarta. Hujan menjadi sodor-sodoran aktor penyebab kerusakan.


Oh sungguh nestapa nasibmu hujan, bukan rahmat dan kata-kata mutiara yang


dijatuhkan bersamaan dengan rintik-rintik airmu namun justru hinaan dan adu


domba penguasa yang tertuju bertubi-tubi kepadamu.


Kepada banjir itu, Tuan


menyalahkan hujan. Pun juga sama dengan polusi udara yang diakibatkan asap


tebal karena kebakaran hutan itu para penegak hukum menyalahkan masyarakat adat.


Kepulan asap yang terjadi yang mengakibatkan hampir membuat jarak pandang


ketika itu kurang lebih hanya lima sampai tujuh meter. Kriminalisasi dan


tuduhan tak mendasar dilontarkan kepada masyarakat adat atas terjadinya


kebakaran hutan. Padahal fakta yang nyata ladang-ladanmg sumber penghidupan para


masyarakat adat itu ada di hutan yang terbakar, aih bodoh kali masyarakat adat


itu kenapa membakar ladangnya sendiri. Bisa-bisanya tanamanan yang mereka rawat


dan sirami sendiri dengan penuh cinta itu lantas mereka bakar, bagaimana pula


ceritanya. Ah entahlah yang pasti para penegak hukum itu hebat sudah menangkap


tuan rumah di dalam rumahnya sendiri, meangkap pemilik rumah yang membakar


rumahnya sendiri. bagaimanapun tuan polisis hebat sehebat-hebatnya.


Alamat untuk mengadu

__ADS_1


domba dan menjadi kambing hitam terus-terusan dikirim ke alam dan lingkungan.


Kerusakan ekosistem itu mana mungkin bisa terjadi dilakukan oleh alam sendiri.


Dan aku seorang manusia mencoba mencabik-cabik diriku sendiri dengan gergaji,


mencongkel bola mataku dengan palu dan celurit kemudian merusak sistem


pencernaanku dengan sebilah pisau bermata ganda agar aku lekas-lekas mati


ditanganku sendiri,  mungkin seperti


itulah gambaran ketika terdapat tuduhan bahwa alam merusak ekosistemnya


sendiri. Namun ternyata sebuah fakta menyatakan selama ratusan juta tahun alam


selalu hidup dengan ekosistemnya sebelum manusia datang membangun peradaban.


Lalu bagaaimana semua ini bisa terjadi, kenapa alam justru menjadi kambing


hitam dan selalu di salahkan, apakah sudah nasib alam untuk menerima semua


hinaan ini.


Kepala yang sudah keras


lalu disusul dengan darah yang telah terisi penuh dengan kerakusan tak akan


pernah sadar bahwa ia rakus dan egois. Manusia menganggap dirinya tinggi dan berkuasa,


ia ada di atas segalnya. Pohon bahkan berada di bawah kaki-kakinya, pun juga


sama dengan hewan-hewan di sana bahkan juga raja hutan itu berada di bawah kaki


rantai makanannya. Antropsentrism itulah pandangan tersebut. bahwa menganggap


manusia yang berkuasa dan mengatur segala-galanya. Manusia memang hebat. Tepuk


Tetapi itu hanya


pendapat manusia atas dirinya senidiri sedangkan mengesampingkan bahwa


tumbuhan, pohon juga hewan dan semua makhluk hidup yang ada di bumi ini menuliskan


hukumnya sendiri. Manusia lupa bahwa alam juga memiliki hak asasi. Kau kira hak


asasi hanya dimiliki oleh manusia? Sungguh sangat dangkal sekali pemikiran


seperti itu. Hewan dan tumbuhan serta makhluk-makhluk hidup yang lain pun


memiliki hak asasi juga kamerad. Jangan sombong dengan hak asasi manusiamu itu,


kita juga harus menghormati hak pohon untuk tumbuh, hak burung untuk terbang


dan bahkan hak singa untuk mengaum keras di tengah hutan. Kita harus menyadari


bahwa posisi kita tidak ada di atas rantai makanan tetapi justru kita bersatu


membaur dengan semua makhluk. Artinya apa, bahwa kita semua saling


ketergantungan dan terikat satu sama lain. Kita semua, yah kita semua sebagai


makhluk hidup saling berkaitan dan berhubungan saling membutuhkan. Jangan


menganggap dirimu itu tinggi. Lagi-lagi bahwa pohon juga memiliki hak, sungai


dan gunung juga memiliki hak asasi seperti apa yang kamu agungkan selama ini


dengan hak asasi manusiamu itu. Mungkin seperti itulah sedikit pandangan mengenai


konsep Biosentrism yang dicoba oleh beberpa pemikir untuk menyelaraskan dan

__ADS_1


mendegradasikan hierarki makhluk hidup di bumi yang didmoniasi oleh manusia.


Berbicara mengenai hak


asasi pohon, hak asasi hewan juga hak asasi sungai artinya mereka-mereka ini


juga harus kita akui sebagai subjek hukum. Kita mengakui haknya juga harus


melindungi haknya dengan cara regulasi dan peraturan-peraturan yang dengat


tegas berbbicara untuk kepentingannya semata,. Benar-benar untuk kepentingannya


bukan untuk kepentingan kita (manusia). Konflik yang terjadi sekarang ini di


hutan-hutan dan ebagainya bukankah tidak lebih sebagai konflik yang tericipta


karena perbedaan kepentingan saja. Terdapat tiga aktor penting setidaknya


ketika kita berbicara mengenai konfik lahan, konflik pertanahan ataupun


sengketa ladang atau hutan. Yakni penguasa pemerintah,  pengusaha dan juga rakyat lokal ataua


masyarakat adat. Dimanaa mereka bertiga ini mempunyai tujuan masing-masing dan


kepentingannya asing-masing pula dalam upaya pengelolaan sumber daya.


Pemerintah memiliki kepentingan untuk selalu bagaimanapun caranya dan


bagaimapun kondisinya berkewajiban untuk memberikan pemasukan dalam kas Negara,


jadi dengan cara appaun pemerintah akan berupaya mengelola hutan atau


sumber-sumber daya alam lainnya untuk kepentingan Negara entah itu denga


perdagangan karbon, pembukaan lahan, menerbitkan hak guna usaha, hak guna hutan


dan lain sebagainya. Sedangkan kepentingan seorang kapital  yakni seorang pengusaha yang di dalamnya


terdapat aliran deras deras darah kerakusan entah apapun yang terjadi dengan


alam intinya pengusaha ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya namun di sisi


lain pertentangan muncul terhadap pengusaha dari masyarakat lokal atau


msyarakat adat yang merasa ketika pengusaha itu mengeksploitasi hutan


besar-besaran artinya juga mengeksploitasi hutan adat mereka. Mata pencaharian


masyarakat pun menjadi susah bahkan bisa sampai menghilang karena pengaruh


penguasaan lahan dan pengelolaan alam oleh para pengusaha yang tidak


memperdulikan akibat lingkungan itu. Pada akhirnya semua mementingkan


kepentingannya sendiri untuk memuaskan hasratnya dalam pengelolaan sumber daya,


ketiga aktor ini memiliki peran dan tujuannya masing-masing yang saling


bertentangan dan seharusnya di sinilah peran pemerintah sebagai penguasa


seklaigus otoritas sebuahn Negara di mana politik sebagai alat pendistribusian


keadilan difungsikan semaksimal mungkin.


Dan kembali lagi adakah


yang benar-benar peduli dengan alam. Dimanakah letak hak-hak asasi pohon juga


sungai di tengah-tengah pertentangan kepentingan ini. Apakah benar-benar


diperjuangkan entah oleh masyarakat adat atau dari restorasi oleh pemerintah

__ADS_1


dan pengusaha.


__ADS_2