Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Mas - Mas Oligarki


__ADS_3

Ungkapan panjang ini adalah sejarah sebuah lembaga di suatu Negara. Sebuah


simbol suatu perjuangan bersama. Yah, ungkapan ini adalah sejarah mengenai


suatu simbol perjuangan yang dulu pernah berjaya. Pernah merasakan buah kemenangan


dan kehebatannya di negera tersebut sebelum sebuah kehancuran dari dalam


meruntuhkan sendi-sendi perjuanga, merobohkan tiang-tiang kebenaran dan


melumatkan atap kejujuran. Dan simbol itu kini telah hancur berkeping-keping.


Menyebar keseluruh penjuru menjadikan ia sebuah benih yang akan tumbuh.


Ungkapan ini biarkan menjadi salah satu benih itu untuk tetap mewariskan


perjuangan dan kebenarannya untuk masa depan bangsa.


Komisi Pemberantasan Korupsi sebuah lembaga independen yang sekarang bermanifestasi


menjadi boneka. Tentu KPK adalah simbol perlawan untuk tradisi korupsi tetapi


kini riwayatmu oh, KPK.... akan menjadi apa jika didalam dirimu sendiri ada


pendusta. Siapa gerangan pendusta itu oh, KPK... tidakkah engkau adalah ujang


tombak kami untuk memberantas korupsi tetapi kini malah engkau sendiri yang


dibekukkan. Oleh mereka yang ingin melanggengkan kerakusan, keserakahan di bumi


pertiwi ini. jika tanah adalah ibu sungguh engkau telah memperkosaanya tiada


ampiun. Memberedel isi-isisnya dengan belati kemunafikan.


Dan apa yang bisa engkau lakukan saat ini. KPK tellah mati, membatu dan


mewayang menunggu digerakan. Itukah marwahmu. Menjadi boneka para oligark.


Menuruti kemauannya dengan dalil patuh kepada undang-undang. Berlindung kah


engkau dibalik hukum untuk membungkus keserakahan dan kemunafikan. Uh, hukum


selalu begitu. Bukan menjadi alat untk keadilan tetapi alat untuk keserakahan.


Jika Dewa adalah sesuatu yang mengatur kehidupan kita maka, Barang siapa di


dunia ini yang menguasai hukum sungguh dia adalah Dewata bagi kita semua. Untuk


itu, manusia berkuasa adalah manusia yang berpotensi sewenang-wenang. Semakin


tinggi kekuasaan semkain berpotensilah ia untuk sewenang-wenang. Dan nafsu


mengontrol banyak dari manusia untuk melakukan segala hal.


Mereka yang tak kau loloskan dalam sebuah tes wawancara. Walaupun sekuat


tenaga engkau menutupinya dengan hukum dan aturan perundang-undangan tetap


sejarah akan mencatatnya sebagai bentuk penghinaan dan penyingkiran beberapa


pihak. Sungguh sebuah ironi  yang nampak


jelas didepan mata. Kekuasaan mampu melakukan segalanya. Ah, dan siapa oh KPK


yang mengendalikanmu. Menggerakanmu sedemikian rupa hingga menyisihkan beberapa


jumlah untuk dibina, untuk dikeluarkan karena sudah tak tertolong katanya. Apa


yang menjadi penilaianmu atas tes-tes itu, apa yang menjadi indikatormu untuk


pertanyaan-pertanyaanmu itu. Oh, KPK apa yang akan terjadi jika kau rapuh


sendiri dari dalam. jika ada sebuah ketidakadilan yang terpampang diwajahmu.

__ADS_1


Inikah kehancuran hidupmu dan kebangkitanmu bukan untuk lagi pemberantasan


korupsi tetapi kebangkitanmu menjadi perlindungan korupsi. Yah.... KPK telah


dibunuh dan kini ia telah diedotensei. Hidup kembali dengan rupa untuk


melindungi sebuah tradisi bangsa. Tradisi korupsi. Tradisi yang telah ada sejak


lama.


Korupsi... yah, dan korupsi ada karena apa. siapa yang membuatnya ada. Apa


yang terjadi jika korupsi terus ada. Apa  yang akan kita peroleh jika ia enyah dari dunia, siapa yang menciptakan


korupsi di negeri ini. korupsi yang digadang-gadang menjadi permasalah utama


negeri ini. yahh.. korupsi!!! Bagaimana engkau bisa ada....


Dikisahkan dari jauh sudut pandang. Dalam sebuah pusaran tarian serta


nyanyian burung-burung peradaban. Korupsi telah ada sejak masa penjajahan.


Negeri ini dijajah oleh penjajah yang negerinya juga dijajah....


Korupsi ada karena kita negara bekas jajahan. Duh, apakah kini seolah kita


mengkambinghitamkan penjajah. Menyalahakannya seolah ini sistem ada karena


penjajah.  Tunggu... kenapa kita tidak


mengakui bahwa kita sendiri yang menciptakannya ini. yah, feodalisme yang terus


mengental dilingkungan bangsa inilah korupsi itu. menyembah-nyembah pada tuan.


Menjilat pantat-pantat. Meminum ludahmu sendiri dengan begitu nikmat. Yah,


bahwa tiada hal yang sewajar itu di dunia ini selain dinegeri ini. untuk


jabatan dan pangkat berani untuk menjadi jongos penjilat. Ketahuilah,


masa lalu itulah yang terus bergolara dang menunjukan eksistensiannya untuk


melanggengkan segalanya.


Burung-burung terpacu menari  semakin


kecang. Kicauannya nyaring digendang telingga. Yah, nyanyian yang amat merdu


dan syahdu. Tarian-tarian berputar ditngah orkestra alam. desir angin


menghambat jiwa untuk bersua, menyisahkan residu yang pahit dibagian bawah.


Didepan meja kami bertanya. Nilai usang itu lantas apa yang membuatnya eksis


sampai sekarang. Nilai tua itu kenapa tetap mampu untuk bertahan dikeras


kehidupan. Nilai yang dibanyak tempat sudah menjadi sejarh itu disini justru


tumbuh semakin subur. Seolah mendaptakan perawatan dan bukan hanya penjagaan.


Kenapa banyak diantara kita tidak begitu merasakan dampak langsung dari


korupsi itu sendiri. Dari sekian teriliun yang telah hilang dari uang negara.


Secara statistik mungkin kita dapat menagtakan bahwa kerugian negara bisa


ditaksir sedemikian rupa tetapi dalam kehidupan maysarakat kecil justru tiada


staupun dampak atau efek yang ditimbulkan darinya. Tentu, hal ini bukan sebuah


kewajaran tetapi adalah tanda bahaya yang harus digelorakan. Kita tidak


mneyadari karena kita tidak memiliki kesempatan untuk tahu. Kita tidak akan

__ADS_1


sadar jika kita tidak tahu, kita tahu maka setidaknya sekecil apapun itu kita


menjadi sadar, walaupun dibeberapa titik kita tidak sadar tetapi penegtahuan


itulah kuncinya. Kenapa kita tidak tahu karena kita tidak memiliki akses untuk


kesasa. Jalan apa yang menjadi akses untuk kita tahu. Salah satunya adalah


jalan pikiran. Uh, apakah artinya kebanyakan dari kita adalah orang yang tidak


berpikir. Sadis. Dan Rene Descartes mengatakan aku berpikir maka aku ada.


Kebanyakan dari masyarakat kita tidak sadar akan hal tersebut, akan dampak


korupsi tersebut dan kebanyakan dari kita masih berpola pikir bahwa “kita ini


bisa apa, kan hanya orang keci”  yah.


Hampir dari kita demikian jika masyarakat miskin, kecil seperti ini bisa apa.


yang mana hal ini melanggengkan kekuasaan korup mereka-mereka itu. dan kami


lalu menarik sebuah benang merah yakni pendidikan yang kurang. Kesadaran itu


hanya akan datang kepada mereka yang memiliki kapasitaas untuk mengerti,


kapasitas unntuk sadar dan faham. Dan banyak dari kita tidak memiliki kapasitas


itu dan sehingga berapa triliun pun yang dicuri kebanyakan dari kita psif-pasfi


saja, karena kita tidak peka.


Pendidikan kita yang lemah tidak mneyadarkan banyak masyarakat untuk tahu


urgensi  dari pemberantasan korupsi.


Kita menyadari dari dalam bahwa pelaku korupsi memiliki kompetensi dan ilmu


yang tinggi. Yang duduk dikursi-kursi itu adalah para Profesor-profesor, doktor


dan sederet gelar lainnya. Mereka memiliki ilmu yang boleh diadu. Tetapi kenapa


mereka melakukan sebuah kejahatan yang demikian rupa merugikan neggara, masa


depan bangsa... awalnya kami menduga adanya devisit moral serta etika kepada


mereka. Yang dengan kata lain adalah sebuah adap dan akhlak. Perbuatannya


hanyalah gambaran dari nafsu duniawinya belaka. Tetapi lalu kami berpikir ulang


bahwa mereka melakukan demikian itu tak lebih karena tidak memiliki kompetensi


untuk berpikir sedemikian panjang untuk masa depan, untuk kehidupan depan


bangsa dan sebagainya. mereka hanya berpikir demi dirinya, untuk keluarganya dan


selesai sampai disitu. Mereka devisit akal dan seorang filsuf mengatakan mereka


dungu dan devisit pikiran.


Jika dua hal itu dibenarkan artinya benar jika bangsa ini krisis akal


sehat. Krisis pengetahuan dan daya kritis. Baik di atas maupun dibawah. Kesadaran


kita yang tumpul  membuat pisau analisa


kita menjadi berkarat dan usang.


KPK telah mati...tetapi apakah pemberantasan korupsi hanya berada dipundak


KPK? Bukankah ia adalah simbol perjuangan kita dan perjuangan yang sebenarnya


adalah perjuangan melawan diri kita sendiri dan kini KPK melawan dirinya

__ADS_1


sendiri.


__ADS_2