
Ungkapan panjang ini adalah sejarah sebuah lembaga di suatu Negara. Sebuah
simbol suatu perjuangan bersama. Yah, ungkapan ini adalah sejarah mengenai
suatu simbol perjuangan yang dulu pernah berjaya. Pernah merasakan buah kemenangan
dan kehebatannya di negera tersebut sebelum sebuah kehancuran dari dalam
meruntuhkan sendi-sendi perjuanga, merobohkan tiang-tiang kebenaran dan
melumatkan atap kejujuran. Dan simbol itu kini telah hancur berkeping-keping.
Menyebar keseluruh penjuru menjadikan ia sebuah benih yang akan tumbuh.
Ungkapan ini biarkan menjadi salah satu benih itu untuk tetap mewariskan
perjuangan dan kebenarannya untuk masa depan bangsa.
Komisi Pemberantasan Korupsi sebuah lembaga independen yang sekarang bermanifestasi
menjadi boneka. Tentu KPK adalah simbol perlawan untuk tradisi korupsi tetapi
kini riwayatmu oh, KPK.... akan menjadi apa jika didalam dirimu sendiri ada
pendusta. Siapa gerangan pendusta itu oh, KPK... tidakkah engkau adalah ujang
tombak kami untuk memberantas korupsi tetapi kini malah engkau sendiri yang
dibekukkan. Oleh mereka yang ingin melanggengkan kerakusan, keserakahan di bumi
pertiwi ini. jika tanah adalah ibu sungguh engkau telah memperkosaanya tiada
ampiun. Memberedel isi-isisnya dengan belati kemunafikan.
Dan apa yang bisa engkau lakukan saat ini. KPK tellah mati, membatu dan
mewayang menunggu digerakan. Itukah marwahmu. Menjadi boneka para oligark.
Menuruti kemauannya dengan dalil patuh kepada undang-undang. Berlindung kah
engkau dibalik hukum untuk membungkus keserakahan dan kemunafikan. Uh, hukum
selalu begitu. Bukan menjadi alat untk keadilan tetapi alat untuk keserakahan.
Jika Dewa adalah sesuatu yang mengatur kehidupan kita maka, Barang siapa di
dunia ini yang menguasai hukum sungguh dia adalah Dewata bagi kita semua. Untuk
itu, manusia berkuasa adalah manusia yang berpotensi sewenang-wenang. Semakin
tinggi kekuasaan semkain berpotensilah ia untuk sewenang-wenang. Dan nafsu
mengontrol banyak dari manusia untuk melakukan segala hal.
Mereka yang tak kau loloskan dalam sebuah tes wawancara. Walaupun sekuat
tenaga engkau menutupinya dengan hukum dan aturan perundang-undangan tetap
sejarah akan mencatatnya sebagai bentuk penghinaan dan penyingkiran beberapa
pihak. Sungguh sebuah ironi yang nampak
jelas didepan mata. Kekuasaan mampu melakukan segalanya. Ah, dan siapa oh KPK
yang mengendalikanmu. Menggerakanmu sedemikian rupa hingga menyisihkan beberapa
jumlah untuk dibina, untuk dikeluarkan karena sudah tak tertolong katanya. Apa
yang menjadi penilaianmu atas tes-tes itu, apa yang menjadi indikatormu untuk
pertanyaan-pertanyaanmu itu. Oh, KPK apa yang akan terjadi jika kau rapuh
sendiri dari dalam. jika ada sebuah ketidakadilan yang terpampang diwajahmu.
__ADS_1
Inikah kehancuran hidupmu dan kebangkitanmu bukan untuk lagi pemberantasan
korupsi tetapi kebangkitanmu menjadi perlindungan korupsi. Yah.... KPK telah
dibunuh dan kini ia telah diedotensei. Hidup kembali dengan rupa untuk
melindungi sebuah tradisi bangsa. Tradisi korupsi. Tradisi yang telah ada sejak
lama.
Korupsi... yah, dan korupsi ada karena apa. siapa yang membuatnya ada. Apa
yang terjadi jika korupsi terus ada. Apa yang akan kita peroleh jika ia enyah dari dunia, siapa yang menciptakan
korupsi di negeri ini. korupsi yang digadang-gadang menjadi permasalah utama
negeri ini. yahh.. korupsi!!! Bagaimana engkau bisa ada....
Dikisahkan dari jauh sudut pandang. Dalam sebuah pusaran tarian serta
nyanyian burung-burung peradaban. Korupsi telah ada sejak masa penjajahan.
Negeri ini dijajah oleh penjajah yang negerinya juga dijajah....
Korupsi ada karena kita negara bekas jajahan. Duh, apakah kini seolah kita
mengkambinghitamkan penjajah. Menyalahakannya seolah ini sistem ada karena
penjajah. Tunggu... kenapa kita tidak
mengakui bahwa kita sendiri yang menciptakannya ini. yah, feodalisme yang terus
mengental dilingkungan bangsa inilah korupsi itu. menyembah-nyembah pada tuan.
Menjilat pantat-pantat. Meminum ludahmu sendiri dengan begitu nikmat. Yah,
bahwa tiada hal yang sewajar itu di dunia ini selain dinegeri ini. untuk
jabatan dan pangkat berani untuk menjadi jongos penjilat. Ketahuilah,
masa lalu itulah yang terus bergolara dang menunjukan eksistensiannya untuk
melanggengkan segalanya.
Burung-burung terpacu menari semakin
kecang. Kicauannya nyaring digendang telingga. Yah, nyanyian yang amat merdu
dan syahdu. Tarian-tarian berputar ditngah orkestra alam. desir angin
menghambat jiwa untuk bersua, menyisahkan residu yang pahit dibagian bawah.
Didepan meja kami bertanya. Nilai usang itu lantas apa yang membuatnya eksis
sampai sekarang. Nilai tua itu kenapa tetap mampu untuk bertahan dikeras
kehidupan. Nilai yang dibanyak tempat sudah menjadi sejarh itu disini justru
tumbuh semakin subur. Seolah mendaptakan perawatan dan bukan hanya penjagaan.
Kenapa banyak diantara kita tidak begitu merasakan dampak langsung dari
korupsi itu sendiri. Dari sekian teriliun yang telah hilang dari uang negara.
Secara statistik mungkin kita dapat menagtakan bahwa kerugian negara bisa
ditaksir sedemikian rupa tetapi dalam kehidupan maysarakat kecil justru tiada
staupun dampak atau efek yang ditimbulkan darinya. Tentu, hal ini bukan sebuah
kewajaran tetapi adalah tanda bahaya yang harus digelorakan. Kita tidak
mneyadari karena kita tidak memiliki kesempatan untuk tahu. Kita tidak akan
__ADS_1
sadar jika kita tidak tahu, kita tahu maka setidaknya sekecil apapun itu kita
menjadi sadar, walaupun dibeberapa titik kita tidak sadar tetapi penegtahuan
itulah kuncinya. Kenapa kita tidak tahu karena kita tidak memiliki akses untuk
kesasa. Jalan apa yang menjadi akses untuk kita tahu. Salah satunya adalah
jalan pikiran. Uh, apakah artinya kebanyakan dari kita adalah orang yang tidak
berpikir. Sadis. Dan Rene Descartes mengatakan aku berpikir maka aku ada.
Kebanyakan dari masyarakat kita tidak sadar akan hal tersebut, akan dampak
korupsi tersebut dan kebanyakan dari kita masih berpola pikir bahwa “kita ini
bisa apa, kan hanya orang keci” yah.
Hampir dari kita demikian jika masyarakat miskin, kecil seperti ini bisa apa.
yang mana hal ini melanggengkan kekuasaan korup mereka-mereka itu. dan kami
lalu menarik sebuah benang merah yakni pendidikan yang kurang. Kesadaran itu
hanya akan datang kepada mereka yang memiliki kapasitaas untuk mengerti,
kapasitas unntuk sadar dan faham. Dan banyak dari kita tidak memiliki kapasitas
itu dan sehingga berapa triliun pun yang dicuri kebanyakan dari kita psif-pasfi
saja, karena kita tidak peka.
Pendidikan kita yang lemah tidak mneyadarkan banyak masyarakat untuk tahu
urgensi dari pemberantasan korupsi.
Kita menyadari dari dalam bahwa pelaku korupsi memiliki kompetensi dan ilmu
yang tinggi. Yang duduk dikursi-kursi itu adalah para Profesor-profesor, doktor
dan sederet gelar lainnya. Mereka memiliki ilmu yang boleh diadu. Tetapi kenapa
mereka melakukan sebuah kejahatan yang demikian rupa merugikan neggara, masa
depan bangsa... awalnya kami menduga adanya devisit moral serta etika kepada
mereka. Yang dengan kata lain adalah sebuah adap dan akhlak. Perbuatannya
hanyalah gambaran dari nafsu duniawinya belaka. Tetapi lalu kami berpikir ulang
bahwa mereka melakukan demikian itu tak lebih karena tidak memiliki kompetensi
untuk berpikir sedemikian panjang untuk masa depan, untuk kehidupan depan
bangsa dan sebagainya. mereka hanya berpikir demi dirinya, untuk keluarganya dan
selesai sampai disitu. Mereka devisit akal dan seorang filsuf mengatakan mereka
dungu dan devisit pikiran.
Jika dua hal itu dibenarkan artinya benar jika bangsa ini krisis akal
sehat. Krisis pengetahuan dan daya kritis. Baik di atas maupun dibawah. Kesadaran
kita yang tumpul membuat pisau analisa
kita menjadi berkarat dan usang.
KPK telah mati...tetapi apakah pemberantasan korupsi hanya berada dipundak
KPK? Bukankah ia adalah simbol perjuangan kita dan perjuangan yang sebenarnya
adalah perjuangan melawan diri kita sendiri dan kini KPK melawan dirinya
__ADS_1
sendiri.