
Disuatu persimpangan
jalan, Ara dan Phyta berjalan-jalan ke pasar. ditengah keramaian ini ia melihat
ada seorang gadis bercadar tertangkap melakukan pencopetan, ia dihajar
habis-habisan oleh sekumpulan masa yang mengamuk, satu buah dompet ia curi dan
seribu hujanan pukulan ia dapati. Gadis itu diseret ke tengah jalan, hampir
ditelanjangi, wajahnya sudah tak berupa, darah mengalir dari hidung, mulut dan pelipisnya, kemarahann warga tak dapat
dibendung\, gadis itu menjadi *** pemuas amarah mereka\, sifat bringas\, daerah
yang sering kali terjadi pencopetan dan kehilangan barang-barang berharga itu
membuat kegelisahan para warganya, sehingga sekali ada pemantik seperti peristiwa
ini amarah akan cepat menyulut kesegala
arah. batu bata sampai kayu balok tertuju kepada kepala gadis itu, ia
diseret-seret di tengah jalan, menjadi tontonan banyak sekali orang, ditendang,
di pukul, gadis itu terlengkup menyerit
kesakitann, namun tak ada yang menolong bahkan sekedar untuk berbelas kasih pun
tiada, seggala cacian dan hinaan tertuju padanya, bajunya compang-camping,
kerudungnya sudah terhanyut entah kemana, tak lama ia akan mati namun beruntung
ada petugas keamanan datang untuk melerai kebrutalan itu. petugas kemanan
hendak menyuruh warga untuk mengangkat gadis itu ke mobil petugas namun
berbondong-bodong mereka semua menyeretnya, dua tiga kali hujaman pukulan kembali tertuju padanya, batu
dan kayu keras mengenai wajah dan seluruh tubuhnya. Di alun-alun kota yang
berada di sebelah timur pasar Ara dan Phyta menyaksikan semua peristiwa itu
dengan mengerutkan wajahnya, mungkin hanya mereka berdua yang masih merasa
berbelas kasih kepada pencopet itu. mata semua warga seoalah menyala kemarahannya,
mata mereka seolah mengisyaratkan kebencian, kejijikan hingga hancur lebur
gadis itu tak berdaya. Ketika gadis itu diseret dibawah ke mobil petugas, Ara
dan Phyta teringat dengan peristiwa beberapa minggu yang lalu.
Tepatnya pada hari
Kamis, Peristiwa yang sama juga terjadi
di pasar terbesar di kota ini, pencopetan, tak tanggung-tangung, dihari yang
sama ada hampir 5 (lima) orang mengaku kehilangan dompetnya, 3 (tiga) orang
mengaku kehilangaan cincin dan kalung emasnya, 1 (satu) orang kehilangan handphonenya.
Singkat cerita pelaku itu sudah diketahui siapa dan dimananya. Informasi di
pasar begitu cepat, ah... ada mata-mata dimana-mana. Pada siang itu pelaku tertangkap ketika sedang makan di
__ADS_1
warteg seberang jalan depan pasar. Sebelumnya sudah berbondong-bondong orang mengepung warteg,
banyak sekali orang sudah menyiapkan batu, kayu. Dengan mata kebencian dan mata
amarah itu salah seorang warga menggedor-gedor warteg, menyeret pelaku yang
ternyata seorang gadis. Salah seorang warga memeriksa gadis itu dan benar saja
semua barang-barang yang hilang di pasar ada di tas gadis itu kecuali satu
dompet dari seorang ibu-ibu. Setelah barang bukti sudah ada, gadis itu hendak
dipukul oleh salah seorang warga, namun hal itu justru ditangkis oleh seorang
warga yang ada disamping langsun gadis tersebut. entah kenapa tetapi semua
warga pasti akan melakukan hal yang sama yakni menangkis pukulan tersebut,
seolah semuanya itu mengasihani gadis yang cantik ini. ia menggunakan kaos
pendek dengan rok mini, rambutnya teruai panjang, pipinya penuh, dengan sedikit
make-up kulit putihnya berseri-seri,dan satu lagi matanya yang bulat indah
berkaca-kaca dan bibir tipisnya serta senyuman manisnya itu membuat belas kasih
semua warga hingga tak tega untuk bahkan mencubitnya. Kini mata kebencian dan
amarah itu tertuju kepada salah seorang warga yang hendak memukul tadi, cacian
dan marah tertuang pada dia seorang, ia dipandang tak berkemanusiaan, tak punya
rasa malu dan kehormatan kepada perempuan, warga yang hendak memukul tadi itulah
yang justru diamankan dan dimarah-marahi oleh beberapa warga lainnya, ia
kini menjadi tontonan dan pusat perhatian, dengan hanya menggunakan kaos sebahu
disebelah kanan kirinya ada dua orang pria yang memegang tangan gadis tersebut
yang diikat kebelakang hendak dibawanya gadis itu ke kantor polosi, tapi entah
kenapa lewat mata-mata semua orang, seoalah mereka ingin ikut juga memegangi
tangannya bahkan mungkin bagian tubuh lainnya. Tak berselang lama gadis itu telah menerjang begitu banyak
kerumanan. Ketika gadis itu dibawa oleh dua orang pria menerjang belahan
kerumunan tersebut dua tiga kali bahkan lebih tangan-tangan jahil mengarah
ketubuhnya, dan paling banyak mengarah kebagian seksual gadis tersebut.
ditenagh kerumanan itu satu dua kali datamg teriakan untuk memperkosanya,bahkan
rumor mengatakan di dalam mobil petugas keamanan dua orang pria yang juga ikut
sebagai saksi itu melecehkannya,
melakukan tindakan-tindakan tercela dan asusila....
Ara dan Phyta mengingat-ingat
kembali kejadian beberapa minggu yang lalu. Mereka berdua duduk dialun-alun
kota melihat banyak sekali anak kecil yang sedang bermain, berlarian mengejar
__ADS_1
bola. Laki-laki, perempuan, rupawan dan biasa saja anak kecil itu bercengkrama
dengan riang gembira, gelak tawa tetap tercipta dari mereka. Ara kembali
bercerita teringat olehnya bahwa gadis cantik yang kedapatan mencopet itu bukan
hanya diteriaki untuk diperkosa saja namun benar-benar hendak diperkosa.
Setelah salah seorang warga yang hendak memukulnya itu diseret keluar dari
kerumunan, beberapa orang menarik tangan gadis tersebut hingga ia terjatuh
tersungkur, tangannya menyanggah tubuhnya dan kepalanya sehingga tak mencium
tanah, tetapi justru dengan cepat
bergerombol orang menciumi wajahnya, tubuhnya bahkan dari belakang salah seorang ingin melepas rok
mininya dan hendak memperkosanya. Gadis itu bangkit dari tersugkurnya, berusaha keras menutupi
wajahnya dari ciuman, dan tubuhnya dari tangan-tangan yang selalu ingin
menyentuh ***********. Dengan susah payah ia kembali berdiri dengan bajunya
sudah tak karuan berbentuk, rambutnya yang terurai kini acak-acakan, gadis itu
berdiri merapkian kaos dan rok mininya, tanpa suara air matanya jatuh lalu kemudian
dua orang pria datang, keduanya tinggi besar, berkumis dengan alis tebal,
rambutnya cepak, mereka itu mengaku sebagai petugas kemanan lalu beteriak ke
kerumunan untuk menghentikan perlakuan senonoh tersebut. kedua pria ini
mengikat tangan gadis tersebut kebelakang dan lalu memeganginya, membawanya
menerobos kerumunan. Ditengah kerumunan itu ....
Phyta menyela Ara untuk
menghentikan cerita dan menyuruh Ara untuk melihat ke arah pasar. Terdapat seorang bocah laki-laki
yang menangis menjerit-jerit memanggil ibunya. Mungkin ia terpisah dengan
ibunya ketika di pasar sela Ara, tetapi Phyta menyuruh Ara untuk kembali
mengamatinya Phya merasa sangat aneh satu orangpun tak ada yang berniat hati untuk menenangkan bocah
itu, bahkan ibu-ibu penjaga warteg itu tahu dan hanya melihatnya saja, tak
hanya ibu-ibu itu, Ara kemudian membenarkan. Iya, sangat aneh. Lihat juga bapak
penjual nasi uduk, ibu-ibu yang dompetnya tadi dicopet itu juga. Phyta
menambahkan lagi apakah ibu itu tidak merasakan simpati kepada anak tersebut,
toh dia barusan kehilangan dompet tidakah juga ibah melihat seorang anak yang
kehilangan ibunya. Kenapa tidak ada yang membantu. Diamat-amatinya kembali
lalu, Ara dan Phyta baru sadar bahwa dari tadi anak itu menjadi pusat perhatian
banyak orang. Ia duduk ditengah jalan, tepat disebelah bekas genangan darah,
batu dan kayu berserakan mengelilinginya, kain hitam seperti kerudung ia
__ADS_1
genggam erat-erat sambil terseduh menangis ia berterik. Ibuu....