Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Sudut Pasar - Ara dan Phyta


__ADS_3

Disuatu persimpangan


jalan, Ara dan Phyta berjalan-jalan ke pasar. ditengah keramaian ini ia melihat


ada seorang gadis bercadar tertangkap melakukan pencopetan, ia dihajar


habis-habisan oleh sekumpulan masa yang mengamuk, satu buah dompet ia curi dan


seribu hujanan pukulan ia dapati. Gadis itu diseret ke tengah jalan, hampir


ditelanjangi, wajahnya sudah tak berupa, darah mengalir dari hidung, mulut  dan pelipisnya, kemarahann warga tak dapat


dibendung\, gadis itu menjadi *** pemuas amarah mereka\, sifat bringas\, daerah


yang sering kali terjadi pencopetan dan kehilangan barang-barang berharga itu


membuat kegelisahan para warganya, sehingga sekali ada pemantik seperti peristiwa


ini amarah  akan cepat menyulut kesegala


arah. batu bata sampai kayu balok tertuju kepada kepala gadis itu, ia


diseret-seret di tengah jalan, menjadi tontonan banyak sekali orang, ditendang,


di pukul, gadis  itu terlengkup menyerit


kesakitann, namun tak ada yang menolong bahkan sekedar untuk berbelas kasih pun


tiada, seggala cacian dan hinaan tertuju padanya, bajunya compang-camping,


kerudungnya sudah terhanyut entah kemana, tak lama ia akan mati namun beruntung


ada petugas keamanan datang untuk melerai kebrutalan itu. petugas kemanan


hendak menyuruh warga untuk mengangkat gadis itu ke mobil petugas namun


berbondong-bodong mereka semua  menyeretnya, dua tiga kali hujaman pukulan kembali tertuju padanya, batu


dan kayu keras mengenai wajah dan seluruh tubuhnya. Di alun-alun kota yang


berada di sebelah timur pasar Ara dan Phyta menyaksikan semua peristiwa itu


dengan mengerutkan wajahnya, mungkin hanya mereka berdua yang masih merasa


berbelas kasih kepada pencopet itu. mata semua warga seoalah menyala kemarahannya,


mata mereka seolah mengisyaratkan kebencian, kejijikan hingga hancur lebur


gadis itu tak berdaya. Ketika gadis itu diseret dibawah ke mobil petugas, Ara


dan Phyta teringat dengan peristiwa beberapa minggu yang lalu.


Tepatnya pada hari


Kamis,  Peristiwa yang sama juga terjadi


di pasar terbesar di kota ini, pencopetan, tak tanggung-tangung, dihari yang


sama ada hampir 5 (lima) orang mengaku kehilangan dompetnya, 3 (tiga) orang


mengaku kehilangaan cincin dan kalung emasnya, 1 (satu) orang kehilangan handphonenya.


Singkat cerita pelaku itu sudah diketahui siapa dan dimananya. Informasi di


pasar begitu cepat, ah... ada mata-mata dimana-mana. Pada siang itu  pelaku tertangkap ketika sedang makan di

__ADS_1


warteg seberang jalan depan pasar. Sebelumnya sudah  berbondong-bondong orang mengepung warteg,


banyak sekali orang sudah menyiapkan batu, kayu. Dengan mata kebencian dan mata


amarah itu salah seorang warga menggedor-gedor warteg, menyeret pelaku yang


ternyata seorang gadis. Salah seorang warga memeriksa gadis itu dan benar saja


semua barang-barang yang hilang di pasar ada di tas gadis itu kecuali satu


dompet dari seorang ibu-ibu. Setelah barang bukti sudah ada, gadis itu hendak


dipukul oleh salah seorang warga, namun hal itu justru ditangkis oleh seorang


warga yang ada disamping langsun gadis tersebut. entah kenapa tetapi semua


warga pasti akan melakukan hal yang sama yakni menangkis pukulan tersebut,


seolah semuanya itu mengasihani gadis yang cantik ini. ia menggunakan kaos


pendek dengan rok mini, rambutnya teruai panjang, pipinya penuh, dengan sedikit


make-up kulit putihnya berseri-seri,dan satu lagi matanya yang bulat indah


berkaca-kaca dan bibir tipisnya serta senyuman manisnya itu membuat belas kasih


semua warga hingga tak tega untuk bahkan mencubitnya. Kini mata kebencian dan


amarah itu tertuju kepada salah seorang warga yang hendak memukul tadi, cacian


dan marah tertuang pada dia seorang, ia dipandang tak berkemanusiaan, tak punya


rasa malu dan kehormatan kepada perempuan, warga yang hendak memukul tadi itulah


yang justru diamankan dan dimarah-marahi oleh beberapa warga lainnya, ia


kini menjadi tontonan dan pusat perhatian, dengan hanya menggunakan kaos sebahu


disebelah kanan kirinya ada dua orang pria yang memegang tangan gadis tersebut


yang diikat kebelakang hendak dibawanya gadis itu ke kantor polosi, tapi entah


kenapa lewat mata-mata semua orang, seoalah mereka ingin ikut juga memegangi


tangannya bahkan mungkin bagian tubuh  lainnya. Tak berselang lama gadis itu telah menerjang begitu banyak


kerumanan. Ketika gadis itu dibawa oleh dua orang pria menerjang belahan


kerumunan tersebut dua tiga kali bahkan lebih tangan-tangan jahil mengarah


ketubuhnya, dan paling banyak mengarah kebagian seksual gadis tersebut.


ditenagh kerumanan itu satu dua kali datamg teriakan untuk memperkosanya,bahkan


rumor mengatakan di dalam mobil petugas keamanan dua orang pria yang juga ikut


sebagai  saksi itu melecehkannya,


melakukan tindakan-tindakan tercela dan asusila....


Ara dan Phyta mengingat-ingat


kembali kejadian beberapa minggu yang lalu. Mereka berdua duduk dialun-alun


kota melihat banyak sekali anak kecil yang sedang bermain, berlarian mengejar

__ADS_1


bola. Laki-laki, perempuan, rupawan dan biasa saja anak kecil itu bercengkrama


dengan riang gembira, gelak tawa tetap tercipta dari mereka. Ara kembali


bercerita teringat olehnya bahwa gadis cantik yang kedapatan mencopet itu bukan


hanya diteriaki untuk diperkosa saja namun benar-benar hendak diperkosa.


Setelah salah seorang warga yang hendak memukulnya itu diseret keluar dari


kerumunan, beberapa orang menarik tangan gadis tersebut hingga ia terjatuh


tersungkur, tangannya menyanggah tubuhnya dan kepalanya sehingga tak mencium


tanah, tetapi  justru dengan cepat


bergerombol orang menciumi wajahnya, tubuhnya bahkan dari  belakang salah seorang ingin melepas rok


mininya dan hendak memperkosanya. Gadis itu bangkit dari  tersugkurnya, berusaha keras menutupi


wajahnya dari ciuman, dan tubuhnya dari tangan-tangan yang selalu ingin


menyentuh ***********. Dengan susah payah ia kembali berdiri dengan bajunya


sudah tak karuan berbentuk, rambutnya yang terurai kini acak-acakan, gadis itu


berdiri merapkian kaos dan rok mininya, tanpa suara air matanya jatuh lalu kemudian


dua orang pria datang, keduanya tinggi besar, berkumis dengan alis tebal,


rambutnya cepak, mereka itu mengaku sebagai petugas kemanan lalu beteriak ke


kerumunan untuk menghentikan perlakuan senonoh tersebut. kedua pria ini


mengikat tangan gadis tersebut kebelakang dan lalu memeganginya, membawanya


menerobos kerumunan. Ditengah kerumunan itu ....


Phyta menyela Ara untuk


menghentikan cerita dan menyuruh Ara untuk melihat ke  arah pasar. Terdapat seorang bocah laki-laki


yang menangis menjerit-jerit memanggil ibunya. Mungkin ia terpisah dengan


ibunya ketika di pasar sela Ara, tetapi Phyta menyuruh Ara untuk kembali


mengamatinya Phya merasa sangat aneh satu orangpun tak  ada yang berniat hati untuk menenangkan bocah


itu, bahkan ibu-ibu penjaga warteg itu tahu dan hanya melihatnya saja, tak


hanya ibu-ibu itu, Ara kemudian membenarkan. Iya, sangat aneh. Lihat juga bapak


penjual nasi uduk, ibu-ibu yang dompetnya tadi dicopet itu juga. Phyta


menambahkan lagi apakah ibu itu tidak merasakan simpati kepada anak tersebut,


toh dia barusan kehilangan dompet tidakah juga ibah melihat seorang anak yang


kehilangan ibunya. Kenapa tidak ada yang membantu. Diamat-amatinya kembali


lalu, Ara dan Phyta baru sadar bahwa dari tadi anak itu menjadi pusat perhatian


banyak orang. Ia duduk ditengah jalan, tepat disebelah bekas genangan darah,


batu dan kayu berserakan mengelilinginya, kain hitam seperti kerudung ia

__ADS_1


genggam erat-erat sambil terseduh menangis ia berterik. Ibuu....


__ADS_2