
Di sebidang tanah seluas
ribuan kilometer persegi, seekor manusia purba sedang berebut lahan perburuan.
Lahan itu milik siapa?. Milikku, kata seekor manusia purba yang di sana dengan
gerombolan kawananannya. Dua kubu gerombolan itu tidak lebih banyak dari
sekumpulan Singa. Mereka bertengkar merebutkan lahan perburuan, katanya lagi
bahwa lahan ini adalah milik ayahnya tetapi satu kubu mengatakan ini adalah
milik leluhurnya. entah, antara ayah dan leluhur siapa yang lebih berkuasa.
Persengketaan lahan
perburuan itu berada di antara satu sungai kecil yang mengalir, di sebelah kiri
sungai adalah sekawanan manusia purba yang mengatas namakan bahwa lahan ini
adalah milik ayahnya yang telah diterkam oleh seorang cheeta, sekawanan itu
memiliki tubuh tak jauh berbeda dengan seorang bonobo, yakni seorang primata
yang berada dalam satu keluarga besar simpanse, memiliki kecerdasan yang luar
biasa. Kabarnya di zaman purba ini dia adalah penguasa. Lalu, dikubu selanjutnya, sekawanan yang satu lagi ada di
sebelah kanan sungai. Sekawanan itu memiliki tubuh yang agak kecil, bulunya
tidak seperti bonobo yang berwarna hitam tetapi sekawanan itu memiliki bulu yang indah berwarna kecoklat-coklatan,
matanya ada yang biru tetapi kebanyakan hitam. sekawanan itu mirip dengan orang
utan yang hampir punah. Di zaman sekarang orang utan adalah spesies yang tidak
memiliki rumah alamiahnya. Hutan. Telah tiada, entah siapa yang merusaknya.
Mungkin jawaban paling sederhana adalah Tuhan yang merusak. Entahlah. Kaum shaleh
yang haus kekuasaan barangkali akan mengatakan hal yang sama.
Kedua sekawanan manusia
purba itu terus bertikai dengan bahasa tubuh yang kaku. Di antara mereka
sebagian besar membawa batu dan kayu, tongkat dan ranting. Mereka saling
melempar dan berteriak tidak jelas, mimik wajahnya mengekspresikan kemarahan
dan kegeraman ingin saling membunuh satu sama lain, batu dan kayu mereka
lempar. Banyak yang terluka, banyak juga yang bergembira kala batu itu tepat
mendarat di wajah sekawanan yang lain. sekawanan yang mirip bonobo itu lebih
lihai melempar batu ketimbang kayu sebaliknya kawanan yang satu lagi yang mirip
orang utan itu lihai dalam melempar kayu, ujung kayu yang panjang itu mereka
bentuk seruncing mungkin dengan gigi dan batu, lalu kayu itu mereka lempar
membentuk lintasan parabola dan mendarat tepat di lengan kiri seekor manusia
purba yang mirip bonobo. Itulah tombak yang membunuh seekor manusia untuk
pertama kalinya.
__ADS_1
Hal yang sama terjadi
saat ini, ketika orang tua dari manusia modern meninggal seketika itu manusia
modern juga akan mati-matian merebutkan warisan tanah atau lahan dari
saudaranya. Segala upaya dikerahkan dari perdebatan sengit di ruang keluarga
sampai di ruang persidangan, saling
tuduh menuduh, persengketaan bahkan pembunuhan. Atau barangkali manusia modern
yang menjelma menjadi seekor penguasa. Seekor manusia ini memiliki
super-kekuatan untuk mengatas namakan dirinya merupakan perwakilan dari
kepentingan rakyat. Seekor manusia yang menjelma menjadi seekor penguasa itu
akan merampas lahan dan tanah milik rakyat juga. Uh, rakyat siapa yang engkau
bela tuan?. Seekor penguasa itu memiliki sekawanan penuh manusia-manusia yang
memiliki perlengkapan tempur, sekawanan itu dibekali senapan, perisai tebal,
juga baju level 400 takbisa ditembus. Tiada mampu rakyat kecil untuk menyerang
balik bahkan sekedar melawan atau mempertahankan tanahnya. Dari sekawanan yang
lengkap dengan perlengkapan tempur itu, seekor penguasa yang mengatas namakan
kepentingan rakyat serta ”untuk bangsa dan negara” itu merampas paksa tanah
rakyat. Tak jarang para rakyat yang beregelimpangan mati, tak jarang banyak
yang menghilang, darah dan air mata memenuhi lahan yang dipersengketakan. Apa
yang tersisa? Yang tersisa adalah bendungan besar, jalan tol yang megah, pembangkit
Perebutan lahan dengan
kemarahan dan kegeraman, meninggalkan jejak darah dan air mata itu barangkali
adalah warisan dari nenek moyang kita yang hidup di zaman purba. Jika iya,
betapa bodohnya kita yang tidak bisa lepas dari sifat buruk itu. selama ribuan
tahun apakah tidak ada perubahan dari seekor manusia?
Duh, lihatlah sekumpulan
Babi itu. ketika seorang Babi purba merebutkan tempat kekuasaan. mereka hanya
perlu mengencingi pohon demi pohon agar seorang Babi purba lain tahu bahwa itu
adalah kekuasaannya. Barangkali jika ada yang tidak terima, datanglah seorang
Babi penantang kepada seorang Babi lagi yang berkuasa. Bertarunglah kedua Babi
tersebut sampai salah satu menyerah atau mati. Seorang Babi purba itu kini
hidup di zaman modern. Mereka tidak perlu mengencingi setiap pohon yang ada,
seorang Babi juga tidak perlu bertarung sampai mati untuk merebut kekuasaan
dari seorang Babi yang lain. Sekarang, sekumpulan Babi akan duduk melingkar di
sebuah perjamuan yang megah dan mewah, menggunakan cincin permata dan jam rolex
__ADS_1
yang paling mahal dari Eropa, memakai jas hitam dan dasi berwarna merah.
Sekumpulan Babi itu di depan hidangan yang mahal akan berkonsolidasi mengenai
wilayah kekuasaan kepada setiap seorang Babi. Walaupun sekumpulan Babi-babi itu
diantaranya memiliki taring-taring yang besar dan terawat tetapi di setiap
diskusi anatar para Babi tidak ada pertarungan fisik, semua dilakukan dengan
obrolan dan kesepakatan-kesepakatan yang teduh dan penuh kata Sah. Sekumpulan Babi
yang senantiasa minum vitamin dan suplemen, barangkali juga menjalankan
pemeriksaan kesehatan yang ketat dengan dokter-dokter profesional itu
membagi-bagi lahan kekuasaan mereka bagaikan membagi kue-kue yang mereka makan.
semua berkompromi untuk semua, semua untuk semua, setiap babi adalah penguasa,
setiap penguasa adalah babi. Titik.
Walaupun terkadang ada
juga diskusi yang alot, rapat paripurna sekumpulan Babi penguasa itu tak jarang
juga ada pertikaian dan adu mulut. Bukan adu argumentasi dengan penalaran
logika yang kuat. Ketika amarah telah memuncak, rapat para Babi itu hanya
berisi sentimen-sentimen bukan lagi argumen. Tetapi pertikaian semacam itu
seseorang Babi yang paling gemuk akan mengambil alih keadaan, seorang Babi yang
paling gemuk segera akan mematikan mic atau pengeras suara Babi-babi yang keras
kepala dan tak mau menuruti skenario rapat yang sudah dirancang sebelumnya.
Seketika, rapat berjalan dengan tentram kembali.
Lalu ketika palu yang
dipegang oleh seorang Babi yang paling gemuk diketukkan, bergemuruh kata
“Setuju”, “demi bangsa dan negara”, “untuk rakyat sejahtera”.. Semua kata-kata
itu diucapkan dengan lantang oleh Babi demi Babi, setiap Babi mengulang-ngulang
kata-katanya dengan gelak tawa, dan wajah sumringah. Seorang Babi pemotres pun
juga ikut bergembira.
Sekumpulan Babi memang
sudah melangkah maju lebih depan ketimbang sekawanan manusia. Sekawanan manusia
masih bertengkar merebutkan lahan dengan kekerasan. Hanya saja peralatan untuk
merebut lahan itu yang berubah. Jika dulu, sekawanan manusia purba merebut
lahan perberburuan hanya dengan batu dan kayu, dengan bahasa tubuh, dengan
teriakan ha hi hu. Kini, sekawanan manusia modern menggunakan seperangkat alat
tempur, senapan dan perisai tebal. Sekawanan manusia juga menggunakann
pengadilan dan seperangkat peraturan untuk merampas lahan. Tetapi tak dapat
__ADS_1
dihianati bahwa sekumpulan Babi memang cerdas, konon katanya seorang Babi itu
adalah seekor manusia yang menjelma menjadi seekor penguasa.