Kisah Sang Pembual

Kisah Sang Pembual
Seekor Manusia


__ADS_3

Di sebidang tanah seluas


ribuan kilometer persegi, seekor manusia purba sedang berebut lahan perburuan.


Lahan itu milik siapa?. Milikku, kata seekor manusia purba yang di sana dengan


gerombolan kawananannya. Dua kubu gerombolan itu tidak lebih banyak dari


sekumpulan Singa. Mereka bertengkar merebutkan lahan perburuan, katanya lagi


bahwa lahan ini adalah milik ayahnya tetapi satu kubu mengatakan ini adalah


milik leluhurnya. entah, antara ayah dan leluhur siapa yang lebih berkuasa.


Persengketaan lahan


perburuan itu berada di antara satu sungai kecil yang mengalir, di sebelah kiri


sungai adalah sekawanan manusia purba yang mengatas namakan bahwa lahan ini


adalah milik ayahnya yang telah diterkam oleh seorang cheeta, sekawanan itu


memiliki tubuh tak jauh berbeda dengan seorang bonobo, yakni seorang primata


yang berada dalam satu keluarga besar simpanse, memiliki kecerdasan yang luar


biasa. Kabarnya di zaman purba ini dia adalah penguasa. Lalu, dikubu  selanjutnya, sekawanan yang satu lagi ada di


sebelah kanan sungai. Sekawanan itu memiliki tubuh yang agak kecil, bulunya


tidak seperti bonobo yang berwarna hitam tetapi sekawanan itu memiliki  bulu yang indah berwarna kecoklat-coklatan,


matanya ada yang biru tetapi kebanyakan hitam. sekawanan itu mirip dengan orang


utan yang hampir punah. Di zaman sekarang orang utan adalah spesies yang tidak


memiliki rumah alamiahnya. Hutan. Telah tiada, entah siapa yang merusaknya.


Mungkin jawaban paling sederhana adalah Tuhan yang merusak. Entahlah. Kaum shaleh


yang haus kekuasaan barangkali akan mengatakan hal yang sama.


Kedua sekawanan manusia


purba itu terus bertikai dengan bahasa tubuh yang kaku. Di antara mereka


sebagian besar membawa batu dan kayu, tongkat dan ranting. Mereka saling


melempar dan berteriak tidak jelas, mimik wajahnya mengekspresikan kemarahan


dan kegeraman ingin saling membunuh satu sama lain, batu dan kayu mereka


lempar. Banyak yang terluka, banyak juga yang bergembira kala batu itu tepat


mendarat di wajah sekawanan yang lain. sekawanan yang mirip bonobo itu lebih


lihai melempar batu ketimbang kayu sebaliknya kawanan yang satu lagi yang mirip


orang utan itu lihai dalam melempar kayu, ujung kayu yang panjang itu mereka


bentuk seruncing mungkin dengan gigi dan batu, lalu kayu itu mereka lempar


membentuk lintasan parabola dan mendarat tepat di lengan kiri seekor manusia


purba yang mirip bonobo. Itulah tombak yang membunuh seekor manusia untuk


pertama kalinya.

__ADS_1


Hal yang sama terjadi


saat ini, ketika orang tua dari manusia modern meninggal seketika itu manusia


modern juga akan mati-matian merebutkan warisan tanah atau lahan dari


saudaranya. Segala upaya dikerahkan dari perdebatan sengit di ruang keluarga


sampai di  ruang persidangan, saling


tuduh menuduh, persengketaan bahkan pembunuhan. Atau barangkali manusia modern


yang menjelma menjadi seekor penguasa. Seekor manusia ini memiliki


super-kekuatan untuk mengatas namakan dirinya merupakan perwakilan dari


kepentingan rakyat. Seekor manusia yang menjelma menjadi seekor penguasa itu


akan merampas lahan dan tanah milik rakyat juga. Uh, rakyat siapa yang engkau


bela tuan?. Seekor penguasa itu memiliki sekawanan penuh manusia-manusia yang


memiliki perlengkapan tempur, sekawanan itu dibekali senapan, perisai tebal,


juga baju level 400 takbisa ditembus. Tiada mampu rakyat kecil untuk menyerang


balik bahkan sekedar melawan atau mempertahankan tanahnya. Dari sekawanan yang


lengkap dengan perlengkapan tempur itu, seekor penguasa yang mengatas namakan


kepentingan rakyat serta ”untuk bangsa dan negara” itu merampas paksa tanah


rakyat. Tak jarang para rakyat yang beregelimpangan mati, tak jarang banyak


yang menghilang, darah dan air mata memenuhi lahan yang dipersengketakan. Apa


yang tersisa? Yang tersisa adalah bendungan besar, jalan tol yang megah, pembangkit


Perebutan lahan dengan


kemarahan dan kegeraman, meninggalkan jejak darah dan air mata itu barangkali


adalah warisan dari nenek moyang kita yang hidup di zaman purba. Jika iya,


betapa bodohnya kita yang tidak bisa lepas dari sifat buruk itu. selama ribuan


tahun apakah tidak ada perubahan dari seekor manusia?


Duh, lihatlah sekumpulan


Babi itu. ketika seorang Babi purba merebutkan tempat kekuasaan. mereka hanya


perlu mengencingi pohon demi pohon agar seorang Babi purba lain tahu bahwa itu


adalah kekuasaannya. Barangkali jika ada yang tidak terima, datanglah seorang


Babi penantang kepada seorang Babi lagi yang berkuasa. Bertarunglah kedua Babi


tersebut sampai salah satu menyerah atau mati. Seorang Babi purba itu kini


hidup di zaman modern. Mereka tidak perlu mengencingi setiap pohon yang ada,


seorang Babi juga tidak perlu bertarung sampai mati untuk merebut kekuasaan


dari seorang Babi yang lain. Sekarang, sekumpulan Babi akan duduk melingkar di


sebuah perjamuan yang megah dan mewah, menggunakan cincin permata dan jam rolex

__ADS_1


yang paling mahal dari Eropa, memakai jas hitam dan dasi berwarna merah.


Sekumpulan Babi itu di depan hidangan yang mahal akan berkonsolidasi mengenai


wilayah kekuasaan kepada setiap seorang Babi. Walaupun sekumpulan Babi-babi itu


diantaranya memiliki taring-taring yang besar dan terawat tetapi di setiap


diskusi anatar para Babi tidak ada pertarungan fisik, semua dilakukan dengan


obrolan dan kesepakatan-kesepakatan yang teduh dan penuh kata Sah. Sekumpulan Babi


yang senantiasa minum vitamin dan suplemen, barangkali juga menjalankan


pemeriksaan kesehatan yang ketat dengan dokter-dokter profesional itu


membagi-bagi lahan kekuasaan mereka bagaikan membagi kue-kue yang mereka makan.


semua berkompromi untuk semua, semua untuk semua, setiap babi adalah penguasa,


setiap penguasa adalah babi. Titik.


Walaupun terkadang ada


juga diskusi yang alot, rapat paripurna sekumpulan Babi penguasa itu tak jarang


juga ada pertikaian dan adu mulut. Bukan adu argumentasi dengan penalaran


logika yang kuat. Ketika amarah telah memuncak, rapat para Babi itu hanya


berisi sentimen-sentimen bukan lagi argumen. Tetapi pertikaian semacam itu


seseorang Babi yang paling gemuk akan mengambil alih keadaan, seorang Babi yang


paling gemuk segera akan mematikan mic atau pengeras suara Babi-babi yang keras


kepala dan tak mau menuruti skenario rapat yang sudah dirancang sebelumnya.


Seketika, rapat berjalan dengan tentram kembali.


Lalu ketika palu yang


dipegang oleh seorang Babi yang paling gemuk diketukkan, bergemuruh kata


“Setuju”, “demi bangsa dan negara”, “untuk rakyat sejahtera”.. Semua kata-kata


itu diucapkan dengan lantang oleh Babi demi Babi, setiap Babi mengulang-ngulang


kata-katanya dengan gelak tawa, dan wajah sumringah. Seorang Babi pemotres pun


juga ikut bergembira.


Sekumpulan Babi memang


sudah melangkah maju lebih depan ketimbang sekawanan manusia. Sekawanan manusia


masih bertengkar merebutkan lahan dengan kekerasan. Hanya saja peralatan untuk


merebut lahan itu yang berubah. Jika dulu, sekawanan manusia purba merebut


lahan perberburuan hanya dengan batu dan kayu, dengan bahasa tubuh, dengan


teriakan ha hi hu. Kini, sekawanan manusia modern menggunakan seperangkat alat


tempur, senapan dan perisai tebal. Sekawanan manusia juga menggunakann


pengadilan dan seperangkat peraturan untuk merampas lahan. Tetapi tak dapat

__ADS_1


dihianati bahwa sekumpulan Babi memang cerdas, konon katanya seorang Babi itu


adalah seekor manusia yang menjelma menjadi seekor penguasa.


__ADS_2